Gala Dinner

Bertempat di sebuah hotel Mewah, tampak undangan sudah mulai hadir.

Pengawalan begitu ketat dan CCTV yang dipasang diberbagai titik sudah siap memantau jalannya acara malam ini dengan lancar.

Sebagai Tuan rumah, Tuan Alexander dan Nyonya Hania sudah berada ditengah-tengah acara menyapa tamu undangan yang hadir.

Tak ketinggalan sang pewaris sekaligus pemimpin baru Xander Corporation, Martin Alexander dengan begitu tampan dan gagahnya terlihat sedang berbincang menyapa dengan para tamu undangan

Undangan yang datang sebagian besar adalah Direksi perusahaan dan para kolega bisnis perusahaan.

Tibalah Daddy Nick yang didampingi Bunda Khalisa turut hadir memenuhi undangan sahabat sekaligus partner bisnis.

"Lex, Selamat ya." Daddy Nick memeluk sahabatnya.

"Hania," sapa Bunda Khalisa pada Mommy Hania sambil bercipika cipiki dalam pelukan hangat.

"Malam Om, Tante." Sapa Clarisa pada Alex dan Hania, bergantian mencium punggung tangan kedua sahabat orang tuanya.

"Ya Allah, Kamu cantik sekali Sayang." Mommy Hania memeluk Caca begitu bahagia melihat kehadiran putri sang sahabat bisa hadir di acara mereka.

"Malam Om, Tante," Nabil pun baru saja sampai langsung menyapa kedua sahabat Daddy dan Bundanya.

Sementara Nadhif seperti yang ia katakan akan telat hadir.

"Tampan dan Gagah sepertimu Nick. Terima kasih ya sudah menyempatkan hadir." Tuan Alex menepuk bahu Nabil sambil mengucapkan terima kasih atas kehadiran keluarga sahabatnya.

"Nah itu dia! Martin. Sini Sayang!" Mommy Hania memanggil sang putra yang terlihat akan menghampiri mereka.

"Benar. Dia pasien yang kutangani. Tuan Xander." batin Caca disaat kemunculan Martin semakin mendekat.

"Terima kasih Om sudah hadir." sapa Martin kepada Daddy Nick dan Bunda Khalisa.

Bergantian menyalami Nabil yang tentu saja pernah bertemu terkait kerjasama perusahaan.

Kini Keduanya berhadapan. Sama-sama saling melempar pandangan.

Tatapan itu masih sedingin dulu dan sikap cueknya tak berubah.

Hanya postur tubuh dan kini mereka memang sudah dewasa.

Tak ada suara saling menyapa, hanya uluran tangan Martin hendak mengajak Caca bersalaman.

Seutas senyum terlihat namun begitu tipis hingga tak layak dianggap sebagai sebuah senyuman.

Mengikuti alurnya Caca pun hanya membalas uluran jabat tangan sekilas dengan senyum yang tak kalah singkat.

"Ayo, silahkan dinikmati ya. Khalisa Kita kesana yuk. Ngobrol-ngobrol." ajak Mommy Hania pada Bunda Khalisa.

Sementara Tuan Alex dan Daddy Nick juga sedang berbincang dengan beberapa relasi bisnis dan Martin terlihat berbincang dengan Nabil dan undangan lain.

Tak menyoalkan situasi yang ada, Caca memilih berkeliling di area pesta.

Namun seseorang menabrak Caca namun dengan sigap orang itu menahan agar Caca tak terjatuh.

"Maaf. Apa Kamu baik-baik saja?" sapa seorang pria yang membantu Caca.

"Ya." Caca membenarkan posisi berdirinya.

"Aku Arsenio." sang pria mengulurkan tangan.

"Clarisa." Caca singkat.

"Clarisa? Caca?" mengulang pertanyaan seperti memastikan.

"Aku Arsen. Kita dulu satu sekolah di SD. Sudah lama sekali ya!" wajah berbinar Arsen tersenyum cerah mengetahui perempuan yang ia tabrak adalah teman sekolahnya dulu.

"Aku tak mengenalimu Arsen. Apa kabar?" Caca kini tersenyum dan ingat bahwa pria yang menabraknya ini adalah teman di sekolah dasarnya.

"Ah ternyata Kita bertemu disini. Kamu sudah tahu kalau Martin adalah teman sekelas Kita? Aku terkejut saat mengetahuinya. Tak menyangka Kita kini sudah sebesar ini ya." gelak tawa renyah Arsen berbincang dengan Caca.

Keduanya saling ngobrol, mengenang masa-masa sekolah yang konyol dan menyebalkan.

"Duh Aku malu sekali, kalau ingat dulu, sering sekali membuat Kamu kesal karena tingkahku." Arsen mengulang memori saat dulu merrka masih anak-anak.

"Ya, Kamu memang semenyebalkan itu dulu!" Caca menanggapi.

"Hahaha. Aku setuju denganmu Ca!" senyuman Arsen membuat Pria di hadapan Caca terlihat sangat tampan.

"Oh Iya, Omamu bagaimana kabarnya? Masih ingat tidak? dulu Kita pernah ribut hingga Oma-Oma Kita datang? Ah kalau diingat memalukan sekali rasanya!" Arsen mengusap wajahnya yang memerah karena teringat tingkah masa kecilnya.

"Alhamdulillah sehat. Omamu sendiri bagaimana?"

"Ya sehat. Tapi masih saja bawel! Dan sampai kini masih sering mengomeliku!" adu Arsen.

Caca tertawa berbincang dengan Arsen yang kini tak lagi menyebalkan seperti saat kecil.

"Oh ya, Kamu akan datang kan di acara reuni? Wah pasti teman-teman Kita sudah banyak berubah." Arsen kembali membuka obrolannya.

"Ya Aku juga sudah menerima kabar itu dari Chate."

Disaat Caca dan Arsen dengan bernostalgia, di sisi lain ada sepasang mata yang mengawasi tanpa henti.

"Kak!"

"Hai, Kamu baru sampe Dek?"

"Ya. Ini?"

"Arsenio, panggil saja Arsen." Arsen mengulurkan tangan berjabatan.

"Nadhif." balas Nadhif.

"Ini teman Kakak waktu SD. Oh ya, temui dulu Daddy dan Bunda. Mereka sudah mencarimu." jawab Caca.

"Kalau begitu Aku kesana dulu ya Kak. Mari." pamit Nadhif pada Caca dan Arsen.

Bukan tak mau menyapa, namun Martin masih harus menyapa tamu-tamu yang diperkenalkan oleh Daddy Alex.

Tatapan mata Martin sejak tadi selalu mengawasi keberadaan Caca.

Martin juga tahu siapa laki-laki yang berbincang dengan Caca.

"Martin kenalkan, ini putra Om. Nadhif ayo!" Daddy Nick saat mengenalkan keduanya.

"Hai Kak! Senang bertemu denganmu!" pembawaan Nadhif yang humble tentu saja berbeda dengan Nabil yang kalem dan seperlunya.

"Terima kasih sudah hadir." balas Martin saat berjabat tangan dengan Nadhif.

Kembali kepada Caca dan Arsen.

"Jadi sekarang Kamu sudah jadi Dokter? Keren banget sih!" Arsen memuji.

"Oh iya, tempatmu praktek waktu itu Omaku pernah dirawat disana. Jangan-jangan Omaku salah satu pasienmu."

"Mungkin saja."

"Arsen!"

Rupanya seseorang memanggil Arsen dan rupanya itu rekan bisnisnya.

"Ca, maaf ya, Aku tinggal dulu. Oh ya, Aku sudah save nomormu. Anytime Kita ngobrol lagi ya."

Arsen pamit sebelum ia menghampiri rekan bisnisnya.

Caca menuju ke luar ruangan, mencari toilet.

Tanpa sengaja ia melihat keberadaan sang Tante Dira.

"Sayang, Kamu ada disini juga?"

"Iya Tante. Bunda dan Daddy ada di dalam. Tante dengan Om Salman?"

"Iya. Ommu ada di dalam sudah bersama Daddymu."

"Aku mau ke toilet Tante. Tante?"

"Sama. Kepingin pipis!" Dira merangkul keponakannya.

"Terima kasih Salman sudah hadir." Tuan Alex menyalami saat Salman datang.

"Selamat Tuan Alex. Kini sudah ada yang meneruskan."

"Akhirnya Kita yang sudah sepuh ini bisa lebih santai menikmati masa tua." jawab Tuan Alex.

"Ini putramu?" tanya Alex.

"Saya Ibrahim Tuan." Ibrahim mencium tangan sahabat Abinya.

"Panggil saja Om. Oh iya, putramu ada 2 orang kan?"

"Betul. Sepertinya Adam tadi sedang bertemu sepupunya Nadhif."

"Anak-anak Kita sudah besar. Kita yang Tua sudah saatnya mundur dan menikmati waktu santai Kita." jawab Tuan Alex.

"Ya memang sudah masanya. Kita tinggal menikmati saja hasil yang Kita sudah tanam." Daddy Nick menimpali.

Martin berbincang dengan Nabil dan Ibrahim.

Ketiga pria yang setipe itu tampak serius membahas kerjasama mereka.

Sementara Nadhif dan Adam, duo humble tapi sedikit nyeleneh kini sedang berbincang.

"Bang, bukankah Martin itu yang kata Abang akan dijodohkan dengan Kak Caca?" tanya Adam.

"Yang kudengar begitu." jawab Nadhif.

"Sepertinya Martin penuh dengan teka-teki Bang. Perlu Aku selidiki?"

"Nah itu yang Aku suka darimu!"

Nadhif merangkul sepupunya sambil saling memberi isyarat yang tentu hanya keduanya yang memahami.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Makin seru

2023-06-27

1

manda_

manda_

lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu

2023-06-26

1

🌺awan's wife🌺

🌺awan's wife🌺

jangan2 duo nyeleneh ini seorang hacker,,,,,
ehhh,,,,kenapa manggil Nadhif bang,,,,

2023-06-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!