Hari berlalu dengan cepat, sudah genap satu bulan mereka tinggal di Panti. Dan sudah beberapa kali juga Mbah Gito datang untuk melakukan pengobatan terapi pada para lansia. Padahal setiap ia datang kesana, tujuannya juga ingin menghabiskan malam bersama Dina. Mbah Gito ingin segera memiliki keturunan, jadi ia lebih sering melakukan nya dengan Dina, ketika ia masih menginap di Panti. Dari hasil kesepakatan nya dengan Nek Dijah, sudah jelas jika Nek Dijah rela mengulur waktu sampai Mbah Gito mendapatkan keinginan nya.
"Jika tujuanku berhasil, selama sembilan bulan gadis itu akan mengandung. Dan mengurus anaknya selagi menunggu bulan kelahiran mu tiba. Barulah kau bisa mendapatkan jiwa Dina, dan aku akan menepati janji ku. Tak hanya membuatmu menjadi hidup dan segar kembali. Sesuai perjanjian kita, aku akan membuatmu menjadi muda dan cantik seperti dulu. Hanya kau saja yang mendapatkan keuntungan itu dariku Dijah. Karena kau sangat berjasa demi kelangsungan hidupku ke depannya." Pungkas Mbah Gito dengan senyum bahagia.
"Aku pegang janjimu itu Gito, karena artinya aku harus merasakan sakit-sakitan selama satu tahun lebih lamanya. Tapi kenapa harus gadis itu yang kau pilih?" Nek Dijah penasaran dan akhirnya bertanya.
"Gadis itu memiliki aura yang berbeda dari kedua gadis lainnya. Belum lagi ia memiliki tubuh molek yang sangat menggairahkan. Ia tak akan sadar bayi siapa yang ada di dalam rahimnya kelak. Karena tak lama lagi semua teman-temannya juga akan tiada, untuk menebus kehidupan dan kesehatan para Nenek dan Kakek mereka. Apa kau keberatan karena aku memilih cicitmu?" Jelas Mbah Gito menatap Nek Dijah lebih dekat.
Seperti biasa, Nek Dijah dan Dina selalu menjadi yang terakhir masuk ke dalam ruangan tertutup itu. Karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore, para lansia itu harus segera istirahat sebentar di kamar mereka. Sintia penasaran, karena sudah setengah hari Dina tak nampak. Karena setahu nya, mereka tak boleh berada di dalam kamar lansia itu. Tapi Nek Dijah memberi alasan, jika Dina harus menemani nya sampai malam nanti. Karena Nek Dijah tak ingin tidur seorang diri.
"Baiklah kalau begitu, Nek Dijah mau makan apa malam ini?" Tanya Sintia di depan lorong panjang.
"Aku tak ingin makan, biar Dina saja nanti yang ku minta keluar jika ia mau makan." Jelas Nek Dijah seraya masuk ke dalam kamarnya.
"Sin, kok tumben sih Dina mau lama-lama di kamar tuh Nenek judes. Udah setengah hari loh, dia gak keluar dari sana. Apa iya, Dina diminta menemani Nek Dijah sampai pagi nanti?" Celetuk Widia dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Gak tau juga gue Wid, tapi kok aneh aja ya. Kenapa sih para orang tua itu selalu berada di kamarnya di jam-jam tertentu. Misalnya kayak waktu nya ibadah gitu, pasti sebelum ada suara adzan berkumandang, mereka semua sudah ada di dalam kamarnya masing-masing!"
"Mungkin para lansia itu gak mau ketinggalan jam shalat mungkin. Malahan kita semua yang gak pernah ibadah sama sekali. Jadi malu gue sama mereka yang udah udzur." Pungkas Widia tertawa.
"Kok gue gak yakin ya Wid, kalau semua orang tua itu ibadah di dalam kamarnya." Ucap Sintia dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Terus lu pikir mereka semua ngapain buru-buru masuk ke dalam kamar sebelum ada suara adzan. Emangnya lu pikir setan yang pada masuk sarangnya biar gak kepanasan kalau denger suara adzan!" Celetuk Widia cengengesan.
Deegh!
Jantung Sintia berdetak tak karuan setelah mendengar ucapan Widia.
"Jangan-jangan emang bener lagi perkataan Widia. Kalau para orang tua itu sengaja sembunyi supaya gak denger suara adzan?" Batin Sintia di dalam hatinya.
"Eh ngapain lu bengong?" Tanya Doni seraya menepuk pundak Sintia.
"Duh, ngagetin aja sih Don. Lu ngapain disini? Riko kemana?" Sintia menoleh ke segala arah mencari keberadaan Riko.
"Wah ada yang kangen tuh sama Riko!" Sahut Widia menggoda.
Widia dan Doni sama-sama tertawa, tapi tawa mereka tiba-tiba terhenti saat Mariyati datang bersama Riko. Nampak ia membawa setumpuk berkas di tangannya.
"Riko, bagikan berkas itu ke teman-temanmu kecuali Dina. Dia harus lebih ekstra menjaga Nek Dijah, jadi tak perlu merepotkan nya lagi." Cetus Mariyati seraya menatap ke empat mahasiswa itu.
Begitu Riko membagikan berkas dengan map berwarna merah dan biru. Mariyati baru menjelaskan, jika itu adalah data pribadi para lansia yang pernah ia rawat. Mariyati meminta semua data dengan nama tertentu untuk dijadikan satu.
"Ini list nama yang harus kalian cari. Karena terlalu banyak saya kesulitan untuk menemukan data diri mereka. Kalau sudah selesai, berikan pada saya langsung!" Tambah Mariyati seraya melangkahkan kakinya.
Namun langkahnya terhenti karena pertanyaan Sintia.
"Bukankah para lansia ini sudah tiada Bu? Untuk apa mencari data diri mereka lagi?"
"Kau terlalu penasaran rupanya Sintia. Bukankah aku harus tetap menyampaikan pesan terakhir para lansia itu, meskipun mereka sudah tiada. Karena itulah aku ingin tau dimana alamat keluarga nya, supaya aku dapat menyampaikan amanah yang mereka berikan padaku, sebelum mereka semua menghembuskan nafas terakhir nya! Jadi apakah kalian bisa mencarikan data yang saya butuhkan?" Mariyati membulatkan mata dengan suara agak tinggi.
Ke empat mahasiswa itu langsung menganggukkan kepala, mereka tak ada yang berani bertatapan mata langsung dengan Mariyati.
"Sin Sin! Lu itu songong banget sih, terlalu berani berdebat dengan perempuan serem itu!" Kata Doni seraya menggelengkan kepala.
"Lah gue gak berdebat Don! Gue cuma penasaran aja, kenapa data orang tua yang udah meninggal harus dicari lagi. Wajar dong kalau gue pengen tau!" Ucap Sintia mengerucutkan bibirnya.
"Iya nih si Doni, kayak yang gak kepo aja!" Sahut Widia seraya mendorong lengan Doni.
"Udah gaes gak usah ribut. Sebelum jam delapan kita cari data nya dulu, selagi para lansia itu istirahat di kamar." Pungkas Riko duduk di samping Sintia, mereka fokus membuka lembar demi lembar kertas yang sudah usang itu.
Sintia membahas kecurigaan nya mengenai Panti Jompo, dan semua para penghuninya. Riko mengatakan jika ia belum tau apapun, sehingga tak bisa asal menaruh curiga.
"Setelah kepergian Beni yang tiba-tiba, bukankah beberapa dari kita pernah melihat penampakan hantu dengan leher yang hampir terputus. Malahan gue jelas banget lihat wajahnya Beni. Belum lagi sifat Dina yang gak seperti biasanya, dia sekarang banyak diemnya. Dan lebih sering bersama Nek Dijah setelah melakukan terapi. Apa menurut lu kurang janggal juga?" Sintia menatap wajah Riko dengan serius. Dan membuat Riko salah tingkah, lalu memalingkan wajahnya ke kertas yang ada di tangannya.
Riko menemukan berkas lama dengan nama Bimo Tjen Liu. Ia merasa tak asing dengan nama itu, ia pun memperhatikan dengan seksama. Bimo Tjen Liu berasal dari kota Tangerang, terlihat juga tempat tanggal lahir nya tak bisa terbaca karena tinta ketikan sudah pudar. Karena penasaran dengan raut wajah Riko yang sangat serius membaca, Doni pun melirik ke selembar kertas yang ada di tangan Riko. Menurutnya nama itu sangat mirip dengan nama belakang Beni.
"Beni kan orang chinesse, mungkin gak sih yang di belakang nama mereka itu nama marga liu? Kok kebetulan banget ya, kayak nama keluarga aja!" Kata Beni dengan mengaitkan kedua alis mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
nah² udh ada petunjuk baru lgi nih..
2023-06-15
1
Ibni Fathan
cuma Nek Siti dan kakek Ridho yg tidak egois yg lainnya egois ingin hidup dan segar kembali padahal mereka semua hanya dimanfaatkan oleh Maryati agar dia lebih sakti dan awet muda lagi dan hanya pak Kirun yg mengerti smua keinginan Maryati makanya dia dgn setia menunggu dan menemaninya selama ini..
selalu candu up lagi kak🥺🥺🥺
2023-06-13
1
yuli Wiharjo
bodoh nya maryati ataw memang sengaja kasih petunjuk ke anak anak mahasiswa itu ya
2023-06-13
1