Sesuai instruksi Mariyati, Sintia dan Riko mengantarkan kedua lansia itu ke kamar mereka. Nek Siti berjalan tertatih dengan memegangi tangan Sintia. Sebelum masuk ke dalam kamar, Nek Siti mengajak Sintia untuk masuk ke dalam.
"Tolong balurkan bedak gatal di punggung Nenek ya Sin."
Sintia langsung mengambil bedak gatal di atas nakas. Ia membalurkan ke seluruh punggung Nek Siti. Tanpa Sintia sadari, Nek Siti ternyata berlinang air mata. Karena merasa tak tega, akhirnya Sintia bersimpuh di depan Nek Siti seraya menyeka air matanya.
"Nek Siti kenapa menangis? Kalau lihat Nenek sedih begini, Sintia jadi ikut sedih Nek. Apa Nenek sedang merindukan keluarga?"
"Sejak ada kau disini, Nenek jadi merasakan memiliki keluarga lagi Sin. Jadi Nenek tak membutuhkan orang lain lagi. Maafkan Nenek ya Sin..." Ucapan Nek Siti terhenti karena tiba-tiba Mariyati masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang kau lakukan disini Sintia? Saya baru saja memperingatkan mu, kenapa kau langsung melanggarnya?" Bentak Mariyati dengan membulatkan kedua mata.
"Ta tapi Bu." Sintia gelagapan tak tau harus berkata apa.
"Jangan salahkan dia Mar! Saya yang meminta nya masuk ke dalam untuk membalurkan bedak gatal. Pergilah Sintia, saya mau istirahat sekarang!" Pungkas Nek Siti seraya merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Setelah kepergian Sintia, nampak Mariyati kesal dan membentak Nek Siti.
"Apa kau sengaja ingin menggagalkan rencana ku Siti? Kita sudah sejauh ini, sebentar lagi tujuan kita akan berhasil dengan sempurna. Kenapa kau harus menggunakan perasaan mu padanya?"
"Aku tak tau Mar, hati kecil ku ragu untuk melanjutkan semuanya. Bisakah kau membebaskan ku, dan membiarkan ku pergi? Aku benar-benar sudah lelah, dan tak bisa menahan perasaan ku lagi."
"Tidak Siti! Kau tak boleh menyia-nyiakan kerja keras ku selama ini. Usaha ku untuk tetap melindungi dan menjaga kalian selamanya. Apa kau lupa semua pengorbanan ku untuk kalian?" Ucap Mariyati dengan suara bergetar.
Nek Siti bangkit dari tidurnya, ia menggenggam tangan Mariyati lalu menundukkan kepala.
"Maafkan aku Mar, aku tau kau sudah banyak berkorban selama ini. Kau bahkan kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupmu, semua kau lakukan demi kelangsungan hidup para orang tua yang ada di Panti ini. Seharusnya aku tak boleh egois dengan mementingkan perasaan sendiri." Kata Nek Siti dengan raut wajah sendu.
"Baguslah kalau kau ingat semuanya Siti. Aku hanya mau kalian tetap bersama ku, menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Berbahagia meski sanak keluarga kalian mencampakkan dan membuang kalian begitu saja."
Tak lama kemudian terdengar suara adzan dzuhur yang berkumandang. Mariyati langsung bergegas pergi meninggalkan Nek Siti di dalam kamarnya. Sementara Sintia yang berada di lorong depan merasa mendengar suara teriakan. Ia langsung panik dan mencari sumber suara itu berasal. Begitu dia yakin suara teriakan itu dari dalam kamar Nek Siti. Ia meminta ijin pada Mariyati untuk melihat kondisi orang tua yang ia jaga.
"Bu. Saya hanya ingin memastikan kondisi Nek Siti. Saya dengar suara teriakan dari dalam kamarnya." Sintia memohon dengan menyatukan kedua tangannya.
"Tak perlu! Nek Siti baik-baik saja, kau hanya salah dengar Sintia. Lanjutkan pekerjaan mu, dan jangan ganggu para orang tua itu ketika mereka berada di dalam kamarnya!"
Karena seakan meragukan ucapan nya, akhirnya Sintia kembali dihipnotis setelah menatap kedua mata Mariyati. Barulah setelah itu Sintia melakukan pekerjaan dengan tenang, tanpa memikirkan hal-hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Sayangnya efek hipnotis yang diberikan Mariyati tak bisa bertahan lama pada Sintia. Cepat atau lambat Sintia akan kembali mengingat berbagai teka-teki yang mengganggu pikiran nya.
Ke enam mahasiswa itu sedang duduk santai di halaman belakang. Mereka semua kelelahan setelah melakukan pekerjaan rumah sejak pagi. Hanya Dina saja yang nampak segar, karena ia hanya fokus menjaga Nek Dijah tanpa melakukan pekerjaan lainnya. Kebetulan Nek Dijah memiliki kondisi yang berbeda dari orang tua lainnya. Emosi Nek Dijah tak stabil, dan ia mudah marah sehingga membuatnya naik darah. Karena itulah Dina harus lebih sering membantu Nek Dijah untuk melakukan segala hal. Supaya Nek Dijah tak terkena serangan jantung dadakan.
"Ko temenin gue ngambil barang di gudang belakang yuk." Ajak Dina dengan bergelayut manja di pundak Riko.
"Apa an sih Din, jangan kayak gini deh! Gak enak sama yang lain. Lagian lu bisa kan ambil sendiri, gue capek banget belum istirahat dari tadi."
"Ayok Din gue antar aja. Kalau Riko gak bisa aa Beni siap sedia membantu mu." Kata Beni dengan sigap.
Beni berjalan ke samping Dina lalu memainkan rambut jambulnya. Meski dia tak setampan Riko, tapi penampilan nya sangat stylish. Apalagi dia itu keturunan china indo, jadi wajahnya yang oriental membuat banyak perempuan di kampus terpikat.
"Gak usah sok kecakepan deh lu!" Seru Dina seraya mendorong kepala Beni menjauh dari wajahnya.
Dina terpaksa menerima tawaran Beni. Keduanya masuk ke gudang belakang, untuk mencari piringan hitam yang diminta Nek Dijah.
Kreeaaat.
Terdengar derit suara pintu yang dibuka paksa oleh Beni. Begitu pintu terbuka nampak burung-burung kecil keluar dari dalam gudang itu. Sontak saja Dina terkejut dan melompat ke arah Beni. Nampak Beni kegirangan, karena dapat memeluk tubuh molek Dina.
"Lepasin gue! Lu jangan cari kesempatan ya Ben!" Teriak Dina mengaitkan kedua alis mata.
"Dih, kan lu sendiri yang lompat ke pelukan gue. Bukannya lu yang sengaja cari kesempatan ya Din!"
"Hati-hati lu kalau ngomong, kayak yang paling ganteng aja sih lu!" Kata Dina ketus.
Mereka berdua masuk ke dalam gudang. Terlihat banyak cermin yang ditutupi kain putih usang. Dina menarik kain nya, dan bercermin di depannya. Tapi disaat Dina sedang memperhatikan tubuhnya yang ada dipantulan cermin. Nampak sesosok bayangan perempuan tua dengan wajah buruk rupa sedang mengambil piringan hitam yang ia cari tadi.
"Ben... Itu apa an sih Ben, kok serem banget?"
"Apanya yang serem sih Din? Lu gak usah ngada-ngada deh!" Ucap Beni seraya melihat ke arah cermin yang ada di depannya.
Deegh!
Beni baru percaya dengan apa yang Dina katakan, nampak sesosok penampakan yang terlihat di pantulan cermin. Tapi begitu Beni membalikkan tubuh menghadap ke belakang, sosok perempuan menyeramkan itu tak ada. Dan begitu ia melihat ke arah cermin, sosok yang ia takuti benar-benar masih berdiri mengambang di belakang mereka.
"Din, lu tutup aja cermin nya pakai kain. Kayaknya para penunggu tempat ini gak suka lihat wujud mereka di cermin. Makanya hampir diseluruh Panti jompo ini gak ada cermin sama sekali. Ternyata semua cermin disimpan di gudang. Pasti ada tujuannya kenapa semua cermin tertutup kain di dalam sini." Pungkas Beni dengan menundukkan kepala, tak berani melihat ke sekitar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Eviidolarr Eddo
karya² ka Novi selalu bikin aku dag-dig-dug 😭🤣
2024-01-07
0
Cillia nopo!
lanjut👍
2023-06-10
1
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
mulai ada titik pencerahan ini.. 😅
2023-06-08
0