"Pak Kirun bisa ceritakan lagi apa yang terjadi di Panti? Bukankah bangunan sebelah sempat terbakar, tapi yang kami lihat semuanya dalam keadaan baik." Sintia kembali mengajukan pertanyaan.
"Ya, mungkin itu karena Bu Mariyati merenovasi nya kembali. Tapi semenjak dia sembuh dari depresi nya, Panti itu sudah tak menerima orang tua lagi. Entah bagaimana kabar para orang tua yang sebelumnya tinggal disana. Karena mereka sudah lama tak terlihat keluar dari Panti. Mungkin beberapa ada yang pulang, ataupun tetap bertahan disana dan Mariyati sendiri yang mengurusnya." Pungkas Pak Kirun yang tiba-tiba menghentikan laju delmannya.
Pak Kirun turun di depan tanah rawa, ia mengambil sebilah pisau panjang di bawah kursi delmannya. Terlihat Sintia wajah Sintia berubah tegang. Ia menelan ludahnya kasar dan fokus memperhatikan gerakan Pak Kirun. Tiba-tiba lelaki paruh baya itu mengayunkan pisau ke atas. Sontak saja Sintia menjerit ketakutan dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Aaaarghh!" Jeritan Sintia mengejutkan Riko yang masih mengecek barang belanjaan yang mereka beli tadi.
"Ada apa dek?" Tanya Pak Kirun yang ternyata mengayunkan pisau untuk melepaskan karung kosong yang terkait paku kursi.
"Iya... Lu kenapa sih Sin? Seharian ini gelagat lu aneh banget tau gak!" Sahut Riko dengan menggoncangkan tubuh Sintia.
Nampak Sintia tercengang, karena ternyata ia melihat Pak Kirun hanya berusaha mengambil karung kosong yang tersangkut paku. Entah apa yang sedang ia pikirkan tadi, hingga ia berpikiran Pak Kirun akan melukai mereka.
"Ma maaf Pak, tadi saya lihat ada sesuatu di balik pohon bambu itu." Jelas Sintia seraya menunjukkan jari ke pohon bambu yang tak jauh dari mereka.
Pak Kirun tersenyum datar, ia berpamitan sebentar untuk mencari rumput. Karena setelah ini kuda nya harus diberi makan, dan ia kehabisan stok rumput. Setelah Pak Kirun pergi, barulah Riko kembali bertanya pada Sintia.
"Tadi gue lihat Pak Kirun pegang pisau ke atas. Gue jadi parno Ko, makanya gue teriak. Eh gak taunya dia cuma mau lepasin karung yang kesangkut paku doang."
"Makanya Sin, jangan negatif thinking terusan! Pak Kirun sepertinya orang baik kok, nyatanya dia mau berbagi cerita sama kita. Lebih baik lu gak usah mikir yang enggak-enggak lagi. Daripada nanti lu terus parno selama kita berada di Panti."
"Tapi kita harus sampai kapan berada disana Ko? Kenapa gue ngerasa takut gak akan pernah bisa lihat keluarga gue lagi ya!" Ucap Sintia matanya berkaca-kaca.
"Kan gue udah bilang, lu jangan negatif thinking terus Sin! Meski gue juga gak tau kapan kita balik, tapi gue yakin bisa berkumpul dengan keluarga lagi." Riko menenangkan Sintia seraya menggenggam tangan nya.
Karena merasa tak nyaman dengan kedekatan mereka. Sintia langsung menepis tangan Riko, dan duduk agak menjauh darinya. Tak lama Pak Kirun datang dan menyimpan sekarung rumput di bawah delman. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali.
"Kalau nanti mau pergi lagi, cari saya di pengkolan tadi ya dek. Rumah saya gak jauh dari sana, tapi di daerah situ hanya saya saja yang mangkal. Kebanyakan orang lebih suka naik ojek, delman seperti ini hanya ada beberapa saja sekarang."
"Pak Kirun tinggal sama siapa di rumah? Kalau ada waktu, mungkin saya bisa mampir buat sekedar ngopi bareng Bapak."
"Memangnya dek Riko yakin, kalau Bu Mariyati bakal kasih ijin keluar kalau gak ada yang penting?" Ucap Pak Kirun sedikit tersenyum.
Sintia terus memperhatikan gerak-gerik dan raut wajah Pak Kirun. Sejak melihat Pak Kirun membawa pisau tadi, ia merasa perlu lebih waspada dengan lelaki paruh baya yang ada di depannya itu.
"Benar kan dek Sintia, kalian tak bisa sembarangan keluar dari Panti itu. Karena kebetulan saya sering mengantarkan orang yang membantu disana untuk ke pasar."
"Jadi sebelumnya sudah ada orang yang membantu di Panti itu Pak? Lantas kenapa sekarang sudah tak ada lagi?" Tanya Sintia dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Ya sudah lama sekali dek Sintia, mungkin beberapa tahun yang lalu. Barulah sekarang ada yang membantu di Panti itu lagi. Mungkin sekarang sudah tak banyak orang yang mau bekerja di tempat penampungan lansia."
"Jadi Pak Kirun tau banyak mengenai sejarah Panti itu dong. Kalau dapat ijin dari Bu Mariyati, saya pengen main ke rumah Bapak." Celetuk Riko sumringah.
Tanpa terasa delman yang mereka tumpangi sudah sampai di depan Panti. Pak Kirun turun dari delman, membantu mereka menurunkan barang belanjaan.
"Saya tinggal seorang diri dek, kebetulan istri saya sedang ada urusan di kota. Kalau cuma sekedar ngopi aja mah saya bisa buatkan untuk dek Riko."
Karena semakin penasaran, akhirnya Sintia kembali mengajukan pertanyaan. Di usia yang tak muda lagi, kenapa Pak Kirun masih menjalani profesi sebagai kusir delman. Ia ingin tau apa anaknya tak melarangnya menekuni profesi tersebut. Lantas Pak Kirun hanya menjawab, jika anak semata wayangnya sudah tiada karena ingin menyelamatkan hidupnya.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud membuat Pak Kirun jadi teringat kenangan pahit itu lagi." Ucap Sintia seraya menyerahkan uang, dan Pak Kirun hanya menanggapi dengan anggukan kepala tanpa ekspresi apapun.
Sintia dan Riko berjalan memasuki halaman Panti. Bangunan dengan arsitektur Belanda klasik, jika dipandang mata sekilas memang nampak agak menyeramkan. Cat warna yang sudah mulai usang, dan beberapa sarang laba-laba menghiasi bagian atas bangunan itu. Karena tak kunjung mendengar suara sepatu kuda pergi meninggalkan halaman depan. Sintia membalikkan badan, tapi ia sudah tak melihat delman Pak Kirun disana. Sintia menggaruk kepala yang tak gatal, ia yakin jika disepanjang perjalanan tadi dengan jelas mendengar suara sepatu kuda.
Tuk tik tak tik tuk.
Begitulah suara sepatu kuda yang masih nyaring di pendengaran nya.
"Loh Ko, kapan Pak Kirun perginya ya? Kok gue gak denger suara ringkikan ataupun sepatu kudanya?"
Riko membalikkan badan, dan ia sama bingungnya dengan Sintia. "Aneh. Perasaan gue juga gak denger Sin. Apa mungkin kita terlalu lelah sampai gak sadar dengan keadaan sekitar ya?" Kata Riko dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Sintia, Riko! Kenapa kalian tak segera membunyikan kentongan? Kalian sudah ditunggu oleh Nek Siti dan Kakek Ridho. Sebentar lagi sudah waktunya mereka tidur siang. Cepat bawa masuk semuanya, dan ajak orang tua itu ke kamar nya masing-masing. Setelah itu kalian bisa makan siang dan istirahat sebentar. Lalu kalian bisa mengerjakan hal yang lain. Ingat selama para orang tua berada di dalam kamarnya, kalian jangan pernah masuk ke dalam kecuali dengan seijin mereka. Saya juga sudah memberitahu yang lain, jadi kalian juga harus mengetahui peringatan itu juga!" Jelas Mariyati dengan wajah datar.
Sintia dan Riko hanya menganggukkan kepala. Mereka masuk ke dalam Panti dengan membawa barang belanjaan. Setelah terdengar suara pintu tertutup, Sintia langsung membalikkan badan. Ia merasa terkurung di suatu tempat yang berbahaya. Tapi ia juga tak tau, bahaya apa yang akan mengancamnya selama disana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Cillia nopo!
pak kirun tiba2 hilang apa dia juga lansia sebelum ne anaknya jd tumbal? tertanya2 ne...
2023-06-10
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
apa pak kirun juga udah meninggal.. 🤔
2023-06-08
0
Liani Purnapasary
hnya Sintia yg peka dngn kjanggalan2 dipanti itu, aq tuh penasaran gimana cerita x Sintia bisa kabur, terus menabrakan dri ke mobil Adit Rania sama Ayu waktu itu.
2023-06-06
1