"Sin lu kenapa diem aja sih? Jangan bikin gue makin takut deh!" Ucap Widia dengan menoleh ke semua arah.
"Gak ada apa-apa kok Wid, gue cuman keinget kejadian tadi pas gue pingsan. Gue ngerasa itu bukan mimpi deh, masak iya gue tidur sambil jalan sampai luar kamar?" Sintia mengaitkan kedua alis mata mencerna keadaan.
"Emang lu yakin itu bukan mimpi Sin? Apa sih yang lu lihat, ceritain ke gue dong. Kali aja lu juga lihat apa yang gue lihat tadi!"
Tiba-tiba Dina menyela pembicaraan, lalu meminta Sintia dan Widia supaya cepat tidur.
"Lu gak lihat udah jam berapa hah! Sekarang waktunya tidur, jangan sampai kita bangun kesiangan. Yang ada perempuan peyot itu bisa marah, dan dia bakal ngaduin kita ke dekan. Lu mau nilai kita semua turun gara-gara di aduin ke Pak Asmi?" Cetus Dina yang kesal karena tak bisa memejamkan mata.
"Lu gak tau aja apa yang barusan gue lihat. Kalau lihat juga pasti gak akan bisa tidur tau gak!" Sahut Widia dengan mengerucutkan bibirnya.
"Halah gak usah ikut-ikutan Sintia deh. Halu lu pada, udah sono ganti lampu tidur biar hemat listrik!" Dina membetulkan posisi tidurnya menghadap tembok.
Sintia hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah Dina yang persis seperti Nek Dijah. Ia bangun dari ranjang, dan menekan saklar lampu dengan cahaya yang lebih redup.
"Besok aja kita bahas lagi, lebih baik sekarang tidur dulu Wid."
"Tapi gue masih takut Sin!"
"Lu kan tidur di samping gue Wid, kenapa harus takut. Kalau ada apa-apa kan lu bisa teriak."
Widia terpaksa menuruti ucapan Sintia, ia berusaha memejamkan kedua mata. Sudah hampir satu jam, ia berusaha memejamkan mata. Tapi usahanya tak membuahkan hasil, justru ia merasa ingin membuang air kecil. Meski ada kamar mandi dalam di kamarnya, Widia merasa takut untuk beranjak dari ranjangnya. Karena rasa takut yang luar biasa, ia terpaksa membangunkan Sintia.
"Sin bangun dong, gue pengen pipis nih!"
"Aduh Wid, baru juga tidur udah kebelet aja sih lu!"
"Please temenin gue dong, gue masih takut nih. Gimana kalau hantu yang tadi datang lagi!"
"Ya udah sono gue lihatin dari sini aja." Sahut Sintia dengan menahan kantuk.
Dengan semangat Widia bergegas berjalan ke kamar mandi. Ia hanya menutup pintu setengah terbuka. Selesai membuang air kecil, Widia masih menunggu air keran yang ada di ember penuh. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin di belakang tubuhnya. Widia mengusap belakang lehernya, karena bulu halusnya meremang. Sampai akhirnya ia merasa ada sesuatu yang menyentuh pundak. Perasaan Widia makin tak karuan, tapi ia memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya. Nampak sesosok hantu dengan leher tergorok berada tepat di depan mata, Widia membuka mulut lebar tapi suaranya tak dapat keluar. Lidahnya kelu, dan tubuhnya membeku tak bisa digerakkan. Keringat mengalir deras dari kening, Widia mencoba melangkahkan kakinya. Tapi suara seseorang yang ia kenal membuatnya semakin terkejut.
"Tolooong... Toloong aku Widiaaa." Terdengar suara Beni yang membuat Widia tercekat.
"Aaargghh! Lepasin, lepasin tangan gue!" Ucap Widia menangis sesegukan seraya berusaha melepaskan tangannya yang ditahan sosok hantu itu.
Widia berlari keluar terburu-buru, ia menutup pintu kamar mandi dan mengunci dari luar. Ia masih berdiri mengatur nafas, lalu menceritakan apa yang ia lihat di dalam kamar mandi pada Sintia. Tapi saat ia melihat ke ranjang, nampak sesosok kuntilanak sedang mengusap rambut Sintia. Ternyata Sintia terlelap ketika menunggu Widia di kamar mandi. Kuntilanak itu menolehkan kepala nya, nampak sorot mata yang mengeluarkan cahaya kemerahan. Kuntilanak itu mengeluarkan air mata darah, membuat Widia benar-benar tak bisa menahan rasa takut. Hingga akhirnya Widia pingsan di lantai.
Widia terbangun dalam keadaan kamar yang sunyi. Matanya menatap ke segala arah, ia tak melihat Dina ataupun Sintia. Widia duduk di atas ranjang, ia teringat dengan apa yang baru saja dilihatnya. Kepalanya terasa ngilu, dengan leher yang seolah kaku. Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan pintu, dengan semangat Widia bergerak cepat menuju pintu. Begitu ia menarik gagang pintu, ia nampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Apa ini, kenapa otakku seakan mempermainkan visual yang ku lihat. Kenapa pintu kamar ini menjadi terhubung ke lorong gelap." Gumam Widia dengan menelan ludahnya kasar.
Nampak pemandangan mengerikan di sisi kiri lorong gelap. Ada beberapa nisan tanpa nama yang terlihat sudah lama, tapi ada satu nisan yang terlihat masih baru. Untuk meyakinkan apa yang ia lihat, Widia memberanikan diri mendekati kuburan-kuburan itu. Widia semakin ketakutan seorang diri disana, keringat mengalir ke pipi tiada henti. Ada aroma busuk dan anyir darah yang mengganggu pernafasan nya. Widia berusaha pergi dari sana. Tapi ada sesuatu yang memegangi kaki nya, sehingga Widia jatuh terjungkal ke tanah. Seluruh bajunya kotor terkena tanah liat, terlihat tangan hitam dengan kuku panjang yang mencengkeram pergelangan kakinya.
"Tolooong!" Jerit Widia berusaha melepaskan cengkeraman sosok yang ada di dalam gundukan tanah kuburan.
Tanpa sadar Widia mengucapkan kalimat syahadat dan istighfar. Barulah ia mendapat kekuatan untuk membaca ayat-ayat suci.
"Astaghfirullahalazim." Berulang kali ia mengucapkannya dengan mata terpejam.
Widia tak berani membuka mata dan melihat ke depan. Ia tak tau apa yang akan terjadi, jika ia membuka mata. Hanya satu doa nya, berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi. Mendadak angin dingin menyelimuti, tubuh Widia menggigil, gigi gemletuk tak dapat terkatup. Ia masih mempertahankan mata supaya tertutup, dan tak berniat membuka mata karena ia takut jika para hantu itu ada di hadapannya. Membayangkan sosok hantu yang menyerupai Beni sudah membuat nyali Widia menciut. Apalagi jika ia harus bertemu dengan sosok itu lagi. Hening, tapi suasana masih begitu dingin. Dan samar-samar ia mendengar suara adzan subuh dari masjid. Disitulah baru Widia berani membuka kedua matanya. Ia memandang ke segala arah, ternyata ia sudah tak berada di dalam kamar. Ia berteriak minta tolong, tapi tak ada siapapun di sekitar sana. Dan setelah adzan selesai, Widia baru melihat seseorang dari kejauhan.
"Tolong... Tolong saya!" Seru Widia menghadang delman yang lewat di jalan sepi, di sisi kiri dan kanannya hanya ada sawah dan pepohonan lebat.
"Adek ini siapa? Kenapa pagi-pagi ada disini?" Tanya Pak Kirun menghentikan laju delmannya.
"Tolong saya Pak, saya gak tau kenapa bisa ada disini. Saya mau pulang Pak, tapi saya gak tau jalan." Jawab Widia berderai air mata.
"Saya mahasiswa yang tinggal di Panti jompo Muara Hati. Bisa antarkan saya kesana Pak?"
Pak Kirun hanya menganggukkan kepala, ia mempersilahkan Widia untuk naik ke atas delman. Selama di perjalanan menuju Panti, Widia menjelaskan asal mula ia bisa sampai di tempat tadi. Namun Pak Kirun hanya menyunggingkan senyum, menurutnya hal-hal gaib bisa saja terjadi di daerah terpencil. Tapi Pak Kirun meyakinkan Widia, jika ada kemungkinan ia berjalan sambil tidur. Mendengar penjelasan Pak Kirun, Widia semakin bingung dan tak bisa membedakan mimpi atau kenyataan. Sama halnya seperti yang di alami oleh Sintia. Barulah Widia paham, jika apa yang di alami oleh Sintia bisa jadi memang kenyataan sama seperti dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Else Widiawati
pak kirun ini siaoa sebenarnya
2023-09-07
1
Liani Purnapasary
jngn 2 gundukn baru itu kuburan beni lg 😢😢😢aq yakin pak kirun itu bukan manusia. 😨
2023-06-09
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
apa pak kirun nanti yang bakal bantuin mereka..
2023-06-09
0