Baru saja tangan Dina ingin menggapai kain penutup cermin tadi, ia justru mendapat kejutan yang tak terduga. Bukan kain usang yang ia sentuh melainkan pakaian yang dikenakan hantu yang ia lihat barusan. Sosok hantu perempuan dengan wajah rusak, ia berdiri tepat di depan Dina dan Beni.
"Aargggh!" Jerit Dina dan Beni bersamaan.
Braaakh!
Tiba-tiba pintu di ruangan itu tertutup sendiri. Suasana di dalam gudang semakin mencekam, apalagi sosok hantu perempuan tadi sedang berlenggak lenggok di depan mereka. Terdengar suara musik yang biasa Nek Dijah dengarkan melalui piringan hitam. Dina dan Beni terpojok di sudut ruangan, mereka semakin ketakutan karena tak dapat melihat apapun dengan jelas. Sampai akhirnya sosok hantu itu menunjukan punggung nya yang berlubang. Dina dan Beni langsung terkejut, begitu yakin jika mereka melihat punggung berlubang yang dipenuhi belatung. Karena sama-sama ketakutan, mereka berlari tak tentu arah sampai barang yang ada di atas lemari terjatuh dan menimpa mereka. Keduanya pun pingsan di dalam gudang cukup lama.
Sementara diluar sana ke empat mahasiswa lainnya kebingungan. Karena Dina dan Beni tak kunjung kembali. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya para orang tua itu mandi. Nek Dijah memberitahu jika ia meminta Dina ke gudang, mungkin saja ia masih berada disana. Dan benar saja, ketika Sintia dan Riko mencari ke gudang belakang. Mereka menemukan Dina dan Beni sedang berbaring di lantai. Nek Dijah marah, karena Dina terlambat membantunya untuk mandi.
"Din, bangun. Lu ngapain tidur disini?" Ucap Sintia seraya menepuk-nepuk pipi Dina.
Berbeda dengan Beni yang langsung terbangun ketika Riko menyadarkan nya.
"Gu gue lihat hantu perempuan dengan punggung berlubang Ko! Gila tempat ini serem banget tau gak. Masak masih siang udah ada hantu sih?" Beni bicara gagap lalu bergidik seraya merapatkan tubuhnya pada Riko.
"Lu gak usah ngaco deh Ben. Terus Dina kenapa pingsan juga?"
"Dina juga lihat hantu itu Ko, makanya kita jadi pingsan gara-gara kejatuhan kardus-kardus itu." Jelas Beni seraya menunjuk ke arah tumpukkan kardus yang masih tertata rapi di atas lemari.
Begitu Sintia dan Riko melihat ke kardus yang dimaksud Beni, mereka hanya menggelengkan kepala. Karena apa yang diceritakan tak sesuai dengan kenyataan.
"Serius gue gak bohong! Tuh Dina udah bangun, kalian tanya dia aja kalau gak percaya!"
Tiba-tiba Nek Dijah datang dan membentak mereka semua.
"Cepat tutup cermin itu kembali dengan kain. Jangan sampai Bu Mariyati melihat cermin itu terbuka, nanti kalian bisa mendapatkan masalah! Jangan pernah membuka cermin yang sudah ditutup kain, kalau kalian tak mau melihat hal yang tak seharusnya kalian lihat!" Pungkas Nek Dijah dengan raut wajah marah.
Sintia mengambil kain putih usang, lalu menutup cermin itu kembali. Ia membantu Dina berdiri, tapi dengan kesal Dina menolak bantuan Sintia. Ia langsung menempel pada Riko, dan meminta Riko membantunya ke kamar. Disaat mereka semua berjalan meninggalkan gudang, terlihat Mariyati sudah berdiri di ujung lorong. Ia berkacak pinggang, berteriak pada mereka berempat.
"Sudah waktunya memandikan para orang tua, kenapa kalian masih berada disini hah?"
"Maaf Bu, kami baru saja menemukan Dina dan Beni pingsan di gudang. Jadi kami mau membawa mereka istirahat sebentar." Riko berusaha menjelaskan, tapi Mariyati justru meminta Riko dan Sintia untuk membantu Nek Siti dan Kakek Ridho membersihkan diri.
"Dina, Beni ikut ke ruangan saya sebentar!" Perintah Mariyati seraya melangkahkan kaki.
Dina dan Beni mengikuti langkah Mariyati. Ia masuk ke dalam ruangannya. Di dalam sana, mereka kembali di hipnotis untuk melupakan hal gaib yang telah mereka lihat.
"Setelah ini kalian akan melupakan semua yang terjadi di gudang. Anggap kalian tak pernah melihat apapun disana, dan jangan ceritakan apa yang saya katakan pada teman-teman kalian. Sekarang kalian bisa melanjutkan pekerjaan kembali." Cetus Mariyati membulatkan kedua mata menatap Dina dan Beni.
Dina dan Beni pergi untuk membantu para orang tua yang mereka jaga. Sintia bersama Nek Siti sudah lebih dulu sampai di halaman belakang. Sintia masih sibuk menyisir rambut panjang Nek Siti yang masih basah. Tak lama Widia datang bersama Nek Windu. Mereka duduk santai seraya berbincang. Tapi setelah kedatangan Dina dan Nek Dijah, terjadi sedikit perdebatan. Nek Dijah marah pada Nek Siti, karena masalah sepele. Kursi goyang yang biasa dipakai Nek Dijah diduduki oleh Nek Siti. Dan membuat Nek Dijah tersulut emosi. Keributan para orang tua tersebut membuat kegaduhan, yang akhirnya terdengar oleh Mariyati. Nek Dijah diminta kembali ke kamarnya, dan tak keluar lagi sebelum makan malam. Sementara Nek Siti diminta untuk berbicara dengan Mariyati di sebuah ruangan tertutup yang selalu terkunci.
"Sintia, kau bantu Widia di dapur saja. Karena Nek Windu juga akan bersama kami. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada mereka!"
Ternyata tak hanya Nek Siti dan Nek Windu, dari bangunan sebelah terlihat ketiga Kakek juga pergi ke ruangan yang sama dengan Mariyati. Hanya Nek Dijah saja yang tak di ajak kesana. Sintia merasa aneh melihat pertemuan dadakan para orang tua itu.
"Sin, kita masak menu apa ya malam ini?" Tanya Widia dengan melihat bahan-bahan makanan.
Plaaak!
Widia menepuk lengan Sintia, karena ia malah melamun tak menjawab pertanyaan nya.
"Eh sorry Wid, lu nanya apa tadi?"
"Dih lu jangan banyak ngelamun dong Sin! Ntar bisa kesambet tau gak! Gue nanya mau masak apa sekarang?"
"Buat soto ayam aja Wid, biar anget tubuhnya para orang tua itu."
Di teras belakang, terlihat Riko, Beni, dan Doni sedang menjemur pakaian yang sudah mereka cuci. Tapi sikap Beni jadi berubah pendiam, tak seperti biasanya. Berkali-kali Doni mengajaknya bercanda, tak ada tanggapan sama sekali. Riko bahkan sampai heran melihat tingkah Beni.
"Ko, si Beni kenapa sih? Padahal tadi pagi dia asik-asik aja. Sejak sore tadi, dia jadi banyak diem. Emangnya apa yang terjadi saat dia sama Dina hilang tadi?"
"Gak ada apa-apa kok Don, kayaknya Beni masih shock aja setelah lihat hantu."
"What! Hantu? Lu seriusan Ko? Beni lihat hantu dimana?" Tanya Doni dengan menelan ludahnya kasar.
"Jangan kenceng-kenceng ngomong nya geblek! Kalau kedengeran Bu Mariyati lu bisa dihukum lagi!"
Entah apa lagi yang mereka bicarakan, karena tiba-tiba Beni pergi begitu saja.
"Ben bantuin gue angkat panci ini ke wastafel dong, masih panas banget nih!" Teriak Widia, tapi diacuhkan oleh Beni.
"Udah gue aja yang angkat Wid." Celetuk Doni seraya berjalan ke dapur.
Setelah selesai bekerja, mereka semua mandi dan bersiap menyiapkan makanan malam. Mereka semua menjemput para orang tua di kamarnya. Sesampainya di meja makan, Beni belum juga datang bersama Kakek Bimo. Tak lama setelah itu, Mariyati datang dan mengatakan jika Kakek Bimo akan malam di kamarnya. Sementara Beni juga akan menemani Kakek Bimo makan disana.
"Malam ini saya ada acara di kampung sebelah. Tetaplah berada di dalam kamar, meski kalian mendengar suara-suara dari luar. Biasanya para penjahat dan buronan, suka berkeliaran di tengah malam. Jadi saya akan mengunci semua ruangan, supaya tak ada yang bisa masuk ke dalam." Jelas Mariyati di hadapan semuanya.
Semua orang tua hanya diam dengan menganggukkan kepala. Hanya Kakek Dodit saya yang tiba-tiba menyeringai seraya menoleh ke arah Doni. Seketika Doni menghentikan makan nya, ia merasa ngeri melihat raut wajah Kakek Dodit yang penuh makna janggal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Else Widiawati
nama penghuni panti jompo mirip dengan nama mahasiswa, nek siti-sintia, nek dijah-dina, nek windu-widia, kek bimo- beni, doni- dodit, apakah kebetulan ato memang sengaja?
2023-09-07
1
💞
masih belum ngerti nih maksud dan tujuan si mariyatii 🤔🤔🤔
2023-07-05
5
💞
ya ampun, suka lupa deh komen dan like kalau udah baca 🤣🤣🤣
maap ya thorr
2023-07-03
4