Sintia sangat terkejut melihat sosok kuntilanak di depan matanya. Ia berjongkok menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Sin. Lu kenapa Sin?" Tanya Widia yang terbangun mendengar jeritan Sintia.
Sintia memberanikan diri membuka tangan nya, ia menoleh ke segala arah. Ternyata sosok kuntilanak itu sudah menghilang tak tau kemana.
"Wid, gue lihat kuntilanak tadi!" Jawab Sintia dengan nafas tak beraturan.
"Bisa gak sih, lu gak usah berisik! Gue mau tidur aja sampai kebangun gara-gara jeritan lu! Mana ada kuntilanak disini, lebay tau gak lu!" Celetuk Dina kesal, ia berbaring dan hampir tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Sintia menghembuskan nafas panjang, ia tak mau meladeni Dina. Dan membiarkan nya kembali melanjutkan tidurnya.
"Udah ya Sin, mending kita tidur aja. Gue percaya kok kalau lu lihat hantu disini, soalnya kemarin malam gue juga lihat sosok yang mirip Beni di kamar mandi. Tapi kalau kita terus ketakutan gini, kita gak akan bisa menyelesaikan kerja lapangan di Panti." Ucap Widia seraya membantu Sintia berdiri.
"Tumben lu bijak gini Wid, emang lu udah gak takut lagi sekarang?"
"Ya masih lah Sin, tapi buat sekarang gue berusaha berani aja dulu. Udah terlanjur disini, gak mungkin juga gue mundur!"
Sintia dan Widia kembali ke atas tempat tidur. Mereka berbaring berhimpitan, supaya bisa saling melindungi.
Sementara itu, di kamar laki-laki Doni tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia yang terbiasa begadang, terkadang memang memiliki masalah dengan jam tidur. Ketika ia mengganti posisi tidur, mendadak nafas nya tersendat. Samar-samar ia melihat ada yang duduk di kursi dekat jendela. Doni tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, hanya terlihat punggung dan rambutnya yang cepak.
"Si siapa lu?" Doni memberanikan diri bertanya.
Sosok itu tak bergeming, dan Doni pun tak berani mendekat
"Siapa lu, kenapa ada disini?" Tanya Doni sekali lagi.
Tiba-tiba saja sosok itu berdiri mengambang, dan berubah menjadi pocong dengan kain kafan putih kusam. Sebelah mata yang berlubang, dan belatung menempel di seluruh bagian wajahnya. Doni memundurkan langkah, waspada jika pocong itu melompat ke arahnya.
"Kau tak akan bisa lepas dari ku Doni!" Ucap pocong itu dengan suara melengking penuh kemarahan.
Doni masih tak berani membuka mata, sejak pocong itu berdiri mengambang tepat di hadapan nya. Ia merasakan hawa dingin dan aroma busuk di dekatnya, jadi ia berpikir pocong itu masih ada. Tubuh Doni bergetar hebat, ia ingin berteriak tapi lidahnya kelu seakan mati rasa.
"Kenapa gue jadi penakut gini sih, tapi kan ini setan bukan manusia." Batin Doni di dalam hatinya.
Plaaak!
Riko menepuk pundak dan juga wajah Doni beberapa kali. Tapi ia masih tetap berdiri dengan mata terpejam. Sampai akhirnya Riko memberikan tamparan keras tepat di pipi kanan nya. Doni terpaksa membuka mata karena merasakan perih di bagian pipinya.
"Lu kenapa sih Don? Malam-malam begini malah berdiri di depan jendela. Udah sono tidur, gue kebelet nih!" Seru Riko seraya berjalan ke kamar mandi.
Doni hanya diam, ia masih mengatur nafasnya yang berat.
"Untunglah pocong itu udah pergi." Celetuk Doni memandang ke segala arah.
"Lu ngomong apa Don? Pocong? Jangan ngaco deh!" Sahut Riko menuntaskan urusannya di kamar mandi.
Riko menghampiri Doni, dan memperingatkan nya supaya tak bicara sembarangan.
"Omongan itu udah kayak doa Don, kalau lu ngomong begitu beneran datang gimana?"
"Emang udah datang kampret! Lu aja kagak percayaan jadi orang!"
Malam itu Doni tak berani tidur di ranjang seorang diri. Ia memilih berhimpitan dengan Riko di kasur yang sempit. Sampai akhir nya keduanya terpejam bersama.
Kali ini Riko bermimpi bertemu dengan Beni. Ia memperingatkan Riko untuk segera meninggalkan Panti. Karena ada seseorang dari keluarganya yang akan datang mengambil kehidupannya. Di dalam mimpi, ia melihat Beni dalam keadaan menyedihkan. Bagian lehernya mengeluarkan darah yang banyak, bahkan Beni tak bisa menegakkan kepalanya. Tapi Riko tak mengerti dengan arti mimpinya, namun tiba-tiba saja ia terbangun setelah mendengar suara dengkuran Doni yang kencang. Riko duduk bersandar di ranjang, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Lalu ia mengambil teko dan menuangkan air ke dalam gelas. Tapi rupanya air minum itu habis, karena kerongkongan nya terasa kering. Riko memutuskan untuk pergi ke dapur. Tapi baru setengah jalan, ia merasa ada sesuatu di belakang tubuhnya. Ia menoleh ke kiri lalu ke kanan, tapi tak ada siapapun. Riko melanjutkan langkahnya ke dapur, tapi sampai di lorong panjang yang sangat gelap. Ia menghentikan langkah, dan teringat suatu adegan film horor. Yang mengharuskan ia melihat di antara kedua kakinya, jika ia ingin mengetahui sosok apa yang ada di dekatnya. Riko menghembuskan nafas panjang, ia melebarkan kedua kaki seraya membungkukkan badan. Ia pun terkejut melihat sosok apa yang ada di belakangnya. Nampak penampakan sesosok tentara Indonesia jaman dulu, mengenakan seragam tentara kusam dan atribut lengkap. Bagian kening tentara itu nampak berlubang, dan keluar begitu banyak serangga dari dalamnya.
Pyaaar.
Riko menjatuhkan teko stainless ke lantai, ia lari tunggang langgang tak tentu arah. Sampai ia tak sadar menabrak Mbah Gito yang sedang bersiap untuk pulang.
"Riko apa yang kau lakukan disini?" Bentak Mariyati melotot di belakang nya.
Belum ada jawaban dari Riko, ia masih mengatur nafasnya. Mbah Gito pun berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudah sudah. Saya tau apa yang terjadi, tolong ambilkan air putih Mar. Sepertinya dia melihat sesuatu yang mengejutkan nya. Riko kenapa kau melanggar pantangan keluar kamar sebelum subuh tiba?" Tanya Mbah Gito seraya menerawang melalui batin, dan ia mengetahui jika Riko sudah melihat wujud asli salah satu lansia yang ada disana.
"Sa saya terpaksa keluar, karena air minum habis dan tenggorokan sangat kering. Tapi ta tadi ada hantu tentara yang mengejutkan saya." Jelas Riko bicara gagap.
"Bukankah kau sendiri yang ingin melihat sosok itu? Kalau kau tak melakukan apapun, tak mungkin kau bisa melihatnya. Karena memang belum saatnya mau melihatnya!"
"Maksud Mbah Gito gimana? Belum saatnya? Apakah memang ada waktunya supaya saya melihat sosok tadi?" Tanya Riko mengaitkan kedua alis mata.
Mariyati datang membawa segelas air yang sudah ia bacakan mantra. Tanpa curiga Riko meneguk habis air tersebut. Setelah itu Mbah Gito juga menghembuskan nafas panjang di depan wajah Riko.
"Kembali ke kamarmu, dan lupakan jika kau telah melihat hantu yang mengenakan baju tentara malam ini. Pagi ini kau akan memulai aktivitas seperti biasa, tanpa mengingat ataupun percaya dengan cerita-cerita gaib yang ada di Panti jompo ini." Pungkas Mbah Gito seraya meletakkan telapak tangannya di atas kening Riko.
Riko hanya menganggukkan kepala, lalu berjalan kembali ke kamarnya. Satu persatu para mahasiswa itu mulai melihat berbagai penampakan, dan wujud asli para lansia yang mereka jaga. Tak ada yang tau, apa yang di inginkan para lansia itu sebenarnya. Apakah mungkin hanya Nek Siti saja yang keberatan dengan perjanjian mereka di masa lampau? Atau ada lansia lain yang menginginkan hal sama seperti Nek Siti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
baru ngeh aku
2023-06-12
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
kayak.nya kakek ridho yg di rawat riko juga baik kyak nek siti..
tapi entahlah.. 😅
2023-06-11
1
Ibni Fathan
ohh kirain kuntilanak itu ibunya Sintia ternyata kuntilanak itu wujud asli Nek Siti,klu pocong kakek Dodit, hantu tentara kakek Ridho,hantu cina kakek Bimo berati selama ini hantu2 yg neror itu wujud aslinya
dari para lansia yg harusnya udh pada metong makanya setiap jam 12 anak2 dilarang keluar kamar
2023-06-11
4