"Syukurlah gue cuma mimpi. Tapi kenapa gue bisa ada disini ya, perasaan gue lagi di depan pintu ruangan yang terkunci itu." Gumam Dina dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Di tengah kebingungan nya, ada seseorang yang membuka pintu dari luar.
Cekleek.
Terlihat Mariyati berdiri di depan pintu kamarnya. Antara lega sekaligus cemas, karena ia melihat raut wajah Mariyati yang nampak marah.
"Apa yang kau lakukan di depan ruangan itu Dina?" Bentak Mariyati membuatnya gelagapan.
"Sa saya cuma lewat aja kok Bu, tapi saya gak sengaja lihat sesuatu di dalam sana. Ada penampakan hantu dengan leher tergorok Bu, dia minta tolong ke saya." Jelas Dina dengan menelan ludah kasar.
Mariyati menyeringai lalu berjalan ke arah Dina duduk.
"Jangan pernah lagi mencari tau sesuatu yang belum seharusnya kau tau, karena itu tak akan baik untukmu Dina! Lekaslah bangun, sekarang sudah siang. Waktunya kau bekerja kembali, dan bantu teman-temanmu!"
Setelah itu Mariyati pergi begitu saja, ia membiarkan Dina mengingat apa yang dilihatnya. Tak seperti biasa, ia selalu menghipnotis para mahasiswa itu.
"Din lu pingsan lama banget sih, hampir seharian baru bangun!" Celetuk Widia seraya memberikan segelas teh hangat untuk Dina.
"Hah masak sih?" Sahut Dina mulutnya terbuka lebar
"Bauk Din, jangan lebar-lebar!"
"Apa sih Wid, gue kaget tauk! Masak iya gue pingsan selama itu? Emang gue pingsan dimana?"
"Lah lu pingsan di depan ruangan yang selalu terkunci itu loh. Nek Dijah yang tau, terus dia panggil Bu Mariyati. Katanya lu lihat yang gak seharusnya lu lihat, makanya keadaan lu jadi begini. Tapi lu ngerasa gak sih kejadian itu kayak bergiliran. Yang pertama Sintia terus gue, lalu lu. Gak tau besok siapa lagi, jangan-jangan di tempat ini emang ada sesuatu deh!"
Sintia datang meminta Widia dan Dina segera keluar, karena ada pemeriksaan rutin untuk para lansia. Mereka semua harus membantu menyiapkan semua yang dibutuhkan.
"Lu gak apa-apa kan Din? Cepet ke depan ya, udah ditunggu soalnya." Kata Sintia seraya menepuk pundak Dina.
Dina hanya menyipitkan kedua mata, menatap Sintia dengan sinis. "Gak usah sok perduli deh, gue tau lu seneng kan gue celaka!" Dina bangkit dari tempat tidur seraya mengambil handuk yang terkait di paku.
Sintia dan Widia hanya menggelengkan kepala, entah kenapa kalau dilihat sifat Dina sangat mirip dengan Nek Dijah. Tapi keduanya tak pernah berdebat meskipun memiliki sifat yang sama.
"Perkenalkan dia ini Mbah Gito, orang yang sudah menyembuhkan Kakek Bimo seperti yang kalian lihat sekarang. Mbah Gito datang untuk melihat kondisi kesehatan para orang tua. Sekaligus beliau ingin melihat kalian semua. Orang-orang yang telah sangat berjasa buat para orang tua disini. Teruma Beni yang sudah tak ada disini lagi, meski hanya sebentar mengurus Kakek Bimo, berkatnya kesehatan Kakek Bimo berangsur membaik." Ucap Mariyati berdiri di samping lelaki yang sebaya dengannya.
Ke lima mahasiswa bersalaman dengan Mbah Gito seraya memperkenalkan diri. Mereka semua saling bergumam, karena salah mengira jika yang datang memeriksa adalah Dokter. Ternyata hanya seorang tabib dari Desa. Mereka berlima diminta memapah para orang tua ke dalam ruangan yang selalu terkunci. Karena ruangan itu memang biasa digunakan untuk melakukan pengobatan para lansia. Hanya Dina seorang yang wajahnya nampak tegang. Sepertinya ia masih ketakutan jika mengingat kejadian di dalam ruangan itu. Meski teman-temannya berkata jika ia hanya pingsan di depan ruangan itu saja.
"Dina kau yang pertama bertugas membawa Nek Dijah ke dalam." Perintah Mariyati dengan suara datar.
Dina masih diam di tempatnya berdiri, ia menelan ludah kasar lalu memandang wajah teman-temannya. Karena tak kunjung jalan, Mariyati membentak nya dengan nada suara tinggi.
"Apa kau mendengarkan kata saya Dina?"
"Hmm. Ma maaf Bu, tapi saya takut."
"Tak ada apapun di dalam sana Dina, lihat dan buktikan sendiri apa kata saya. Kau hanya berhalusinasi saja!" Cetus Mariyati seraya menarik tangan Dina.
Nek Dijah sudah duduk di ruang tengah menunggu Dina menjemputnya. Tapi Dina yang masih trauma agak ketakutan masuk ke dalam ruangan itu. Kemudian Sintia pun memilih menjadi yang pertama membawa Nek Siti untuk ke dalam.
"Nek Siti gak keberatan kalau masuk lebih dulu sama Sintia?"
"Iya Sin, kita duluan saja kalau gitu!"
Hanya raut wajah kesal yang ditunjukkan Dina maupun Nek Dijah. Mereka beranggapan jika Sintia dan Nek Siti hanya cari perhatian saja.
Setelah mengetuk pintu, Mbah Gito mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Mbah Gito lelaki yang seumuran Mariyati itu terlihat lebih muda dari panggilannya. Mungkin karena ilmu tinggi yang dimilikinya, ia mendapat julukan Mbah Gito. Nampak beberapa lembar kain berwarna putih di atas meja. Di sampingnya terlihat beraneka ragam sesajen dan dupa. Ada juga bunga tujuh rupa yang diletakkan di dalam baskom air. Sintia merasa aneh dengan pemandangan yang dilihatnya. Awalnya semua nampak biasa saja, Mbah Gito melakukan pemeriksaan melalui nadi Nek Siti. Ada pemijatan di bagian kepala, karena Nek Siti memang sering mengeluh sakit kepala.
"Berikan minuman ini ke Nek Siti." Ucap Mbah Gito seraya menyerahkan gelas berisi air putih yang ada bunga kantil di dalamnya.
Tepat di depan wajah Sintia, tiba-tiba Mbah Gito menghembuskan nafas panjang. Setelah itu tatapan mata Sintia menjadi kosong. Mbah Gito meminta Sintia yang meminum air bunga kantil yang sudah dipegang nya.
"Habiskan minuman nya, lalu tulislah namamu dan nama Bapakmu di atas kain putih ini. Jangan lupa menulis tanggal, bulan dan tahun lahirmu." Ucap Mbah Gito lalu membaca mantra-mantra.
Setelah Sintia menulis semua yang diperintahkan, ia hanya duduk diam tanpa kata. Nampak Nek Siti tertunduk dengan wajah sendu, ia seperti sedang menahan diri supaya tak marah di hadapan Mbah Gito. Tapi sepertinya Nek Siti kehabisan kesabaran. Ia menggebrak meja, dan merebut kain putih yang ada di genggaman tangan Sintia.
"Jangan lakukan ini Gito, aku tak membutuhkan apapun lagi. Biarkan saja dia menjalani hidupnya seperti anak muda lainnya."
"Kau tak bisa memutuskan ini semaumu Siti! Sebelumnya kau bisa melakukannya, kenapa sekarang tidak? Tak ada bedanya anak ini dengan orang tuanya. Jika dulu kau bisa, seharusnya sekarang kau lebih bisa. Karena kalian belum pernah saling bertemu sebelumnya!"
"Justru karena itu aku tak bisa melakukannya! Mungkin kalau dia sudah ada dari dulu, anak ini tak akan mungkin membiarkan ku menderita disini."
"Hahaha. Jangan terlalu berharap Siti! Sebentar lagi tujuan kalian semua akan tercapai. Jangan biarkan perasaan menguasai pikiran mu. Kembalikan kain kafan itu padaku, aku harus melakukan ini untuk mempertahankan gadis ini tetap bersama mu. Karena hari ulang tahun mu sudah terlewat, dan akan membutuhkan waktu sembilan bulan lagi, supaya kau tetap bisa bertahan sampai hari kelahiran mu. Hanya Bimo dan Dodit saja yang beruntung, ulang tahun mereka masih belum terlewat sehingga mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau."
Terlihat Nek Siti murung, tangannya bergetar memegangi kain kafan yang sudah ada tulisan tangan Sintia. Sampai ia tak sadar jika Mariyati sudah ada di belakangnya, dan dengan cepat Mariyati merebut kain itu dari genggaman tangan Nek Siti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Else Widiawati
nek siti terlanjur sayang sama sintia
2023-09-08
1
yuli Wiharjo
pantesan sintia bisa lolos, ternyata kurun wktu 9 bln.ya bnyk kesempatan nya
2023-06-10
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
cuma nek siti yg sayang sama sintia dan gk mau ngorbanin cucu.nya..
2023-06-10
0