Ke enam mahasiswa itu kembali ke dalam kamar mereka. Nampak Dina masih kesal lalu membanting pintu dengan kencang. Sintia yang tak mau ikut campur dengan urusan Dina hanya diam, sementara Widia berusaha menenangkan Dina.
"Sebentar lagi udah mau jam dua belas Din, jangan buat kegaduhan lagi. Gak tau kenapa gue ngerasa ada hal yang janggal di tempat ini, mungkin yang dikatakan bu Mariyati benar kalau disekitar tempat ini berbahaya. Jangan-jangan memang ada buronan yang sembunyi di dekat sini." Ucap Widia seraya merapatkan duduknya ke Dina.
"Udahlah gak usah mikirin hal yang terjadi diluar Panti. Gue bakal coba bertahan di tempat terkutuk ini, seenggaknya pas gue balik dapat nilai bagus. Udah sono gue mau tidur!" Dina merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan benar-benar melupakan masalah ponsel yang sempat ia ributkan tadi.
Waktu berlalu dengan cepat, setelah jam lima pagi para lansia yang ada disana sudah bangun. Mereka membutuhkan bantuan dari para mahasiswa itu untuk membersihkan diri dan sebagainya. Sintia yang lebih dulu bangun sudah membantu Nek Siti, lalu mengajaknya duduk di halaman belakang. Kebanyakan para orang tua yang ada disana tak terlalu suka berada dibawah sinar cahaya apalagi terik matahari. Jadi mereka hanya akan duduk di teras halaman belakang ataupun ruang tamu saja.
"Nek kenapa kita gak duduk di teras depan saja. Bukankah taman di depan lebih sejuk dan rindang. Nenek bisa dapat udara segar disana." Kata Sintia seraya memberikan obat pada Nek Siti.
"Pintu depan selalu terkunci Sin, gak ada yang bisa keluar tanpa seijin Mariyati. Kami juga dilarang keluar disekitar taman, hanya halaman belakang ini saja tempat kami para orang tua duduk santai kalau diluar rumah." Nek Siti duduk menatap wajah Sintia tanpa berkedip, lalu ia mengusap lembut pipi Sintia.
"Ada apa Nek? Kenapa tiba-tiba Nek Siti jadi murung?"
"Gak apa-apa kok Sin, Nenek hanya teringat seseorang saja."
Tiba-tiba Mariyati datang, ia mendatangi Sintia dan Nek Siti. Sepertinya Mariyati tau jika Nek Siti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sintia pergilah ke dapur, bantu Widia untuk menyiapkan makanan. Karena Dina sedang membantu Nenek Dijah dan Nenek Windu mandi." Perintah Mariyati dengan sorot mata tajam.
Setelah Sintia pergi, nampak Mariyati berbicara serius dengan Nek Siti. Ia memperingatkan Nek Siti untuk tetap diam, dan tak membicarakan hal-hal yang sudah ia larang.
"Tapi Mar, mereka tak bersalah. Kenapa kau harus melakukan semua ini?" Mata Nek Siti berkaca-kaca.
"Siapa yang berhak memutuskan mereka bersalah atau tidak Siti? Hanya aku yang bisa membuat keputusan, dan kau pun paham betul apa yang sudah kita sepakati sebelumnya!" Mariyati berang lalu meninggalkan Nek Siti seorang diri di halaman belakang.
Sementara di bangunan sebelah, tempat para laki-laki tinggal terjadi keributan. Karena Beni dan Doni tidak becus mengurus lansia yang mereka jaga. Kakek Bimo dan Kakek Dodit sampai terpeleset dari kamar mandi, dan keduanya terpaksa harus duduk di kursi roda. Mariyati yang melihat kejadian itu kesal, dan berniat memberi hukuman pada Beni dan Doni. Tapi Riko dan Kakek Ridho yang mengetahui kejadian sebenarnya, menceritakan jika semuanya hanyalah kecelakaan. Tapi Mariyati tetap kekeh pada pendiriannya, kalau Beni dan Doni harus dihukum supaya mereka tak teledor dalam menjaga para lansia itu.
"Nanti malam kalian tak diperbolehkan tidur di kamar! Kalian berdua harus menanggung hukuman karena lalai menjaga kedua Kakek ini." Kata Mariyati sebelum melangkah pergi.
Nampak Kakek Bimo dan Dodit tersenyum senang melihat kedua anak muda itu akan dihukum oleh Mariyati.
"Halah cuma disuruh tidur diluar kamar aja kan gak masalah Ben."
"Tapi kan Don, kata Bu Mariyati tempat ini kalau malam agak berbahaya."
"Udah gak usah ribut lagi, cepat bawa kedua Kakek itu ke ruang makan. Kita harus sarapan pagi juga, jangan sampai Bu Mariyati marah lagi dengan kalian!" Kata Riko seraya membantu memapah Kakek Ridho berjalan.
Dihari pertama mereka membantu disana, masih belum ada keanehan ataupun hal-hal diluar nalar yang terjadi. Mereka melakukan aktivitas seperti yang dilakukan orang pada umumnya. Sintia diminta pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan yang diperlukan. Tapi ia memberanikan diri untuk bertanya, karena menurut nya biasanya ada yang melakukan tugas itu sendiri. Tapi di Panti itu sudah lama tak ada yang melakukannya, karena beberapa pegawai banyak yang mengundurkan diri karena faktor financial. Begitulah yang dijelaskan oleh Mariyati, hanya dirinya seorang yang menjaga dan mengurus para lansia disana.
"Para orang tua lanjut usia yang ada disini sudah ditelantarkan oleh keluarganya. Dan tak ada yang membiayai mereka lagi, hanya saya saja yang masih mengurus dan memperjuangkan mereka semua. Dari lima puluhan orang hanya tersisa mereka berenam saja, saya susah payah pontang panting mengurus mereka seorang diri. Dan sekarang adalah waktunya mereka untuk bisa hidup lebih layak, tentunya dengan berkat kalian semua. Semua lansia yang ada disini bisa menikmati rasanya hidup kembali dan menjadi lebih berguna daripada sebelumnya."
Sintia merasa ada yang janggal dengan setiap kalimat yang Mariyati ucapkan, bahkan ia bergumam di dalam hatinya.
"Kenapa bu Mariyati memilih kata-kata rasanya hidup kembali, seakan mereka baru saja bangkit dari kematian. Mungkin karena sudah lama mereka terlantar dan tak terurus." Batin Sintia dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Kenapa Sin kok lu malah bengong?" Tanya Widia seraya menyikut lengan Sintia.
Mariyati langsung mengarahkan pandangannya pada Sintia, lalu ia tersenyum miring dengan membulatkan kedua mata. Sontak saja bulu-bulu halus di tubuh Sintia meremang. Ia mengusap belakang lehernya lalu bergidik.
"Gue gak apa-apa kok Wid, lu temenin gue ke pasar ya. Gue takut sendirian soalnya!" Jawab Sintia mengeluh.
"Apa yang kau takutkan Sintia? Selama saya masih melindungi mu, tak akan ada yang terjadi padamu. Pergilah ke pasar sendiri, karena Widia harus membantu menjaga Nek Siti selagi kau pergi."
"Tapi Bu, bukankah kau memintaku untuk membeli beras satu karung untuk persediaan selama beberapa minggu. Saya nanti kerepotan membawanya sendiri."
"Baiklah kalau begitu, kau bisa pergi bersama Riko. Di ujung jalan pengkolan ada delman yang biasa mangkal. Naiklah delman itu bersama Riko, mintalah kusir itu untuk menunggu selama kalian berbelanja." Kata Mariyati seraya memanggil Riko yang sedang sibuk membereskan piring makan Kakek Ridho.
Disaat Sintia bersama Widia sibuk dengan catatan belanja, Mariyati mengambil sesuatu dari belakang gelungan rambutnya. Ia menarik beberapa helai rambut yang secara tiba-tiba menjadi beberapa lembar uang seratus ribuan. Tanpa Mariyati sadari ternyata Dina melihat apa yang baru saja ia lakukan. Nampak Dina terperanjat, ia membuka mulutnya lebar seraya berjalan mundur ke belakang. Dina ketakutan melihat hal gaib yang ia lihat secara tak sengaja tadi.
"Sebenarnya bu Mariyati itu siapa sih, kenapa dia bisa melakukan hal itu. Apakah dia pesulap atau dukun ilmu hitam?" Batin Dina di dalam hati dipenuhi tanda tanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Niswah
aku pernah baca crt ini, di petualang gaib rania, kalau gak salah cumn satu yng selamat
2023-09-30
0
EsTehPanas SENJA
ini aku mau ilmu ini sumpaaaaaah.... dari helai rambut atau bulu ketek pas di cabut jadi duiiiiit 😱😱😱
2023-09-20
2
Cillia nopo!
nek siti tahu sesuatu ne..bikin penasaran saja
2023-06-10
0