"Sadarlah Siti! Apa kasih sayang mu sebanding dengan penderitaan yang kau alami selama ini? Bagaimanapun kita semua sudah sepakat, hanya dengan selangkah lagi semua selesai."
"Apa tak cukup cucu kami yang menjadi korban? Kenapa harus cicit kami juga yang menjadi korban?"
Mariyati mengingatkan Nek Siti, jika sesuai kesepakatan mereka harus mengorbankan tiga garis keturunan.
"Yang pertama tiada adalah anakmu sendiri, yang dari garis keturunan pertama. Lalu cucumu dari garis keturunan kedua, dan sekarang waktunya cicitmu sebagai garis keturunan ketiga yang harus melakukan pengorbanan. Bukankah ini langkah terakhir kita Siti, kenapa kau ingin mengacaukan segalanya?" Bentak Mariyati membulatkan kedua mata.
"Sudah cukup Mariyati, ku mohon! Kedua garis keturunan ku, ku biarkan begitu saja karena mereka sudah pernah melihat dan bertemu dengan ku sebelumnya. Berbeda dengan Sintia yang tak pernah tau aku, bagaimana mungkin aku mengorbankan cicit yang belum pernah melihat wajahku selama ini. Sejujurnya masih ada penyesalan karena aku mengorbankan dua garis keturunan ku, tapi aku berusaha menerima dengan beranggapan itu sebagai bentuk hukuman untuk mereka. Berbeda dengan kali ini Mar, ku mohon berikan kain kafan itu. Bebaskan Sintia Mar, biarkan aku pergi dengan tenang." Ucap Nek Siti menangis sesegukan dengan menyatunya kedua tangan.
"Sudah cukup Siti! Gito cepat lakukan sesuatu, kita tak bisa membuang waktu seperti ini!"
Dengan satu perintah dari Mariyati, Mbah Gito membuat Nek Siti tak sadarkan diri. Sebenarnya Nek Siti bisa saja menghindar dari serangan yang ditujukan padanya. Tapi ia terlalu fokus pada Sintia, sehingga ia tak menyadari jika Mbah Gito berusaha memberikan serangan padanya.
"Sintia cepat bawa Nek Siti ke kamarnya!" Cetus Mariyati membantu Sintia memapah Nek Siti ke kamarnya.
Nampak semua yang menunggu diluar terkejut melihat kondisi Nek Siti yang lemah. Para mahasiswa saling berbisik, jika sebelum pemeriksaan kondisi Nek Siti baik-baik saja. Namun setelahnya justru ia terlihat lemah. Sementara di dalam ruangan, Mbah Gito sedang melakukan ritual pengikatan jiwa Sintia. Hanya dengan melihat tanggal lahir Sintia, Mbah Gito dapat mengetahui weton gadis itu. Kain kafan yang bertuliskan data diri Sintia di ikat membentuk pocong. Dan diberikan mantra-mantra diluarnya, dengan tujuan jiwa Sintia akan selamanya terikat dengan Nek Siti. Jadi kapanpun dibutuhkan, meski Sintia meninggalkan Panti itu jiwa nya bisa kapan saja di ambil oleh Mbah Gito. Kecuali jika Nek Siti memutuskan untuk menyelesaikan semua, dengan mengakhiri perjanjian nya dengan Mariyati.
Satu persatu mahasiswa dan para lansia sudah masuk ke dalam ruangan, untuk mengantarkan para orang tua berobat. Dan mereka juga diminta melakukan hal yang sama seperti Sintia. Semua kain kafan yang bertuliskan data mereka sudah terikat rapi membentuk pocong. Yang tersisa hanya Dina dan juga Nek Dijah. Setelah melihat semua temannya masuk ke dalam, dan keluar dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya Dina memberanikan diri masuk ke dalam. Semua ritual dilakukan seperti yang lainnya, namun ada hal yang sedikit berbeda kali ini. Ternyata diam-diam Mbah Gito menyukai Dina, tak hanya mengikat jiwa Dina supaya tak terlepas dari Nek Dijah. Mbah Gito juga melakukan pelet, supaya Dina menurut dan tertarik padanya. Nek Dijah sempat curiga dengan cara pandang Mbah Gito pada Dina. Tapi Mbah Gito memberikan penawaran yang menurut Nek Dijah menguntungkan.
"Bagaimana Dijah, apa kau setuju? Aku hanya butuh pewaris untuk semua ilmu yang ku miliki. Sesuai yang kau tau, aku belum mempunyai keturunan. Dan jika rencana ku berhasil, aku akan memberikan imbalan yang pantas untukmu."
"Asal rencana mu tak mengganggu apa yang sudah kita rencanakan sebelumnya, aku setuju saja jika apa yang akan kau lakukan masih menguntungkan untuk ku."
"Baiklah jika kau mengerti, pergilah sendiri dari sini. Katakan pada mereka semua, aku masih membutuhkan waktu lebih untuk mengobati Dina." Kata Mbah Gito tersenyum melalui sudut bibirnya.
Nek Dijah keluar dari ruangan itu seorang diri, ia menjelaskan pada semuanya jika Dina masih diterapi supaya trauma nya hilang. Mariyati yang merasa ada kejanggalan langsung berbicara setengah berbisik pada Nek Dijah.
"Apa maksud ucapanmu tadi Dijah? Kenapa Gito harus mengobati Dina juga?"
"Anak itu harus memberikan keuntungan lebih padaku. Karena itulah ia harus tetap berada disana bersama Gito!" Jelas Nek Dijah menyeringai sebelum melangkahkan kakinya pergi.
Ke empat mahasiswa itu tak ada yang curiga dengan keadaan saat itu. Mereka masih berada di bawah sihir Mbah Gito, sehingga tak ada yang bertanya kenapa Dina tak kunjung keluar dari ruangan itu. Sementara Mariyati yang tak mau ikut campur dengan urusan Mbah Gito dengan Nek Dijah, membiarkan Dina tetap berada di ruangan tertutup bersama Mbah Gito.
Nampaknya Mbah Gito begitu menikmati malam bersama Dina. Dibawah sihirnya, Dina sangat patuh dengan setiap ucapan lelaki paruh baya itu. Entah sudah berapa kali mereka melakukan penyatuan, sampai tubuh Dina terkulai lemas tak berdaya. Sementara semua mahasiswa yang lain sudah beristirahat di kamar mereka. Dina masih sibuk menyenangkan hati Mbah Gito. Sampai akhirnya Mariyati mengetuk pintu ruangan, lalu Mbah Gito terpaksa mengenakan sarungnya. Ia berjalan membuka pintu, dan tersenyum puas di hadapan Mariyati.
"Aku tak perduli rencanamu dengan gadis itu, lantas bagaimana jika ia benar-benar." Belum sempat Mariyati menyelesaikan kata-katanya, Mbah Gito memberikan kode dengan meletakkan jark telunjuk di depan bibirnya.
"Kau tak perlu memikirkan itu Mariyati, semua sudah ku atur sedemikian rupa. Dari awal aku sudah terpikat dengan kemolekan Dina, bukankah kau tau jika aku membutuhkan penerus untuk semua ilmu ku. Jiwa ku akan menempati raga yang baru, itulah gunanya calon penerus untukku. Kelak ketika dia dewasa, jiwa kami akan bertukar tempat. Bukankah kita harus saling membantu, sekarang kau antarkan Dina ke kamarnya. Aku rasa untuk hari ini sudah cukup." Pungkas Mbah Gito memancarkan aura kebahagiaan.
Dina yang masih dalam keadaan tersihir berjalan tertatih menahan rasa sakit yang luar biasa. Meski jiwa nya dibawah sihir, raganya sebagai manusia biasa memiliki batasan. Nampak hantu-hantu di Panti jompo itu mulai berkeliaran. Karena jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Di dalam kamar para perempuan, hanya Sintia saja yang masih terjaga. Tapi ia pura-pura memejamkan mata, ketika melihat bayangan Mariyati di depan pintu kamarnya.
Begitu Mariyati pergi, ia mendongakkan kepala melihat Dina yang sudah berbaring di atas ranjang. Sintia tak menyadari jika Dina baru saja menghabiskan malam dengan dukun kepercayaan Mariyati. Apalagi ia dalam keadaan tersihir oleh ilmu Mbah Gito. Tapi tiba-tiba saja ia melihat sekelebatan bayangan putih dari balik jendela. Sintia bangkit berdiri, mengendap untuk mengintip bayangan putih tersebut. Tangannya menyibak tirai, lalu ia melihat keluar kamar. Tak ada apapun diluar sana, hanya ada kabut dengan asap putih.
"Apa bayangan putih tadi hanya asap yang berasal dari kabut ya?" Gumam Sintia dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Whuuusd.
Hawa dingin lewat di belakang lehernya, Sintia mengusap tengkuknya lalu membalikkan tubuh ke belakang. Dan ia melihat sesosok kuntilanak berdiri mengambang tepat di hadapannya. Kuntilanak dengan sorot mata sendu, menatapnya tanpa ekspresi. Sontak saja Sintia ketakutan dan menjerit histeris.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Sari Yuliati Pani
kasian si Dina
2024-05-14
0
Else Widiawati
thor mau tanya, dinovel penelusuran rania aku ingat kalo para mahasiswa itu punya orang tua, bahkan ibu sintia dateng menemui rania, aku sampe baca ulang ceritanya..tapi kenapa disini dibilang kalo anak dari nek siti dan cucunya berarti ibu dari sintia udah dijadikan tumbal......gimana nih maksudnya?
2023-09-08
1
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
kasihan juga si dina kalau dijadikan budak nafsu mbah gito..
2023-06-11
0