Dina memundurkan langkah, sampai akhirnya ia menjatuhkan vas bunga yang ada di atas nakas. Mariyati membalikkan tubuhnya menatap Dina dengan sorot mata tajam.
"Apa yang kau lakukan Dina? Kau bisa saja melukai para orang tua itu, jika kau ceroboh begitu!" Bentak Mariyati seraya melangkahkan kakinya mendekati Dina.
"Se sebenarnya ibu itu siapa?" Ucap Dina suaranya terdengar bergetar.
Tanpa banyak bicara lagi, Mariyati langsung menarik tangan Dina. Ia membawanya masuk ke dalam ruangan nya. Mariyati langsung menggunakan ilmunya untuk membuat Dina melupakan apa yang telah ia lihat tadi.
"Lihat mata saya Dina! Kau akan melupakan kejadian di ruang tamu itu, lupakan kalau kau melihatku melakukan sesuatu yang menurutmu janggal. Sekarang lanjutkan kegiatanmu, bantu Nek Dijah membersihkan piringan hitam yang biasa ia dengarkan sebelum tidur." Mata Mariyati selalu mengeluarkan suar cahaya merah ketika ia memberikan sihir pada lawan bicaranya.
Dina hanya menganggukkan kepala, lalu ia kembali ke ruang tamu untuk mengajak Nek Dijah ke ruang santai. Widia yang sempat melihat gelagat aneh temannya tadi, akhirnya bertanya. Tapi Dina menjawab dengan sinis, kalau tak ada apa-apa dengannya.
"Lu yakin Din gak kenapa-napa? Kalau ada masalah cerita aja ke gue, soalnya tadi gue lihat lu kayak ketakutan gitu!"
"Gue udah bilang gak ada apa-apa Widia! Kenapa sih lu keppo banget sama urusan orang lain. Urus aja tuh Nenek dengan benar!" Bentak Dina seraya memapah Nek Dijah yang sedang berlenggak lenggok menarikan suatu gerakan tari.
Karena tak suka dengan sikap Dina, Sintia menegurnya. Dan meminta Dina supaya lebih lembut kalau berbicara di depan para orang tua yang mereka jaga.
"Lagipula maksud Widia juga baik kok, kalau lu gak suka ya udah. Lain kali lu juga gak usah perduliin si Dina lagi deh Wid, gue pergi dulu ya. Titip Nek Siti sebentar." Sintia berjalan mendekati Nek Siti seraya berpamitan lalu mengecup punggung tangan nya.
Nampak wajah Nek Siti berubah sendu, lagi-lagi matanya berkaca-kaca ketika berhadapan dengan Sintia.
"Hati-hati ya Sin, gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Pakailah insting mu untuk melihat apa yang tak bisa kau lihat dengan matamu." Pesan Nek Siti seraya menoleh ke berbagai arah.
"Kenapa Nek Siti seperti menyembunyikan sesuatu, dan seakan dia ngasih gue petunjuk. Tapi petunjuk untuk apa, dan dari apa ya. Sesuatu yang gak bisa gue lihat dengan mata, maksudnya apa sih?" Batin Sintia di dalam hati dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Plaaak!
Riko menepuk pundak Sintia, karena tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
"Ada apa sih Ko?"
"Lu yang kenapa Sin, dari tadi gue ajak ngomong malah diem aja. Itu loh pintu depan kan dikunci, lu udah minta kuncinya dari Bu Mariyati?"
"Eh iya Ko, gue juga belum minta anggaran buat belanja. Tunggu bentar deh, gue ke ruangan Bu Mariyati dulu." Ucap Sintia seraya berlari menyusuri lorong ke ruangan yang paling ujung.
Sesampainya di depan pintu kayu bercat cokelat itu, Sintia tak langsung mengetuk pintu. Ia menghirup aroma kemenyan, hingga membuat bulu kuduk nya merinding. Sintia mengusap belakang leher seraya membalikkan tubuhnya. Lalu ia pun melompat karena terkejut melihat Mariyati sudah ada di belakang nya.
"Ma maaf Bu, saya mau minta anggaran buat belanja sekalian kunci pintu depan." Sintia masih mengatur nafasnya dengan memegangi dada.
"Ini uangnya, belilah semua yang bisa kau beli selagi masih ada sisa nya. Saya akan bukakan pintu, dan jika sudah kembali bunyikan saja kentongan yang ada di tiang bambu depan pintu. Saya sendiri yang akan membukakan pintu untuk kalian!"
Mariyati langsung membukakan pintu, lalu menutupnya kembali. Nampak Sintia berjalan gontai sambil mengingat kejadian di depan ruangan Mariyati. Di dalam hati Sintia sangat yakin, jika ia menghirup aroma kemenyan. Tapi karena terkejut melihat Mariyati ada di belakangnya, fokusnya langsung buyar.
"Sebenarnya lu kenapa sih Sin? Perasaan dari tadi banyak bengong, apa lu masih gak nyaman ya deket gue?" Tanya Riko seraya menarik tangan Sintia.
"Riko lepasin tangan gue deh! Gue udah gak mikir apapun lagi tentang lu, jadi gak usah kegeeran gitu!" Jawab Sintia berusaha melepaskan pergelangan tangannya.
"Apa lu gak ngerasa ada hal yang aneh di Panti jompo itu?"
"Hal yang aneh apa sih Sin? Gak usah parno gitu deh, kita ini belum ada sehari loh disana. Jangan sampai lu mikirin yang enggak-enggak, yang ada lu gak fokus jaga Nek Siti. Meski gue tau tanpa lu ikut kesini, pasti lu bisa dapat nilai bagus."
"Nah itu dia Ko, perasaan gue belum bilang setuju atau gak pas di kasih tau ada kerja lapangan di Panti. Tapi kok kita semua udah ada di Panti itu ya, mana dadakan banget lagi. Sampai kita gak ada yang bawa pakaian sama sekali."
"Udahlah Sin, gak usah dibahas lagi. Gue sendiri juga gak tau jawabannya, lagian kita gak perlu mikirin hal yang terjadi diluar Panti. Kayak gak ada pentingnya aja, fokus gue saat ini buat selesaiin tugas di Panti aja." Jelas Riko nampak acuh.
Sintia mengernyit, ia merasa pernah mendengar hal yang sama dari Mariyati. Tapi entah kenapa hanya Sintia yang sedikit peka, meski ia sendiri juga pernah di hipnotis oleh Mariyati.
"Pak kusir kalau mau ke Pasar terdekat dari sini dimana ya?" Riko sedang tawar menawar ongkos pulang pergi ke Pasar Waru. Pasar yang jaraknya hanya dua ratus lima puluh meter dari sana.
Setelah deal dengan harga yang dibicarakan, Sintia dan Riko langsung menaiki delman. Pak Kirun namanya, dia salah satu orang yang masih memberikan jasa dengan transportasi sederhana di dekat sana.
"Sepertinya adek-adek ini bukan berasal dari daerah sini ya?" Pak Kirun berbasa-basi seraya menjalankan delmannya.
"Iya Pak, kami ini mahasiswa yang sedang kerja lapangan. Kebetulan kami tinggal di Panti Jompo Muara Hati." Jelas Riko dan Sintia kompak.
"Oh tempatnya Bu Mariyati ya, memangnya kalian ada hubungan keluarga dengannya?"
"Hmm gak ada Pak. Kebetulan dapat tugas saja dari kampus, jadi untuk sementara kami tinggal disana."
"Syukurlah kalau Bu Mariyati ada yang menemani. Kasihan dia seorang diri disana, ditambah beban yang ia tanggung tanpa ada yang membantu. Pasti sangat berat buat dia, dan sekarang ada kalian yang menemaninya." Pungkas Pak Kirun seraya menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa Pak Kirun berbicara seolah-olah Bu Mariyati sebatang kara di Panti itu. Apa karena memang dia merawat para lansia itu sendirian." Batin Sintia menerka-nerka.
Tanpa diduga Pak Kirun menceritakan beberapa kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu. Kejadian yang sangat berbekas di ingatan orang-orang yang tinggal di sekitar lingkungan Panti. Bahkan mungkin kejadian tersebut sangat sulit dilupakan oleh Mariyati sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Else Widiawati
nah lo...ko bilang sendirian
2023-09-05
2
Cillia nopo!
aduh deg²kn ne..
2023-06-10
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
apa para lansia itu udah meninggal ya, terus di hidupin lagi sma bu mariyati dengan ganti nyawa para anak cucu.nya..
2023-06-08
0