"Wait, bukannya waktu itu kamu masih nembak aku, ngajakin balikan, Daffin? padahal kamu tadi bilang udah jadian sama Kinan saat itu?" cecar Amber seraya tertawa menang.
"Ah, kamu kalau ngarang cerita yang masuk akal dong" ketusnya sambil geleng-geleng kepala tak percaya.
Daffin baru menyadari plot hole dalam kebohongannya. Alangkah bodohnya dia karena dulu kerap mengemis cinta wanita itu membuat cerita tentang hubungan asmaranya dengan Kinanti kali ini menjadi janggal.
"Dia betul" Kinanti tiba-tiba menyahut.
"Kami memang udah jadian saat itu tapi belum terlalu serius seperti sekarang, aku nggak keberatan kalau dia ninggalin aku buat cewek lain selama cewek itu kamu karena aku tahu bagaimana Daffin mencintai kamu sejak dulu, Amber. Dia tulus dan betulan sayang sama kamu" lanjutnya.
Pengakuan Kinanti membuat seisi meja terdiam, Daffin lega karena Kinanti cepat tanggap memperbaiki alur kebohongan yang tadi namun di sisi lain Daffin merasa tak enak karena Kinanti justru merendahkan dirinya sendiri demi mengembalikan harga diri Daffin di mata Amber.
Amber memandangi Kinanti dan Daffin secara bergantian.
"Meskipun wanita lain itu aku? Ckckck, Kinanti, Daffin itu kan cowok kamu, kamu nggak boleh membiarkan dia mengingkari komitmen kalian"
"Daffin gak mengingkari komitmen karena dia nembak kamu pas lagi putus sama aku, kami dulu putus nyambung dan membangun hubungan ini atas dasar coba-coba" sahut Kinanti dengan kebohongan yang mengalir setenang air.
Sementara itu Daffin terdiam antara senang dan tak enak hati mendapat pembelaan dari Kinanti.
"Awalnya Daffin sering curhat tentang perasaannya yang selalu kamu tolak dulu, dia sering nelepon aku lama-lama cuma buat ngebahas kamu" pada bagian ini Kinanti tak berbohong. Daffin memang sering melakukannya semasa SMA.
"Sampai akhirnya aku bosan dan nyuruh dia move on. Eh, dia malah nembak aku" Kinanti tertawa untuk menutupi kegugupan dibalik dustanya kali ini.
"Dan kamunya mau?" Amber terheran-heran.
"Kenapa tidak? aku kan jomblo, nggak ada cowok yang aku khianati saat aku jadian sama, Daffin"
"Kinan serius?" desis Amber, masih tak percaya Kinanti benar-benar menjalin hubungan khusus dengan Daffin.
Kinanti mengedikkan bahu dengan santai.
"Percaya atau tidak terserah kamu"
"Sulit dipercaya" Amber geleng-geleng dan terbahak, kemudian merangkul lengan Ikram.
"Ternyata mereka seriusan, beib" ujarnya sembari merebahkan kepala di bahu suaminya itu. Dan Kinanti menangkap sekelebat kilat kekecewaan di mata Ikram, lelaki itu dulu pernah bertanya apakah Kinanti punya pacar sebelum menghujaninya dengan ciuman dan Kinanti menjawabnya tidak. Biarlah sekarang Ikram menganggap kalau ternyata dulu itu Kinanti membohonginya.
Kini, ada angin sejuk bernama kepuasan yang Kinanti rasakan dalam dadanya yang selama ini digempur panas, dia puas melihat ketidaksenangan yang terpancar dalam sorot mata Ikram. Apa Ikram pikir cuma dia yang bisa mempermainkan perasaan Kinanti seenaknya?
"Bisa-bisanya kamu menerima Daffin hanya karena kamu lagi jomblo, konyol tau nggak" ledek Amber.
"Karena aku membutuhkan seorang pria di dalam hidup ku" sahut Kinanti acuh tak acuh.
Lagi-lagi Amber terbahak. Seputus asa itukah temannya karena terlalu lama sendiri?
"Fine, aku tahu itu, kamu udah terlalu lama sendiri Kinan. Kamu terlalu serius belajar dan kerja sampai lupa soal cowok, tapi kenapa dia? Daffin gitu loh" tegur Amber terang-terangan tak setuju dengan pilihan Kinanti.
"Memangnya kenapa kalau aku? jangan julid dong" Daffin dongkol kalau Amber mengatakannya seakan-akan tak ada dirinya yang sedang jadi objek pembicaraan.
"Soalnya kamu itu slengekan, nggak ada seriusnya jadi orang" semprot Amber. Daffin yang dikenal Amber selama ini memang sangatlah kekanakan. Nggak ada wibawa-wibawa nya sebagai lelaki. Bukankah itu tampak jelas? Kinanti harusnya memilih pria yang lebih dewasa bukan yang penting ganteng seperti Daffin, buat apa ganteng kalau hobinya merengek seperti bocah, selama berpacaran dengan Daffin, Amber merasa seperti saudara perempuannya saja ketimbang pacar. Hambar.
"Aku mungkin slengekan di mata kamu, tapi nggak ada serius-serius nya? oh, come on! kamu dengar sendiri tadi Kinanti bilang apa? dia tahu gimana seriusnya aku ke kamu, Amber. Bodoh amat seperti apa tanggapan kamu selama ini ke aku, tapi aku tetap sayang dan peduli sama kamu kan? kamunya aja yang gak peka"
"Excuse me bro, kamu berbicara tentang istriku. Your respect please"
Daffin bungkam mendapat teguran Ikram yang menatapnya tajam. Menyadarkan Daffin jika wanita yang dicintainya itu telah bersuamikan Ikram orang yang selama ini tak pernah diduga bakal menikung Amber darinya.
"Dan kamu berbicara tentang pria ku, Amber. Please respect" celetuk Kinanti di tengah keheningan membuat semua orang menoleh padanya.
'Eh, Kinan. Kamu belain aku?' batin Daffin terkesima.
"Kamu tanya aku? kenapa dia?" Kinanti tertawa kepada Amber lalu mengerling pada Daffin.
"Dia ini imut hangat dan menyenangkan" lalu menoleh kembali pada Amber.
"akamu dulu sering memuji-muji Daffin kayak gitu kan? nah aku setuju dia memang jenis pria seperti itu. Itulah mengapa aku suka sama Daffin" pungkas Kinanti sembari menyambar gelas di meja dan meneguk habis isinya karena gugup.
"Kata-kata yang indah, beib" sahut Daffin seraya merangkul pundak Kinanti.
"I love you" bisiknya sepenuh penjiwaan.
"Hanya itu?" Kinanti menatap Daffin sambil mengangkat alis membuat Daffin bingung dengan kode yang dilemparkannya.
"Tanpa ciuman?" bisik Kinanti sambil menendang kaki Daffin di bawah meja.
Daffin tersenyum simpul, menyukai improvisasi akting Kinanti ini.
"I love you" Daffin pun mengulangi ucapannya tadi seraya mendaratkan ciuman.
Amber terbelalak seketika.
"Ke kamar aja" omelnya sambil membuang wajah, jengah melihat kedua love bird di depannya itu berciuman bibir seenaknya.
Sedangkan Ikram justru tak sedikit pun berpaling, dia terus memandangi Kinanti yang sedang berciuman bibir dengan pria lain tepat di depannya. Membuat Kinanti terkejut bukan main usai berciuman dengan Daffin lalu bertabrakan mata dengan Ikram yang menyorotinya dingin.
#########
"Daffin Kalandraaaaaa! Ngapain tadi kamu pakai cium-cium bibir aku segala, hah?" Kinanti meninju lengan Daffin saat mereka sudah kembali berada di dalam mobil.
"Lah, kan kamu sendiri tadi yang minta Kiss? kamu udah pikun Maemunah?"
Kinanti meninju Daffin sekali lagi dengan lebih keras tapi tak berefek apa-apa di lengan Daffin yang diam-diam kencang berotot karena rajin nge gym.
"Bukan cium bibir yang aku maksud, dodol!"
"Terus apa dong? cium tangan? Bah, macam anak TK salim sama guru aja" Daffin malah terkekeh sambil mengegas mobilnya dari tempat parkir.
Kinanti membuang tatapannya keluar jendela sambil mengusapi bibirnya, seakan dengan begitu bisa menghapus jejak ciuman Daffin dari sana.
"Awas kamu cium-cium bibir aku lagi kayak tadi" omelnya dongkol.
Daffin menertawakan Kinanti yang sedang mengusapi bibir, saat berciuman tadi Daffin melirik Amber, ingin tahu reaksinya tapi yang dia dapati justru sorot mata Ikram yang tampak ingin membunuhnya bikin Daffin senang bukan main kala melihat kobar kecemburuan memenuhi sorot mata pria itu.
Kalau begitu dia harus segera menikahi Kinanti biar impas.
'Seperti itulah rasanya Ikram saat aku melihat kamu menikahi Amber yang aku cintai. Hati aku sakit bukan main melihat kamu menyentuh dia, menggandeng dia, merangkul dia, memiliki dia sebagai istri kamu, padahal jelas-jelas kamu tahu gimana perasaan aku ke Amber sejak dulu, kurang ajar kamu, Ikram' batin Daffin meradang oleh kemarahan yang diam-diam di pendamnya.
'Lihat aja Ikram, habis ini Kinanti bakal sering-sering aku sosor di depan muka kamu, biar mampus kamu disiksa cemburu' tekad Daffin dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments