"Pelakor? Selingkuh? Siapa pelakor, siapa selingkuhan mas. Jujur Menik, mas tidak mengerti dengan apa kamu ucapkan. Mas sama sekali tidak ada selingkuhan. Di dalam hati mas Anjaz saat ini hanya ada Menik, tidak ada yang lain." ujar Anjaz dengan erat memegang kedua tangan Menik untuk meyakinkannya.
Antara senang dan ragu, Menik pun langsung menatap mata Anjaz dengan penuh harapan jika apa yang di katakan Anjaz adalah kebenaran.
"Tadi, ada perempuan namanya Jelita, dia telpon mas Anjaz, katanya dia kangen sama Mas Anjaz." jelas Menik.
Anjaz pun akhirnya mengerti akar dari problem ini. Anjaz pun tersenyum melihat kecemburuan yang Menik utarakan.
Bukanya menjawab, Anjaz justru mencium kening Menik dengan sangat lembut.
Andai Menik bukan lagi pelajar abu-abu, Anjaz pasti sudah akan memberinya sebuah bukti.
Kini, Anjaz membantu Menik untuk kembali memakaikannya bajunya kembali layaknya seorang anak kecil.
Anjaz masih berusaha untuk mengendalikan dirinya demi masa depan menik. Ketika selesai memakaikan baju, Anjaz pun langsung memeluk Menik dan mengajak untuk tidur bersama.
Kini, Menik tidur di pelukan Anjaz. Namun Menik masih belum bisa tidur karena ia masih memikirkan ucapan Jelita tadi.
",Mas, memangnya siapa Jelita itu? Kenapa mas Anjaz cuma tersenyum pas dengar namanya?" tanya Menik.
"Dia hanyalah wanita yang terus menggodaku. Dia bukan kekasih ataupun mantanku." jawab Anjaz.
"Gitu, terus, tadi perempuan itu bilang kalo mas Anjaz sekolah di luar negeri. Em, di mana tadi katanya ya?" ucap Menik yang lupa-lupa ingat.
"Di Jerman. Aku sengaja mengatakan itu supaya dia tidak bisa mengejar mas lagi. Kalo mas jujur mas ada di desa ini, mas yakin dia akan datang menemui mamas." jelas Anjaz.
Meskipun Anjaz sudah menjelaskannya, entah kenapa Menik masih saja meras kurang puas.
Mengerti dengan ekspresi wajah Menik, Anjaz pun berkata." Baiklah, mas akan memblokir nomor Jelita. Semua ini demi Monika Ayu tersayang."
Ucapan Anjaz membuat wajah Menik langsung memerah. "Janji yo?" tanya Menik.
"Tapi janji juga, kamu jangan melakukan hal nekat seperti tadi lagi." ucap Anjaz memperingati Menik. Karena malam ini Anjaz bisa menahannya, bagaimana jika tidak bisa menahannya, maka semua akan lain cerita.
"Hehehe, iya-iya, maaf yo mas, janji Menik gak kaya gitu lagi." ucap Menik yang langsung membelakangi Anjaz.
Anjaz pun hanya tersenyum dan memeluk Menik dari belakang. Sesekali Anjaz mengelus rambut Menik.
Ketika Menik sudah tertidur, Anjaz pun keluar dari kamar diam-diam untuk mencari ponselnya.
Anjaz langsung memeriksa ponselnya. Terlihat beberapa panggilan masuk tidak terjawab dari Jelita.
"Wanita itu, sepertinya aku tidak bisa menyepelekannya." gumam Anjaz dengan kesal langsung memblokir nomor Jelita.
Anjaz pun memasang handset dan mendengarkan lagu favoritnya. Anjaz tidak bisa tidur lagi. Dia membuka laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya.
Ketika sedang fokus mendengarkan musik, tiba-tiba saja album musiknya terdengar suara percakapan Jelita.
Ternyata Menik tidak sengaja memencet rekaman suara pada panggilan. Setelah mati, rekaman itu akan langsung masuk ke album musik secara otomatis.
Anjaz mendengarkan suara Jelita yang terus berbicara. Ternyata Menik tidak mengatakan sepatah kata pun.
Anjaz terlihat sangat marah ketika mendengar ancaman dari Jelita jika ia akan memberikan nomor barunya kepada kakaknya.
Anjaz pun langsung membuka blokiran Jelita dan langsung berjalan ke halaman belakang untuk menelpon Jelita.
Anjaz ingin memperingati Jelita agar tidak mengancamnya seperti ini lagi.
"Halo, Anjaz, kenapa kamu mematikan ponselnya dan memblokir nomorku!?" tanya Jelita dari balik panggilan.
"Jelita, aku sedang menghadap dosen, jadi tidak bisa menerima panggilan mu." jelas Anjaz berbohong. "Jelita, apakah kamu masih menyembunyikan tentang aku ke Dimas?" tanya Anjaz. Dimas Palang adalah kakak lelaki Anjaz yang berusia (30)
"Oh begitu, kamu pasti saat ini sibuk sekali ya. Maaf ya aku sudah menganggu mu. Malam ini aku mau keluar party bersama teman-teman. Tenang saja, soal kak Dimas semuanya beres. Oya, katanya kak Dimas mau nikah loh. Dia akan di jodohkan oleh anak rekan bisnisnya.' sahut Jelita memberi informasi.
Alasan Anjaz berhubungan baik dengan Jelita yaitu agar dia masih bisa terus mengawasi sang kakak.
"Begitukah. Hmm, syukur kalo dia mau nikah, itu tandanya dia akan segera tobat." ujar Jelita.
"Tobat dari mana, hahaha... Kakakmu akan menikah dengan anak rekan bisnis kakakmu. Bukan rekan bisnis dari perusahaan, tapi dari kelompok di dunia malam. Gak ngerti lagi deh sama jalan pikir kakakmu itu," jelas Jelita.
"Siapa namanya?" tanya Anjaz.
"Masih rahasia katanya. Kita tunggu aja tanggal mainnya." jawab Jelita.
Anjaz pun mematikan panggilan. Dia sangat penasaran, kenapa Dimas memilih wanita malam untuk di jadikannya istrinya.
"Dimas, aku harap kamu tidak lagi mengincar ku. Sudah cukup, aku merasa tentram di sini. Aku tidak mau lagi bergulat bersamamu. Aku ingin hidup damai bernama anak dan istri ku di sini, di desa ini, aku harap kau akan mengerti.' gumam Anjaz.
Entah apa yang terjadi dengan adik Kakak ini. Mengapa Anjaz sangat ingin menjauhi kakaknya. Ada apa sebenarnya dengan Dimas, simak Terus kelanjutannya di episode selanjutnya. 😊
..........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments