Jangan di Lawan, menik

Sudah satu bulan dari kematian sang nenek. Menik terlihat murung berhari-hari, diam tidak banyak membuat Anjaz merasa sangat bersalah.

Bahkan beberapa hari ini Menik memilih tidur di dalam kamar si Mbah dari pada tidur di dalam bersama dengan Anjaz.

Merasa jika hubungan mereka tidak usah terus seperti ini, Anjaz berinsiatif untuk mendekati Menik kembali dan membujuknya agar mau tidur bersama lagi di kamar mereka.

Anjaz ragu-ragu untuk mengajak Menik berbicara, sebab sebelumnya ketika ia bicara, Menik hanya merespon seperlunya saja.

"Menik?" panggil Anjaz.

Menik yang sedang melipat pakaian pun terlihat tidak menggubris panggilan Anjaz.

"Menik, sampai kapan kamu terus marah padaku seperti ini?" tanya Anjaz.

"Aku ndak marah sama pak Anjaz. Aku cuma menuruti apa mau pak Anjaz." jawab Menik kesal.

"Loh, menuruti mauku yang mana?" tanya Anjaz.

"Bukannya pak Anjaz gak mau nyentuh aku, bohongi aku, itu karena sebenarnya pak Anjaz ilfil to sama Menik. Menik cuma mau sadar diri aja, Menik memang gak pantes buat pak Anjaz!" jelas Menik mengutarakan isi hatinya.

Anjaz pun diam-diam tersenyum dalam hatinya. Syukur, Menik ternyata marah padanya selama ini bukan karena semata-mata perihal kematian si Mbah. Namun Menik kecewa karena Anjaz belum juga menyetubuhinya.

Anjaz yang kegirangan pun mencoba untuk menahan dirinya dengan sikap Menik.

"Ehem!" Anjaz mencoba untuk mendekati Menik dan memegang kedua tangannya.

Menik pun melepaskan pakaian yang ia pegang ketika Anjaz meraih tangannya. Meskipun Menik kesal dengan Anjaz karena sudah memberinya kenikmatan palsu, namun Menik tetap saja merasa grogi jika berdekatan dengan Anjaz.

"Sayang, mengertilah, semua ini demi kebaikanmu. Sungguh, aku hanya ingin tidak mau kamu harus melewati masa muda mu dengan cuma-cuma. Aku ingin, kamu bisa bangkit dan melanjutkan pendidikan setinggi mungkin agar kamu bisa menjadi anak yang sukses. Kasih lihat ibumu yang sudah meninggalkan mu, jika kamu bisa sukses tanpa kehadirannya." jelas Anjaz dengan perlahan agar Menik mengerti maksudnya.

Menik pun tertunduk dengan ucapan Anjaz. Sebenarnya ada benar juga, namun pikirannya yang masih kampungan, tidak sampai sejauh ini untuk memikirkan masa depannya.

Menik pun menaikan padangan dan menatap mata Anjaz yang sedari menatapnya dengan penuh harapan.

Entah mengapa, Menik merasa jantungan ketika melihat tatapan Anjaz yang sangat tulus padanya.

Tiba-tiba saja.

"Emmuach!" Menik mencium bibir Anjaz yang berwarna pink itu.

Anjaz pun hanya bisa mendelik dan mematung. Sedangkan Menik, ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya karena ia benar-benar merasa sangat malu dengan apa yang sudah dia lakukan.

Anjaz pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat polah muridnya sekaligus istrinya ini.

"Sayang, buka pintunya?"

Tok

tok

tok

Anjaz mengetuk pintu kamar.

"Mas, maaf yo, aku tadi hilaf, aku gak sengaja cium mas Anjaz?" sahut Menik dari balik pintu sambil menutup wajahnya yang memerah.

"Iya-iya gak tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan mu!" sahut Anjaz.

Tidak berlangsung lama, Menik pun langsung membukakan pintu kamar.

Anjaz pun langsung mendorong pintunya agar terbuka lebar dan masuk lalu dengan cepat menutup pintu kembali.

Menik pun terkejut dengan tindakan cepat Anjaz yang kini sudah berdiri di depannya sembari memojokkan dirinya ke pintu kamar.

Menik tidak dapat berkutik karena Anjaz telah mengunci pergerakannya. Menik hanya bisa bersandar pada pintu kamar dan Anjaz meletakkan kedua tangannya untuk mengunci Menik.

"Ma-mas, kamu masih marah? Katanya tadi kamu udah maafin aku?" tanya Menik merasa takut dengan tatapan Anjaz yang menatapnya tanpa berkedip.

"Tadi itu apa?" tanya Anjaz.

"Tadi, emmm, tadi itu cuma.. Em..!" Menik terlihat bingung menjelaskan.

Tetapi, setelah sadar jika dirinya sepertinya di pojokan, Menik pun langsung mendorong Anjaz dengan kuat sampai-sampai Anjaz terjatuh ke atas kasur.

Belum juga Anjaz merespon, Menik sudah menindihnya dari atas.

"Menik, apa yang kamu lakukan!?" tanya Anjaz.

"Huuussst!" Menik menutup bibir Anjaz menggunakan satu jarinya.

"Mamas Anjaz, kenapa? Kok mukanya tegang seperti itu. Bukankah kita ini suami istri?" tanya Menik sambil melepas kuncir rambutnya, membuat rambutnya yang panjang langsung terurai.

Anjaz pun masih tidak tahu berbuat apa. Dia tidak menduga jika Menik akan seliar dan seberani ini kepadanya. Entah belajar dari mana kelakuan yang Menik lakukan ini.

"Me-menik, saya tidak bermaksud apa-apa," ujar Anjaz.

"Huuussst!" Menik lagi-lagi menutup bibir Anjaz dengan jarinya. Bahkan tidak hanya diam begitu saja, tangan Menik mulai nakal meraba-raba turun ke bawah.

Dari bibir ke leher, lalu ke dada, lalu perut Anjaz yang masih terlihat seperti roti sobek.

"Ssssst!" tiba-tiba saja Anjaz mendesah ketika Menik merasa bagian perutnya. Itu adalah bagian sensitif Anjaz.

Menik pun tersenyum ketika mendengar ******* Anjaz yang spontan.

"Ckckckckck!" Menik terkikik menahan tawa. Menik turun dari atas atas Anjaz dan langsung berdiri.

"Udah malem mas, mas Anjaz bubuk aja, aku mau lanjut lipat bajunya." ujar Menik seolah mengejek Anjaz yang masih terlentang di atas kasur.

Anjaz hanya bisa menahan dirinya. Ia meremas kuat seprei karena ini bener-benar membuatnya tegang. Anjaz berusaha untuk mengatur nafas karena ia tidak bisa menghukum Menik malam ini.

Bentar lagi Menik akan melakukan ujian akhir, Anjaz tidak ingin menganggu proses belajarnya.

"Heeerrgggh!" Anjaz merasa merinding karena menahan gejolak yang sangat besar. "Huft, oke Anjaz, play solo kita malam ini. Wanita itu, aku akan segera mengeksekusi jika waktunya sudah tiba." gumam Anjaz yang langsung berjalan ke kamar mandi. Berniat ingin mengerjai Menik, justru malah dirinya yang harus merasakan akibatnya.

Menik hanya meliriknya dengan senyumnya yang terlihat sangat mengejek sekali.

"Mas Anjaz mau kemana? Mau buat kopi?" tanya Menik sambil memainkan alisnya untuk menggoda Anjaz.

"Tidak perlu, kamu lanjutkan aja melipat bajunya, aku hanya ingin ke kamar mandi." jawab Anjaz.

Menik pun hanya tertawa kecil ketika Anjaz sudah berjalan ke kamar mandi.

"Mau ngerjain aku dia, Yoo tidak bisa, Menik gitu lo, di lawan." gumam Menik membanggakan diri sendiri.

Jangan lupa like dan komen ya. Dukung terus karya ini agar bisa populer di beranda noveltoon 🙏

Terpopuler

Comments

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

bener2 ya nik
awas aja nanti klo dah wktunya ampun2 deh nik menik
wis lah nik nikmati ae saiki

2023-07-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!