Malam ini terlihat sangat gelap karena di desa kuncup mekar sedang mati lampu. Entah kenapa, tidak ada hujan tidak ada badai tiba-tiba listrik pada padam.
Beruntung malam ini terang bulan, sehingga beberapa para tetangga pada kumpul di rumah pak Anjaz sekalian menjenguknya. Karena mereka tahu jika pak Anjaz guru baru mereka sedang mengalami kaki kecetit.
Mereka berkumpul di depan rumah pak Anjaz sambil menggelar tikar dan makan kacang rebus sambil membakar api unggun. Karena mereka tahu, jika mati lampu ini akan lama hidupnya, bahkan bisa sampai esok pagi.
Orang-orang pada bernyanyi, nyanyian lagu tradisional jawa. Terlihat Anjaz sangat terhibur dengan kedatangan para tetangganya. Anjaz tidak menyangka jika para warga sini baiknya bukan main, alias baik sekali.
Tidak lama kemudian Menik pun datang membawakan pisang rebus dan juga singkong rebus, ada juga singkong yang di goreng setelah di rebus.
"Telo rebus, telo rebus ... ayo pakde, bude, monggo di makan, mumpung masih anget-anget!" seru Menik meletakkan baskom kecil untuk wadah singkong dan juga pisang rebusnya.
"Wih, Menik, telo rebuse berani keluar sendirian ini!?" ujar pak RT yang juga bertetanggaan dengan mereka.
"Tenang-tenang, teh hangat siap meluncur!" ujar Menik menunjuk Eka yang sedang membawakan teko besar berisi teh panas.
"Nah gitu donk, pinter-pinter gadisku, Iki!" ujar pak RT memuji Menik dan Eka yang peka.
"Ya iya dong pak RT. Siapa dulu, Menik gitu loh!" puji Menik pada dirinya sendiri.
"Tehnya masih panas pak RT, awas hati-hati!" ujar Eka memperingati.
Di sisi lain, Pak Anjaz hanya tersenyum sambil sesekali meringis kesakitan karena kakinya yang masih terasa nyeri nyut-nyutan.
"Pak Anjaz mau singkong rebusnya?" tanya Menik menoleh ke arah pak Anjaz yang sedang duduk terdiam..
"Boleh, Menik, kayaknya enak," ujar pak Anjaz tidak menolak.
"Yo jelas enak dong, siapa dulu yang buat, Menik gitu loh!" ujar Menik kembali dengan percaya dirinya.
"Heleh, seng rebus tadi si mbah, deng! Menik dari tadi ngiseng(BAB) lama banget!" sahut Eka menjelaskan.
"Hust! kamu ini, KA! kalo ngomong suka jujur banget sih, aku akan jadi malu," sahut Menik.
Eka pun hanya menjulurkan lidahnya untuk meledek Menik.
Mereka berdua pun akhirnya tertawa bersama sambil bercerita sesuatu.
Anjaz melihat di sekitarnya. Ia merasa sangat beruntung karena dia masuk ke dalam desa ini dan mengajar di desa ini.
Tetangga yang ramah-ramah dan lingkungan yang masih asri, Anjaz bener-benar merasa seperti menemukan berlian di tumpukan penatnya perkotaan.
"Monggo di maem pak Anjaz, singkong sama pisang rebusnya. Mumpung masih anget!" ujar ibu-ibu yang ternyata adalah istrinya pak RT. Ibu RT yang lagi hobi merawat wajahnya dengan skincare. Bahkan, malam ini pun di wajahnya terdapat masker yang ia gunakan. Benar-benar ikhtiar yang sangat besar untuk merawat wajah.
"O iya buk RT, makasih banyak, ini masih ada," sahut Pak Anjaz menunjukan piring yang di sediakan untuknya.
Anjaz pun ikut menikmati malam ini dengan cahaya terang bulan. Sesekali, Anjaz menatap wajah Menik yang mendapatkan pantulan dari cahaya bulan dan juga api unggun yang mereka buat.
Entah apa yang di bicarakan Menik dan Eka, sampai-sampai mereka asyik sendiri menertawai apa yang mereka ceritakan.
Ada yang bermain catur, ada yang bernyanyi sambil bergitar, ada pula ibu-ibu yang merumpi. Keseruan malam ini tidak akan pernah Anjaz lupakan. Sudah tiga hari Anjaz berada di desa ini, dan malam ini malam yang paling berkesan baginya.
...----------------...
Pagi ini di sekolah murid-murid pada berkumpul mengelilingi Menik. Mereka sangat penasaran dengan cerita Menik yang katanya telah menggendong pak Anjaz. Mereka sangat penasaran bagaimana bisa Menik menggendong guru idola baru mereka.
Menik pun meminta teman-temannya untuk duduk yang rapi, sedangkan dia sendiri bersiap-siap maju ke depan dan untuk menceritakan segalanya tentang pak Anjaz.
Sebelum maju, Menik pun mengedipkan mata kepada Eka. Entah apa yang sudah mereka rencanakan.
"Ehem! Ehem!" Menik pun mengatur pita suaranya. Sedangkan para murid lainnya bersiap-siap untuk mendengarkan cerita Menik.
"Kalian siap mendengarkan kisah sang pangeran yang di gendong oleh seorang Meniiiik....!?" seru Menik bertanya.
"SIIIAAAAAAP!" seru kawakan Menik menjawab.
"Ceritanya ... Pada sore hari, seorang wanita pekerja keras yang sedang mencari pakan untuk ternaknya, ia tidak sengaja melihat seorang pangeran berperut kotak-kotak sedang mandi di sungai. Badan yang putih ... perutnya yang kotak-kotak seperti roti, daaan ...!" Menik pun sambil membayangkan ketika pak Anjaz menyibak-nyibak rambutnya yang basah. Aduhai, bayangan itu membuat Menik tergila-gila oleh kisahnya sendiri.
"... Dan ... dia pun tiba-tiba menatap wanita yang sedang mencari rumput itu dengan tatapan menggoda. Dia melambaikan tangan kepada wanita itu dan memanggilnya dengan tatapan bergairah. Pangeran ku memanggilku dan memintaku untuk ikut mandi bersamanya di sungai yang jernih...
Wanita itu pun tanpa ragu berjalan mendekati sang pangeran dan ia pun memegang uluran tangan sang pangeran dengan malu-malu, karena wanita itu takut jika bau keringatnya akan tercium oleh sang pangeran. Namun, sang pangeran tidak memperdulikan bau keringat wanita itu, pangeran pun akhirnya menarik tangannya dan ... Meraka pun akhirnya bermain air bersama.
Pangeran dan putri akhirnya bermain air ... ciprat-cipratan ... kejar-kejaran, sampai akhirnya .. karena ada batu yang licin, pangeran pun terjatuh, kakinya terluka, Aaaah! kakinya terkilir, Ooooh! sang Putri pun langsung segera menolongnya...
Sang Putri dengan kekuatannya mencoba untuk membantu sang pangeran dan menggendongnya. Awalnya, sang Pangeran meragukan kekuatan Sang putri, sampai akhirnya, sang putri pun menunjukan jika ia adalah wanita yang perkasa dan kuat ...
Di sepanjang jalan, sang pangeran terus memuji sang putri karena kekuatannya. Daaaan ... akhirnya, mereka pun jatuh cinta pada pandangan pertama....!"
Menik pun mengakhiri haluannya. Herannya, teman-temannya pun dengan seksama mendengarkan kisah Menik dengan antusias, padahal mereka tahu jika Menik ini suka berlebihan dalam berimajinasi.
Eka dari kejauhan tersenyum pada Menik. Eka memegang kertas yang sepertinya berisi cerita dongeng yang sudah di bacakan oleh Menik.
Ah, ternyata malam itu Menik dan Eka tertawa-tawa karena sudah merencanakan hal ini.
"Heleeeh... Dombok(omong kosong) kamu itu Menik, Sang Putri , sang Pangeran, Preet!" ujar salah satu murid meledek Menik yang sudah mengarang cerita.
Menik pun hanya tersenyum dan menjulurkan lidahnya untuk Meledeki teman-temannya sambil berjalan ke arah tempat duduknya.
Tidak lama, seorang guru bahasa Indonesia, ibu Santi pun datang.
"Pagi anak-anak!" sapa buk Susanti.
"Pagi buk...!" sahut murid-murid.
"Ada kabar kurang baik. Guru baru kita, pak Anjaz, kakinya terkilir karena mencoba membantu Menik membawakam rumput untuk pakan kambing. Lauknya mungkin cukup parah sehingga Pak Anjaz sampai tidak bisa mengajar hari ini. Untuk anak-anak yang mau ikut menjenguk pak Anjaz, nanti sepulang sekolah kita bareng-bareng menjenguknya," ujar ibu Santi menjelaskan.
Mendengar penjelasan ibu Santi, sontak anak-anak lainnya pun bersorak ke arah Menik yang sudah bercerita omong kosong ke mereka..
"HUUUUUUUUUU..........!" sorak anak-anak ke arah Menaik.
Bukannya merasa bersalah, Menik dan Eka pun malah tertawa happy.
Bu Santi pun hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Menik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Ani
😂😂😂😂😂 jadi inget kampung halaman
2023-07-18
0
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
weh.. ngarang iki menik e.. jian mumbul duwur nen awas kw nek tibo.. aduhhh sakitnya di sini tau
2023-06-03
1