Sore ini Menik dengan membawa tali dan arit berangkat untuk mencari rumput untuk memberi makan kambing yang ia rawat.
Kebetulan, arah mencari rumput ini melewati rumah yang pak Anjaz tempati.
Menik berjalan riang sambil bernyanyi-nyanyi sambil sesekali menyapa para tetangga yang berada di depan.
"Ayo, bude cari suket, weduse pean wes mbak-mbek ae loo...!" seru Menik menyapa tetangganya yang sedang menyapu latar.
"Ho'oh, ben nanti bapake wae yang cari suket, aku bar pakek skincarean, ndak luntur nanti," sahut ibu-ibu itu.
"Walaaah budeee ... kok nggaya men skincare -skincare'n. Besok Lo yo mau ngerit pari (panen padi) gosong nanti mukanya," sahut Menik.
"Aku tak libur gak ngerit pari sek. Aku tak leyeh-leyeh (santai) di rumah aja. Ben bapake ae seng bantuin ngerit pari," jawab sang ibu-ibu.
"Walaaah, Yo wes Menik tak cari rumput dulu ya bude .. Assalamualaikum!" Menik pun melanjutkan perjalanannya menuju pinggiran kali yang rumputnya cukup lebat.
Ketika melewati rumah pak Anjaz, Menik pun menoleh sampe lehernya pegel. Namun pak Anjaz terlihat tidak ada, karena rumahnya tutupan rapat.
Ketika sampai di tempat tujuan, Menik pun langsung membabat rumput untuk makan kambingnya. Kambing embahnya Menik cukup banyak, yaitu 7 kambing, jadi Menik harus mencari rumput lebih banyak agar cukup.
Ketika sedang membabat rumput, Menik sepertinya melihat ada seseorang yang sedang mandi di kali, terdengar dari suaranya yang jebur-jebur.
Ketika rumput Menik tebas, langsung nampak seseorang dengan tubuhnya yang putih sedang menyibak air yang ada di kepalanya.
Dia ternyata adalah pak Anjaz yang mandi di kali. Ketika pak Anjaz menyibak-nyibak rambutnya, pemandangan itu membuat Menik terpesona oleh kegagahan sang pak guru.
Menik pun melamun mengagumi sang guru baru.
Sampai akhirnya, pak Anjaz menyadari jika ada yang mengintipnya. Pak Anjaz sangat terkejut ketika melihat Menik yang sedang menatapnya dengan tatapan, gimana gitu.
"Hay! ngapain kamu di sana!" teriak Pak Anjaz menegur Menik.
Menik seketika langsung tersadar dan langsung menyahut pak Anjaz.
"Oh, aku lagi cari rumput, pak! Pak Anjaz lanjutkan aja mandinya!" sahut Menik berteriak.
Pak Anjaz pun langsung naik ke permukaan dan mengambil handuk untuk mengelap tubuhnya dan langsung memakai kaosnya untuk menutupi tubuhnya.
Setelah mengganti bajunya, Pak Anjaz pun mendekati Menik yang masih membabat rumput.
"Menik?" sapa pak Anjaz.
"Oh, pak pak Anjaz? pak sudah selesai mandinya?" tanya Menik.
"Sudah. Tapi, kamu ngapain di sini. Di sini belungkar, kamu ngapain membersihkan rerumputan di sini?" tanya Pak Anjaz yang mengira Menik sedang ingin membersihkan rerumputan belungkar di pinggiran kali yang berada di kedalaman.
"Aku lagi cari rumput buat makan kambing, pak. Bukan lagi ngebersihin tempat ini. Gilak aja aku bersihin tempat belungkar koyo gini," jawab Menik sambil tersenyum renyah.
"Ow, begitu. Kamu sendirian? jalan?" tanya Pak Anjaz setelah memperhatikan sekiranya.
"Iya, pak, aku sendirian. Aku juga udah biasa jalan," jawab Menik terlihat tegar.
"Tapi ini jauh, loh!? jugaan, kamu jalan sambil bawa rumput sebanyak ini!?" tanya Pak Anjaz terkejut.
"Opo, pak-pak! ini tuh dikit kali, biasanya bisa dua kali lipat dari sini," ujar Menik terlihat sangat menggampangkan pekerjaannya.
Pak Anjaz pun hanya bisa melongo ketika Menik mengikat rumput dan berniat akan mengendongnya.
Merasa dia adalah seorang guru dan laki-laki yang kuat bijaksana nan perkasa, Pak Anjaz pun berniat untuk membantu Menik.
"Menik, biar saya bantu, ya? biar saya yang membawakan rumput ini," ujar Pak Anjaz.
"Widiiiih ... beneran, pak!? bapak mau bantu aku?" tanya Menik sumringah senang.
"Ya, sesekali, kebetulan saya di sini," ucap pak Anjaz..
"Boleh-boleh!" ujar Menik langsung membersihkan pak Anjaz untuk membawa rumput yang sudah ia kumpulkan.
Namun, di luar bayangan pak Anjaz, rumput ini ternyata cukup berat sekali. Begitu, Menik mengatakan jika ia bisa membawanya dua kali lipat dari yang ini.
Pak Anjaz nampak mengeluarkan otot-otot karena menahan beban yang ia bawa. Pak Anjaz menahannya agar tidak malu-maluin di depan muridnya sendiri.
"Wih, pak Anjaz hebat loh, kuat angkat rumput ini." puji Menik.
"I-iya lah Menik, masak kamu kuat saya enggak. Apalagi katanya kamu bisa angkat dua kali lipat dari ini," ucap Pak Anjaz sambil kesulitan berjalan. Selain medannya yang menanjak, sandal yang ia gunakan juga licin karena basah.
"Em, tapi biasanya aku naik sepeda kalo rumputnya dua kali lipat," jawab Menik dengan santainya.
Mendengar itu, Pak Anjaz pun syok sampai kakinya tidak sinkron dan akhirnya pak Anjaz pun terpeleset. Pak Anjaz merasa sudah di tipu sama Menik.
"ADUH!" Pak Anjaz pun berteriak..
"Eh, piye to, pak. Sini-sini aku bantu!" Menik pun berusaha menyingkirkan rumput itu dari tubuh pak Anjaz.
"Walah pak-pak, kok bisa sih, kakinya sakit gak ini? kok kayaknya merah!?" tanya Menik memeriksa kaki Pak Anjaz.
"Aduh, Menik! Jangan di pegang!" seru Pak Anjaz kesakitan..
"Aduh, piye Iki? Yo wes, pak Anjaz aku gendong aja, yuk?" ucap Menik menawarkan bantuan. Karena seperti pak Anjaz tidak bisa berjalan.
"APA?" Pak Anjaz pun kaget dengan tawaran Menik.
"Wes gak apa-apa, aku kuat kok!"
"Menik, tinggi ku 168 dan berat badan ku 60kg. Kamu gak akan kuat," ujar Pak Anjaz meremehkan kekuatan Menik.
Menik dengan tinggi 160 dan berat badan 55kg adalah pemenang angkat beban berat pahitnya kehidupan.
"Wes pak, diem aja, sini ayo naik ke punggung ku, tak gendong sampe depan rumah pokok, wes!" ujar Menik tidak mau berlama-lama. Karena dia setelah ini harus balik lagi untuk ambil rumputnya. Mana hari sudah mulai sore dan gelap.
Sekali angkat, Menik terlihat sangat mudah, seperti tidak membawa beban seberat tubuh pak Anjaz.
Pak Anjaz pun hanya bisa terdiam dan memuji kekuatan Menik.
Di perjalanan, pak Anjaz pun bertanya, "Menik, memang bapak kamu kemana? kenapa kok malah kamu yang cari rumput untuk kambing-kambing, mu?" tanya pak Anjaz.
"Bapak sudah mati, mamak ku gak tau kemana, aku tinggal sama si Mbah aja," jawab Menik terlihat sangat tegar.
"Oh, maaf Menik, saya tidak tahu," ucap Pak Anjaz merasa tidak enak.
"Wes, gak papa pak, aku udah biasa kok kaya gini. Kalo gak kaya gini, belum tentu aku jadi wanita hebat dan kuat bisa gendong bapak, hehehe," ujar Menik menghibur diri sendiri..
Pak Anjaz lagi-lagi merasa kagum dengan kepribadian Menik yang sangat sabar dan kuat. Dia juga pintar dan berenergik.
"Oiaa, pak Anjaz mandi di kali, emangnya sumurnya gak ada air di rumah?" tanya Menik.
"Oh, bukan begitu, saya hanya jalan-jalan di kampung ini, dan saya tanya apakah di desa ada kali yang airnya bersih. Soalnya di kota sudah tidak ada kali bersih. Aku rindu mandi di kali yang jernih," jelas Pak Anjaz.
Menik pun terdiam. Di dalam pikirannya, ia justru ingin ke kota untuk melihat ibunya yang sudah meninggalkannya. Menik hanya melihat bagaimana sekarang keadaan ibunya.
Setelah sampai pemukiman warga, para warga yang kepo pun langsung mendekati Menik yang menggendong Pak Anjaz.
"Meniiiik....! ya ampun, ini pak guru kenapa?" tanya salah satu warga.
"Pak Anjaz kecetit, bude!"jawab Menik yang sambil meletakan pak Anjaz di lantai depan rumah pak Anjaz itu sendiri.
"Walaaah, Yo gek cepetan panggil tukang urut. Ini harus segera di urut pak Guru!?," ujar warga.
Menik pun berdiri dan berpamitan untuk ambil rumputnya.
"Yo wes, tak tinggal sek, Yo. Aku mau ambil suket ku," ujar Menik menyerahkan Pak Anjaz kepada warga untuk di urus.
Ketika Menik berjalan menjauh, Pak Anjaz terus menatap punggung kuat milik Menik. Entah mengapa, ada rasa empati yang besar yang pak Anjaz rasakan untuk Menik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Ani
wetengku ampe senep ceritane mantep mbocone koyok lagi ngobrol ambek bojoku.. 😁😁😁😁
2023-07-18
0
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
mask klh sm menik to pak anjaz.. walah py jal
2023-06-02
1