Setelah kejadian yang Menik lihat, ia pun mencueki Anjaz ketika berada di rumah.
Sikap Menik yang tidak biasa, membuat Anjaz merasa sangat heran.
"Menik, kamu kenapa sih? kenapa dari tadi mendiamkan saya?" tanya Anjaz yang melihat Menik sedang melipat pakaian namun dengan wajah yang tekuk.
"Aku gak popo, kok!" jawab Menik sewot.
"Loh, kamu gak biasanya loh kaya gini?" tanya Anjaz mencoba untuk mencari akar masalah..Anjas baru saja menjadi kepala rumah tangga, jadi dia harus belajar untuk menjadi suami yang baik.
"Pak, bisa ndak sih bapak itu kalo ngajar murid lainnya, terutama yang perempuan gak usah pake genit-genitan? sebel aku!" ujar Menik mengutarakan kekesalannya.
"Loh, sebentar!" Anjaz membenarkan posisinya lebih mendekat ke Menik. "genit bagaimana maksud kamu, Menik? Saya sama sekali tidak menggoda siapapun, apa lagi muridku sendiri,!?" jelas Anjaz.
"Heleh, drambus, aku loh liat sendiri bapak cium murid kelas B tadi." jawab Menik..
"Oooo, itu ternyata permasalahan." Anjaz tersenyum. "Kamu cemburu kah?" tanya Anjaz meledek Menik.
"Yo, aku cemburu! dari awal bapak masuk ke sekolahan, semua murid-murid itu berlomba-lomba untuk mengambil hati bapak,!" sahut Menik.
Anjaz pun menatap Menik.
"Menik, apakah kamu sengaja meletakan senjata tajam itu di pangkuan kita berdua?" tanya Anjaz dengan pelan karena takut jika Menik tersinggung.
Namun pelan atau tidak, wanita tetaplah wanita, tersinggung, jelas Menik tersinggung.
"Oh, jadi bapak curiga sama aku kaya yang lainnya? aku memang ngefans sama bapak, tapi aku gak licik Yo! lagian, aku juga masih mau sekolah!" jawab Menik dengan kesal. Menik pun berdiri dan meninggalkan pakaian yang belum selesai di lipat.
Melihat istrinya marah, Anjaz pun merasa sangat bersalah. "Menik, mau kemana?" tanya Anjaz.
"Cari Suket!" sahut Menik sambil mengambil arit.
"Ikut, ya?" tanya Anjaz.
"Gak usah!" sahut Menik.
"Ikut dong, masak istri ku bekerja keras, aku hanya diam di rumah," jawab Anjaz.
"Nanti kaki bapak sakit lagi kaya mana?" tanya Menik.
"Kok masih bapak sih manggilnya?" tanya Anjaz.
"Hm, nanti kalo kaki mas Anjaz terkilir lagi kaya mana? aku juga yang repot," ralat Menik.
"Aku janji kali ini aku akan lebih hati-hati. Kemarin itu sandal aku licin, jadi kaki aku gak bisa jalan dengan tegap," jelas Anjaz.
"Hm, ya sudah, ayo!" sahut Menik yang akhirnya tersenyum kepada Anjaz.
Menik dan Anjaz pun akhirnya bersama-sama mencari rumput untuk kambing mereka. Anjaz terlihat sangat menikmati bagaimana rasanya menjadi orang desa yang benar-benar membaur dengan alam.
...****************...
Hari ini di sekolah, terlihat Menik dan Anjaz memasuki gerbang sekolah sambil tertawa.. Terlihat sangat akrab dan harmonis sekali..
Kedekatan Menik dan Anjaz membuat beberapa orang merasa iri. Terutama hanum dan juga Bu Santi.
Bu santi dan Hanum pun berbisik satu sama lain untuk menjebak Menik.
"Hanum, si anak haram itu sekarang udah semakin bergaya saja!" ujar Bu Santi yang sedang duduk di kantin sekolah untuk sarapan bersama dengan Hanum.
"Benar, bu. Menik bener-benar semakin keras kepala sekarang. Buk, kayaknya kita harus buat pelajaran deh sama Menik!" sahut Hanum.
"Hm, aku juga maunya gitu, biar kapok tuh si Menik!" lanjut Bu santi.
Akhirnya, mereka pun membuat rencana yang akan membuat semua orang melihat Menik dengan tatapan benci.
Ketika istirahat tiba, Hanum dan Bu Santi pun menjalankan aksi mereka.
Ketika Menik dan Eka sedang makan di luar kelas, Hanum mengindip-ngindip masuk ke kelas Menik untuk meletakan handphonenya sendiri.
Di sisi lain, Bu Santi menjaga di pintu untuk memantau keadaan.
Tetapi, tanpa Hanum sadari, dari lapangan, ada seseorang anak yang sedang berfoto-foto dan menghadap ke kelas Menik.
Karena kaca sekolah adalah kaca tembus pandang, jadi di foto itu terlihat jelas bagaimana Hanum mendekati meja Menik ketika jelas tidak ada siapa-siapa..
Setelah Hanum selesai dengan aksinya, akhirnya, tidak berlangsung lama, kini pak Wari menggeledah kelas satu persatu untuk mencari bukti.
"Anak-anak, saudari kita Hanum telah kehilangan barangnya berupa handphone. Sebelum bapak menggeledah tas kalian, lebih baik kalian ngaku dari sekarang juga, agar hukuman dapat bapak kurangi!"
seru pak Wari membuat semua anak-anak bertanya-tanya.
Menik dan Eka pun hanya terlihat bingung ketika pak Wari mulia menggeledah tas mereka semua.
Menik yang tidak merasa mencuri pun dengan santainya memberikan tasnya kepada pak Wari.
Ketika tas Menik di geledah, pak Wari pun dengan mudahnya langsung menemukan ponsel Hanum di tas Menik.
Menik juga terlihat sangat syok ketika melihat ada handphone di tasnya.
"Menik, apa ini?" tanya pak Wari menatap Menik dengan geram.
"Pak, sumpah bukan aku seng maling handphone Hanum, betul!" sahut Menik mengelak.
"Ikut bapak kantor sekarang juga!" seru pak Wari.
Di dalam kantor, Menik di tekan untuk mengaku jika dia adalah orang yang sudah mencuri handphone Hanum.
Menik hanya diam dan enggan untuk bicara lagi, karena Menik sudah kehabisan cara untuk menjelaskan kepada pak Wari jika bukan dirinya lah yang mengambil barang itu.
"Wes lah, pak! kalo memang mau ngehukum aku, wes hukum aja!" sahut Menik menatap pak Wari dengan kesal. Karena memang Menik sudah biasa di hukum tanpa alasan yang pasti.
"Kamu ini bener-benar kurang ajar, ya! apa kamu mau aku keluarkan dari sekolah ini!" bentak pak Wari kesal.
"Lah aku harus piye! soalnya memang bukan aku yang maling handphone Hanum, pak!" jawab Menik kesal dengan pak Wari.
Di sisi lain, terlihat Anjaz berlari ketika dia mendengar jika salah satu murid ketahuan mencuri, dan ia adalah Menik.
Anjaz yang masih berada di lapangan karena sedang melatih anak-anak bermain volly pun langsung membuang bola di tangannya.
Anak-anak yang sedang berada di lapangan pun terlihat bermain sendiri. Laki-laki melanjutkan bermain volly, dan ada dua anak yang sedang melihat ponsel mereka sambil melihat-lihat foto yang tadi mereka ambil.
Ketika mereka melihat poto-poto itu, ada beberapa foto yang terlihat mencurigakan. Mereka menemukan di belakang mereka, terlihat Hanum sedang masuk ke kelas Menik dan berdiri di dekat meja Menik.
"Heh! lihat geh ini!" seru murid itu memanggil teman-temannya untuk berkumpul. Ketika teman-temannya melihat itu, mereka dapat menyimpulkan jika Hanum sudah menjebak Menik.
"Kita harus lapor ke kantor sekarang juga!" seru salah satu murid.
"Bener! semua orang harus tahu kalo sebenarnya Menik sudah di jebak!" sahut salah satu murid yang juga anggota OSIS.
Akhirnya, mereka pun langsung menyebarkan foto-foto itu. Karena tidak semua murid punya hp, jadi mereka masuk ke kelas satu persatu untuk memberi lihat bukti foto itu.
Terlihat Anjaz dengan wajahnya yang panik langsung masuk ke kantor guru.
"Pak, ada apa ini?" tanya Anjaz panik.
"Pak, Anjaz, murid kita Menik, dia sudah mencuri handphone Hanum!" jelas Pak Wari.
"Enggak kok, pak! bukan aku yang maling!" sahut Menik membela diri.
"Pak Wari, apakah sudah ada bukti jika Menik yang mengambil handphone itu?" tanya Pak Anjaz.
"Handphone ini." pak Wari menunjukan hp Hanum. "di temukan di tas Menik!" lanjutnya.
"Tapi, pak, bukti itu belum cukup, bisa jadi seseorang yang sudah menjebak Menik!" sahut Anjaz yang sangat percaya dengan Menik.
Bu Santi pun maju dan berkata, "pak Anjaz, jangan mentang-mentang kini anda dan Menik sudah menikah, anda bisa seenaknya membela seseorang yang sudah jelas-jelas bersalah. Menik adalah anak miskin, jelas dia pasti sangat iri dengan Hanum, ponakan ku yang cantik dan juga kaya!" ujar Bu Santi membuat Anjaz merasa sangat geram.
Belum juga Anjaz akan merespon, tiba-tiba saja seorang murid masuk ke kantor..
"Assalamualaikum!?"
Semua mata pun langsung menoleh ke pintu .....
Bagaimana kelanjutannya, jangan lupa like dan dukung ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
yu huuu biar bagai mana pun namnya akal bulus akan kalah sm yg namanya kebenaran bikan begitu kk
wkwkwkkkk
tenang aja menik kau itu gadis tanguh dan kuat smg kau bisa merubah semua jd mengerti bahwa jodph sdh ada yv mngtur wkwkkkk
2023-06-19
0