Menik dan Anjaz yang sedang memberi makan kambing terlihat sangat bahagia sekali. Entah apa yang mereka tertawakan, yang pasti Anjaz sangat menikmati keindahan hidup sederhana di desa bersama dengan wanita yang mulai ia sayangi.
"Menik, nanti kalo kamu sudah lulus, kamu lanjut kuliah gak?" tanya Anjaz sambil tangannya memberi makan kambing.
"Lanjut kemana, mas? Kan Menik udah nikah. Memangnya boleh?" tanya Menik.
"Boleh dong. Masalah biaya nanti mamas yang nanggung." ujar Anjaz.
"Enggak ah, mas. Katanya temen aku, kuliah itu mahal." ujar Menik menolak.
"Kamu gak usah cemas soal biayanya, kan ada aku. Aku ingin, istriku ini menjadi wanita berpendidikan tinggi." ujar Anjaz menyemangati Menik.
Menik langsung tertunduk namun wajahnya memasang senyum masam. "mas Anjaz malu yo kalo punya istri yang tidak berpendidikan tinggi?" tanya Menik.
"Enggak! Bukan begitu Menik!" Anjaz langsung memegang kedua tangan Menik. "Aku cuma ingin, anak-anakku kelak mendapatkan pendidikan pertama dari ibunya. Jika ibunya belajar tinggi, maka kamu akan bisa mengimbangi dan menjawab setiap pelajaran baru yang anak kita kelak pertanyakan." jelas Anjaz.
Menik pun akhirnya mengangguk mengerti. Ia tersenyum dan menatap wajah sang suami yang benar-benar manis dan tampan..
Aaaaaaaa.... Pak Anjaz kenapa kok ganteng banget sih. Ais, aku jadi salting terus kalo begini. Ya Allah, jantungku kok kaya mau copot gini to... Gustiiii, semoga aku ini waras selalu, Ojo sampe gila karena jantungen tiap hari kaya gini.
"Hey, kok melamun?" tanya Anjaz mencubit hidung Menik.
"Auw! Ih, mas Anjaz ini kebiasaan sekali cubit-cubit hidung Menik!" sahut Menik memanyunkan bibirnya.
"Habisnya melamun gitu sih. Kenapa, kamu pasti sedang memikirkan, kalo kamu kuliah, kamu gak bisa bobok bareng aku lagi kan? Hayo, ngaku..!?" ledek Anjaz.
"Iiiiiih, opo to mas Anjaz ini, ndak jelas looo...!" sahut Menik dengan malu-malu.
Ketika mereka berdua sedang asyik bergurau, tiba-tiba saja Menik dan Anjaz seperti mendengar suara gamelan yang cukup keras dari dalam rumah.
Seperti ada nyanyian kidung yang langsung membuat bulu guduk mereka merinding. Suara ini pernah mereka dengar saat malam pertama mereka.
"Menik, kamu dengar itu?" tanya Anjaz.
"Ho'oh, mas. Kayaknya dari kamar si Mbah!?" ujar Menik.
"Menik, sebenernya suara apa ini?" tanya Anjaz yang masih tidak mengerti dengan nyanyian Jawa dan juga lantunan musik Jawa.
Nyanyian kidung yang samar-samar membuat Menik tiba-tiba saja serasa sangat pusing sekali. Ketika Menik ingin menjawab pertanyaan Anjaz, tiba-tiba saja Menik pingsan.
"Menik!?" Anjaz langsung menangkap tubuh Menik.
Beruntung ada beberapa warga sedang lewat untuk kewarung yang berada di belakang rumah Menik.
"Ya Allah, kenapa Menik... Menik kenapa pak Anjaz!?" tanya ibu-ibu yang mau ke warung.
"Tidak tahu, bu. Tiba-tiba saja Menik pingsan!" sahut Anjaz.
"Ya udah ayo bawa masuk!" ujar ibu-ibu panik.
Ketika Menik di letakan di dalam kamar, ibu-ibu langsung meminta minyak kayu putih untuk memijat telapak tangan dan kaki, tujuannya agar Menik tetap hangat, karena kaki dan tangan Menik serasa dingin.
"Minyak kayu putih ada di kamar si Mbah, ibu bisa tolong ambilkan?" tanya Anjaz yang sebenarnya tidak berani masuk ke dalam si Mbah. Entah kenapa, jika menyangkut soal si Mbah, ia selalu saja merasa merinding.
"Yo-yo, tak ambilkan dulu ya, pak!" ujar ibu-ibu yang langsung bergegas masuk ke dalam si Mbah.
"Mbaaah....?" ibu-ibu itu mencoba membangunkan di Mbah yang tertidur miring membelakangi pintu.
Ketika beberapa kali memanggil namun tidak ada di Mbah, akhirnya ibu-ibu itu memberanikan diri untuk menarik tubuh si Mbah supaya terlentang.
"ASTAGHFIRULLAH!" ibu-ibu itu langsung berlari ke keluar ketika melihat wajah si Mbah yang pucat pasi.
"Ada apa, Bu?" tanya Anjaz yang masih memegangi tangan menik akan tetap hangat. Anjaz sangat kaget melihat ibu-ibu itu masuk dengan wajahnya yang gelagepan.
"Nganu... Itu.. si Mbah...!" ibu-ibu sangat gugup.
"Ada apa, Bu sama si Mbah?" tanya Anjaz yang merasakan perasaan yang tidak enak.
"Si Mbah sudah tidak ada!" jawab si ibu-ibu sambil mengelus dadanya.
"APA!?"
Anjaz pun terlihat sangat syok mendengar pengakuan si ibu. Bagaimana bisa, sebelum mencari rumput, si Mbah terlihat baik-baik saja, namun sekarang kini si Mbah sudah tidak.
"HAHAHAHAHAHAHA!"
Tidak ada siapapun di rumah itu selain Menik yang pingsan, Anjaz, ibu-ibu dan si Mbah yang sudah tiada. Tetapi, dengan jelas Anjaz dan ibu-ibu itu mendengar suara tawa melengking yang sangat tinggi.
Ibu-ibu itu dan Anjaz pun saling mendelik, tubuh mereka serasa sangat kaku bahkan bernafas pun serasa sangat sulit.
Karena tidak kuat, ibu-ibu itu juga pun pingsan di depan mata Anjaz.
"Buuuu...!" Anjaz pun serasa kaku sekali untuk menggerakkan tubuhnya untuk menolong si ibu-ibu itu yang pingsan di lantai.
.................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Efrida
lah kok jd horor gini ceritanya 😱
2023-09-08
0
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
lha hayo.... podo gpo jal kui pingsan nya berjamaah gtu
ahhh jgn bikin penasaran dong kk thor
2023-07-08
1
Nulis terus✍️💪
jangan lupa like dan komen ya 🥰
2023-07-07
1