BEBERAPA HARI BERLALU.
Hari ini cuaca sangat cerah sekali. Beberapa murid sudah bersiap untuk mengerjakan soal ujian nasional.
Suasana kelas terlihat sangat sunyi sepi. Hari ujian terakhir, terlihat Anjaz yang sedang menjaga kelas Menik.
Menik adalah murid tidak bodoh, tetapi juga tidak pintar, sesekali wajahnya terlihat mengkerut karena tidak tahu jawaban apa dari soal yang ia kerjakan.
Anjaz terlihat sangat profesional. Ia tidak membeda-bedakan antara Menik dan murid lainnya. Tatapan tegas dengan mengawasi semua murid agar tidak berbuat curang.
Ting
Ting
Akhirnya bel ujian berkahir pun berbunyi. Semua murid harus segera mengumpulkan tugas mereka.
"HUUUFT, akhirnya, ujian selesai juga!" ujar Menik meregangkan otot-ototnya karena sedari tadi ia merasa sangat sesak nafas.
Menik tidak tahu apakah ia akan lulus atau tidak, namun yang pasti, setidaknya dia sudah melewati ujian ini.
"Menik, pulang bareng yuk?" tanya Eka.
"Ayok!" sahut Menik, sebab selama ujian ini, Anjaz selalu pulang agak telat.
Menik dan Eka pun berjajar rapi untuk ngantri bersalam dengan pak guru. Meksipun Anjaz adalah suaminya, Menik selalu perilaku baik selayaknya murid lainnya.
"Pak, Menik pulang duluan ya?" ucap Menik berpamitan dengan Anjaz.
"Iya, Menik. Sepertinya saya akan pulang agak terlambat dari biasanya. Para guru akan mengadakan rapat." ujar Anjaz menjelaskan.
Menik sengaja bersalaman dengan Anjaz belakangan agar dia bisa berbicara dengan Anjaz seleluasa mungkin. Namun Eka yang sedari tadi menunggu di pintu pun tidak sabaran.
"Menik, ayo cepet!" panggil Eka.
"Oke-oke!" Menik pun mengangguk. "Pak, Menik pulang ya," ujar Menik bersalaman kembali pada Anjaz.
"Hati-hati di jalan, sayang." bisik Anjaz membuat Menik pun langsung tersipu malu.
"Ngomong apa to sampean ini?" Menik pun memukul lembut ke dada Anjaz.
Setelah itu, Menik pun langsung berlari menghampiri Eka.
"Mulai deh, mulaaai!" ledek Eka.
"Opo si Ka... Hehehe." Menik pun merangkul Eka yang terlihat cemberut.
"Menik, Minggu depan aku mau ke kota sama bibiku. Dia mau ngajak aku kerja di kota." ujar Eka mengutarakan maksudnya.
"Loh, gak nunggu ijazah dulu?" tanya Menik.
"Ndak, restoran bos bibiku keburu membutuhkan karyawan baru. Lagian, masuknya gak pakek ijazah kok." sahut Menik.
"Berarti kamu gak ikut acara perpisahan sekolah dong!?" tanya Menik.
"Kayaknya enggak. Aku harus langsung kerja, soalnya adikku yang paling bontot tahun ini masuk SD. Bapak mamakku gak ada uang buat beli seragam adikku. Ini aja bapakku selalu di tagih sama juragan jagung." jawab Eka.
"Ya Allah ... Eka, kenapa kamu gak ngomong sama aku. Aku punya tabungan, kamu bisa pinjem aku." ujar Menik merasa prihatin dengan kondisi sahabatnya.
"Enggak Menik, uang itu kan kamu kumpulkan untuk mencari ibumu. Lagian, jumlahnya enggak sedikit. Jadi, bapakku pinjam sama bibiku yang di kota. Kebetulan juga, di bibiku lagi cari orang buat kerja di tempat bosnya." jelas Eka.
"Walaah, kamu yang tabah Yo, Ka. Aku yakin, kamu bakalan sukses kaya bibikmu itu." ujar Menik langsung memeluk Eka.
Tidak terasa waktu begitu cepat sekali berlalu. Kini Menik akan kehilangan satu-satunya sahabatnya. Mungkin memang sudah saatnya, mereka akan menjalani hidup masing-masing.
Ketika mereka melewati rumah Menik, terlihat sebuah mobil Alphard terparkir di sana.
Menik dan Eka pun sangat kaget melihat ada sebuah mobil sebagus itu berada di rumah Menik.
"Menik, sopo itu?" tanya Eka.
"Aku ndak tau, Ka. Siapa yo?" gumam Menik yang juga tidak tahu.
Mereka berdua pun langsung menghampirinya mobil itu. Ketika sudah di depan rumah, Menik sangat terkejut ketika melihat sosok wanita cantik dan berdandan tebal dengan kaca hitam yang melekat pada matanya.
"Maaf, siapa ya?" tanya Menik dengan sopan.
Wanita itu terlihat sangat tercengang ketika melihat Menik. Ia perlahan membuka kaca matanya.
"Monika? Kamu Monika kan?" tanya wanita itu.
"Maaf, saya Menik." jawab Menik yang terlupa akan nama aslinya.
"Hust, nama asli kamu kan Monika Ayu, Menik!" tegur Eka kepada Menik.
Wanita yang mendengar penjelasan Eka pun langsung merasa tidak percaya. Jika yang ada di depannya benarkah Monika Ayu, anaknya.
"Monika, ini ibu sayang. Ibu pulang, Nak?" Wanita itu pun langsung memeluk Menik dengan erat.
Menik yang merasa tidak percaya pun hanya bisa diam dengan keterkejutan di dalam jiwanya.
........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments