Khawatir, tak bisa tanpamu

Siang ini Menik dengan cekatan membereskan rumah. Ketika Menik sedang menyapu, terlihat Anjaz sedang asyik menyuapi si Mbah yang sudah terlihat sangat tua.

Setelah pernikahan Menik yang mendadak, si Mbah sudah jarang sekali berbicara. Entah apa yang si Mbah lamunkan sehingga ia terlihat tidak fokus.

"Nek, apakah nenek sakit?" tanya Anjaz memegang kedua tangan si Mbah.

Si Mbah hanya menatap kosong lurus ke depan dan tidak menjawab pernyataan Anjaz. Si Mbah yang tidak punya gigi lagi, menguyah makanan dengan sedikit upaya yang menguras otot-otot pada rahang.

Menik yang sedang menyapu menatap suaminya dan juga neneknya.

"Pak, si mbah memang sika begitu akhir-akhir ini, ndak usah khawatir, biasanya si Mbah kalo kaya gini itu lagi kangen sama anaknya." ujar Menik..

"Anaknya? maksud kamu, ibu kamu?" tanya Anjaz berdiri dan menghampiri Menik..

"Ho'oh. ibuku yang sudah lama meninggalkan aku sejak aku lahir." jawab Menik sendu.

"Menik, kalo kamu tahu di mana alamat ibu mu, aku bisa antar kalian ke sana." ujar Anjaz..

"E alah, pak! pak!" Menik menepuk pundak Anjaz. "Kalo aku tahu di mana alamat ibuku, aku Yo wes berangkat sendiri!" jawab Menik menggelengkan kepalanya.

Anjaz hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada benarnya juga apa yang Menik katakan..

Si Mbah yang awalnya sedang makan, tiba-tiba saja tertunduk lemas di kursi.

"Menik, si Mbah kenapa?" tanya Anjaz yang melihat si Mbah menundukkan kepalanya, yang awalnya kepalanya tegap menatap lurus ke arah jalan, kini tertunduk seperti orang tertidur pulas.

Anjaz pun menghampiri si Mbah. Terlihat si Mbah yang memejamkan matanya dengan rapat-rapat.

"Nek? nenek kenapa? apakah nenek tidur?" tanya Anjaz dengan lembut memegang rambut si Mbah.

Namun tidak di sangka, rambut si mbah malah rontok dan memenuhi tangan Anjaz.

Anjaz pun mendelik ketakutan yang ia tahan.

"Pak, ada apa?" tanya Menik yang penasaran.

DEG

Jantung Anjaz seperti mau copot ketika ia melihat wajah si Mbah yang seperti sedang mendelik kepadanya.

"HAH!" teriak Anjaz yang langsung terjungkal ke belakang..

"Pak! ya Allah, sampean kenapa to!?" tanya Menik yang membantu Anjaz untuk berdiri.

"Menik, si Mbah, si Mbah, Menik!" Anjaz dengan gugup menunjuk si Mbah yang saat ini sedang menatap lurus ke depan seperti sedia awal.

"Kenapa to sama si Mbah?" tanya Menik heran..

Anjaz pun sangat terkejut dengan yang dia lihat. Bagaimana bisa di Mbah yang awalnya tertunduk dan memejamkan matanya kini kembali seperti awal.

Anjaz pun melihat tangannya yang awalnya penuh dengan rambut putih si Mbah, kini sudah tidak ada lagi.

"Astaga!?" Anjaz pun langsung mengusap wajahnya dengan pasrah karena ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya saat ini.

Katanya, setelah ia menikah dengan Menik, maka pernikahan ini akan di landa masalah selama beberapa bulan ke depan. Sejak menikah dengan Menik, mereka tidak pernah mengalami apapun, namun sekarang, Anjaz merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres.

"Pak! kok malah melamun, sih!?" tanya Menik membuyarkan lamunan Anjaz.

"Menik, aku akan mencari rumput untuk kambing-kambing. Kamu tidak perlu ikut, biar saya saja cari rumput, ya?" ujar Anjaz buru-buru meninggalkan Menik dengan wajah yang terlihat ketakutan.

Menik pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Kenapa to pak Anjaz tuh? aneh banget tingkahnya." gumam Menik.

Menik pun menatap si Mbah yang terlihat sangat kosong.

"Mbah, embah ini kenapa to, akhir-akhir ini kok melamun terus?" tanya Menik..

"E e embah pamet muleh yo, nduk.

Ileng pesan si Mbah, Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman. Kunci Urip selamat Nang dunya, ileng kambe seng kuasa."

Meksipun Menik kurang paham dengan kata-kata si Mbah, namun Menik hanya mengangguk saja dan menuntun si Mbah untuk masuk ke dalam kamarnya.

Saat ini, entah kenapa Menik seperti mencium aroma yang sangat wangi dan menyengat di dalam kamar si Mbah.

Menik memang habis mencuci seprei dan selimut si Mbah, namun sabun cuci yang ia gunakan tidak sewangi ini.

Untuk pertama kali, Menik merasakan bulu guduknya merinding.

"Mbah, Mbah bubuk aja Yo, menik mau masak buat nanti malam." ujar Menik mengelus rambut sang nenek sang sudah merebahkan tubuhnya di kasur.

Menik pun keluar dari kamar nenek dan mengelus dadanya.

"Kenapa kok firasat ku gak enak Yo. Ada apa ini?" gumam Menik.

Menik yang ingat jika suaminya sedang keluar sendiri pun langsung merasa jika ia harus mengikuti sang suami. Menik sangat takut jika terjadi apa-apa dengan suaminya.

Ketika Menik akan beranjak dari kakinya berdiri, ia mendengar suara di dalam kamarnya. Seperti ada seseorang yang membuka lemari kamarnya..

Kreeeek...

"Pak!? apa bapak di dalam kamar?" tanya Menik dengan perasaan gugup.

" Eh, dari tadi kok mulutku ini manggil kang mas bapak terus to..Walah, gak romantis sekali mulutku ini." ralat Menik sambil menepuk mulutnya sendiri.

Ketika Menik akan membuka pintu kamarnya, tiba-tiba saja terdengar suara bising dari luar.

"AWAAAAS.. AWAAAAS...!" teriak warga..

Menik pun langsung keluar dari rumah dan berlari ke jalan untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata, Anjaz baru saja akan keluar dari rumah lewat belakang dengan menggunakan sepeda. Ketika akan menyebrang, ada motor grandong (motor jelek tanpa body) melaju cukup kencang di tambah tidak ada rem yang memadai.

Beruntung pak RT yang sedang duduk-duduk di latar rumahnya melihat jika ada dua kendaraan akan tabrakan jika tidak ada saling melihat.

"Ada apa ini!?" tanya Menik ngos-ngosan karena berlari dari rumah ke jalan samping rumahnya.

"Tidak, Menik, tadi hampir saja saya dengan pakde ini tabrakan. Beruntung pak RT menegur kita." jawab Anjaz dengan tenang.

"Iyo, Menik. Untug motorku tak belokke ke samping, kalo tidak, abis bojomu." ujar seorang pakde pembawa motor..

"Wes-wes, yang penting lain kali hati-hati. Kalo mau berkendara tolong di perhatikan kendaraannya. Motor boleh jelek, tapi remnya harus pakem juga." ujar pak RT melarai.

"Iyo pak RT, tak berangkat ke bengkel besok ganti rem. Hehehe, emang udah lama juga gak tak kasih rem motorku." ujar pakde..

"Nah, itu. Ambil hikmahnya sekarang ini, masih syukur tidak ada korban jiwa, masak tunggu ada korban jiwa baru motornya di perhatikan." ujar RT.

"Hehe, iya pak RT. Yo wes, aku tak duluan." ujar pakde yang langsung menghidupkan motornya dan jalan lagi.

"Pak Anjaz, mau cari rumput ya?" tanya pak RT.

"Iya nih, pak. Mumpung masih terang, kalo sore-sore takut hujan," ujar Anjaz..

"Pak, eh maksudnya Mas, mas Anjaz, aku ikut ya. Aku gak mau mas Anjaz kenapa-kenapa," ujar Menik terlihat sangat khawatir dengan Anjaz.

Anjaz pun hanya tersenyum dan mengangguk.

"Pak RT, kami cari rumput dulu, ya?" ujar Anjaz berpamitan

"Monggo pak RT, makasih sebelumnya." ujar Menik.

"Iya-iya, hati-hati!" ujar pak RT.

Menik dan Anjaz pun berboncengan naik sepeda. Meskipun malu-malu, namun Menik melingkarkan tangannya ke perut Anjaz.

"Mas, tau ndak, aku tadi takut banget loh." ujar Menik menyadarkan kepalanya kepada Tubun Anjaz.

Anjaz yang menggowes sepeda pun tersenyum dan memegang tangan Menik yang merangkulnya.

"Maafin mas ya udah buat Menik khawatir. Janji, lain kali mamas akan lebih berhati-hati." jawab Anjaz membuat hati Menik meleleh- selelehnya.

Menik sama sekali tidak ingin kehilangan Anjaz dalam hidupnya. Anjaz adalah warna baru dalam hitam yang ia kenal selama ini. pahit manis hidupnya, Anjaz telah memberikan kasih dan sayang tidak pernah Menik rasakan dari bapaknya, ataupun orang tuanya.

Terpopuler

Comments

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

menik.... oh... menik...
iku mbah mu wis pamitan nik opo g mudeng2 to kw nik2

d tgh2 part aq ngakak mana lah aq sndrian d kr gila aq bisa2
motor grandong klo di tmpt kita ya kk thor klo di lain tmpt mgkin motor pretelan hahahaaaaaaa

2023-07-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!