Melihat Hanum yang masih berdiri tidak mau membaur pun langsung Menik tarik tangannya.
"Mau ikut denger kisahnya nggak?" tanya Menik.
"Emang boleh?" tanya Hanum.
"Boleh donk!" ujar Menik yang langsung mengajak Hanum untuk bergabung dengannya.
......
Anjaz yang sedari awal telah menguping pembicaraan mereka di balik dinding pun awalnya merasa sangat bangga dengan sang istri, namun semakin ke sini, sepertinya kelabilan sang istri tidak bisa di diamkan begitu saja.
Ketika Menik sudah bersiap untuk mengutarakan kehaluannya yang sangat-sangat tinggi, bahkan bisa keluar angkasa bima sakti, jauh dari keasliannya, bahkan bisa lebih dari cerita keasliannya. Pak Anjaz pun buru-buru langsung keluar dan menghampiri Menik bersama dengan para kawakannya.
"Hay, semuanya. Ini sudah jam pulang, kenapa kalian masih belum pada pulang?" sapa Anjaz membuat semua para murid langsung berdiri.
"Eee... ini kita mau pulang kok, pak!" seru salah satu murid yang takut jika maksud dari perkumpulan mereka di ketahui oleh pak Anjaz.
"Iya, pak ini kita mau pulang!" seru lainnya yang langsung minta bersalaman dengan pak Anjaz.
Akhirnya, mereka pun pulang satu persatu.
Hanya tinggal Eka yang terlihat bingung harus pulang dengan teman-teman lainnya, atau pulang bersama dengan sahabatnya.
"EKA! AYO!" seru murid lainnya yang melihat Eka masih mematung bingung.
"Pak, Menik, aku duluan, ya..!" ujar Eka yang salim dengan pak Anjaz dan pergi meninggalkan Menik.
Menik pun terlihat gugup ketika Eka tega mengkhianati dirinya dan meninggalkannya begitu saja. Meksipun Menik tahu jika pak Anjaz adalah suaminya, namun ia kini tiba-tiba saja merasa sangat gugup sekali.
"Pak Anjaz, ayo kita juga pulang?" ujar Menik gugup.
Pak Anjaz hanya menatap Menik dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Mau cerita apa tadi sama teman-teman?" tanya pak Anjaz membuat jantung Menik serasa mau copot.
"Oh, itu.. Em...!" Menik gugup.
"Mau cerita itu?" tanya Anjaz.
"Itu, emm, iya itu, aku tadi mau cerita kalo...kalo... kura-kura bisa ngalahin kelinci yang licik." jawab Menik dengan gugup tetapi di utarakan dengan lancar.
Anjaz yang melihat wajah Menik gugup pun merasa sangat gemas sekali. Bagaimana bisa Menik memiliki wajah semanis ini.
Anjaz pun menarik hidung Menik yang sedikit mancung itu.
"AAAAAAW! sakit, pak!" ringis Menik.
"Sampai saya dengar lagi kamu akan bercerita yang aneh-aneh, aku akan menghukum mu." ujar Pak Anjaz yang sedikit membungkuk untuk menjajarkan wajahnya dengan wajah Menik.
Wajah Menik pun langsung memerah ketika melihat guru sekaligus suaminya yang sangat-sangat tampan.
Anjaz, berpawakan tinggi, tubuh tegap, badan suspek, otot bergelombang sempurna, bagaimana bisa mencelat ke desa yang jauh dari perkotaan.
"Pak, aku malu." Menik pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Anjaz pun tersenyum melihat ekspresi wajah Menik.
"Malu, aku baru tahu kamu punya malu. Bukankah, kamu tidak malu saat membuka semua pakaianmu ketika malam pertama kita." ujar Anjaz meledek Menik.
"Iiiiiiiiiiiiiiih, pak, aku kemarin itu kan cuma buru-buru biar waktunya gak habis." jawab Menik mengelak ketika dirinya di tuduh tidak punya malu.
Anjaz yang benar-benar merasa gemas pun langsung merangkul pundak Menik.
"Sayang, sore nanti mandi di kali, yuk?" ajak Anjaz membuat Menik langsung tersenyum malu. Sangat malu sampai rasanya ia ingin lompat dari tepi jurang.
Bagaimana bisa di tempat umum dan terbuka seperti ini, Anjaz merangkul dirinya dan memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Paaak, malu ah!" Menik langsung menurunkan tangan Anjaz dari pundaknya..
"Istri ku, apakah kamu malu mempunyai suami seperti daku?" tanya Anjaz membuat Menik bener-benar merasa sangat geli sekali.
"Pak, stop! Aku mau pulang sendiri!" ujar Menik langsung menancapkan gas penuh pada tumpu kakinya agar bisa berlari dengan sangat kencang.
Anjaz hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat istrinya yang akhirnya seperti kepiting rebus. Menik yang bar-bar, akhirnya luluh lantah, lemas tak berdaya, dengan rayuan maut sang guru idola..
Ketika sampai di rumah, Menik pun langsung membersihkan rumah..
Pukul waktu menunjukan jam 2 siang. Menik hampir tidak pernah beristirahat saat pulang sekolah.
Pekerjaan rutinitas Menik ketika pulang sekolah adalah,
pertama: Beres-beres rumah.
lipat baju, nyapu, cuci piring dan memasak.
Sudah itu, masuk sore hari.
Kedua: Menik akan mencari rumput untuk kambing-kambingnya.
Malam hari.
Ketiga: Menik akan mencuci baju dan langsung menjerengnya di dalam rumah bagian dapur.
Dapur Menik di buat sangat luas. Meskipun dinding terbuat dari bambu, namun Menik dengan terampil agar dapur terlihat luas dan bersih.
Ya, rumah Menik adalah hasil tangan menik sendiri. Menik merenovasi rumah itu sendiri dengan bermodal anyaman bambu.
Karena tidak mampu membeli semen untuk lantai dapur, Menik pun berinisiatif mengumpulkan krikil batu putih kecil dari kali untuk di bawa pulang. Jadi, lantai dapurnya penuh dengan krikil dari ujung ke ujung. Bahkan tebalnya pun cukup tebal membuat tanahnya tidak akan terlihat. Hal ini malah bisa jadi terapi pada kaki.
Meksipun rumah ini terlihat sangat sederhana, yakinlah, anda akan sangat nyaman sekali karena ketrampilan Menik yang luar biasa.
Keempat: Setelah mencuci baju, Menik akan mengerjakan PR jika ada. Jika tidak ada, Menik akan memijat si Mbah sampe waktu tidur tiba.
Ketika jam 10 malam, Menik akan tidur dan bangun di jam 4 pagi.
Jam 4 pagi, Menik akan memasak, setelah masak, Menik akan sholat subuh, setelah sholat subuh menika akan Beres-beres rumah lagi, nyapu halam depan dan belakang keliling semua di sapu bersih. Setelah nyapu, Menik akan mengeluarkan pakaian yang semalam di jemur di dalam..
Setelah semua beres, Menik akan mandi dan berangkat ke sekolah.
Kadang juga, beberapa hari sekali Menik akan ke kebun untuk memanen buah coklat untuk di jual. Bahkan, jika musim kopi panen, ia juga akan panen kopi.
Uang yang Menik hasilkan dari kebun yang tidak seberapa itu hanya cukup makan dan kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama dengan si Mbah. Sisanya sangat sedikit untuk di tabung.
Namun meksipun pun begitu, Menik bertekad kuat untuk tidak jajan agar ia bisa menabung agar bisa pergi ke kota untuk mencari ibunya yang entah kemana.
Satu keinginan Menik, ia bisa memeluk sang ibu sekali saja. Setelah itu, Menik akan kembali ke desa dan menjaga si Mbah sampai akhir hayatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
klo di real sperti ini aq kalah sm menik yg ada aq rebahan trus smbil pantengin ini ada notif blm dr NT soalnya sllu d tgu up nya... wkwkwkkkk
smgt kk thor
2023-07-06
2