Anak-anak murid kelas 3 C kini sudah bersiap untuk melakukan pelajaran praktek olah raga basket.
Sekolah yang baru saja renovasi besar-besaran, juga mendapatkan fasilitas tempat untuk bermain basket.
"Pak, kita mau olah raga basket, ya? Tapi kita belum pernah main basket loh, pak!" tanya murid bernama Menik.
"Iya, kita mulai sekarang akan melakukan olah raga basket, jadi kalian harus perhatikan bapak agar paham. Bermain basket bukan hanya sekedar merebut bola dari lawan, namun kalian juga harus memiliki taktik agar dapat menjaga bola dan juga memasukkannya ke dalam ring, ingat, jika di rasa kurang sampai, kalian jangan ragu-ragu melompat agar bola masuk dengan sempurna ke dalam ring seperti ini."
Pak Anjaz pun melompat dan mempraktekkan gayanya saat memasukan bola.
Usai mempraktekan, pak Anjaz pun menggoyangkan kepalanya agar rambut yang menutupi wajahnya menyingkir. Sebab, rambut pak Anjaz ini bergaya ala-ala oppa-oppa Korea.
"WAAAW!" beberapa murid pun bersorak dan bertepuk tangan..
Anjaz pun tersenyum dalam hati, merasa jika dirinya sangat keren sekali.
Namun, tiba-tiba saja suara Menik membuat tersipu.
"Walaaaaaaah, paaaak! Kalo aku yang lompat, susuku yo mendal-mendal!" ujar Menik membuat semua murid lainnya tertawa.
"HAHAHAHAHA....!"
"HAHAHAHAHA...!"
"HAHAHAHAHA...!"
"Menik! makannya pakek kutang, ben gak mendal-mendal susune!" sahut seorang pria dari sebelahnya.
"Wes, Yoo.. aku Lo pakek kutang si Mbah, agak kendor memang, hehehe!" sahut Menik dengan PD-nya.
"HUAAHAHAHAHA!" suara tawa murid lainnya menggelegar, membuat pak Anjaz tidak bisa berkata-kata.
"Sudah-sudah! kalian ini bicara apa. Menik, jaga bicaramu dan jangan mengatakan hal sensitif di sini. Kita hanya akan belajar pemanasan dan melatih tangan untuk melempar bola agar terbiasa. Kita belum akan langsung bertarung!" jelas pak Anjaz sekaligus memperingati Menik.
Menik tanpa merasa bersalah pun langsung berdiri.
"Nah, setuju pak, teman-teman ku itu memang otaknya suka pada ngeres Yo, pak! jadi gak usah di dengar. Ayo, Pak, ajari aku lempar bola, aku yang pertama, Yo?" ujar Menik yang langsung berjalan mendekati pak Anjaz.
Pak Anjaz pun hanya bisa kembali menggelengkan kepalanya. Mengajar kelas SMA memang harus sedikit sabar dan lebih harus telaten. Murid-murid di kelas ini memang sedikit sulit untuk di taklukkan untuk menuruti kemauan sang guru.
"Pak, ayo ajari ini tangannya harus kaya mana?" ujar Menik meminta untuk tuntun oleh pak Anjaz.
Pak Anjaz pun tidak ada pilihan lain selain harus memegang tangan Menik dan menuntunnya agar dapat memasukan bola dengan benar.
Pak Anjaz berusaha untuk profesional dengan pekerjaannya meskipun hal ini sangatlah menggoda iman.
Tubuh seorang siswi SMA sudah sangat sempurna untuk seorang gadis. Jelas beberapa tempat sudah mulai membentuk kesempurnaan untuk di pandang indah oleh mata.
Namun Menik sama sekali tidak rikuh atau pun malu, sebab ia di dalam otaknya, ia hanya benar-benar ingin belajar dengan giat.
Sekali lempar,
"HOREEE! Kita berhasil, Pak!" seru Menik bersemangat.
"Di ingat-ingat tangannya tadi harus bagaimana Menik, bapak tidak akan mengajari mu ke dua kali. Perhatikan teman-teman yang lainnya juga agar terus paham," ujar Pak Anjaz menjelaskan.
"Asyiap, Pak!" sahut Menik yang kembali duduk di pinggir lapangan di mana teman-teman menunggu untuk namanya di panggil.
Ketika Pak Anjaz memanggil murid satu persatu untuk praktek, Eka teman dekat Menik pun membisikan sesuatu kepada Menik.
"Menik, gimana rasanya tadi di peluk sama pak Anjaz?" tanya Eka.
"Aku gak di peluk, Yo ... Kaaa! Aku tadi cuma di ajarin gimana caranya megang bola yang bener, ngawur mulutmu nek ngomong," jelas Menik.
"Sama aja to, tetap aja tadi di peluk dari belakang. Aaa ... aku jadi gak sabar giliranku," ujar Eka dengan senyum-senyum gak jelas bak cabe-cabean.
"Tapi emang wangi tenan pak Anjaz iki, Ka. Gak koyo pak Wari, bau minyak urang-aring. Ckckck!" Menik cekikikan menertawai pembicaraan yang mereka bahas.
"Bener kamu, Nik. Untung aja guru penjas kita bukan Pak Wari. Ckckck!" sahut Eka.
Pak Wari adalah guru matematika. Berpawakan pendek, sedikit hitam, bibir tebal dengan perutnya yang buncit dan kumis yang tebal, juga rambutnya yang belah tengah dengan aroma minyak urang-aring.
Bisa di bayangkan betapa bersemangatnya murid-murid ketika pelajaran Matematika ini di mulai. Murid-murid sangat bersemangat untuk bolos masal pada saat mata pelajaran ini.
Setelah jam sekolah berakhir, Menik dan Eka pun berjalan untuk pulang. Kebanyakan, anak-anak yang sekolah di desa itu berjalan kaki. Jika rumah mereka sedikit jauh, maka meraka akan menggunakan sepeda.
Menik dan Eka pulang paling akhir karena mereka harus membereskan kelas, sebab besok mereka ada piket kelas. Biar gak kelabakan di esok paginya, jadi mereka membereskan kelas saat pulang sekolah.
Ketika akan keluar gerbang, tiba-tiba saja Menik melihat jika Pak Anjaz baru saja keluar dari kantor guru dan berjalan pulang.
"Ka, itu pak Anjaz kan? Dia jalan?" tanya Menik.
"Kayaknya iya, dia gak motor ataupun sepeda," jawab Eka.
"Ka, kita tunggu di sini, kapan lagi kita bisa pulang pak guru, wkwkwkwk!" ujar Menik menarik Eka untuk berdiri di samping gerbang untuk menunggu Pak Anjaz.
Ketika pak Anjaz keluar gerbang, Menik pun langsung menyapanya.
"Hay, Pak Anjaz. Pak Anjaz mau pulang?" sapa Menik..
"Loh, kalian belum pulang?" tanya Pak Anjaz kaget.
"Hehehe.. iya pak, kami tadi piket dulu," jelas Eka..
"Oh begitu. Lah kalian pulang ke arah mana?" tanya Pak Anjaz.
"Ngetan, Pak!" sahut Menik.
Pak Anjaz mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Sana Lo, pak, ke arah timur," ucap Eka menjelaskan.
"Oh, sama kalo begitu, ayo kita pulang bareng saja," ujar Pak Anjaz.
"Ayo, Pak!" sahut Menik dan Eka bersemangat.
Ketika baru berjalan 2 langkah, tiba-tiba suara klakson berbunyi.
TIN
TIN
"Pak Anjaz jalan?" tanya buk Santi, guru bahasa Indonesia.
"Oh, iya buk Santi, saya jalan," jawab pak Anjaz.
"Mau bareng, Pak? Saya bisa antar," tawar buk Santi.
"Loh, rumah buk santi kan arahnya ke sana," sahut Menik menunjukan jalan yang berlawanan arah.
Buk Santi pun langsung terlihat kesal dengan sahutan Menik. Namun ia mencoba untuk tetap tersenyum.
"Iya gak papa, Menik. Sesama kita harus saling membantu, lagian putar baliknya gak terlalu jauh kok," jawab Buk Santi.
"Kalo begitu, buk Santi anterin aku aja, yo? Kebetulan, kaki ku capek tenan mau jalan," sahut Menik kembali membuat buk Santi benar-benar merasa sangat kesal.
Buk Santi pun terasa kebakaran jiwa mendengar Menik yang sedari menganggu dirinya untuk PDKT dengan pak Anjaz.
"Ya sudah buk Santi, buk Santi bisa antar Menik saja sama Eka. Saya biar jalan saja," ujar Pak Anjaz mencoba untuk membujuk buk Santi.
"Hehehehe...!" buk Santi pun tersenyum kikuk, ia ingin mencari alasan untuk menolak Menik.
Sangat kebetulan, tiba-tiba saja ponsel Buk Santi berdering. Membuat Buk Santai bisa mencari alasan.
"Aduh, ini ibuku telpon, seperti aku harus cepat-cepat pulang. Menik, maaf ya, ibu belum bisa antar kamu sekarang. Lain kali kita bareng ya," ujar Ibu Santi dengan buru-buru berpamitan dan pergi.
Ketika motor buk Santi menjauh, Menik pun mendengus kesal.
"Huuuuuu.... katanya putar baliknya gak jauh, gitu kok alasan mamakne telpon!" ujar Menik menggerutu.
"Menik, buk Santi iku suka sama pak Anjaz," jelas Eka menggoda pak Anjaz yang sedari nyimak.
"Kalian ini bicara apa. Saya ini guru baru, baru sehari ngajar di sini, tapi kalian ini selalu saja iseng dengan saya," ujar Pak Anjaz menggelengkan kepalanya.
Menik dan Eka pun di sepanjang jalan terus saja menggoda pak Anjaz yang di sukai oleh buk Santi. Buk Santi sendiri adalah janda berusia 35 tahun..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Efrida
aku yo ngerti lek jowo ne koyo ngene loooo. salam knl thor aku cwe asal palam...padang lampung tp bs jowo titik2 😅
2023-09-08
0
Ani
ini jawa bagian mana bahasane medok men 😁😁😁😁
2023-07-18
0
Queen Tdewa
tepuk jidad aja dah
2023-07-13
1