Cemburu

Anjaz menahan suara ketika berada di dalam kamar mandi, sebab Menik tiba-tiba saja masuk ke dapur untuk memasak sesuatu.

Anjaz yang fokus bermain solo pun di kejutkan dengan ketukan pintu kamar mandi.

Tok Tok Tok

"Mas, Menik mau masak mie, mas Anjaz mau nggak? Kalo masu sekalian nanti tak buatin!?" tanya Menik.

"Tidak, Menik, mamas masih kenyang!" sahut Anjaz yang tangannya masih memainkan irama maju mundur.

Menik yang mendapatkan jawaban pun langsung menjauhi kamar mandi.

Menik melanjutkan memasak mienya sambil sesekali menatap pintu kamar mandi yang tidak kunjung terbuka.

"Mas Anjaz ki lagi apa to di kamar mandi, lama banget?" gumam Menik penasaran. "Opo mas Anjaz mules yo gara-gara aku masak sambel ikan asin?" lanjutnya menduga-duga. "Kasian tenan, besok-besok aku gak usah masak sambel ikan asin kalo gitu."

Menik pun membawa semangkok mie instan ke ruang tengah. Menik berniat makan mie sambil menonton tv.

Belum lama Menik duduk, Anjaz tiba-tiba muncul.

"Mas Anjaz, sini makan bareng sama Menik?" ucap Menik menawarkan.

"Tidak usah Menik, kamu habiskan aja, mas mau istirahat, mas capek banget hari ini, mas mau istirahat." ucap Anjaz terlihat sangat lemas sekali, bagaimana tidak, ia baru saja jalan-jalan ke galaksi bima sakti seorang diri.

"Oh, ya sudah, nanti Menik nyusul, Menik mau makan dulu." ucap Menik. Ketika Anjaz mau masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja Menik kembali memanggilnya.

"Mas!?" panggil Menik.

"Ya?" sahut Anjaz melepaskan gagang pintu kamar.

"Mas Anjaz perutnya mulas gara-gara makan sambel ikan asin ya? Maafin Menik ya mas, Menik gak buat lauk lainnya, Menik g tau kalo mas Anjaz gak cocok makan sambel ikan asin." ucapnya.

"I-iya Menik, tidak masalah kok, mas suka sambal ikan asin." jawab Anjaz bingung, karena bukan itu alasannya dia lama di kamar mandi.

"Gitu ya, Yo wes, mas Anjaz istirahat aja dulu kalo gitu." ucap Menik sambil melahap mie ke mulutnya.

"Ya sudah, kamu jangan tidur malam-malam ya. Setelah makan kamu segera tidur, jangan begadang." ujar Anjaz menasehati.

Menik pun hanya mengangguk sambil terus memakan makanannya. Sedangkan Anjaz langsung merebahkan tubuhnya karena ia benar-benar merasa lelah sekali hari ini.

Ketika Anjaz sedang tertidur, Menik mendengar suara handphone berbunyi. Menik tahu jika itu adalah suara ponsel Anjaz..

Menik mencari sumber suara dan melihat ponsel Anjaz berada di selempitan kursi. Menik pun mengambilnya dan melihat sebuah nama JELITA memanggil.

"Jelita, sopo jelita ini?" gumam Menik yang merasa jika di desanya tidak ada yang namanya jelita.

Menik pun mengangkat telpon itu dan mendengar suara wanita dengan manja.

"Hallo Sayang, kamu lagi apa, aku kesepian gak ada kamu di sini. Kamu kapan sih pulangnya? Apa aku nyusul kamu ke Jerman? Hmm, lagian kenapa sih kamu jauh-jauh sekolah ke Jerman, kalo kaya gini kan kita jadi sulit ketemu, mana kamu kalo di ajak di video call gak pernah mau angkat, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku? Apa kamu di sana sudah punya wanita lain? Awas aja kalo kamu sampai selingkuh di sana, aku akan memberi tahu kakakmu di mana kamu berada sekarang!" ujar seorang wanita yang bernama jelita itu.

Menik hanya mematung dengan perasaannya hancur lebur. Hatinya serasa tersayat-sayat mendengar suara manja itu menyebut suaminya dengan sebutan sayang.

Menik pun diam-diam mematikan panggilan dan meletakan handphone itu ke tempatnya semula.

Air mata tidak terasa menetes begitu saja. Rasanya sangat sulit di jelaskan bagaimana sakitnya.

Cemburu, jelas Menik merasa cemburu, selama ini Anjaz sudah berjanji akan selalu bersama dan menjaga dirinya. Namun, belum lama janji palsu itu terucap, tiba-tiba muncul wanita lain dan memanggilnya sayang.

Tidak terima dengan kenyataan ini, Menik pun mengusap air matanya dan menghampiri Anjaz yang sudah tertidur pulas.

Menik yang patah hati dengan agresif duduk di perut Anjaz dan langsung membuka kaosnya.

Anjaz yang sudah memejamkan matanya sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.

Hanya menggunakan bra, Menik dengan agresif tidak sabaran membuka kancing baju Anjaz.

"Menik, apa kamu lakukan!?" tanya Anjaz yang sangat terkejut dengan tindakan menik.

"Menik mau punya anak dari mas Anjaz!" sahut Menik dengan mata yang sudah memerah dan suara yang sangat berat karena menahan patah hati.

"Menik, stop Menik!" Anjaz mencoba menahan tangan Menik yang terus membuka kancing bajunya sampai habis sehingga memperlihatkan dada dan perut Anjaz.

Menik tidak mendengar Anjaz dan berusaha untuk melepas baju Anjaz.

"STOP MENIK!" Anjaz pun dengan tegas membentak Menik dan memegang kedua tangannya.

Anjaz pun langsung sit-up dan duduk. Sedangkan Menik masih duduk di pangkuan Anjaz.

Anjaz memegang kuat tangan Menik yang sedari tadi tak mau diam. Namun, ketika melihat air mata menik yang semakin deras, Anjaz pun merasa bersalah karena sudah membentaknya. Mau bagaimana pun, Menik adalah istrinya, tidak sepatutnya Anjaz marah ketika Menik menuntut hak batinya.

Tetapi Anjaz masih merasa jika ini bukanlah waktu yang tepat.

"Sayang, maafin mas ya? Mas tidak bermaksud memarahi mu. Tapi, ada apa sama kamu? Kenapa kamu seperti ini secara tiba-tiba?" tanya Anjaz mendekatkan wajahnya ke wajah Menik yang sudah tertunduk sambil menangis tanpa suara.

"Menik mau punya anak dari mas Anjaz." jawab Menik sambil sesegukan.

Anjaz pun memegang kedua pipi Menik. "Iya sayang, kita akan punya anak, tapi tidak sekarang. Kamu masih harus menyelesaikan sekolahmu dulu. Sebentar lagi kamu ujian, mamas gak mau proses belajar kamu terganggu." jelas Anjaz dengan lembut mengusap air mata Menik.

"Ta-tapi." Menik sangat kesulitan ketika ingin membahas tentang wanita bernama jelita, baginya, itu terasa sangat sakit sekali.

"Tapi apa Menik. Kamu ini sebenarnya kenapa?" tanya Anjaz mencoba mencari akar permasalahan.

"Tadi ada pelakor nelpon, katanya dia kangen sama mas Anjaz. Itu pasti selingkuhannya mas Anjaz kan!?" tanya Menik dengan cemburu.

"Pelakor? Selingkuh? Siapa pelakor, siapa selingkuhan mas. Jujur Menik, mas tidak mengerti dengan apa kamu ucapkan. Mas sama sekali tidak ada selingkuhan. Di dalam hati mas Anjaz saat ini hanya ada Menik, tidak ada yang lain." ujar Anjaz dengan erat memegang kedua tangan Menik untuk meyakinkannya.

Antara senang dan ragu, Menik pun langsung menatap mata Anjaz dengan penuh harapan jika apa yang di katakan Anjaz adalah kebenaran.

"Tadi, ada perempuan namanya Jelita, dia telpon mas Anjaz, katanya dia kangen sama Mas Anjaz." jelas Menik.

Anjaz pun akhirnya mengerti akar dari problem ini. Anjaz pun tersenyum melihat kecemburuan yang Menik utarakan.

Bukanya menjawab, Anjaz justru mencium kening Menik dengan sangat lembut.

Andai Menik bukan lagi pelajar abu-abu, Anjaz pasti sudah akan memberinya sebuah bukti.

JANGAN LUPA LIKA YA ...

Terpopuler

Comments

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

wah hebat si anjaz memang bener2 yah keren
jarang2 lho ada lelaki yg setia mski adh meikah sekalipun klo jiwanya mmg ada bibit selingkuh dimanapun kpn pun bisa terjadi

2023-07-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!