Pagi ini, Anjaz terlihat sudah siap menggunakan pakaian dinasnya. Ia sudah siap menunggu istri yang bukan lain adalah muridnya sendiri.
Menik terlihat keluar dari kamar dengan cara jalan yang berbeda. Anjaz pun hanya bisa menahan tawanya karena ia tahu jika itu adalah perbuatannya.
"Menik, kalo memang masih sakit, kamu bisa libur aja dulu," ucap Anjaz.
"Aku ngak sakit, kok. Siapa yang sakit?" tanya Menik memeriksa keningnya sendiri.
"Bukan itu maksud aku, tapi itu." kode Anjaz menunjuk ke bawah anu Menik..
"Isht, pak Anjaz ini loh!" Menik pun terlihat wajahnya memerah karena malu. "Wes, ah, ayo berangkat, aku gak apa-apa kok!" lanjutnya.
"Si Mbah mana?" tanya Anjaz ingin berpamitan dengan si Mbah.
"Si Mbah lagi bubuk kalo jam segini, wes gak popo gak usah pamitan," jawab Menik..
Anjaz pun mengangguk mengerti. "Ya sudah, ayo kita berangkat," ujar Anjaz berjalan keluar.
Ketika sedang berjalan menuju sekolah, terlihat beberapa warga mengapa Anjaz dan juga Menik.
"Widih, pengantin baru kok sudah keluar rumah pagi-pagi gini," ucap salah satu warga.
"Iya, pak, ini mau ke sekolah," jawab Anjaz.
Menik yang berdiri di belakang Anjaz pun hanya tersenyum.
"Menik, kok kamu ini masih sekolah to, wes mbojo tu sudah di rumah wae!"
"Eh, ada to! Yo ndak bisa, aku tetep sekolah sampe lulus, eman-eman tinggal beberapa minggu neh ulangan semester siji(1)."
"Heleh, lulus juga yo ujung-ujungnya tetap ke dapur!"
"Yo ndak popo, to! ngopo emange, wong pak Anjaz aja ngebolehin aku tetep sekolah kok!" sahut Menik kesal.
Anjaz pun mencoba untuk melarai. "iya pak, gak papa, insyaallah Menik masih bisa sekolah, apa lagi pernikahan ini kan dadakan karena ada aturan yang saya tidak tahu."
Para warga pun yang mau berangkat ke ladang hanya menganggukkan kepalanya ketika Anjaz berbicara. Beda orang beda respon pula.
"O, ya sudah pak Anjaz, kita mau ladang dulu," jawab warga berpamitan.
Menik pun memanyunkan bibirnya melihat para warga yang menyudutkan dirinya. Menyadari jika istrinya kesal, Anjaz pun mencoba untuk menenangkannya.
"Menik, sudah tidak apa-apa. Anggap saja tadi itu angin berlalu, yang penting aku ada di sini untuk kamu," ujar Anjaz merangkul pundak Menik.
Seketika Menik pun langsung tersenyum melihat gurunya sangat romantis dengannya. Menik jadi tidak sabar ingin memamerkan kepada teman-teman sekolahnya, jika guru idola baru mereka kini sudah menjadi suaminya.
Sesampainya di gerbang sekolah, banyak para murid-murid berbondong-bondong mengintip Menik dan pak Anjaz yang jalan bersama ke sekolah.
Desas-desus pernikahan Menik dan Anjaz sudah menggemparkan seloroh desa.
Dari kejauhan, terlihat ibu guru Santi mengintip Menik dan Anjaz yang baru masuk lewat jendela kantor.
"Isssht, dasar memang Menik itu. Aku tahu dia sengaja melanggar aturan itu biar bisa menikahi pak Anjaz. Awas, kamu Menik!" sulut emosi bu Santi dalam hati.
Hanum terlihat sangat kesal ketika mendengar jika guru idola sekolah sudah menikah dengan Menik. Karena merasa tidak mood, Hanum pun tidak memeriksa kursinya yang di sana ada bekas permen karet yang Eka dan Menik letakan.
Setelah sampai ke kesekolahan, entah kenapa Menik jadi malu sendiri. Yang awalnya dia membayangkan jika dia akan pamer keromantisan sama Anjaz di depan teman-temannya, namun kini ia seperti kerupuk yang di siram air, lemempem.
"Menik, kamu kenapa?" tanya Anjaz yang melihat Menik selalu mengekor padanya. Bukannya masuk ke dalam kelas, Menik justru menundukkan kepalanya dan mengikuti Anjaz.
"Pak, Menik malu banget," jawab Menik malu-malu menutupi wajahnya dengan rambutnya yang panjang.
"Malu kenapa, kan kita gak melakukan hal-hal buruk atau berzina. Orang-orang juga pasti paham kok," jelas Anjaz.
Menik masih terlihat enggan untuk menaiki pandangannya.
Anjaz yang melihat itu langsung memegang pundak Menik.
"Menik, memangnya kamu malu ya punya suami kaya aku?" tanya Anjaz.
Menik pun langsung menggelengkan kepalanya.
"oh, enggak, pak! justru Menik sangat senang, hehehe," jawab Menik sumringah.
"Kalo begitu, kamu percaya diri. fokus belajar karena sebentar lagi akan ulangan," ucap Anjaz menasehati Menik.
Menik pun mengangguk. Kini Menik berjalan dengan percaya diri di sekolah.
Banyak mata memandang namun Menik sama sekali tidak lagi merasa rikuh.
Ketika akan masuk ke dalam kelasnya, Menik melihat kelas 3 B memakai pakaian olah raga. So, suaminya pasti akan mengejar murid-murid itu.
Menik pun dengan percaya dirinya menghampiri anak-anak itu yang berdiri di dekat pintu jelas mereka.
"Hey, kalian-kalian, permisi ya?" Menik tersenyum ngejek ke murid-murid yang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Gini, aku cuma kasih tau yo, bahwasanya, pak Anjaz guru muda tampan, pak guru guanteng satu-satunya yang ada di sekolah ini adalah my bojo. Ingat, jangan ganjen-ganjen sama pak Anjaz, atau kalo enggak, pasti slentik kuping kalian nanti, ingat!" ancam Menik memperingati murid lainnya.
"Helleeeeh, Ra tak gubris. Denger ya Menik, pak Anjaz adalah suamimu di rumah, tapi kalo di sekolahan, dia adalah guru kita semua. Jadi, ya terserah kita lah mau ndeketin pak Anjaz apa enggak. Lagian, pak anjaz nikah sama kamu bukan karena cinta Yo, tapi karena terpaksa! Aku tahu, kamu sengaja to melanggar peraturan desa biar bisa nikah pak Anjaz, dasar anak kegatelan!" sindir temannya.
Meksipun Menik sangat kesal dengan mulut temannya, namun Menik mencoba untuk tetap percaya diri seperti yang suaminya katakan.
"Apapun alasannya, aku tetap pemenangnya, WEK!" Menik pun menjulurkan lidahnya untuk mengejek teman-temanya lagi.
Menik pun meninggalkan segerombolan siswi-siswi yang sedang kebakaran jenggot.
Pelajaran sudah di mulai, terlihat Menik yang tidak fokus karena terus membayangkan wajah tampan Anjaz ketika berada di atasnya.
Hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah, dadanya yang suspek berotot, kulitnya yang putih dan wangi, "Iiiiiiiiiiiiiiih...!" Menik pun merasa sangat gemas mengingat kejadian semalam.
"Hust! kamu kenapa to Menik!?" terus Eka yang duduk di sebelahnya. Ini adalah pelajaran pak Wari, guru matematika, guru paling galak dan guru paling menyeramkan.
"Hehehe, ndak papa kok!" bisik Menik merasa malu sendiri.
Jika anak di sekolah pada memikirkan satu di tambah dua, Menik justru memikirkan pikiran kotor yang terus berjalan-jalan di otaknya.
"Cepetan kerjain, kalo enggak nanti kamu di hukum lagi!" bisik Eka mengingatkan Menik.
Menik pun hanya tersenyum dan mengangguk gemas ke Eka. Namun, suara dari luar kelas menarik perhatian Menik.
Menik pun menatap ke jendela dan melihat jika suaminya sedang mengelus-elus dan mencium kening salah satu siswi.
Menik pun merasa marah dan dadanya serasa sangat panas melihat adegan itu. Bagaimana bisa bibir seksi my bojo menyentuh orang lain.
Padahal, di sisi lain, Anjaz hanya sedang meniup kening siswi yang kepalanya terkena bola basket dengan kuat. Anjaz hanya meniupnya, bukan menciumnya. Hanya saja ,dari kejauhan, Menik melihat jika suaminya sedang mencium murid lainnya.
Menik pun merasa patah hati dan langsung menutup jendela menggunakan tasnya agar adegan itu tidak terlihat lagi.
"Dasar! guru ganjen!" umpat Menik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments