Bab 8, menikah secara mistis.

Di sebuah ruangan tertutup, terdapat ketua adat daerah, pak RT, si Mbah, Menik dan juga pak Anjaz. Terlihat wajah Menik yang sangat ketakutan sambil memegang tangan si Mbah dengan erat.

Si Mbah yang sudah sangat tua terlihat mengelus tangan cucunya yang sangat malang.

"Pak Anjaz, jadi begini, di desa kita memiliki peraturan yang tidak dapat di langgar, dan jika sampai di langgar, maka konsekuensi harus di tanggung oleh si pelanggar, jika tidak, maka desa kami akan mengalami bencana yang bertubi-tubi, bahkan akibatnya bisa sangat fatal," jelas ketua adat yang sudah terlihat sepuh.

Pak Anjaz pun menggaruk-garuk kepalanya merasa heran. "Maaf sebelumnya, bukankah ini hanyalah mitos belakang?" tanya Anjaz merasa jika warga sudah cukup berlebihan menanggapi masalah senjata tajam yang di pangku berdua oleh perawan dan bujang.

"Pak Anjaz, ini bukanlah mitos belakang, warga kita sudah menjaga tradisi ini turun temurun. Pernah kejadian serupa di desa kita, perawan dan bujang tidak mau menikah setelah melanggar aturan tersebut, akhirnya, kami mendapat 3 tahun kemarau panjang dan juga beberapa kejadian mengerikan lainnya. Maka dari itu, kami mohon kepada Pak Anjaz untuk segera menikahi Menik sebelum waktunya berakhir," ujar pak RT.

Pak Anjaz pun bingung harus bagaimana. Meskipun kemarau panjang bisa ia jelaskan secara ilmu geografi dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Tetapi orang desa mana tahu mengenai hal ini. Di tambah, Pak Anjaz pun berprinsip, di mana tanah di pijak, di situ langit di junjung.

Akhirnya, pernikahan singkat dan sederhana pun di laksanakan di kediaman Menik tanpa acara-acara apapun. Hanya beberapa sesajen yang di letakan di berbagai sudut rumah Menik untuk menghilangkan balak dari peraturan desa yang sudah di langgar.

Sebelum pernikahan di mulai, terlihat si Mbah yang sudah sangat tua itu memegangi tangan cucunya dengan gemetar. Si Mbah yang sudah buram penglihatan, sudah tuli pendengarnya dan juga sudah lemah otot-otot pada tubuhnya. Namun si Mbah mencoba untuk memberikan nasehat yang terbaik untuk cucunya yang selama ini ia jaga sepenuh hati.

"Ndok, aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman. (Nak, jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut-kejut, jangan manja)" tutur si Mbah sambil memegang tangan Menik dengan erat.

Menik pun hanya mengangguk dan menangis di pelukan si mbahnya. Malam ini terlihat terang bulan. Namun entah mengapa para warga yang akan menyaksikan pernikahan Menik dan juga pak Anjaz terlihat sangat merinding. Sebab Menik dan Pak Anjaz menikah untuk menebus sebuah pelanggaran.

Bahkan, Menik dan pak Anjaz di nikahkan, mereka berdua pun di mandikan air 7 bunga yang sudah di siapkan oleh warga. Meskipun di bawah rembulan dan di lihat oleh banyak para warga, tidak membuat pak Anjaz dan Menik merasa kedinginan. Sebab, panas yang mencuat di dalam tubuh mereka terasa sangat kuat.

Ketika air pertama di guyur pada tubuh mereka, Anjaz merasa seperti air hangatlah yang menyiram tubuhnya, padahal Anjas tahu jika itu adalah air dingin yang di ambil sumur.

Kini, Anjaz dapat merasakan supranatural yang sangat kuat. Anjaz pun akhirnya mengakui jika memang ada sesuatu yang aneh yang terjadi di desa tersebut.

Ketika air ke 7 di siramkan pada tubuh mereka, dan ketua sesepuh selesai membaca mantra, barulah Anjaz dan Menik tiba-tiba merasa kedinginan yang luar biasa.

Para warga lelaki langsung membantu Anjaz untuk salin, dan para wanita membantu Menik untuk bersalin, karena ijab akan segera di langsungkan.

Anjaz hanya diam sedari awal acara ini di mulai sampai para lelaki membantunya untuk bersalin. Hanya baju biasa saja untuk menikah, tidak perlu yang mewah-mewah. Namun, entah mengapa kini Anjaz merasa sangat kedinginan sekali, padahal ketika di mandikan oleh sesepuh ia justru terasa hangat, tetapi setelah mandi, justru ia sangat kedinginan sampai-sampai bibirnya menggigilnya.

Di sisi lain, terlihat Menik juga kedinginan.

"Menik, kamu gak papa to, mau minum teh anget?" tanya Eka terlihat sangat khawatir dengan Menik.

Ketika teman menikah, seharunya semua orang akan berbahagia, namun, Eka sangat tahu apa yang terjadi pada sahabatnya ini. Pernikahan ini tidak wajar, bisa saja hal-hal buruk akan mendatangi Menik selama beberapa tahun ke depan sebagai ujian dalam rumah tangga.

"Hust, Menik boleh minum sebelum ijab dan sebelum 24 jam berlalu!" sahut seorang ibu-ibu mengingat Eka.

Eka pun hanya menganggukkan kepalanya.

Menik pun terlihat menggunakan baju kebaya biasa dan juga menggunakan penutup kepala.

Mereka tidak perlu menghiasi wajah Menik karena waktu sudah terburu-buru.

Saya terima nikahnya Monika Ayu bin Wahidin dengan uang sebesar lima puluh ribu di bayar tunai.

Suara lantang setengah lirih itu pun akhirnya di sahkan oleh para warga yang menyaksikan pernikahan Menik dan Anjaz yang cukup sakral dan mistis ini.

SAH ......

Setelah berdoa keselamatan, para warga pun langsung berpamitan pada Menik dan juga Anjaz. karena malam sudah semakin larut, jadi para warga harus berada di dalam rumah dan juga mengunci rumah mereka dengan rapat-rapat.

Anjaz pun semakin merinding di buat sikap warga yang seperti ini.

"Pak Anjaz, cepat masuk ke kamar, kita kunci kamar sekarang juga," ucap Menik memanggil Anjaz yang mengintip para warga yang terlihat buru-buru pulang dari jendela.

Anjaz pun menutup gorden jendela dan menghampiri Menik. "Si Mbah mana?" tanya Anjaz..

"Si Mbah sudah masuk ke dalam kamarnya," jawab Menik yang langsung menarik tangan Anjaz ke dalam kamarnya.

Anjaz pun secara ajaib bisa berjalan lagi dengan semula, padahal sebelum ijab kabul, kakinya masih terasa nyeri karena terkilir tempo hari.

Ketika Menik mengunci pintu kamar, Anjaz pun ingin bertanya namun mulutnya keburu di bekap oleh Menik.

"Hussst... pak Anjaz, opo pak Anjaz lupa apa kata Mbah sepuh?" tanya Menik.

Anjaz pun mengingatnya. Jika malam ini sebelum waktu 24 jam berakhir, perawan Menik pun harus segera di jebol secepatnya setelah ijab sah.

Anjaz pun nampak ragu-ragu, tetapi Menik dengan polosnya langsung membuka seluruh pakaiannya di depan Anjaz tanpa ragu sedikit pun dan langsung masuk ke dalam selimut.

Anjaz mana bisa bergairah ketika rasa merinding merasuki jiwanya. Bahkan samar-samar Anjaz mendengar seperti suara si Mbah sedang bernyanyi sebuah nyanyian Jawa seperti sinden, tetapi Anjaz tidak mengerti apa itu.

Karena Anjaz kelamaan, Menik pun langsung menarik tangan Anjaz sekuat tenaga membuat Anjaz pun ikut masuk ke dalam selimut bersama dengan Menik.

Bagaimana kisah selanjutnya, simak terus cerita ini sampai akhirnya ya...

Terpopuler

Comments

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

dasar si menik wis jan ra due isin blas.. hahhaa btw aq suka gay loe nik
smg pernikahan mu mmbw berkah buat mu mgkin akan sulit untk awl pernikahna yg mana akan mglmi godoaan tp smgt lah nik.. kmu gadis kuat yg hahhhhh apa yahhh?
jd ini bau2 mistis ya kk wah keren deh kk
lnjitkn kk ttp d tgu up nya biar smht vote mnrt nieh kk

2023-06-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!