BAB 20

"Sha, kamu mau pulang ke rumah kamu atau menunggu di klinik saja?" tanya Devan saat menjemput Alesha pulang dari sekolah.

Alesha melihat jam di tangannya. "Hmm, nunggu di klinik aja. Kalau hari biasa gini aku kan pulangnya lumayan sore paling cuma nunggu Kak Devan dua jam."

"Ya sudah, nanti aku belikan makanan buat kamu dulu."

"Tidak usah, Kak. Tadi kan sudah bawa bekal." Kemudian Alesha mengalihkan pandangannya dan menatap jalanan di siang menjelang sore hari itu. "Kak, sampai kapan aku tinggal serumah sama Dirga?" tanya Alesha tanpa menatap Devan. Rasanya dia lelah jika setiap hari harus seperti ini. Dia rindu kebebasannya yang dulu ketika di rumahnya sendiri.

"Iya, aku tahu kamu gak nyaman tapi aku gak bisa ninggalin Ibu dan juga Dirga di rumah. Mereka berdua masih tanggung jawab aku karena akulah pengganti kepala rumah tangga." Satu tangan Devan kini mengusap puncak kepala Alesha sesaat. "Aku harap kamu ngerti ya, aku akan selalu berusaha buat jagain kamu dari Dirga. Kalau seandainya sewaktu-waktu aku ada tugas dan kamu sedang di rumah, kamu sama Ibu saja karena Dirga gak mungkin berani macam-macam kalau ada Ibu. Dan satu lagi, aku gak mau berpisah sama kamu. Apapun yang terjadi, aku akan berusaha mempertahankan kamu."

Alesha menganggukkan kepalanya. Meskipun rasanya masih sangat berat menerima keadaan ini tapi mau bagaimana lagi. Dia juga tidak mau berpisah dengan Devan, entah karena dia sudah jatuh cinta atau belum yang jelas dia sudah terlanjur nyaman dengan Devan. Dia kini menatap Devan yang baru saja menghentikan mobilnya di depan klinik. "Hmm, apa Ayah Kak Devan sudah meninggal?"

Devan menggelengkan kepalanya. "Dia pergi dengan wanita lain. Sudah gak usah bahas dia."

Alesha mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Devan berubah drastis ketika Alesha bertanya tentang Ayahnya. Mungkin saja masa lalunya sangat menyedihkan hingga Devan membenci Ayahnya.

Mereka kini keluar dari mobil dan lewat pintu samping klinik menuju ruangan Devan. "Kamu istirahat di sofa saja gak papa. Ada biskuit juga kalau kamu lapar."

Alesha menganggukkan kepalanya lalu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Sedangkan Devan segera memakai snelinya dan keluar dari ruangannya.

Alesha hanya menghela napas panjang. Rasanya bosan juga meskipun hanya dua jam menunggu. Akhirnya Alesha menutup pintu itu rapat lalu dia merebahkan dirinya di atas sofa. Awalnya dia hanya berbalas chat dengan teman-temannya tapi beberapa menit kemudian dia pun tertidur, hingga jam kerja Devan selesai.

Devan kini masuk ke dalam ruangannya. Dia merasa kasihan melihat Alesha yang tertidur di sofa. Dia lepas snelinya dan menutup kedua kaki Alesha. Dia kini berjongkok lalu mengusap rambut Alesha.

"Sebagai seorang suami aku belum bisa bahagiakan kamu. Aku sudah bawa kamu keluar dari rumah kamu, harusnya aku bisa memanjakan kamu selayaknya kedua orang tua kamu, tapi justru setiap hari yang kamu dapat hanya rasa tidak nyaman dan rasa takut. Maafkan aku..." gumam Devan pelan. Dia biarkan Alesha bangun dengan sendirinya. Dia masih saja menatap wajah Alesha yang tertidur dengan pulas.

"Cantik..." guman Devan sambil tersenyum kecil.

Beberapa saat kemudian akhirnya Alesha membuka kedua matanya. Dia terkejut saat melihat wajah Devan berada di dekatnya. "Kak Devan kenapa gak bangunin aku?" Perlahan Alesha duduk sambil mengucek kedua matanya yang masih sangat lengket.

"Tidur kamu sangat nyenyak, aku gak tega bangunin kamu." Kemudian Devan beralih duduk di samping Alesha. "Kita pulang sekarang?"

"Iya, aku mau mandi. Biar ngantuk aku hilang."

"Ya udah, ayo." Devan mengambil snelinya dan memakaikannya di tubuh Alesha. Kemudian dia membawa tasnya dan juga tas Alesha. Mereka kini keluar dari klinik setelah Devan berpesan pada asistennya.

"Mau beli sesuatu gak?" tanya Devan yang kini telah masuk ke dalam mobil bersama Alesha.

Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku males mampir-mampir. Langsung pulang aja. Nanti kalau aku mau makanan, delivery order aja."

"Oke." Kemudian Devan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.

...***...

Malam hari itu, saat Devan akan masuk ke dalam kamarnya, dia dikejutkan oleh Bi Ita yang berteriak memanggilnya. "Pak Devan, sesak napas Ibu kambuh."

"Ibu!" Devan segera berlari mengambil nebulizer di ruangannya lalu ke kamar Ibunya. Dia tegakkan tubuh Ibunya lalu memasang nebulizer itu agar sesak napasnya mereda. "Bi tolong pegangi ini."

"Iya, Pak."

"Suster Lani sudah pulang lagi." Devan mengambil stetoskop dan juga tensimeter.

Alesha kini masuk ke dalam kamar Bu Rahma karena dia juga mendengar teriakan Bi Ita. "Ibu, kenapa?" Alesha ikut menahan tubuh mertuanya itu dan merengkuh pundaknya.

Devan kini memeriksa detak jantung, lalu bunyi pernapasan dan juga tensi darah Ibunya. "Sepertinya penyakit paru-paru Ibu kambuh. Aku akan bawa Ibu ke rumah sakit." Devan melepas nebulizer dari hidung Ibunya.

"Devan, Ibu tidak apa-apa. Kamu rawat di rumah saja," kata Bu Rahma.

"Ibu, kalau di rumah peralatannya terbatas. Kita harus ke rumah sakit. Tensi Ibu juga sangat tinggi. Kita ke Dokter spesialis yang biasa menangani Ibu."

Devan yang dibantu Alesha membawa Bu Rahma keluar dari kamar.

"Bi, tolong siapkan perlengkapan Ibu. Bi Ita ikut ke rumah sakit saja, biar Alesha di rumah."

"Aku ikut saja ke rumah sakit," kata Alesha karena dia takut di rumah sendiri.

"Jangan, nanti kamu kedinginan di rumah sakit. Kamu tidur saja di rumah," kata Devan.

"Iya, kamu di rumah saja. Nanti Devan biar pulang. Biar Ibu sama Mbak Ita saja, di rumah sakit" kata Bu Rahma setelah masuk ke dalam mobil.

"Tapi..."

"Kamu di dalam kamar saja. Kamu kunci pintunya. Dirga juga belum pulang. Setelah semua selesai, aku akan pulang ke rumah." kata Devan.

Alesha masih saja mengerutkan dahinya.

"Atau gini saja, aku telepon Ayah kamu biar dijemput."

Alesha akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Kamu masuk sekarang, kamu kunci semua pintu. Terutama pintu kamar kamu."

Alesha menganggukkan kepalanya kemudian dia segera masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan Alesha mengunci pintu, baru Devan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

Satu tangannya berusaha menghubungi Ayah Alesha tapi sampai beberapa kali panggilan tidak juga terhubung. "Aku gak punya nomornya Mama Fara." Perasaan Devan semakin tidak tenang. Dia berusaha fokus pada jalanan malam hari itu meski satu tangannya berulang kali memanggil nomor Ayahnya Fara.

"Van, setelah kamu mengantar Ibu kamu pulang saja kalau memang Ayah Lesha tidak bisa dihubungi. Kasihan Lesha, sepertinya dia takut sama Dirga."

Devan hanya mengangguk pelan. Apa selama ini Ibunya mengawasi gelagat Dirga hingga tanpa dia bercerita Ibunya sudah tahu pokok permasalahannya. Firasat seorang Ibu memang tidak pernah meleset.

.

💕💕💕

.

Like dan komen ya...

Terpopuler

Comments

Aiur Skies

Aiur Skies

yakin nih dok, klo kasarannya kecolongan dicicil Dirga dulu, gmn tuh😜😅😅😅

2023-09-22

1

AR Althafunisa

AR Althafunisa

Devan bodoh, lagian diajak kenapa sih. Udah nenek2 gtu, atau anak bayi riunyi banget. Hadeuhhh... ntar ge abis dikeja bininya 😩

2023-09-01

0

Efvi Ulyaniek

Efvi Ulyaniek

is kesempatan Dirga nih buat kriminal ke lesa

2023-08-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!