BAB 13

Alesha kini berdiri di dekat bus menunggu absen sebelum masuk ke dalam bus.

"Sha," Rena berdiri di samping Alesha. "Duduk sama gue ya."

Alesha tak menyahutinya. Sebenarnya dia ingin segera berdamai dengan keadaan tapi rasanya masih sulit.

Beberapa saat kemudian Bu Lilis mengabsen mereka satu per satu lalu masuk ke dalam bus secara tertib. Alesha memilih tempat duduk di dekat jendela. Saat Rena akan duduk di sebelah Alesha tiba-tiba Dirga menarik Rena agar menjauh.

"Gue mau duduk sama Alesha." kata Dirga.

Mendengar suara Dirga seketika Alesha menatap Dirga. "Apaan sih lo! Gue gak mau duduk sama lo!"

Dirga tak menggubris perkataan Alesha. Dia tetap duduk di sebelah Alesha. "Kalau lo gak mau pindah, gue aja yang pindah!" Alesha berdiri dan akan pindah dari tempat duduknya tapi terhalang Dirga.

Dirga tak perduli. Dia tetap kekeh duduk di sebelah Alesha. Alesha kini mengedarkan pandangannya dan memang sudah tidak ada tempat duduk yang kosong lagi. Akhirnya dia kembali duduk dan menatap keluar jendela. Dia tidak mau melihat Dirga sama sekali sampai bus itu melaju.

Perjalanan sekitar tiga jam dan gue harus hadap jendela terus. Kenapa sih hidup gue kayak gini banget. Tahu gini gue gak mau ikut.

"Kenapa gak dimakan cemilan yang dibawakan sama Kak Devan? Tadi kan juga dibawain bekal," kata Dirga seperti setan yang berbisik dan membuat hati memanas.

Alesha berusaha untuk sabar dan menganggap Dirga tidak ada di sampingnya.

"Gimana menikah sama kakak gue? Enak?" bisik Dirga di telinga Alesha. "Lo gak mau coba sama gue juga?"

Seketika Alesha menatap nanar Dirga. "Pergi dari sini!" bentak Alesha, yang membuat teman-teman lainnya menatap ke arahnya.

"Ga, Ga, lo pindah dari sini!" kata Ari sambil menarik paksa Dirga. "Udah lo jangan gangguin Lesha lagi!"

Akhirnya Dirga berdiri dan pindah dari tempat itu. Rena kini menggantikan Dirga di sebelah Alesha. Rena hanya melihat Alesha yang menangis sambil menatap jendela. Dia tahu, Alesha terluka karena Dirga selingkuh tapi sepertinya masalah mereka semakin kompleks karena dia juga dengar berita jika Dirga juga memutuskan Kiara dan ingin kembali pada Alesha. "Sha, udah jangan sedih. Kalau lo butuh teman curhat, lo bisa cerita sama gue."

Alesha hanya menghapus air matanya asal.

"Sha, kita emang salah sama lo, tapi kita tetap teman. Jangan sedih lagi, kita ikut sedih lihat lo sedih gini."

Akhirnya Alesha menatap Rena. "Gue belum bisa cerita masalah gue. Tapi gue sekarang udah bisa maafin lo."

Seketika Rena tersenyum dan memeluk Alesha. "Lesha, akhirnya lo maafin gue."

"Lo maafin gue juga kan?" sahut Icha yang duduk di belakang Alesha.

"Kita juga kan?" tanya Ari dan Reza.

Alesha menganggukkan kepalanya.

"Akhirnya... Lega gue, dosa-dosa gue terasa luntur sudah."

"Za, dosa lo masih banyak selama lo masih cekik botol haram itu." kata Icha.

"Astaghfirullah. Iya gue akan tobat dan tidak menarik teman-teman gue ke jalan yang sesat."

Akhirnya Alesha bisa tersenyum kecil. Perjalanan yang memakan waktu tiga jam itu bisa dia lalui dengan tenang dan makanan dari Devan akhirnya telah ludes dimakan Alesha dan teman-temannya.

Setelah sampai di hutan lindung, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka berkeliling hutan sambil melihat komponen ekosistem yang saling berhubungan timbal balik. Mereka mencatat semua yang mereka temui baik fauna maupun flora.

Alesha kembali berkumpul dengan teman satu gengnya. Satu beban yang menggunung itu akhirnya telah terkikis. Senyuman kembali mengembang di bibir Alesha.

Dirga masih saja mengintai Alesha. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Dia seperti terobsesi dengan Alesha. Dia yang menyia-nyiakan Alesha tapi dia sendiri yang tidak rela ketika Alesha sudah menjadi milik orang lain.

"Tumben banget bawaan lo lengkap gini? Sejak kapan bawa obat-obatan juga kalau kemana-mana?" tanya Rena yang melihat Alesha memakai lotion anti nyamuk.

"Oo, kemarin dibantu sama Ayah nyiapin ini semua. Sebenarnya gue gak mau ikut jadi dirayu." Alesha tersenyum kecil. Tentu saja Ayah keduanya sekarang adalah Devan. Dia kini berdiri dan mengedarkan pandangannya. "Sejuk banget ya di sini? Di sana ada sungai ya?"

"Iya. Ada sungai. Di sini ekosistem nya lengkap makanya kita ke sini. Kita selesaikan segera yuk laporan kita biar kita bisa jalan-jalan bentar."

"Takut ih, nanti kalau tersesat di hutan." Alesha kembali duduk di atas akar dan menulis laporannya.

Seketika Rena dan Icha tertawa. "Di sini hutan lindung. Kita jalan-jalannya gak usah jauh-jauh. Nih, kita kan juga diberi peta."

"Tetap aja. Gue beraninya jalan-jalan di hutan kota," canda Alesha.

"Di hutan kota sambil main ayunan terus nanti nangis minta balon."

"Njir, emang gue masih balita." Alesha masih menundukkan pandangannya dan menulis laporan di bukunya, dia tidak sadar dengan tatapan Dirga yang terus mengawasinya.

"Aduh, gue kebelet." kata Alesha tiba-tiba. Dia menutup bulpennya dan menitipkan bukunya pada Rena. "Gue titip tas dulu ya."

"Gue temenin." Icha akan berdiri tapi dicegah oleh Alesha.

"Gue berani. Deket kan toiletnya. Tuh kelihatan di dekat sungai. Lo lanjutin aja laporannya biar cepat selesai." Alesha menunjuk beberapa bilik toilet yang berada di dekat sungai. Karena air yang dialirkan ke toilet itu adalah air sungai.

Alesha berjalan sendiri ke toilet. Setelah sampai di toilet, Alesha segera masuk ke dalam dan menutup pintu toilet itu. Dia mengedarkan pandangannya terlebih dahulu lalu segera berjongkok dan buang air kecil. Setelah membasuh dan menyiram, Alesha mencuci tangannya. Dia tidak mau berlama-lama di tempat itu. Ya, meskipun tempat itu tidak ada aura horornya.

Baru saja dia keluar dari toilet, tiba-tiba ada yang menarik paksa tangannya. Dia diseret ke pinggir sungai agar terlepas dari pandangan guru dan teman-teman yang lainnya.

"Dirga, lepasin! Mau apa lo!" Satu tangan Alesha berusaha melepas genggaman tangan Dirga yang begitu kuat di pergelangan tangannya. Tapi Dirga tetap menyeretnya. "Dirga! Kalau lo gak mau lepasin, gue akan teriak!"

Seketika Dirga membungkam mulut Alesha. Dia membawanya bersembunyi di balik batu besar. "Sampai kapan pun gue gak akan rela lepasin lo. Dari dulu gue mau sama lo."

Alesha akhirnya berhasil melepas bungkaman tangan Devan. "Kalau lo mau sama gue, kenapa lo selingkuh? Sekarang semua sudah terlambat!"

"Karena lo sama sekali gak mau gue cium. Gue juga butuh pasangan yang bisa skinship. Gue semakin gak rela ternyata yang dapetin lo adalah kakak gue. Lo terang-terangan bermesraan di depan gue, sedangkan dulu waktu pacaran gue gak bisa ngapa-ngapain sama lo."

"Lo jadi cowok egois!" Alesha berusaha melepas tangan Dirga yang mendekapnya. "Gue sama kakak lo udah nikah, jadi wajar kalau kita sentuhan fisik. Kalau lo mau ya lo lanjutin aja sama Kiara, jangan sama gue!"

"Gue maunya sama lo!" Dirga berusaha mendekatkan dirinya untuk mencium Alesha tapi Alesha terus mendorongnya. Alesha kini menendang kaki Dirga dan menyikut perut Dirga hingga cekalan Dirga terlepas.

Alesha berlari menjauh, tapi Dirga mengejarnya. Tanpa sadar Alesha berdiri di tepi sungai saat Dirga semakin mendekat, Alesha semakin panik hingga membuat kakinya terpeleset dan dia jatuh ke sungai yang deras itu.

"Alesha!"

.

💕💕💕

.

Like dan komen ya...

Terpopuler

Comments

AR Althafunisa

AR Althafunisa

ya ampun... Emosi jiwa sama si Dirga 😡

2023-09-01

2

Efvi Ulyaniek

Efvi Ulyaniek

Dirga ga tau malu is....

2023-08-15

0

MissHaluuu ❤🔚 "NingFitri"

MissHaluuu ❤🔚 "NingFitri"

emmm daddy ke 2 alesha datang nolongin🤭

2023-06-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!