"Sebenarnya, Dirga adalah mantan aku."
Mendengar pernyataan Alesha, Devan sangat terkejut. "Mantan kamu?"
Alesha menganggukkan kepalanya. "Iya, mantan aku yang selingkuh sama teman aku. Aku dan Dirga putus di hari dimana kita digrebek warga," cerita Alesha.
"Jadi kamu mabuk karena habis putus sama Dirga?"
"Aku sebenarnya tidak ada niat sama sekali untuk minum, tapi teman-teman aku yang maksa sampai aku mabuk. Semua masalah hidup aku sekarang berawal dari Dirga dan teman-teman aku." Alesha kembali menangis. "Hidup aku udah berantakan kayak gini, gimana aku bisa lanjutkan hidup aku sekarang."
"Sssttt, jangan nangis." Akhirnya Devan memberanikan diri untuk memeluk Alesha. "Ini semua sudah rencana dari Allah. Jangan pernah kamu sesali."
Bukannya melepas pelukan Devan, tapi Alesha justru menempelkan wajahnya di dada Devan. Pelukan Pak Dokter ini memang sangat nyaman, mungkin nanti jika Alesha merasa tersakiti lagi dia akan minta satu resep pelukan yang ampuh untuk menenangkan hatinya.
"Kamu masih cinta sama Dirga? Apa kamu mau kembali dengannya?" tanya Devan.
Alesha menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bagi aku gak ada kesempatan kedua untuk seorang pengkhianat." Tiba-tiba Alesha melepas pelukan Devan dan menatapnya. "Mengapa Pak Devan tanya seperti itu? Jangan bilang aku suruh turun ranjang."
Seketika Devan tertawa. "Kamu ada-ada saja. Aku cuma memastikan saja."
"Kirain." Alesha menjauhkan dirinya. "Sorry kemejanya basah."
"Gak papa. Aku minta maaf kalau ternyata adik aku sudah melukai hati kamu."
Alesha menganggukkan kepalanya. "Harusnya bukan Pak Devan yang minta maaf. Aku mau minta sama Pak Devan resep untuk penyembuh hati yang terluka."
"Mana ada resep itu." Devan mengalihkan pandangannya. Ya, sebenarnya memang ada satu cara untuk menyembuhkan hati yang terluka yaitu dengan memberikan cinta yang baru.
"Kata Ibu, sedari tadi kamu belum makan. Makan dulu ya?"
Alesha justru berdiri dan menatap dirinya di cermin. "Mata aku sembab."
"Ya sudah, aku ambilkan saja. Kamu makan di kamar. Nanti dikompres saja biar sembabnya cepat hilang."
Alesha menganggukkan kepalanya. Kemudian Devan keluar dari kamar, dia kini menuju dapur dan mengambil makanan untuk Alesha.
"Kenapa istri Kak Devan? Gak mau makan di sini?" tanya Dirga yang sedang menikmati makanannya di ruang makan.
"Lesha gak enak badan. Kamu satu sekolah sama Lesha?" tanya Devan. Dia berusaha menahan dirinya untuk tidak mencampuri urusan Dirga selama masih di ambang batas.
"Iya, kenapa?"
"Jangan bilang sama siapapun status Alesha saat ini," pesan Devan. Meskipun dia sebenarnya juga tidak percaya sepenuhnya dengan adiknya.
Dirga tak menyahutinya. Dia justru melanjutkan santapannya.
Devan kini kembali ke kamar dengan membawa senampan makanan dan juga segelas air minum. Dia letakkan di atas nakas karena Alesha sedang berada di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Alesha keluar dari kamar mandi dengan aroma harum yang menguar dari tubuhnya. Dia terlihat lebih fresh daripada sebelumnya.
"Pak Devan, aku mau ganti baju," kata Alesha.
Entah sampai kapan Devan harus pergi saat Alesha berganti pakaian. Dia hanya bisa menuruti Alesha dan masuk ke dalam kamar mandi.
Selama ini Devan sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, dia tidak tahu bagaimana mendapatkan hati seorang wanita tapi kali ini dia akan mencoba untuk mendapatkan hati Alesha dengan cara bersabar dan menuruti keinginan Alesha.
Tapi dengan sedikit rencana licik harusnya tidak masalah bukan? Di bawah guyuran shower, Devan mendapatkan satu ide. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Devan keluar dari kamar mandi. Dia melihat piring Alesha sudah bersih dari makanan.
"Mau nambah makanan lagi?" tanya Devan.
"Nanti saja kalau lapar," jawab Alesha.
Setelah menyisir rambutnya, Devan mengambil ice gel kompres mata. "Kamu tiduran dulu, aku kompres matanya."
"Tiduran?" Entahlah saat mendengar kata tiduran dari Devan mengapa rasanya bisa menggetarkan jiwanya.
"Iya."
Akhirnya Alesha merebahkan dirinya dan menatap langit-langit kamarnya. Dia memejamkan mata saat Devan meletakkan ice gel di kantong matanya. "Nyaman banget. Aku baru tahu kalau ada kompres mata kayak gini."
"Iya, biasanya kalau aku kurang tidur dan mata lelah, aku kompres pakai ini dan bagus juga untuk menghilangkan mata sembab."
Alesha kini tersenyum. Dia memang beruntung memiliki suami seorang Dokter.
"Kamu tadi minta resep untuk menghilangkan luka hati kan?"
Alesha mengangguk pelan.
"Dengan cara bahagia," kata Devan.
Alesha membuka kedua matanya dan menatap Devan. "Gimana caranya bahagia disaat hati sedang sedih?"
"Nikmati saja hidup kamu sekarang. Gini, ketika seseorang yang melukai hati kamu dan kamu terlihat sedih, seseorang itu pasti akan bangga telah berhasil melukai kamu tapi sebaliknya jika kamu terlihat bahagia maka luka hati itu akan kembali dengan sendirinya pada dia."
Alesha berpikir dengan keras maksud dan tujuan kalimat Pak Dokter yang terlalu pintar itu, sampai semua rumus dia keluarkan di otaknya. Pasti ada maksud tersembunyi di balik nasehat itu. "Jadi maksudnya aku harus berpura-pura bahagia dengan Pak Devan agar Dirga sakit hati. Wow, licik sekali Pak Dokter. Tapi seru juga. Oke, aku setuju dengan ide ini."
Devan hanya tersenyum sambil membenarkan kompres mata Alesha.
"Eh, tapi Pak Devan kan orangnya introvert. Gimana menunjukkan kemesraannya sebagai seorang suami?"
"Kata siapa aku introvert?"
"Ya aku kira..."
"Bisa dicoba mulai sekarang." Devan menarik tangan Alesha agar duduk, dia mengambil kompres mata itu karena sepertinya mata sembab Alesha sudah tersamar. "Temani aku makan." Devan menarik tangan Alesha agar keluar dari kamar.
Genggaman hangat tangan Devan membuat dada Alesha deg-deg an. Sudah siapkah dia berpura-pura bahagia bersama Devan? Ya awalnya memang coba-coba siapa tahu bisa ketagihan dekat dengan Devan.
Mereka kini duduk di meja makan. Ada Bu Rahma dan juga Dirga yang sedang menikmati kopi susunya.
Alesha menundukkan pandangannya saat mendapati tatapan dari Dirga. Awalnya dia sangat semangat berpura-pura tapi sekarang nyalinya menciut.
"Dek, mau makan lagi?" tanya Devan memulainya.
Alesha hanya menatap Devan, dia terdiam beberapa saat. "Iya, biar aku aja yang ambil." Alesha mengambilkan nasi untuk Devan lengkap dengan lauknya. "Ibu juga?"
"Iya, sedikit saja."
Kemudian Alesha mengambil nasi juga untuk Bu Rahma, setelah itu baru dirinya.
"Dek, makan yang banyak biar gak kelaparan lagi kayak semalam."
Alesha tersenyum malu sambil mendekatkan piringnya dengan Devan. "Jangan dibahas, ih, malu." Mereka berdua seolah benar-benar menjadi sepasang pengantin baru.
Dirga kini menatap ponselnya. Dia sangat kesal melihat kedekatan Alesha dan Devan.
"Mesranya pengantin baru."
Perkataan Ibunya semakin membuat hati Dirga memanas. Akhirnya Dirga berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.
Alesha hanya tersenyum kecil. Ternyata ampuh juga cara Pak Dokter ini.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
👏🏻👏🏻👏🏻10000% Setuju,Jgn nunjukin kamu sedih didepan Dirga,nanti dia remehin kamu,Kamu harus nunjukin kamu bahagia setelah end dgn nya,Pasti dia yg kelabakan sendiri..
2023-10-22
1
Qaisaa Nazarudin
Satu sikap Alesha yg aku puji,Dia mau jujur ke Devan,Jadi setelah ini biar holiran Devan yg bersikap kek giman gitu..
2023-10-22
0
harwanti unyil
pasti ampu lh kn saran pak dokter
2023-08-25
3