BAB 18

Setelah dua hari istirahat total, Alesha kini sudah sembuh. Dia juga sudah mulai masuk sekolah.

"Dek, kakinya beneran sudah gak sakit kan setelah aku lepas perbannya?" tanya Devan memastikan lagi di pagi hari setelah mereka bangun. Bahkan dia kini berjongkok di depan Alesha saat Alesha sedang duduk di tepi ranjang.

"Sudah Kak. Nih udah gak sakit." Alesha menggerakkan secara perlahan kakinya yang sudah tidak sakit. "Makasih Kak Devan sudah merawat aku."

Devan berdiri lalu mengusap rambut Alesha. "Biaya perawatan gak gratis," goda Devan

"Ya, biasanya aku kalau berobat pakai asuransi. Bisa pakai asuransi?"

"Tidak bisa." Devan semakin tersenyum menatap Alesha.

"Yah, aku gak punya uang. Masak uang sakunya mau diambil lagi."

Devan semakin tertawa lalu mendekatkan dirinya dan berbisik di telinga Alesha. "Pembayaran bukan dengan uang."

Seketika tubuh Alesha menegang. Maksudnya bukan dengan uang? Dia kini hanya menatap Devan yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi. "Tidak dengan uang lalu dengan apa?" Kemudian Alesha berdiri dan berpikir. Beberapa saat kemudian, dia mendekap dirinya sendiri. "Jangan bilang kalau? Aduh, gimana kalau beneran Kak Devan minta itu."

Alesha kini membuka almari dan menyiapkan pakaian Devan sambil berpikir. "Emang Pak Dokter bisa me sum juga?" gumam Alesha. Hanya membayangkannya saja badan Alesha sudah panas dingin tak karuan. Bayangan tubuh atletis yang menggoda itu tiba-tiba hilir mudik di kepalanya. "Astaga, pikiran aku kotor banget."

"Apanya yang kotor?"

Alesha tersentak kaget mendengar suara itu. Dia kini menoleh kaku Devan yang hanya memakasi celana pendeknya keluar dari kamar mandi. "Aku mau ke kamar mandi." Buru-buru Alesha masuk ke dalam kamar mandi.

Devan hanya menggelengkan kepalanya. Terkadang sikap Alesha memang selucu itu. Dia kini tersenyum saat melihat kemeja dan celananya sudah tersedia di atas ranjang. "Mulai ada kemajuan." Dia segera memakai bajunya lalu menyisir rambutnya. Dari pantulan kaca dia kini bisa melihat Alesha yang sedang mengintip di dekat pintu. "Kenapa, Dek?"

"Itu, anu, ehm, seragam aku ketinggalan."

"Gak papa ganti seragam di sini saja." Devan mengambilkan seragam Alesha dan dia letakkan di atas ranjang.

Duh, nih Pak Dokter kenapa gak dibawa ke sini seragam aku.

"Sini, aku gak akan lihat." kata Devan lagi.

Akhirnya Alesha keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di tubuhnya. Dia membelakangi Devan yang masih berdiri di depan cermin.

Devan sengaja berlama-lama berdiri di depan cermin. Dia sedang memantau tubuh Alesha meski yang terlihat hanyalah tubuh mulus Alesha bagian belakang tapi sudah sangat menggoda Devan. Mulai dari leher belakang yang terekpos karena rambut Alesha dicepol ke atas, lalu punggung mulus Alesha yang putih dan bersih, sampai ke pan tat yang masih padat dan sangat menggoda. Meski hanya beberapa detik sudah mampu mengembangkan imajinasi liar Devan.

Setelah berpakaian, Alesha membalikkan badannya. Dia melebarkan matanya saat menyadari jika ada cermin yang mengarah ke tubuhnya. "Kak Devan sedari tadi lihat aku."

Devan hanya tersenyum penuh arti.

"Ih, Kak. Aku kan malu." Alesha mencubiti lengan Devan. "Udah dibilang jangan lihat."

"Dikit, Dek. Udah gak papa."

"Ih, tetap aja malu." Cubitan Alesha justru berpindah di perut Devan.

"Kita kan udah sah, udah jangan malu."

"Gak mau. Lain kali gak boleh lihat."

"Iya, iya." Devan menghindari cubitan Alesha tapi nahas cubitan Alesha justru mencubit sesuatu yang mengeras secara alami karena mendapat asupan lebih dari mata dan beberapa sentuhan dari Alesha.

"Kak?" Saat menyadari apa yang dia sentuh, buru-buru Alesha melepas tangannya dan menjauh dar Devan. Mereka kini sama-sama salah tingkah.

Apa yang aku pegang barusan. Kenapa keras banget. Gede lagi. Ih, nakutin banget. Jangan-jangan otak Pak Dokter ini memang sebenarnya me sum. Tapi kebanyakan pria dewasa kan memang begitu.

Devan berdiri di samping Alesha dan mengambil tasnya. Dia masih saja melirik Alesha yang salah tingkah. "Kamu masukin buku apa, banyak banget?"

Alesha menghela napas panjang lalu mengeluarkan buku-bukunya lagi.

Devan justru tersenyum melihat tingkah Alesha. "Adek manis, coba lihat jadwal pelajaran kamu." Devan melihat jadwal pelajaran hari itu. "Iya, nanti ada Biologi lagi. Sudah selesai laporannya?" Devan memasukkan buku-buku Alesha sesuai jadwal pelajaran hari itu.

"Sudah dikerjakan sama Rena dan Icha," jawab Alesha. Dia hanya menundukkan pandangannya. Dia tidak berani menyentuh hal-hal terlarang lagi di tubuh Devan.

"Bagus, kalau kamu udah baikan sama teman-teman kamu." Kemudian Devan duduk dan memakai sepatunya, begitu juga dengan Alesha. "Pelan-pelan kalau pakai sepatu biar gak sakit."

Baru saja Devan selesai berbicara, Alesha sudah mengaduh. "Tuh kan, aku udah bilang pelan-pelan kalau masukin biar gak sakit."

Alesha menelan salivanya. Ya, pelan-pelan kalau masukin. Terdengar sangat ambigu di telinga Alesha.

Devan membantu Alesha memakai sepatunya dengan pelan dan penuh perasaan agar tidak sakit. "Ini masih pagi, gak usah terburu-buru." Devan mengikat tali sepatu Alesha bahkan dia kini memakaikan sepatu Alesha di kedua kakinya.

"Biar aku sendiri, Kak."

"Udah gak papa, nanggung."

Dada Alesha semakin berdetak tak karuan. Akhir-akhir ini ketika mendapat perlakuan manis dari Devan, jantungnya selalu berdebar tak karuan. Apakah Alesha sudah benar-benar jatuh cinta dengan Devan?

"Sudah, ayo!" Devan membantu Alesha berdiri lalu satu tangannya membawa tasnya dan tas Alesha, satu tangannya lagi menggandeng tangan Alesha.

Alesha membuka knop pintu itu kemudian mereka keluar dari kamar secara bersamaan, dengan kedua tangan yang saling terpaut. Hal itu jelas membuat Dirga semakin memanas.

"Mulai sekarang kamu gak boleh makan pedas-pedas lagi," kata Devan. Mereka kini duduk di meja makan bersama Dirga dan juga Bu Rahma.

"Tapi Kak, aku memang suka pedes."

"Mulai sekarang gak boleh." Devan mengambilkan makanan untuk Alesha. "Jangan sampai asam lambung kamu kambuh lagi."

"Kan ada Dokter pribadi," bisik Alesha sambil tersenyum.

Bu Rahma tersenyum melihat mereka berdua yang terlihat sangat harmonis. "Dirga dan Alesha empat bulan lagi sudah lulus, sudah ada rencana mau masuk kampus mana?"

Dirga menggelengkan kepalanya.

"Lesha mau ambil jurusan psikologi," kata Alesha dengan yakin

"Kamu mau jadi psikiater?" tanya Devan. Dia tidak menyangka dengan cita-cita Alesha. Dia tidak bisa menahan tawanya, karena Alesha sendiri saja sangat moody, bagaimana cara dia menangani mental pasien.

"Ih, kenapa ketawa?"

"Gak papa. Udah dimakan dulu, ini udah siang."

Dirga semakin kesal melihat kedekatan Alesha dan Devan yang semakin hari semakin terlihat harmonis. Dia menyudahi sarapannya lalu meminum air putih. Kemudian dia berdiri dan berpamitan pada Ibunya. "Aku berangkat dulu, Bu."

"Iya, hati-hati ya."

Dirga pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Devan. Padahal selama ini Devan adalah pengganti Ayahnya.

"Ibu merasa, akhir-akhir ini sikap Dirga berubah, terutama sama kamu, Van. Kamu ada masalah sama Dirga?"

Devan menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin cinta segitiga itu diketahui oleh Ibunya. "Mungkin Dirga ada sedikit masalah dengan teman-temannya. Biasa anak muda, Bu."

"Ya sudah, kalian juga cepat sarapan. Ini sudah siang."

Mereka berdua segera menghabiskan sarapannya. Kedua pasang mata itu masih saja saling lirik. Nampak sekali jika Devan sedang menahan tawanya. Entah apa yang ada dipikiran Devan sampai dia terlihat sebahagia itu.

💕💕💕

.

Like dan komen ya...

Terpopuler

Comments

Efvi Ulyaniek

Efvi Ulyaniek

adik ga tau diuntung ini sdh hidup dibiayai KK nya ga sopan lg ma KK nya

2023-08-15

3

Maya Ratnasari

Maya Ratnasari

emang ada ya, kedokteran jurusan psikologi?

2023-08-12

0

abdan syakura

abdan syakura

Ayo Babang Dokterku..
Buat Dirga MENYERAH....🤺💪

2023-06-11

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!