BAB 8

"Kamu tidur di atas saja. Biar aku tidur di bawah." Devan mengambil bantal dan akan tidur di lantai tapi Alesha melarangnya.

"Ini kan kamar Pak Devan, Pak Devan tidur di atas ranjang saja tapi kasih batasan di tengah." kata Alesha sambil menaruh guling di tengah ranjang.

Devan hanya menganggukkan kepalanya. Mereka sama-sama terdiam sambil bersandar di headboard.

"Kamu besok masuk sekolah ya?"

Alesha menganggukkan kepalanya. "Iya, aku ingin cepat lulus karena aku sudah gak punya teman di sekolah."

"Kamu belum memaafkan teman-teman kamu? Coba bicara baik-baik, mungkin mereka cuma bercanda."

Alesha hanya terdiam. Tak semudah itu dia memaafkan teman-temannya. Dia tahu teman-temannya memang suka bercanda tapi tak sampai separah ini dan berakibat fatal. Bagaimana kalau bukan Devan yang dia temui dan justru orang jahat. Pasti hidupnya jauh lebih hancur. Sebenarnya dia memang harus bersyukur sudah bertemu Devan.

"Ya sudah kamu tidur, ini sudah malam." Devan mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya. "Ngapain Dirga ada di depan kamar?"

Alesha yang penasaran tiba-tiba menarik ponsel Devan tanpa permisi. "Ini sambungan cctv?"

"Iya, memang setiap malam aku cek cctv untuk memastikan pintu yang tertutup. Ada satu cctv yang mengarah ke kamar ini agar aku tahu siapa saja yang keluar masuk ke kamar aku."

Alesha hanya menatap layar ponsel itu. Memang terlihat Dirga berdiri di depan pintu dan menguping. Kemudian dia mengembalikan ponsel Devan. "Tapi kenapa Dirga ada di depan kamar ini? Mau ngapain ya? Nguping?" Tiba-tiba saja Alesha bangun. "Pasti Dirga mau mastiin kalau kita..."

Sebenarnya Devan sudah tahu apa maksud Dirga menguping di depan pintu kamarnya, tentu saja ingin mendengar suatu hal yang dilakukan suami istri di malam hari. "Iya, tentu saja." Devan berpura-pura tenang.

Alesha turun dari ranjang, sepertinya dia harus berakting biar totalitas. "Pak, di kamar ini suaranya kedengaran sampai luar?"

"Kalau keras ya kedengeran. Tapi kalau bicara biasa gini gak begitu terdengar sampai luar. Kenapa?" tanya Devan. Dia kini menegakkan dirinya.

"Mau berakting?"

Devan mengernyitkan dahinya. Sedetik kemudian dia tersenyum. Ternyata Alesha masih sama seperti dulu, jahil dan ekspresif. "Hmm, bagaimana kalau beneran saja?"

Alesha membalikkan badannya dengan pipi yang menggembung.

Setelah mengecek ponselnya lagi, Devan turun dari ranjang tiba-tiba dia menarik tubuh Alesha hingga punggung Alesha menyentuh pintu. Benturan itu cukup keras agar Dirga mendengarnya.

Devan mengedipkan matanya pertanda jika akting akan segera dimulai. "Mau kemana?"

"Haus, mau ambil minum."

"Nanti aja, aku ambilkan." Devan menapakkan tangannya di pintu. Dia hanya menatap Alesha. Mereka saling bertatapan tanpa berkata. "Bibir kamu manis sekali."

Seketika Alesha mengalihkan pandangannya. Mengapa dadanya semakin berdebar tak karuan seperti ini.

Devan menyentuh leher Alesha karena Alesha tak bersuara.

"Ah, Kak jangan gitu. Ish, geli." Alesha sama sekali tak berani menatap Devan. Setidaknya begitulah suara pemeran perempuan di film romantis. "Ssshhh, Kak..."

"Sayang, main di ranjang saja ya. Hem..." Kemudian Devan dan Alesha kembali ke ranjang.

Devan melihat ponselnya lagi. Terlihat Dirga melangkahkan kakinya pergi menjauh dari depan kamarnya. "Dirga sudah pergi."

Tanpa berkata lagi, Alesha memunggungi Devan. Sebenarnya dia tidak bisa tidur malam itu.

Begitu juga dengan Devan. Setelah mendengar suara Alesha meski hanya akting, tapi sangat meresap ke dalam sanubarinya. Sekarang dia mulai mengandai jika itu semua benar terjadi.

Alesha memutar tubuhnya. Tenggorokannya sekarang benar-benar terasa kering.

"Kamu belum tidur?" tanya Devan.

Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku haus tapi aku gak berani ambil ke belakang takut ada Dirga."

"Iya, aku ambilkan." Devan turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke dapur lalu mengisi botol dengan air putih. Dia kini melihat Dirga yang sedang membuat kopi. "Sudah malam kamu gak tidur?"

Dirga hanya menoleh Devan tanpa menjawab pertanyaannya. Dia hanya tersenyum miring saat melihat rambut acak Devan. "Belum." Kemudian dia berjalan menuju taman belakang.

Devan menghela napas panjang. Adiknya memang seringkali bersikap acuh padanya karena sebagai seorang kakak, Devan memang selalu mengatur hidup Dirga. Meski terkadang Dirga sangat sulit diatur. Dan mungkin saat inilah puncak kekesalan Dirga padanya.

Devan kembali ke kamar dan memberikan botol minuman itu pada Alesha. Setelah itu, dia segera membaringkan dirinya. "Kamu cepat tidur, ini sudah malam."

"Iya." Setelah minum, Alesha merebahkan dirinya memunggungi Devan sambil memeluk boneka beruangnya. Dia kini mulai tertidur.

Ternyata memang mudah sekali akrab lagi dengan Alesha karena Alesha memang mudah bergaul. Dia juga tidak menjaga image nya pada Devan. Setelah lelah menatap punggung Alesha, Devan pun tertidur.

Hingga hari menjelang pagi, posisi beruang yang Alesha peluk berubah menjadi Devan. Entah bagaimana caranya, yang jelas disaat Alesha membuka matanya dia sangat terkejut melihat Devan sangat dekat dengannya. "Aaa, Pak Devan ngapain?"

Devan membuka matanya yang masih lengket. "Apa?"

Alesha menoleh ke belakang, di belakangnya masih ada tempat kosong yang luas. Berarti semalam dia yang menghampiri Devan dan memeluknya. Seketika Alesha menjauh tapi dia jauh lebih terkejut saat melihat jam dinding. "Udah siang. Kenapa bisa kesiangan gini. Jangan sampai terlambat." Buru-buru Alesha bangun lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Hal itu juga membuat Devan melebarkan matanya. Biasanya dia tidak pernah bangun kesiangan. Apa karena pelukan dari Alesha hingga membuatnya tidur dengan nyenyak. Untuk mempersingkat waktu, dia mandi di kamar mandi luar.

"Van, baru bangun?" tanya Bu Rahma.

"Iya, Bu." Devan masuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama dia segera mandi. Setelah selesai, dia kembali ke kamarnya.

"Eh," seketika Alesha membalikkan badannya karena kancing kemejanya belum dia tutup. "Aduh, lupa kunci pintu lagi."

"Aku gak lihat." Sedangkan Devan kini ganti baju di belakang Alesha.

Lagi-lagi Alesha terkejut saat menoleh. "Pak Devan kenapa ganti baju di sini juga?"

"Kalau gak mau lihat hadap sana."

Alesha akhirnya berkaca dan memoles wajahnya. "Pak Devan aku boleh minta cermin rias gak? Kalau gak ambil di rumah aja. Gak enak kalau dandan pakai cermin ini."

"Iya nanti aku belikan."

Tiba-tiba saja Alesha tersenyum mendapat sebuah ide jahil. Dia mengoles lehernya dengan lipstik merah seolah ada tanda merah dari Devan.

"Kenapa lehernya di kasih itu?" tanya Devan. Dia kini mengambil tas kerjanya dan juga snellinya.

Alesha mengecek buku-buku yang ada di dalam tas sambil tersenyum. Kemudian dia mendekati Devan. "Tanda merah dari Pak Devan, kan semalam kita melewati malam yang panas." Setelah itu Alesha keluar dari kamar.

Devan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengikuti langkah Alesha.

.

💕💕💕

.

Like dan komen ya...

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Meteka yg akting aku yg ngakak…🤣🤣🤣

2023-10-22

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Panggilannya juga harus di rubaj,yg lebih romantis Biar lengkap kebakaran di hati Dirga..🤣🤣

2023-10-22

0

Nurhayati Nia

Nurhayati Nia

mantep banget karyamu thorr

2023-09-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!