"Tadi sebelum kamu jatuh, aku lihat kamu sedang bersama Dirga. Apa kamu jatuh ke sungai gara-gara Dirga?" tanya Devan tapi Alesha hanya membuang pandangannya. "Lesha, jujur sama aku. Aku gak akan biarkan Dirga menyakiti kamu."
Alesha hanya menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku cuma terpeleset."
Devan tidak bisa memaksa Alesha untuk bercerita. Dia tahu, pasti semua ini gara-gara Dirga.
Alesha semakin mendekap dirinya sendiri. Rasa dingin kian menyerang tubuhnya. Bahkan gertakan dari gigi Alesha yang menahan dingin sampai bisa Devan dengar.
"Lesha, kamu kedinginan? Ini baru setengah perjalanan. Atau tubuh kamu ada yang sakit?" Devan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Kemudian dia mengambil minyak angin lalu mengusap leher Alesha agar sedikit terasa hangat.
"Rasanya dingin banget."
"Kayaknya kamu akan demam. Kita langsung ke rumah sakit saja ya."
"Pak Devan kan Dokter, ngapain ke rumah sakit." kata Alesha dengan bergetar. Rasa dingin itu benar-benar sampai merasuk ke tulangnya.
Devan mengangkat kedua kaki Alesha lalu membalurinya dengan minyak angin agar kaki yang dingin itu terasa hangat. Meskipun dia juga harus menahan pandangan matanya karena paha mulus Alesha terekspos dengan sempurna.
"Pertolongan pertama biar gak terlalu dingin. Nanti kalau badan kamu semakin terasa sakit bilang ya, takutnya kamu terbentur batu."
Alesha menganggukkan kepalanya. Meski rasa hangat dari minyak angin itu mulai bekerja tapi tetap saja rasa dingin itu sangat terasa.
...***...
"Lo sengaja buat Lesha jatuh ke sungai!" Reza menarik jaket Dirga agar dia berdiri.
"Nggak! Dia jatuh sendiri!"
"Eh, lo jadi cowok pengecut! Lesha itu sahabat kita, gue dan yang lainnya gak akan biarkan lo menyakiti Alesha." Reza akan melayangkan pukulannya ke wajah Dirga tapi berhenti saat mendengar teriakan dari Bu Lilis.
"Kalian jangan berkelahi di sini. Kita kembali ke bus sekarang sebelum hari semakin sore."
Reza melepas tangannya dengan kasar kemudian dia berjalan bersama Ari. Rena dan Icha juga berjalan berjajar. Mereka juga menatap tajam Dirga. "Awas lo, kalau sampai kita tahu lo penyebab hanyutnya Lesha. Habis lo!"
Dirga hanya terdiam. Rasanya dia kesal dengan dirinya sendiri. Dia memang merasa bersalah telah membuat Alesha celaka, tapi dia sangat kesal ketika sang penyelamat itu justru kakaknya sendiri. Mengapa juga dia bisa kalah cepat dengan kakaknya.
Mereka semua masuk ke dalam bus. Dirga duduk dan menatap layar ponselnya ada satu pesan masuk dari Kakaknya.
Nanti aku mau bicara sama kamu.
Dirga hanya menghela napas panjang lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Lo kenapa masih ngejar Alesha sampai kayak gitu?" tanya Kiara yang kini duduk di sebelah Dirga. "Gue tadi lihat sendiri, lo seret Alesha." kata Kiara lagi dengan pelan.
"Gue ingin dapatkan Alesha lagi."
"Lo terobsesi sama Alesha? Lo gak ingat dulu, lo bilang Alesha gak mau ini, gak mau itu, lo mau sama gue. Tapi sekarang lo kembali ngejar dia. Nyesel gue khianati sahabat gue sendiri."
Dirga hanya mengeraskan rahangnya. Bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan Alesha lagi. Dia tidak rela jika Kakaknya yang memiliki Alesha.
...***...
"Udah sampai rumah." Devan menghentikan mobilnya di depan rumahnya.
Alesha membuka matanya. Kini badannya terasa nyeri semua bahkan sulit untuk bergerak. Dia hanya bergumam lirih.
"Sha?" Devan menyentuh kening Alesha yang sudah terasa panas. "Kamu demam!" Devan segera keluar dari mobilnya lalu membuka pintu yang ada di sebelah Alesha. Dia segera meraih tubuh Alesha dan mengangkatnya masuk ke dalam rumah.
"Van, Lesha kenapa?" tanya Bu Rahma yang sedang duduk di ruang tengah saat melihat Devan menggendong Alesha masuk ke dalam kamar.
"Lesha habis jatuh. Gak papa Bu. Biar aku periksa." Devan segera merebahkan Alesha di atas ranjang.
Bu Rahma sudah berdiri dan akan menghampiri Alesha tapi Devan melarangnya. "Nanti saja Bu, mau ganti baju dulu." Kemudian Devan menutup pintunya.
Devan segera mengambil setelan piyama panjang Alesha. "Ganti baju dulu."
Tapi perlahan Alesha duduk dan berdiri. "Aku mau mandi dulu. Badan aku gak enak kena air sungai."
"Bisa?"
Alesha hanya menatap Devan. Lalu kalau tidak bisa apa mau dimandikan Devan? Masih tidak mungkin kan? "Bisa."
Alesha membuka almari dan mengambil underwear nya lalu mengambil piyama yang dibawa Devan. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi.
"Jangan lama-lama, mandi pakai air hangat saja." Devan mengikuti langkah Alesha sampai depan pintu kamar mandi.
"Iya," jawab Alesha pelan sambil menutup pintu kamar mandi.
Daripada menunggu, Devan juga mengambil baju gantinya lalu segera keluar kamar untuk mandi di kamar mandi dekat dapur.
"Van, tapi Alesha gak papa kan?" tanya Bu Rahma, dia juga khawatir dengan Alesha.
"Hanya demam saja, Bu. Tidak apa-apa." hanya itu yang Devan jawab. Dia tidak ingin membuat Ibunya khawatir jika tahu Alesha hanyut di sungai karena Dirga.
Devan membasuh dirinya dengan cepat. Setelah berganti pakaian, dia kembali ke kamarnya tapi ternyata Alesha belum keluar juga dari kamar mandi.
"Sha, kamu belum selesai?" Devan mengetuk pintu kamar mandi itu takut jika Alesha kenapa-napa di dalam.
"Iya, ini sudah selesai. Aww!!" Tiba-tiba Alesha berteriak di dalam kamar mandi lengkap dengan suara jatuh.
"Lesha kenapa?" Seketika Devan membuka pintu kamar mandi itu. Terlihat Alesha sedang meringis kesakitan sambil memegang kakinya. Tubuhnya hanya tertutup handuk di bagian depan saja.
"Kenapa?" tanya Devan lagi.
"Kaki aku sakit banget digerakkan."
Devan berjongkok dan melihat kaki Alesha. "Kaki kamu memar. Sepertinya terkilir. Ayo, aku obati." Devan akan meraih tubuh Alesha tapi Alesha memundurkan dirinya.
"Aku gak pakai apa-apa."
Meskipun detak jantung Devan juga berdebar tapi dia tidak mungkin membiarkan Alesha begitu saja. Seorang Dokter memang harus profesional, tidak boleh berpikir negatif apapun kondisi pasien. Tapi kali ini beda, seseorang yang ada di hadapannya sekarang adalah istrinya, jelas saja melihat tubuh mulus dan putih itu mampu menggetarkan seluruh jiwanya.
"Gak papa. Kita kan sudah sah," kata Devan pada akhirnya.
Akhirnya Alesha hanya diam saja saat Devan mengangkat tubuhnya dan membawanya ke atas ranjang. "Badan kamu panas banget. Kamu pakai baju, lalu aku periksa." Devan menurunkan Alesha di atas ranjang tapi handuk yang tidak dililitkan itu justru terjatuh.
Melihat pemandangan itu seketika wajah Devan memerah. Buru-buru Alesha menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Devan sampai bingung apa yang harus dia lakukan.
"Pak, ambilkan baju ganti aku yang ada di kamar mandi," kata Alesha agar Devan memalingkan wajahnya.
"Iya, iya."
Alesha hanya menggigit bibir bawahnya. Rasanya dia malu sekali telah dilihat seluruh tubuhnya oleh Devan. Ya, meskipun tubuhnya sudah halal untuk Devan tapi dia belum siap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Esih Mulyasih
deg..deg...deg...serr.. jantung 💓 Devan 🤭🤭😁😁😁
2024-02-20
0
Maulana ya_Rohman
kapan ya mrk malper.....🤔🤔🤔🤔
2023-11-04
0
abdan syakura
Sampai kpn siapnya, Neng??
2023-06-09
3