BAB 16

"Ini pakaian kamu." Setelah memberikan pakaian Alesha, Devan keluar dari kamar. Dia mengambil peralatan medis dan obat-obatannya di ruang kerjanya. Devan memang memiliki ruangan khusus di rumahnya untuk dia bekerja saat mengerjakan laporan medis dan untuk menyimpan semua peralatan medis beserta obat-obatan. Beberapa tetangga juga sering berobat ke rumahnya saat sakit dan dia lakukan pemeriksaan juga di ruang kerjanya.

Setelah itu, dia membawa peralatan medisnya ke kamar lalu duduk di tepi ranjang.

Alesha yang sudah memakai piyamanya hanya menatap Devan yang kini duduk di sampingnya. Rasanya dia masih malu dengan kejadian barusan. Apakah Devan masih mengingatnya?

Devan mengambil termometer oral untuk mengecek suhu tubuh Alesha. "Buka mulutnya, letakkan di bawah lidah." Menunggu hasil termometer itu, Devan mengecek detak jantung Alesha dengan stetoskopnya.

Devan mengernyitkan dahinya saat mendengar detak jantung Alesha yang begitu cepat. Kemudian dia memegang pergelangan Alesha dan mengecek denyut nadinya. "Detak jantung kamu cepat sekali." Kemudian Devan mengambil termometer dan melihat hasilnya. "Suhu kamu 39 derajat. Cukup tinggi."

Sedangkan Alesha hanya melihat wajah panik Devan. Detak jantungnya berdetak lebih cepat karena yang memeriksanya adalah suaminya sendiri yang tanpa sengaja sudah melihat tubuhnya.

Devan mengambil salep luka memar dan mengolesnya di pergelangan kaki Alesha yang membiru. "Lesha tahan sebentar." Devan meluruskan kaki Alesha dan sedikit menekannya.

"Aw, sakit!"

"Iya, sakit. Aku balut perban agar ligamennya kembali ke tempat semula. Kamu jangan banyak gerak dulu." Devan mengambil bantal untuk meletakkan kaki Alesha agar lebih tinggi lalu mulai membalutnya dengan perban berwarna coklat.

"Kira-kira sembuhnya lama?"

"Dua harian sudah sembuh." Setelah selesai membalut kaki Alesha, Devan keluar dari kamar untuk mengambil makanan karena Alesha belum makan apa-apa sejak siang. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kamar dengan membawa sepiring nasi dan segelas air. Dia letakkan di atas meja lalu membantu Alesha duduk bersandar.

"Kamu makan dulu terus minum obat."

Alesha hanya menatap piring yang sekarang ada di tangan Devan. Dia sudah tidak nafsu makan, bahkan perutnya kini terasa mual.

Devan mulai menyuapi Alesha tapi Alesha menutup rapat mulutnya sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu makan dulu."

"Perut aku gak enak." kata Alesha.

"Gak papa makan pelan-pelan. Kamu sudah telat makan."

"Memang Pak Devan sudah makan?" Alesha justru balik bertanya.

Devan menggelengkan kepalanya karena dia memang belum sempat untuk makan. Dia mendahulukan Alesha daripada dirinya sendiri.

"Kalau begitu Pak Devan makan juga. Ini kebanyakan," kata Alesha.

"Iya, tapi ini kamu makan dulu." Devan kembali mendekatkan sendok ke mulur Alesha.

Akhirnya Alesha mau menerima suapan dari Devan. Setelah menyuapi Alesha baru dia menyuapi dirinya sendiri. Devan justru tersenyum kecil dalam hatinya, ini makanan ternikmat yang pernah dia rasakan selain suapan dari tangan ibunya.

"Pak, udah. Habisin aja." Alesha menutup mulutnya dengan tangan.

"Kenapa?"

Alesha hanya menggelengkan kepalanya tapi setelah Devan menghabiskan makanannya, Alesha membuka mulutnya dan mencondongkan dirinya. "Pak perut aku mual banget. Aku mau ke kamar mandi."

"Aku ambilkan tempat saja, gak perlu ke kamar mandi." Tapi baru saja Devan melangkah, Alesha sudah tidak bisa menahan rasa mualnya. Dia memuntahkan makanan yang baru saja dia makan ditambah cairan asam lambung yang sudah naik. Devan menahan rambut Alesha sambil mengusap punggungnya.

"Kamu punya asam lambung?"

Alesha mengangguk pelan. "Pak Devan gak jijik? Maaf."

Devan menggelengkan kepalanya sambil mengusap bibir Alesha dengan tisu, kemudian dia membantu Alesha merebahkan dirinya. "Aku sudah biasa." Devan segera mengambil peralatan bersih-bersih dan membersihkannya dengan cepat. Setelah dia semprot dengan aroma therapy, dia keluar untuk mengambil obat lambung.

Beberapa saat kemudian, dia masuk ke dalam kamar bersama suster yang biasanya merawat Bu Rahma. "Lesha, kamu minum obat lambung dulu agar rasa mualnya hilang, lalu aku infus."

Alesha menggeleng keras. "Aku gak mau diinfus. Sakit."

"Gak sakit, biar kamu gak dehidrasi." Devan membantu Alesha duduk dan meminumkan obat lambung terlebih dahulu. "Sus, ambil tiang infusnya."

"Iya, Dok."

"Aku gak mau diinfus."

"Gak papa, gak sakit." Devan naik ke atas ranjang lalu mendekap Alesha saat suster sudah mempersiapkan jarum infus itu.

"Pak, pasti sakit." Alesha menyembunyikan wajahnya di dada Devan.

"Tidak sakit, jangan tegang." Devan memegang pergelangan tangan Alesha dan mencari pembuluh vena. "Suster di sini. Sekali tekan ya." Devan menahan tangan Alesha agar tidak bergerak. Akhirnya jarum infus itu berhasil dipasang.

"Lesha, sakit gak?" tanya Devan sambil melihat suster yang sedang mengatur cairan yang masuk. "Normal saja Sus, jangan terlalu cepat."

Alesha mengendorkan pelukannya dan menatap tangannya yang telah terpasang infus.

"Sakit?" tanya Devan lagi.

"Sedikit."

"Ya sudah, kamu istirahat. Biar aku kompres agar demam kamu cepat turun."

Alesha menganggukkan kepalanya lalu merebahkan dirinya.

"Apa perlu dibantu, Dok?"

"Tidak usah, Sus. Kamu pulang saja. Besok pagi-pagi saja ke sini, sekalian jaga Alesha karena saya besok berangkat pagi."

"Iya, Dok. Saya permisi."

Alesha hanya menatap Devan yang terus merawatnya. Devan kini mengompres kening Alesha.

"Kamu tidur. Pasti besok sudah membaik."

"Makasih, Pak."

"Ini sudah tugas aku."

"Tugas sebagai seorang Dokter atau suami?" tanya Alesha.

"Dua-duanya," kata Devan sambil tersenyum. Dia kini mengusap pipi Alesha. "Sejak aku menikahi kamu, aku sudah menganggap kamu sebagai istri aku. Dan kalau bisa sebaliknya ya..."

Alesha terus menatap Devan, ya jelas saja pintu hatinya kini mulai terbuka dengan perlakuan manis Devan. "Pak, hmm, boleh kalau aku panggil Kak Devan saja."

"Tentu boleh. Aku malah senang." Devan menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipi Alesha. "Kamu sekarang tidur aku jagain."

Alesha menganggukkan kepalanya kemudian dia memejamkan matanya. Beberapa kali Devan mengganti kompres Alesha hingga malam telah larut.

"Aku sampai lupa memberi kabar pada orang tua Alesha, besok pagi saja aku hubungi," gumam Devan.

Kemudian dia berdiri dan keluar dari kamar tepat saat Dirga berdiri di depan pintu.

Dirga bisa melihat Alesha yang sedang terbaring di atas ranjang dengan infus yang terpasang di tangannya.

"Dirga, aku mau bicara sama kamu!" Devan menarik Dirga ke dapur agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Aku sudah pernah bilang jangan ganggu Alesha lagi! Apa yang terjadi tadi siang pada Alesha itu bahaya! Bagaimana kalau Alesha sampai hanyut jauh."

"Aku cuma bicara sama Alesha."

"Kamu tolong jaga jarak sama Alesha."

Dirga semakin menatap tajam Kakaknya. "Aku gak rela Alesha sama Kak Devan."

"Kenapa?"

"Karena aku cinta sama Alesha. Aku akan ambil Alesha lagi dari Kak Devan." Kemudian Dirga membalikkan badannya dan pergi ke kamarnya.

"Dirga!" Devan hanya mengepalkan tangannya. "Aku gak akan biarkan itu terjadi. Aku gak mau Alesha terluka lagi karena Dirga."

.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Beruntungnya suami seorg dokter,Aku yg meleleh saat Alesha yg di perlakukan manis oleh suami,,Huaa aku baper 😜

2023-10-22

1

Pretty U

Pretty U

membagongkan🥲

2023-09-08

1

MissHaluuu ❤🔚 "NingFitri"

MissHaluuu ❤🔚 "NingFitri"

smngat pak dokter..

2023-06-09

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!