Siang ini adalah hari yang sangat bahagia saat aku dan Mas Azzam telah duduk di depan wali hakim dan Papa. Pernikahan kami memang kesannya tertutup, hanya dihadiri oleh keluarga terdekat, dan beberapa saksi.
Aku juga mengenakan pakaian akad sederhana. Sungguh miris, aku anak dari seorang pejabat negara, namun harus menikah dengan seperti ini. Sungguh Papa begitu tega menyisihkan suamiku dari menantunya yang lain.
Kutahan air mata yang hendak jatuh, aku menguatkan hati agar tetap tegar menjalani cobaan ini. Tak mengapa jika Papa tak merestui, asalkan Mama sepenuhnya memberi restunya.
"Apakah sudah bisa kita mulai sekarang?" tanya Pak wali hakim.
"Baiklah," ucap Papa dengan nada datar.
Papa mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Mas Azzam. Sesaat tatapan mereka bertemu. Papa menatap dengan tajam dengan raut wajah tak mengenakan. Namun Mas Azzam tersenyum simpul sembari menundukkan kepalanya.
Bacaan sakral itu mulai diucapkan oleh Papa dan Mas Azzam, dengan sekali sentakan Mas Azzam menjawab dengan lancar. Dan para saksi sudah mengucapkan kalimat "Sah"
Kini aku dan Mas Azzam telah resmi menjadi pasangan suami istri. Dan Pak KUA segera membacakan Do'a untuk pasangan pengantin. Aku tak henti mengucapkan syukur dalam hati. Masih tak percaya sekarang aku sudah menjadi istri dari lelaki yang teramat aku cintai.
Aku tahu rasa bahagia ini belum seutuhnya, karena pernikahan kami mendapat tentangan dari Papa. Namun, kami berusaha untuk menerima dan menjalani dengan hati ikhlas dan sabar.
Setelah acara ijab qobul dilangsungkan. Pak KUA dan beberapa orang yang menghadiri telah meninggalkan kediaman kami. Kini hanya tinggal keluarga terdekat dari Mama dan Papa yang masih disini.
Aku dan Mas Azzam beserta kedua adiknya duduk di ruang keluarga. Sebagai menantu yang tak diharapkan, maka seluruh keluarga Papa tak jauh berbeda dengan sikap Papa, mereka tampak begitu acuh dan tak ingin membawa suamiku bicara.
Namun lain halnya dengan keluarga dari pihak Mama. Mereka tampak begitu ramah dan menghargai keluarga baru mereka.
"Tinggal dimana, Nak Azzam?" tanya Paman Rico. Dia adalah Abang kedua dari Mama.
"Di jalan mawar, Pak," jawab Mas Azzam dengan senyum ramah.
"Panggil paman saja," intrupsinya dengan ramah.
"Ah, baik Paman." Mas Azzam mengangguk patuh.
"Kerja dimana?"
"Di PT xx." Mas Azzam menyebutkan nama PT tempat ia bekerja.
"Oh, dibagian apa?"
"Masih di lapangan, Paman, bagian pengeboran."
"Ya ya, Paman bekerja di PHR. (Pertamina Hulu Rokan)
"Oh, Paman di Pertamina! Dibagian apa?"
Sepertinya Paman dan Mas Azzam tampak nyambung obrolan mereka, karena mereka berada di satu divisi. Namun paman sudah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan besar yang dinamakan PHR. Dan perusahaan pamanlah yang memberi tender pada perusahaan tempat suamiku bekerja.
Aku cukup merasa bahagia ada keluargaku yang mau membawa suamiku bicara dan ngobrol banyak. Sementara itu Papa dan saudaranya yang lain ngobrol di tempat lain. Aku merasa sikap Papa dan Mama sangat bartantangan.
Mungkin mama dan saudaranya yang lain sudah terbiasa hidup susah sehingga mereka sangat pandai cara menghargai orang lain. Sedangkan Papa sedari kecil sudah bergelimangan harta dari orangtuanya.
Aku bersyukur bila sikap dan perilakuku mengikuti mama. Setidaknya aku bisa mengajarkan pada anak-anakku nanti untuk menjadi orang yang sederhana dan menghargai pendapat dan tak memandang dari status sosial mereka.
***
Kini malam telah menjelang. Semua keluarga telah pulang kekediaman mereka masing-masing. Dan begitu juga kedua adik iparku. Sebenarnya aku ingin mereka juga menginap disini, namun mereka tidak mau. Aku menghargai keputusan mereka.
Aku dan Mas Azzam sudah menempati bilik yang sama. Mas Azzam baru saja selesai mandi, aku segera menyediakan pakaiannya.
"Ini pakaian kamu, Mas," ucapku sembari menyerahkan pakaian santai yang tadi baru saja aku pindahkan dari tas kedalam lemariku.
"Terimakasih ya, Dek. Kamu tidak mandi?" tanyanya yang melihat aku masih belum berganti pakaian dari pakaian akad.
"I-iya," jawabku sedikit gugup menatap tubuhnya yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Wajahku mendadak panas.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya sembari menghadang langkahku. Kini wajah kami begitu dekat sehingga nafas hangatnya menyapu diwajahku.
Dengan perlahan telapak tangannya merangkum kedua pipi. Kurasakan kecupan hangat singgah di bibirku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Sungguh aku masih begitu malu saat menatap wajahnya. Aku hanya menikmati segala sentuhannya dengan penuh perasaan cinta dan sayang.
Sungguh bercinta dengan lelaki yang dicintai adalah suatu kebahagiaan dan candu bagiku. Dia adalah cinta pertamaku. Dan aku sangat bahagia bila selalu bersamanya.
"Mandi dulu ya, nanti baru kita lanjutkan," bisiknya yang membuat aku tersenyum malu aku memeluk tubuhnya yang terasa dingin karena bekas air mandi masih menempel di kulitnya.
"Dek," panggilnya masih mendekap tubuhku.
"Hmm?" jawabku dengan gumaman masih menyembunyikan wajah di dada bidangnya.
"Apakah kamu bahagia menikah denganku?" tanyanya membuat aku segera melerai pelukan.
"Aku sangat bahagia, Mas. Karena kamulah lelaki yang sangat aku cintai," jawabku dengan jujur.
"Terimakasih, Sayang. Aku juga sangat bahagia menjadi suamimu." Mas Azzam mengecup kening dan kembali memelukku sebelum aku masuk kedalam kamar mandi.
Aku segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kugunakan pakaian terbaikku untuk menyambut malam pertama kami. Sebenarnya aku malu untuk menggunakan pakaian seksi ini, namun demi membuat momen berkesan dan membahagiakan sang suami maka aku gunakan lingerie tipis pemberian Mama itu.
Aku melihat tubuhku di cermin yang ada di kamar mandi. Sungguh aku sangat malu, tubuhku tercetak jelas dibalik lilitan gaun tipis itu. Masih belum percaya diri maka aku menggunakan bathrobe untuk melapisi pakaian keramat itu.
Aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Mas Azzam sedang duduk sambil mengganti channel TV. Aku berusaha acuh, dan segera duduk di depan meja hias. Kutata mahkotaku dengan rapi, dan kugunakan bedak dan lipstik dengan tipis. Ku semprotkan parfum kesayanganku yang wanginya sangat lembut.
Tak sengaja netraku melihat Mas Azzam dari pantulan cermin, ternyata Pria itu sedang memperhatikan kegiatanku. Kembali wajahku memerah seketika.
"Ya Allah, gini amad jantungku berdegup kencang saat bertatapan dengannya." Batinku bergumam sembari mengalihkan pandangan darinya.
Kulihat Mas Azzam berdiri dan menghampiriku. Sungguh aku dibuat menjadi salah tingkah. Aku hanya duduk tak merespon apapun. Kini Pria yang berstatus suamiku itu sudah berdiri di belakangku. Tubuhnya sedikit merunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.
"Wangi banget, Dek, sehingga aku tak sabar ingin mencium aromanya dari tubuhmu," gumamnya di telinga.
Kurasakan hidungnya telah menempel di pipi sebelah kananku. Jangan ditanya bagaimana perasaanku sekarang. Mas Azzam menuntun membawaku ke atas ranjang.
"Apakah kamu sudah siap, Sayang?" tanyanya dengan lembut sembari membaringkan tubuhku.
Bersambung....
Happy reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Marliana MARLIANA
keluarga udah jadi 2 kubu tak harmonis Bangat,,Tak selamanya harta bikin orang bahagia pak pejabat yang terhormat...
ehhhhhh ada yang mo MP jangan di intip yach😀😀😀😀
2023-06-10
2
Syarifah
eng ing enggggg🤭🤭🤭
2023-06-10
1