[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal

Siang ini adalah hari yang sangat bahagia saat aku dan Mas Azzam telah duduk di depan wali hakim dan Papa. Pernikahan kami memang kesannya tertutup, hanya dihadiri oleh keluarga terdekat, dan beberapa saksi.

Aku juga mengenakan pakaian akad sederhana. Sungguh miris, aku anak dari seorang pejabat negara, namun harus menikah dengan seperti ini. Sungguh Papa begitu tega menyisihkan suamiku dari menantunya yang lain.

Kutahan air mata yang hendak jatuh, aku menguatkan hati agar tetap tegar menjalani cobaan ini. Tak mengapa jika Papa tak merestui, asalkan Mama sepenuhnya memberi restunya.

"Apakah sudah bisa kita mulai sekarang?" tanya Pak wali hakim.

"Baiklah," ucap Papa dengan nada datar.

Papa mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Mas Azzam. Sesaat tatapan mereka bertemu. Papa menatap dengan tajam dengan raut wajah tak mengenakan. Namun Mas Azzam tersenyum simpul sembari menundukkan kepalanya.

Bacaan sakral itu mulai diucapkan oleh Papa dan Mas Azzam, dengan sekali sentakan Mas Azzam menjawab dengan lancar. Dan para saksi sudah mengucapkan kalimat "Sah"

Kini aku dan Mas Azzam telah resmi menjadi pasangan suami istri. Dan Pak KUA segera membacakan Do'a untuk pasangan pengantin. Aku tak henti mengucapkan syukur dalam hati. Masih tak percaya sekarang aku sudah menjadi istri dari lelaki yang teramat aku cintai.

Aku tahu rasa bahagia ini belum seutuhnya, karena pernikahan kami mendapat tentangan dari Papa. Namun, kami berusaha untuk menerima dan menjalani dengan hati ikhlas dan sabar.

Setelah acara ijab qobul dilangsungkan. Pak KUA dan beberapa orang yang menghadiri telah meninggalkan kediaman kami. Kini hanya tinggal keluarga terdekat dari Mama dan Papa yang masih disini.

Aku dan Mas Azzam beserta kedua adiknya duduk di ruang keluarga. Sebagai menantu yang tak diharapkan, maka seluruh keluarga Papa tak jauh berbeda dengan sikap Papa, mereka tampak begitu acuh dan tak ingin membawa suamiku bicara.

Namun lain halnya dengan keluarga dari pihak Mama. Mereka tampak begitu ramah dan menghargai keluarga baru mereka.

"Tinggal dimana, Nak Azzam?" tanya Paman Rico. Dia adalah Abang kedua dari Mama.

"Di jalan mawar, Pak," jawab Mas Azzam dengan senyum ramah.

"Panggil paman saja," intrupsinya dengan ramah.

"Ah, baik Paman." Mas Azzam mengangguk patuh.

"Kerja dimana?"

"Di PT xx." Mas Azzam menyebutkan nama PT tempat ia bekerja.

"Oh, dibagian apa?"

"Masih di lapangan, Paman, bagian pengeboran."

"Ya ya, Paman bekerja di PHR. (Pertamina Hulu Rokan)

"Oh, Paman di Pertamina! Dibagian apa?"

Sepertinya Paman dan Mas Azzam tampak nyambung obrolan mereka, karena mereka berada di satu divisi. Namun paman sudah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan besar yang dinamakan PHR. Dan perusahaan pamanlah yang memberi tender pada perusahaan tempat suamiku bekerja.

Aku cukup merasa bahagia ada keluargaku yang mau membawa suamiku bicara dan ngobrol banyak. Sementara itu Papa dan saudaranya yang lain ngobrol di tempat lain. Aku merasa sikap Papa dan Mama sangat bartantangan.

Mungkin mama dan saudaranya yang lain sudah terbiasa hidup susah sehingga mereka sangat pandai cara menghargai orang lain. Sedangkan Papa sedari kecil sudah bergelimangan harta dari orangtuanya.

Aku bersyukur bila sikap dan perilakuku mengikuti mama. Setidaknya aku bisa mengajarkan pada anak-anakku nanti untuk menjadi orang yang sederhana dan menghargai pendapat dan tak memandang dari status sosial mereka.

***

Kini malam telah menjelang. Semua keluarga telah pulang kekediaman mereka masing-masing. Dan begitu juga kedua adik iparku. Sebenarnya aku ingin mereka juga menginap disini, namun mereka tidak mau. Aku menghargai keputusan mereka.

Aku dan Mas Azzam sudah menempati bilik yang sama. Mas Azzam baru saja selesai mandi, aku segera menyediakan pakaiannya.

"Ini pakaian kamu, Mas," ucapku sembari menyerahkan pakaian santai yang tadi baru saja aku pindahkan dari tas kedalam lemariku.

"Terimakasih ya, Dek. Kamu tidak mandi?" tanyanya yang melihat aku masih belum berganti pakaian dari pakaian akad.

"I-iya," jawabku sedikit gugup menatap tubuhnya yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Wajahku mendadak panas.

"Kamu kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya sembari menghadang langkahku. Kini wajah kami begitu dekat sehingga nafas hangatnya menyapu diwajahku.

Dengan perlahan telapak tangannya merangkum kedua pipi. Kurasakan kecupan hangat singgah di bibirku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Sungguh aku masih begitu malu saat menatap wajahnya. Aku hanya menikmati segala sentuhannya dengan penuh perasaan cinta dan sayang.

Sungguh bercinta dengan lelaki yang dicintai adalah suatu kebahagiaan dan candu bagiku. Dia adalah cinta pertamaku. Dan aku sangat bahagia bila selalu bersamanya.

"Mandi dulu ya, nanti baru kita lanjutkan," bisiknya yang membuat aku tersenyum malu aku memeluk tubuhnya yang terasa dingin karena bekas air mandi masih menempel di kulitnya.

"Dek," panggilnya masih mendekap tubuhku.

"Hmm?" jawabku dengan gumaman masih menyembunyikan wajah di dada bidangnya.

"Apakah kamu bahagia menikah denganku?" tanyanya membuat aku segera melerai pelukan.

"Aku sangat bahagia, Mas. Karena kamulah lelaki yang sangat aku cintai," jawabku dengan jujur.

"Terimakasih, Sayang. Aku juga sangat bahagia menjadi suamimu." Mas Azzam mengecup kening dan kembali memelukku sebelum aku masuk kedalam kamar mandi.

Aku segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kugunakan pakaian terbaikku untuk menyambut malam pertama kami. Sebenarnya aku malu untuk menggunakan pakaian seksi ini, namun demi membuat momen berkesan dan membahagiakan sang suami maka aku gunakan lingerie tipis pemberian Mama itu.

Aku melihat tubuhku di cermin yang ada di kamar mandi. Sungguh aku sangat malu, tubuhku tercetak jelas dibalik lilitan gaun tipis itu. Masih belum percaya diri maka aku menggunakan bathrobe untuk melapisi pakaian keramat itu.

Aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Mas Azzam sedang duduk sambil mengganti channel TV. Aku berusaha acuh, dan segera duduk di depan meja hias. Kutata mahkotaku dengan rapi, dan kugunakan bedak dan lipstik dengan tipis. Ku semprotkan parfum kesayanganku yang wanginya sangat lembut.

Tak sengaja netraku melihat Mas Azzam dari pantulan cermin, ternyata Pria itu sedang memperhatikan kegiatanku. Kembali wajahku memerah seketika.

"Ya Allah, gini amad jantungku berdegup kencang saat bertatapan dengannya." Batinku bergumam sembari mengalihkan pandangan darinya.

Kulihat Mas Azzam berdiri dan menghampiriku. Sungguh aku dibuat menjadi salah tingkah. Aku hanya duduk tak merespon apapun. Kini Pria yang berstatus suamiku itu sudah berdiri di belakangku. Tubuhnya sedikit merunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.

"Wangi banget, Dek, sehingga aku tak sabar ingin mencium aromanya dari tubuhmu," gumamnya di telinga.

Kurasakan hidungnya telah menempel di pipi sebelah kananku. Jangan ditanya bagaimana perasaanku sekarang. Mas Azzam menuntun membawaku ke atas ranjang.

"Apakah kamu sudah siap, Sayang?" tanyanya dengan lembut sembari membaringkan tubuhku.

Bersambung....

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

Marliana MARLIANA

Marliana MARLIANA

keluarga udah jadi 2 kubu tak harmonis Bangat,,Tak selamanya harta bikin orang bahagia pak pejabat yang terhormat...

ehhhhhh ada yang mo MP jangan di intip yach😀😀😀😀

2023-06-10

2

Syarifah

Syarifah

eng ing enggggg🤭🤭🤭

2023-06-10

1

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!