Aku hanya bisa mengangguk, tatapan kami menyatu dengan jantung berdebar. Dengan perlahan Mas Azzam mengecup keningku begitu lembut.
Kini kecupan itu berpindah pada pipi dan bibir, aku membalas sebisanya, karena ini adalah pengalaman pertamaku dalam mengarungi bahtera lautan cinta. Aku menerima dengan perasaan penuh bahagia.
Mas Azzam menghentikan aktivitasnya, lalu menatapku dengan dalam. "Sayang, apakah kamu sudah siap punya anak?" tanyanya meminta persetujuanku sebelum melanjutkan ritual malam pertama kami.
"Ya, aku sudah siap mempunyai anak, Mas. Aku ingin apa yang sedang kita sandiwarakan dari Papa menjadi kenyataan," jawabku dengan yakin.
Mas Azzam tersenyum padaku. "Bagaimana jika nanti kamu tak kunjung hamil, Dek?"
"Makanya kita harus usaha dari sekarang, Mas, agar Papa tidak merasa di bohongi," jawabku sangat berharap.
"Baiklah, mari kita mulai sekarang. Aku yakin usaha tak mengkhianati hasil," ujar pria itu dengan senyum nakal.
Aku hanya tersenyum malu sembari mencubit pinggangnya dengan gemas. Mas Azzam memeluk dengan erat sembari memberi kecupan di seluruh wajahku.
Kami kembali berciuman, pergumulan lidah terjadi dengan penuh hasrat menggebu. Mas Azzam mengabsen seluruh tubuhku sehingga tak ada yang luput dari sentuhannya.
Malam ini adalah malam yang paling bahagia setelah kami menjadi halal. Aku menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku untuk kekasih halalku. Ditengah sunyinya malam, dan dibawah selimut yang sama kami saling berbagi peluh sehingga suara keramat saling bersahutan sembari menikmati indahnya surga dunia yang sesungguhnya.
Aku tak sanggup untuk bergerak karena begitu lelah setelah mencapai nikmatnya bercinta. Mas Azzam mendekap tubuhku dengan sayang, dan memberi kecupan manis.
"Terimakasih, Sayang, aku sangat bahagia," ucapnya dengan nafas yang masih memburu.
Aku hanya mengangguk dengan mata sayu, ku ukir senyum lembut dan menatap wajah puas suamiku. "Mas, aku haus," ucapku pelan.
"Ayo duduk dulu, Sayang." Mas Azzam segera membantuku untuk duduk. Ia segera menuang air putih kedalam gelas yang telah tersedia.
Aku kembali berbaring setelah merasa dahagaku telah sirna. Mas Azzam ikut berbaring sembari memeluk dengan penuh kasih sayang.
Kami segera memejamkan mata untuk memasok tenaga untuk stok di ronde-ronde berikutnya.
Pagi ini aku terbangun dengan tubuh yang kaku dan di bagian tubuh inti terasa ngilu, aku baru menyadari bahwa kini aku sudah menjadi milik Mas Azzam seutuhnya. Ku tatap wajah damai lelaki kesayanganku.
Aku menatap dan mengamati dengan dalam. Aku tersenyum bahagia, sebuah kecupan hangat ku labuhkan di bibirnya.
"Jangan menggodaku lagi, Dek," lirihnya dengan suara berat.
"Bukan menggoda, Mas, ayo bangun. Kita mandi dan sholat subuh," ucapku masih menjahilinya dengan cara mencubit kedua pipinya yang begitu menggemaskan.
Mas Azzam tak menyahut, namun bibirnya mengukir senyum manis dengan kedua tangannya segera membelenggu tubuhku.
"Mas Azzam, ayo bangun," ucapku berada dalam penjara kedua tangannya.
"Kita mulai pemanasan dulu ya, biar nanti mandinya nggak terasa dingin," jawabnya mencari kesempatan. Aku hanya tersenyum gemas.
"Nggak usah beralasan, Mas. Bilang saja kamu menginginkannya lagi, bukan?" tanyaku meninggalkan jejak sayang di pipinya.
"Hehe... Kan kita harus usaha keras biar menghasilkan dia di dalam sini," ucap Mas Azzam sembari mengusap perut datarku.
Aku hanya tertawa kecil, dan tak menolak keinginannya yang sebenarnya aku juga menginginkan hal itu. Akhirnya pagi ini kami kembali melakukan hubungan percintaan sebelum menyudahi dengan mandi wajib.
Selesai mandi, Mas Azzam pamit ke masjid untuk ibadah berjamaah. Aku melaksanakan di kamar saja.
"Dek, berangkat ke masjid dulu ya," ucapnya sembari mengulurkan tangannya padaku. Dan dengan senang hati aku menerima dan mengecup punggung tangannya.
***
Pagi ini aku dan Mas Azzam turun kelantai satu untuk ikut bergabung dengan kedua orangtuaku sarapan bersama. Kami dan Papa sama-sama menghampiri meja makan.
Aku melihat raut wajah Papa tampak datar dan tak mengucapkan apapun pada kami. Namun Mas Azzam yang sangat menghormati kedua mertuanya maka ia menyapa dengan ramah.
"Selamat pagi, Pa, Ma," ucapnya tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Nak," jawab Mama dengan senyuman. "Ayo duduklah," ujarnya mempersilahkan anak dan menantunya untuk duduk. Sementara itu Papa tetap diam dengan kesombongannya.
Kami sarapan dalam keheningan, hanya dentingan sendok dan piring saling bersahutan.
"Kamu kok sudah mengenakan pakaian kerja, Zam?" tanya Mama di sela sarapan.
"Iya, Ma, hari ini masuk kerja," jawab Mas Azzam dengan jujur. Karena pernikahan kami secara tertutup maka Mas Azzam tak bisa minta cuti nikah, karena tidak ada undangan resmi.
"Kenapa tidak libur saja, kan kalian baru saja menikah," ucap Mama.
"Sepertinya tidak bisa, Ma, karena aku tidak mengajukan surat cuti menikah, kan tidak ada undangan resminya," jelas Mas Azzam.
"Oh, begitu ya. Ya, harus bagaimana lagi, Nak. Karena pernikahan kalian harus seperti ini. Mama minta maaf karena tak memiliki kuasa," ujar Mama yang mendapat tatapan tajam oleh Papa.
"Jangan memulai lagi kamu! Terus saja kamu membela anak menantumu yang menurutmu baik, padahal sudah menghamili putrimu diluar nikah!" seru Papa tak terima dengan ucapan Mama. Sepertinya hubungan kedua orangtuaku juga sedang bermasalah setelah pernikahan kami.
Papa segera beranjak meninggalkan sarapannya yang belum usai. Aku melihat Mama tetap tenang dihadapan kami, senyum lembut masih ia suguhkan kepada anak dan menantunya.
"Ma..."
"Sudah, jangan hiraukan. Mama tak ambil pusing dengan ucapannya. Its okey, ayo habiskan sarapan kalian," ujar Mama masih baik-baik saja.
Aku merasa sangat bersalah karena membuat hubungan kedua orangtuaku harus bermasalah. Mas Azzam juga tampak diam. Sesekali ia menatapku dan Mama.
Selesai makan, aku mengantar Mas Azzam hingga depan rumah. "Mas, kamu yakin tidak ingin bawa mobil aku?" tanyaku pada Mas Azzam.
"Tidak usah, Dek, aku di jemput oleh bus karyawan kok," jelasnya.
"Oh yaudah. Kalau begitu kamu tunggu disini saja, Mas."
"Ah, tidak usahlah, Dek. Nggak enak dilihat oleh kru yang lainnya. Aku tunggu di depan saja," ucapnya, mungkin dia merasa sungkan bila diketahui oleh teman-temannya bila keluar dari rumah seorang anggota dewan.
Aku hanya bisa mengangguk paham sembari berjalan mengantarkan suamiku hingga keluar dari pintu gerbang.
"Aku berangkat dulu ya, Dek. Oya, nanti pulang kerja aku mampir kerumah dulu untuk melihat adik-adik," ucap izin kepadaku.
"Ah, baiklah. Kalau begitu nanti aku tunggu kamu disana saja ya, kamu mau aku masakin apa?" tanyaku ingin memasak selera kesukaannya.
"Baiklah. Tidak usah repot-repot, Sayang, apapun yang kamu masak akan aku makan dengan hati bahagia," ucapnya yang membuat hatiku bahagia luar biasa. Sungguh dia sangat pandai menyenangkan hati pasangan.
"Yaudah, kamu hati-hati bekerja ya, Mas. Ingatlah ada aku dan kedua adik-adikmu yang mengharapkan agar kamu pulang dengan selamat dan sehat wal afiat."
Aku kembali menyalami tangannya dan dibalas dengan kecupan sayang dikening sehingga aku menjadi malu saat disaksikan oleh Pak Tono dan Pak Dadang.
Setelah Mas Azzam berangkat kerja, aku juga bersiap untuk berangkat kuliah. Rencananya nanti sepulang kuliah aku akan mampir dulu ke pasar untuk membeli bahan pokok untuk persediaan kedua adik iparku, dan aku akan memasak sesuatu untuk menyambut kepulangan suamiku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Bundanya Pandu Pharamadina
Azzam Zulaikha 👍❤
2024-04-27
0
Marliana MARLIANA
yeee azam buktikan ke mertua kalo kamu bisa di andalkan dan spil menantu idama
2023-06-12
2
Syarifah
lanjuttttt💪💪
2023-06-12
1