[POV Azzam] Menasehati batinku

Di sepanjang perjalanan Mbak Zulaikha dan Azizah banyak ngobrol, aku hanya sebagai pendengar setia sembari fokus mengemudi.

Tak berselang lama mobil yang aku kendarai sudah berhenti disebuah rumah sederhana kami. Ya, disinilah aku dan adik-adikku tinggal. Bersyukur mempunyai rumah sendiri walaupun tidak bagus, namun cukup membuat kami nyaman.

"Kak Ikha nggak mampir dulu?" tawar Azizah sebelum dia turun.

"Ah, lain kali saja, Dek. Besok-besok kalau ada waktu senggang Kakak main kesini ya," jawab Mbak Zulaikha.

"Oh yaudah, terimakasih banyak untuk tumpangannya ya, Kak. Bang Azzam aku masuk dulu. Nanti Abang pulang jama berapa? Mau dimasakin apa?" tanya adik bungsuku yang memang sangat rajin untuk mengurusi aku dan juga Azhar.

"Apa saja, Dek, Abang belum bisa mastiin pulang jam berapa, kalau Abang telat pulang, kamu dan Bang Azhar makan saja, jangan tunggu Abang," jawabku, aku memang belum bisa memastikan untuk pulang jam berapa.

"Oh, iya deh. Aku masuk ya Bang, Kak Ikha, sampai ketemu lagi Kak, sekali lagi terimakasih."

"Iya, sama-sama, Dek."

Aku kembali melajukan kendaraan roda empat itu untuk menapaki jalan raya. Sesaat suasana kembali hening, namun kembali jantungku berdebar saat wanita disampingku selalu menatapku.

"Mas Azzam berapa saudara?" tanya Mbak Zulaikha membuka percakapan.

"Tiga, Mbak. Saya yang paling tua, yang nomor dua kuliah di universitas xx. Dan Azizah adik kami yang bungsu," jawabku dengan jujur.

"Oh, Azizah itu anaknya ramah banget ya, dan pintar lagi. Emang kalau dirumah dia selalu masak untuk kamu ya?"

"Iya, Mbak, kalau dia tidak sibuk dengan pelajarannya, maka dialah yang mengerjakan tugas dirumah. Tapi kalau dia sedang fokus belajar, maka saya dan Azhar yang mengambil peran itu, yaitu saling membantu.

"Salut banget dengan Mas Azzam, kalian begitu rukun dan saling mengasihi."

"Harus, Mbak. Dulu sewaktu kedua orangtua kami masih hidup, maka mereka selalu mengajarkan kami untuk saling melengkapi. Apalagi saya sebagai Abang tertua, maka saya harus menjadi panutan untuk kedua adik-adik saya."

Tak ada lagi sahutan dari Mbak Zulaikha, namun dia menatapku dengan dalam dengan senyum begitu manis sehingga jantungku merasa tidak aman.

Sejak pertemuan Mbak Zulaikha dan Azizah waktu itu, maka sekarang Mbak Zulaikha sudah sering main kekediamanku, terkadang aku merasa tidak enak, karena setiap pulang kuliah gadis itu pasti ingin mampir kerumah.

Banyak hal yang mereka lakukan, terkadang ada saja kegiatan yang dilakukan oleh kedua wanita itu. Seperti memasak, dan mencoba resep-resep makanan yang baru. Aku hanya bisa menurut segala perintah anak pejabat itu.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, kini sudah hampir satu bulan aku bekerja sebagai seorang driver untuk seorang gadis cantik memiliki hati yang lembut dan sangat baik.

Pagi ini tak ada kegiatan, karena Mbak Zulaikha jadwal kuliahnya siang. Maka aku memutuskan untuk membantu Pak Tono untuk membersihkan perkarangan rumah mewah yang mempunyai tanah perkarangan yang cukup luas.

"Walah, Nak Azzam, kamu duduk saja, biar Bapak saja yang mengerjakan," ujar Pak Tono merasa tak enak saat aku membantunya.

"Ah, tidak apa-apa, Pak." Aku masih saja melakukan pekerjaanku yang sedang merapikan tanaman hias dengan memangkasnya.

Saat kami sedang fokus, terdengar suara seseorang yang membuat aku menoleh. Ah, ternyata gadis cantik itu datang membawa minuman dan juga beberapa cemilan. Terlihat dia begitu cantik dengan pakaian santainya.

"Mas Azzam, Pak Tono, ini cobain resep baru yang kemaren aku dapat dari Azizah. Katanya ini adalah resep dari almarhum ibunya Mas Azzam, benar ya, Mas?" tanyanya sembari menaruh nampan itu di meja, dan dia segera duduk di bangku taman yang tak jauh dari tempat kami bekerja.

"Wah, Mbak Ikha kenapa repot-repot begini. Ah, ya, ini adalah kue handalan Ibu sewaktu masih hidup," ujarku menjawab dengan jujur.

"Resepnya enak banget Mas, ayo sini cobain, Pak Tono, ayo istirahat dulu, Pak," panggilnya pada Pria baya yang menjadi kepercayaan keluarga itu.

Saat kami sedang duduk dan menikmati suasana pagi, aku melihat sebuah mobil mewah memasuki perkarangan rumah itu.

"Ikha!" panggil seseorang menghampiri kami yang masih duduk ngobrol.

"Eh, Kak Naya! Loh Kakak dengan siapa?" tanya Mbak Ikha yang segera menghampiri wanita yang terlihat sangat modis dan cantik.

"Sama, tunangan Kakak."

"Oh, yaudah, ayo kita masuk sekarang Kak, sudah ditungguin Mama dan Papa."

"Pak, Mas, aku masuk dulu ya. Oya, aku lupa. Kak, kenalin ini supir aku, namanya Mas Azzam," ucap Mbak Ikha memperkenalkan.

"Oh, yaudahlah, nggak penting juga. Ayo kita masuk sekarang, panas nih."

Aku yang tadi ingin mengulurkan tangan, namun terhenti saat mendengar jawaban dari wanita yang bisa kupastikan adalah saudara perempuan Mbak Ikha. Tapi kenapa sikap mereka sangat berbeda ya?

Mbak Ikha menatapku dengan perasaan tidak enak, namun aku berusaha untuk tersenyum sembari menganggukkan kepala untuk meyakinkan bahwa tidak masalah.

Aku juga melihat seorang Pria gagah dengan stelan yang bisa kupastikan sangat bermerek apa yang melekat pada tubuhnya. Ya, mereka sangat cocok. Sudah pasti dia juga mempunyai gelar.

Melihat kenyataan yang ada, maka aku berusaha menasehati batinku sendiri untuk tak menaruh angan-angan yang tinggi. Aku tidak boleh ada rasa pada gadis itu, karena aku bukanlah tipe mereka. Ibarat piala, aku hanya bronze, maka tidak pantas bila disandingkan dengan diamond.

Kuabaikan perasaanku, aku segera meneruskan pekerjaan yang tadi sempat terhenti. Sekarang niatku adalah bekerja demi membiayai sekolah kedua adikku, dan jika aku bisa menabung maka nanti akan aku pergunakan untuk menuntut ilmu agar cita-cita tercapai. Tak ada kata terlambat dalam belajar.

"Jangan diambil hati dengan sikapnya Mbak Inaya. Dia memang seperti itu." Tiba-tiba Pak Tono berucap sedemikian. Apakah wajahku terlihat sedang tak enak hati? Ah, dasar payah.

"Ah, nggak kok Pak, sama sekali tidak ambil hati," jawabku dengan senyuman.

"Dia adalah anak kedua dari Tuan Haidan dan Nyonya Nuril. Mereka mempunyai tiga orang anak, tapi ketiganya putri," jelas Pria baya itu.

"Oh, begitu ya, Pak. Terus, yang tua dimana, Pak?" tanyaku yang sedikit penasaran dengan keluarga terpandang itu.

"Yang pertama namanya Mbak Sinta, dia berada di luar negeri ikut suaminya yang bertugas disana."

Aku hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Pak Tono, tentu saja beliau tahu, karena sudah lama mengabdi dengan keluarga itu.

"Tapi jujur, yang sangat baik itu adalah Mbak Zulaikha, dari kecil sampai sekarang dia selalu ramah pada siapapun. Dan tak pernah merendahkan siapapun. Pokoknya sangat bertolak belakang dengan kedua kakak-kakaknya."

Bersambung.....

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

herdaize

herdaize

Azzam,tenang perjalanan ke puncak masih jauh banyak duri 💪💪

2023-06-02

1

Defi

Defi

sabar Zam, dimata Allah semua manusia itu sama, yang berbeda cuma iman dan taqwa..

2023-06-02

1

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!