[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah

Seperti yang direncanakan oleh Ikha, setelah mobil terparkir di basement mall, kami segera memesan taksi online. Kali ini kami bermain dengan cantik. Setelah taksi datang Ikha terlebih dahulu keluar untuk masuk kedalam taksi.

Aku menggunakan masker berjalan sekitar dua ratus meter dari gedung perbelanjaan itu. Ah, ternyata memang sulit mencintai anak pejabat sehingga banyaknya rintangan yang harus aku hadapi, tapi apalah daya hati yang berkuasa sehingga aku tak ingin menyerah.

Tak berselang lama kini mobil yang kami tumpangi sudah sampai di kediamanku. Kami segera masuk dan mengunci pintu utama. Kehadiran Ikha tentu saja membuat Azizah terkejut.

"Hah! Kak Ikha! Nanti bagaimana jika keluarga Kakak datang kesini? Bagaimana jika mereka kembali menyalahkan Bang Azzam? Tolong jangan mempersulit keluarga kami, Kak," ucap Azizah yang tak lagi ramah setelah tahu tentang hubungan aku dan Ikha mendapat tantangan dari keluarganya.

Ikha yang mendengar ucapan Azizah hanya terdiam. Mungkin dia tersinggung dengan ucapan adik bungsuku. Namun aku berusaha untuk menegur sikap Zizah.

"Dek jangan bicara seperti itu! Nggak baik. Kak Ikha kesini ingin ngobrol sama kamu," tegurku pada Zizah.

"Tapi, Bang, aku tidak mau Abang mendapatkan masalah lagi. Kemaren Abang sudah terluka. Bagaimana nanti jika Abang terluka lagi!" Ucapnya sembari berlalu meninggalkan aku dan Ikha diruang tamu.

Aku mendengar suara pintu kamar ditutup dengan kuat. Aku tahu sebenarnya adikku itu sangat khawatir dengan diriku, tapi aku akan mencoba untuk meyakinkan dia agar mengerti.

"Ayo duduk, Sayang," ucapku meraih tangan wanita yang aku cintai. Aku tahu dia sedang tak enak hati mendengar ucapan Azizah.

"Mas, sepertinya apa yang dikatakan oleh Azizah memang benar. Aku hanya bisa memberi kamu masalah saja. Maafkan aku, Mas. Hiks..." Gadis itu menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Ssshhtt... Jangan menangis, Dek. Aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Bukankah kita sudah pernah berjanji apapun yang terjadi kita tidak akan pernah berpisah," ucapku sembari meraihnya masuk dalam pelukanku.

Aku membiarkan dia menumpahkan tangis agar lebih tenang. Aku hanya bisa mengusap punggungnya untuk memberi kenyamanan.

"Sudah, jangan menangis lagi ya. Maafkan ucapan Azizah, jangan diambil hati."

"Tidak kok, Mas. Aku tahu dia sangat menyayangi kamu maka dari itu dia takut hal buruk menimpa kamu karena hubungan kita ini," jawabnya masih terisak.

Aku membawanya duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tak banyak yang kami lakukan. Aku hanya ngobrol. Aku juga melihat Ikha tampak murung, mungkin dia tidak semangat karena Azizah tak lagi ramah seperti biasanya.

"Mas Azzam, aku pamit pulang ya, udah malam juga." Ikha ingin pamit pulang dan tentu saja aku tidak bisa melarang.

"Yaudah, aku pesan taksi buat kamu ya. Atau perlu aku antar pake motor?" tanyaku menawarkan untuk mengantarkannya ke mall tempat mobilnya di sembunyikan.

"Tidak perlu, Mas. Aku naik taksi saja."

Aku masih melihat wajahnya murung, sepertinya sikap Azizah membuatnya tak bersemangat.

Tak berselang lama taksi yang aku pesan sudah sampai di depan rumah. Aku segera mengantarkannya hingga masuk kedalam armada itu, dan tak lupa aku membayar tarifnya taksi.

"Mas, nggak usah, biar aku saja yang bayar," tolaknya. Aku tahu dia mampu, namun aku sebagai seorang kekasih juga ingin membiayai dirinya walau sekedar ongkos taksi.

"Jangan menolak, Dek, agar aku merasa lebih berguna untukmu. Aku ingin bertanggung jawab padamu meskipun nilainya tidak seberapa," ujarku sembari mengusap rambutnya dengan lembut.

Dia hanya tersenyum, namun wajahnya masih tampak sedih. Kini taksi telah meninggalkan kediamanku, dan aku segera masuk kedalam. Saat masuk aku berpapasan dengan Azizah yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Udah pulang Kak Ikha?" tanyanya dengan wajah datar.

"Sudah, sepertinya dia tak enak hati dengan ucapan kamu, Dek," jawabku.

"Baguslah, Bang. Kalau bisa Abang putus saja dengan dia!" jawabnya yang membuat aku tak habis pikir sehingga aku melontarkan kata-kata dengan suara meninggi.

"Jaga ucapan kamu Azizah!" sanggahku dengan tatapan tajam.

"Kenapa Bang? Apakah Abang ingin selalu mencari masalah dengan orang kaya itu? Abang mau mereka selalu menyakiti Abang? Ingat, Bang! Dia tidak pantas buat Abang!" jawabnya yang membuat aku semakin kesal dengan adik bungsuku.

"Diamlah Azizah! Diam!" bentakku dengan nada lebih tinggi lagi. Jika orang mendengar pasti mengira ada kegaduhan dahsyat yang terjadi.

"Abang marah padaku hanya karena wanita yang Abang cintai? Bahkan Abang sudah tak menghiraukan keselamatan Abang sendiri. Apakah aku salah bila terlalu mengkhawatirkan Abang? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Abang? Apakah Abang tega meninggalkan aku dan Bang Azhar?!"

Azizah beranjak meninggalkan aku dengan tangis yang telah pecah. Aku mencoba menghela nafas dalam dan mengucapkan istighfar berulang kali. Baru kali ini kami bertingkah kata.

Aku menghempaskan tubuhku diatas sofa, Rasa menyesal menyeruak dalam hati karena telah meninggikan suaraku pada gadis kecilku. Aku tahu dia menyayangi aku sehingga begitu takut bila hal buruk terjadi padaku.

Saat aku masih duduk melamun, aku mendengar ucapan salam dari adikku yang kedua. Azhar pulang, ia segera menghampiri aku dan menyalami tanganku.

Sayup-sayup dia mendengar suara tangisan di kamar Azizah sehingga membuatnya terkejut.

"Bang, itu Azizah kenapa?" tanya Azhar menatapku meminta jawaban. "Bang, jawab! Kenapa diam saja? apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah gusar.

"Kamu tanya saja sendiri," jawabku datar. Sulit bagiku untuk menjelaskan. Aku tidak tahu bagaimana cara menyikapinya. Apakah aku salah bila aku juga ingin bahagia dengan wanita yang aku cintai. Bolehkah aku egois untuk saat ini saja?

Azhar tak lagi bicara, dia segera beranjak menuju kamar Azizah, sementara aku tak melakukan apapun hanya tetap duduk merenung sendiri. Namun tetap saja jiwa pemasaranku keluar, apa yang mereka bicarakan. Aku berdiri dan berjalan menuju kamar adik perempuanku itu. Dengan perlahan aku mendengarkan obrolan mereka.

"Dek, ayo cerita sama Abang," ucap Azhar masih membujuk.

"Bang, apakah aku salah bila ingin Bang Azzam menjauhi keluarga terhormat itu? Aku tidak ingin Bang Azzam mendapatkan masalah lagi. Bagaimana jika mereka berbuat nekad mencelakai Bang Azzam. Hiks, Hiks, aku tidak sanggup kehilangan salah satu diantara kalian. Aku hanya punya Bang Azzam dan Bang Azhar. Tolong bilang sama Bang Azzam agar tak lagi mencari masalah dengan keluarga mereka," jelasnya dengan tangisan pilu. Tak terasa air mataku ikut merembes mendengar curahan hati adik bungsuku.

Aku tak sanggup lagi mendengar segala keluhannya. Aku memutuskan untuk melaksanakan shalat isya. Aku memohon agar Allah memberiku jalan dan petunjuk atas segala kebimbangan hatiku.

Bersambung....

Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Azizah maksudnya baik dan dia khawatir dengan abangnya karena hanya kalian yang dia punya Zam

2023-06-07

2

Assyifa

Assyifa

Jgn marah bg Azam, krna adikmu hanya mencemaskan km

2023-06-07

1

Marliana MARLIANA

Marliana MARLIANA

yee kacian abang azzam jadi dilema...

2023-06-06

1

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!