Seperti yang direncanakan oleh Ikha, setelah mobil terparkir di basement mall, kami segera memesan taksi online. Kali ini kami bermain dengan cantik. Setelah taksi datang Ikha terlebih dahulu keluar untuk masuk kedalam taksi.
Aku menggunakan masker berjalan sekitar dua ratus meter dari gedung perbelanjaan itu. Ah, ternyata memang sulit mencintai anak pejabat sehingga banyaknya rintangan yang harus aku hadapi, tapi apalah daya hati yang berkuasa sehingga aku tak ingin menyerah.
Tak berselang lama kini mobil yang kami tumpangi sudah sampai di kediamanku. Kami segera masuk dan mengunci pintu utama. Kehadiran Ikha tentu saja membuat Azizah terkejut.
"Hah! Kak Ikha! Nanti bagaimana jika keluarga Kakak datang kesini? Bagaimana jika mereka kembali menyalahkan Bang Azzam? Tolong jangan mempersulit keluarga kami, Kak," ucap Azizah yang tak lagi ramah setelah tahu tentang hubungan aku dan Ikha mendapat tantangan dari keluarganya.
Ikha yang mendengar ucapan Azizah hanya terdiam. Mungkin dia tersinggung dengan ucapan adik bungsuku. Namun aku berusaha untuk menegur sikap Zizah.
"Dek jangan bicara seperti itu! Nggak baik. Kak Ikha kesini ingin ngobrol sama kamu," tegurku pada Zizah.
"Tapi, Bang, aku tidak mau Abang mendapatkan masalah lagi. Kemaren Abang sudah terluka. Bagaimana nanti jika Abang terluka lagi!" Ucapnya sembari berlalu meninggalkan aku dan Ikha diruang tamu.
Aku mendengar suara pintu kamar ditutup dengan kuat. Aku tahu sebenarnya adikku itu sangat khawatir dengan diriku, tapi aku akan mencoba untuk meyakinkan dia agar mengerti.
"Ayo duduk, Sayang," ucapku meraih tangan wanita yang aku cintai. Aku tahu dia sedang tak enak hati mendengar ucapan Azizah.
"Mas, sepertinya apa yang dikatakan oleh Azizah memang benar. Aku hanya bisa memberi kamu masalah saja. Maafkan aku, Mas. Hiks..." Gadis itu menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ssshhtt... Jangan menangis, Dek. Aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Bukankah kita sudah pernah berjanji apapun yang terjadi kita tidak akan pernah berpisah," ucapku sembari meraihnya masuk dalam pelukanku.
Aku membiarkan dia menumpahkan tangis agar lebih tenang. Aku hanya bisa mengusap punggungnya untuk memberi kenyamanan.
"Sudah, jangan menangis lagi ya. Maafkan ucapan Azizah, jangan diambil hati."
"Tidak kok, Mas. Aku tahu dia sangat menyayangi kamu maka dari itu dia takut hal buruk menimpa kamu karena hubungan kita ini," jawabnya masih terisak.
Aku membawanya duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tak banyak yang kami lakukan. Aku hanya ngobrol. Aku juga melihat Ikha tampak murung, mungkin dia tidak semangat karena Azizah tak lagi ramah seperti biasanya.
"Mas Azzam, aku pamit pulang ya, udah malam juga." Ikha ingin pamit pulang dan tentu saja aku tidak bisa melarang.
"Yaudah, aku pesan taksi buat kamu ya. Atau perlu aku antar pake motor?" tanyaku menawarkan untuk mengantarkannya ke mall tempat mobilnya di sembunyikan.
"Tidak perlu, Mas. Aku naik taksi saja."
Aku masih melihat wajahnya murung, sepertinya sikap Azizah membuatnya tak bersemangat.
Tak berselang lama taksi yang aku pesan sudah sampai di depan rumah. Aku segera mengantarkannya hingga masuk kedalam armada itu, dan tak lupa aku membayar tarifnya taksi.
"Mas, nggak usah, biar aku saja yang bayar," tolaknya. Aku tahu dia mampu, namun aku sebagai seorang kekasih juga ingin membiayai dirinya walau sekedar ongkos taksi.
"Jangan menolak, Dek, agar aku merasa lebih berguna untukmu. Aku ingin bertanggung jawab padamu meskipun nilainya tidak seberapa," ujarku sembari mengusap rambutnya dengan lembut.
Dia hanya tersenyum, namun wajahnya masih tampak sedih. Kini taksi telah meninggalkan kediamanku, dan aku segera masuk kedalam. Saat masuk aku berpapasan dengan Azizah yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Udah pulang Kak Ikha?" tanyanya dengan wajah datar.
"Sudah, sepertinya dia tak enak hati dengan ucapan kamu, Dek," jawabku.
"Baguslah, Bang. Kalau bisa Abang putus saja dengan dia!" jawabnya yang membuat aku tak habis pikir sehingga aku melontarkan kata-kata dengan suara meninggi.
"Jaga ucapan kamu Azizah!" sanggahku dengan tatapan tajam.
"Kenapa Bang? Apakah Abang ingin selalu mencari masalah dengan orang kaya itu? Abang mau mereka selalu menyakiti Abang? Ingat, Bang! Dia tidak pantas buat Abang!" jawabnya yang membuat aku semakin kesal dengan adik bungsuku.
"Diamlah Azizah! Diam!" bentakku dengan nada lebih tinggi lagi. Jika orang mendengar pasti mengira ada kegaduhan dahsyat yang terjadi.
"Abang marah padaku hanya karena wanita yang Abang cintai? Bahkan Abang sudah tak menghiraukan keselamatan Abang sendiri. Apakah aku salah bila terlalu mengkhawatirkan Abang? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Abang? Apakah Abang tega meninggalkan aku dan Bang Azhar?!"
Azizah beranjak meninggalkan aku dengan tangis yang telah pecah. Aku mencoba menghela nafas dalam dan mengucapkan istighfar berulang kali. Baru kali ini kami bertingkah kata.
Aku menghempaskan tubuhku diatas sofa, Rasa menyesal menyeruak dalam hati karena telah meninggikan suaraku pada gadis kecilku. Aku tahu dia menyayangi aku sehingga begitu takut bila hal buruk terjadi padaku.
Saat aku masih duduk melamun, aku mendengar ucapan salam dari adikku yang kedua. Azhar pulang, ia segera menghampiri aku dan menyalami tanganku.
Sayup-sayup dia mendengar suara tangisan di kamar Azizah sehingga membuatnya terkejut.
"Bang, itu Azizah kenapa?" tanya Azhar menatapku meminta jawaban. "Bang, jawab! Kenapa diam saja? apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah gusar.
"Kamu tanya saja sendiri," jawabku datar. Sulit bagiku untuk menjelaskan. Aku tidak tahu bagaimana cara menyikapinya. Apakah aku salah bila aku juga ingin bahagia dengan wanita yang aku cintai. Bolehkah aku egois untuk saat ini saja?
Azhar tak lagi bicara, dia segera beranjak menuju kamar Azizah, sementara aku tak melakukan apapun hanya tetap duduk merenung sendiri. Namun tetap saja jiwa pemasaranku keluar, apa yang mereka bicarakan. Aku berdiri dan berjalan menuju kamar adik perempuanku itu. Dengan perlahan aku mendengarkan obrolan mereka.
"Dek, ayo cerita sama Abang," ucap Azhar masih membujuk.
"Bang, apakah aku salah bila ingin Bang Azzam menjauhi keluarga terhormat itu? Aku tidak ingin Bang Azzam mendapatkan masalah lagi. Bagaimana jika mereka berbuat nekad mencelakai Bang Azzam. Hiks, Hiks, aku tidak sanggup kehilangan salah satu diantara kalian. Aku hanya punya Bang Azzam dan Bang Azhar. Tolong bilang sama Bang Azzam agar tak lagi mencari masalah dengan keluarga mereka," jelasnya dengan tangisan pilu. Tak terasa air mataku ikut merembes mendengar curahan hati adik bungsuku.
Aku tak sanggup lagi mendengar segala keluhannya. Aku memutuskan untuk melaksanakan shalat isya. Aku memohon agar Allah memberiku jalan dan petunjuk atas segala kebimbangan hatiku.
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗
Happy reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Defi
Azizah maksudnya baik dan dia khawatir dengan abangnya karena hanya kalian yang dia punya Zam
2023-06-07
2
Assyifa
Jgn marah bg Azam, krna adikmu hanya mencemaskan km
2023-06-07
1
Marliana MARLIANA
yee kacian abang azzam jadi dilema...
2023-06-06
1