Aku membawa Mbak Ikha kerumah, adikku sudah begitu akrab sehingga dia begitu senang melihat kedatangan gadis cantik berlesung pipi itu.
"Aku seneng banget Kak Ikha mampir lagi kesini," ucap Azizah tersenyum sumringah menyambut kedatangan wanita cantik itu.
"Kakak juga pengennya sering-sering kesini, tapi nggak tahu Mas Azzam ngebolehin apa nggak," jawabnya dengan tawa.
"Kenapa tidak boleh, pasti Abang juga senang bisa bawa kakak kesini. Benar kan, Ban?" tanya Azizah padaku.
"Ah, ya. Tentu saja. Ayo kita masuk." Aku membawa mereka untuk masuk terlebih dahulu , rasanya nggak enak bila dilihat orang ngobrol diluar.
Tak banyak yang aku lakukan, aku hanya sebagai pendengar setia untuk kedua wanita itu. Seperti biasanya Azizah dan Mbak Ikha akan memasak sesuatu untuk kami makan bersama. Namun saat kami sedang makan terdengar suara vibrasi ponsel Mbak Ikha.
"Ya, Pa, sebentar lagi. Ya, baiklah aku pulang sekarang."
"Mas Azzam, kita pulang sekarang ya," ucap Mbak Ikha. Terlihat dari raut wajahnya sedikit murung.
"Baiklah, apakah tadi yang nelpon Pak Haidan?" tanyaku penasaran.
"Iya, Mas."
Aku segera mengantarkan Mbak Ikha untuk pulang. Perasaanku tidak enak, apakah ini ada sangkut pautnya dengan masalah Pria yang bernama Amar itu?
Hanya tiga puluh menit mobil yang aku kendarai sudah berhenti di depan rumah mewah itu. Ternyata Firasatku benar, sebuah mobil mewah telah terparkir disana. Itu adalah mobil Pria yang bernama Amar. Aku segera membukakan pintu untuk Mbak Ikha.
Seperti biasanya aku hanya menunggu diluar. Mbak Ikha segera masuk kedalam rumah, meskipun perasaanku tidak enak, namun aku berusaha untuk tetap tenang.
Saat aku sedang ngobrol dengan Danang, Pak Tono datang menghampiri aku. Dia mengatakan bahwa aku dipanggil oleh Pak Haidan. Seketika hatiku semakin tak tanang.
"Azzam, kamu dipanggil oleh Tuan Haidan kedalam," ucap Pak Tono.
"Ada apa kira-kira ya, Pak?" tanyaku mencoba mencari tahu.
"Bapak kurang tahu, tapi tadi Tuan Haidan seperti sedang marah," jelas beliau.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu ya, Pak." Aku segera berjalan menuju pintu utama untuk sampai ke ruang tamu.
"Permisi, Pak. Apakah Bapak memanggil saya?" tanyaku pada lelaki yang memang di segani oleh masyarakat setempat. Aku melihat Mbak Ikha sedang menangis sembari menatap diriku.
"Mulai sekarang kamu saya pecat!" ucapnya dengan nada tinggi. Tentu saja aku sangat terkejut .
"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu apa kesalahan saya, Pak?" tanyaku ingin tahu alasannya.
"Kamu masih bertanya apa salahmu? Ada hubungan apa kamu dan putri saya?!" sentaknya yang membuat aku semakin tak mengerti.
"Saya dan Mbak Ikha tidak mempunyai hubungan apa-apa, Pak. Tolong percaya dengan saya," ucapku mencoba untuk menjelaskan.
"Benarkah? Tapi untuk apa kamu membawa putri saya kerumah kamu? Kenapa kamu sebagai supir lancang sekali?!" bentaknya kembali dengan nada berapi-api.
"Papa, aku sudah katakan bahwa aku yang ingin main kekediaman Mas Azzam. Tolong jangan pecat Mas Azzam, Pa, dia tidak tahu apa-apa," ujar Mbak Ikha memohon.
"Tidak! Mulai sekarang jangan pernah kamu menampakkan diri lagi di hadapan saya. Seharusnya kamu bercermin dulu. Kamu sama sekali tidak pantas untuk mendekati putri saya!"
"Papa cukup!" ujar Mbak Ikha masih membantah ucapan ayahnya.
Aku yang sedari tadi hanya diam, maka dengan hati legowo menerima segala keputusan Pria baya itu.
"Baiklah jika itu memang keputusan Bapak. Dan sungguh saya sudah berulang kali berkaca, Pak. Saya tahu orang seperti saya tidak akan pernah sepadan dengan putri Bapak. Kalau begitu saya permisi!"
Aku segera meninggalkan tempat itu, sekilas aku menatap lelaki yang bernama Amar tersenyum penuh kemenangan dihadapanku. Dengan langkah pasti aku keluar dari rumah yang aku rasa tak menyimpan ketenangan di dalamnya.
"Mas Azzam, tunggu!" panggil Mbak Ikha.
"Zulaikha, berhenti!" sanggah Pak Haidan dengan suara menggelegar. Namun gadis itu tak menghiraukan larangan sang Papa, dia tetap mengejar diriku yang sudah berada di teras rumah.
"Mas Azzam, tunggu dulu!"
"Mbak Ikha, ada apalagi? Tolong jangan buat Bapak memarahi kamu lagi," ucapku tak sampai hati melihat gadis itu masih meneteskan air mata.
"Mas, aku mohon jangan membenciku. Sungguh aku sangat bahagia bisa mengenal orang baik seperti dirimu. Maafkan atas segala sikap Papa," lirihnya dengan terisak. Hatiku semakin perih melihat dia menangis seperti itu.
"Mbak, Jangan menangis. Aku tidak apa-apa, tetaplah menjadi wanita yang rendah hati dan peduli dengan siapapun. Aku juga sangat senang bisa mengenal wanita sebaik dirimu. Aku pamit ya." Aku segera melangkah meninggalkan dirinya yang masih terpaku.
"Mas Azzam, apakah kamu masih mau berteman denganku?" ucapnya yang membuat langkahku kembali terhenti. Kubalikan tubuh untuk menghadap padanya.
"Tentu saja. Aku pamit ya, tetaplah tersenyum." Aku segera pergi dari kediaman itu.
Masih kudengar gadis itu menangis dengan tergugu. Hatiku semakin tak menentu. Ingin rasanya aku memeluk dirinya walau sesaat, namun aku tak mempunyai keberanian akan hal itu, tak ingin menambah masalah maka aku memutuskan untuk segera pergi.
Saat aku melewati gerbang rumah itu, aku melihat Pak Danang dan Pak Tono menatapku dengan wajah simpati. Mungkin mereka sudah tahu masalah yang sebenarnya.
"Pak, aku pamit pulang. Maaf sudah merepotkan Bapak. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya selama ini," ucapku pada Pak Tono.
"Maafkan Bapak yang tak bisa membantu dirimu, Nak Azzam," ucap Pria itu merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin ini memang salah saya yang tak pandai menjaga jarak dengan Mbak Ikha. Saya pamit." Aku segera keluar dari gerbang rumah itu.
Aku pulang dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa aku selalu memikirkan gadis itu. Rasa takut menyeruak dalam qalbu, bagaimana jika nanti lelaki itu kembali menyakitinya.
"Loh, kok tumben Abang cepat pulang?" tanya adik bungsuku.
Aku hanya diam, saat ini moodku sedang bermasalah sehingga aku tak menghiraukan pertanyaan Azizah.
Aku segera masuk kedalam kamar untuk menenangkan otakku yang sedang kacau. Tak ada yang aku pikirkan selain gadis cantik itu. Kuhempaskan tubuh diranjang usang, kucoba menghela nafas dalam untuk meredam perasaan yang tak menentu.
Malam sekitar pukul setengah delapan aku terbangun dari tidur, ternyata aku sudah melewatkan waktu magrib. Segera ku ayunkan langkah untuk menuju kamar mandi.
Saat aku keluar dari kamar, aku melihat Azhar baru saja pulang. Terlihat diwajahnya menyimpan lelah. Aku tidak tahu apa kegiatan adik keduaku saat ini, karena aku memang sibuk, maka kami jarang sekali ngobrol.
"Kamu baru pulang?" tanyaku.
"Iya, Bang. Kok tumben Abang sudah pulang jam segini?" tanyanya sembari menaruh tas ranselnya.
"Azhar, kenapa Abang lihat kamu selalu pulang malam, apakah kamu bekerja?"
"Ah, iya Bang. Aku bekerja di sebuah bengkel otomotif, hitung-hitung untuk mengembangkan ilmuku, Bang," jawabnya berusaha untuk tetap tersenyum.
Aku merasa semakin bersalah, kini aku sudah tak mempunyai pekerjaan. Bagaimana nasib adik-adikku. Aku hanya mengangguk segera berlalu dari hadapannya.
Selesai mandi dan menunaikan ibadah empat rakaat, aku ikut bergabung dengan kedua adikku yang sudah duduk menungguku di meja makan.
"Bang, ayo makan. Aku udah lapar," cicit Azizah dengan suara manjanya.
"Sabarlah, Dek. Sini biar Abang ambilkan buat kamu." Azhar mengisi piring aku dan Azizah.
Kami makan dengan tenang, sesekali suara celoteh adik bungsuku membuat aku ikut tersenyum.
"Bagaimana kuliah kamu, Zhar?" tanyaku disela-sela makan.
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, Bang. Bulan depan aku sudah mulai menyusun skripsi," jelasnya.
Jika Azhar sudah mulai menyusun skripsi, itu berarti sebentar lagi dia akan wisuda, dan tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Ah, aku tidak boleh menyerah, aku harus bisa membiayai sekolah adikku hingga dia lulus strata satu.
"Bang Azzam kok sedari tadi kelihatan murung?" tanya Azizah yang selalu memperhatikan aku.
"Azhar, Zizah, Abang ingin mengatakan sesuatu," ucapku tak sampai hati, namun aku harus memberi tahu agar mereka tak berharap.
"Apa, Bang?" tanya Azhar menatapku untuk meminta jawaban.
"Sebenarnya Abang sudah tam bekerja lagi," ujarku menunduk. Aku tak berani menatap wajah kecewa mereka.
"Sudahlah, Abang jangan berkecil hati. Mungkin hanya segitu rezeki yang Allah titipkan. Dan Abang tidak perlu memikirkan tentang biaya kuliah aku, karena banyak sedikitnya aku sudah menabung untuk biaya wisuda nanti," jelas Azhar.
Aku sangat bangga mempunyai saudara seperti mereka. Sungguh adik-adikku ini sangat pengertian. Dari dulu mereka sangat mengerti dengan kondisi dan keuangan kami sehingga jarang sekali mereka meminta sesuatu yang diluar kemampuanku.
Bersambung.....
Happy reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Santi Rizal
saudara yang saling menguatkan
2025-02-08
0
Bundanya Pandu Pharamadina
kalian bertiga pasti akan sukses dan bahagia
2024-04-27
0
momnaz
suka banget cerita nya bagus...ini novel kak othor ke 2 yg aku baca semangat 🤩
2023-10-31
1