Aku melihat cincin itu begitu indah dipandang mata, ah, entahlah, apakah aku yang sudah tergila-gila dengan orangnya sehingga apapun yang ia berikan akan tampak sangat berarti dan indah.
"Mas, ini sangat indah. Aku sangat suka," seruku tersenyum senang melihat perhiasan itu.
"Benaran kamu suka?" tanyanya meyakinkan.
"Sungguh aku sangat suka dengan modelnya, Mas, manis banget."
"Syukurlah bila kamu memang menyukainya. Tapi maaf ya, karena harganya tak seberapa," ucapnya dengan jujur.
"Aku tidak peduli dengan harganya, Mas, aku sangat bahagia diberikan oleh lelaki yang aku cintai."
"Terimakasih ya, Dek. Apakah kamu mau menggunakannya sekarang? Atau nanti saja aku pakaikan di depan kedua orangtuamu?" tawarnya yang membuat aku segera ingin menggunakan cincin pemberian lelaki sederhanaku itu.
"Sekarang saja, Mas." Aku ingin mengenakan benda itu sekarang juga. Aku ragu bila nanti Papa akan menerima pinangan Mas Azzam. Lebih baik aku terima sekarang daripada nanti Papa berlaku sesuatu atau merendahkan pemberian Mas Azzam di depanku.
"Baiklah, jika itu keinginan kamu. Sini jari manis kamu."
Dengan senang hati aku menyodorkan jari manisku dengan senyum mengembang saat lelaki itu menyematkan sebuah cincin tunangan di jari manisku. Ah rasanya kebahagiaan sedang meliputi rongga hatiku. Sungguh ini kali pertama aku menerima pinangan seorang lelaki yang benar-benar aku cintai dari hatiku yang paling dalam.
Tak terasa waktu begitu cepat berjalan saat kita sedang bersama dengan orang yang kita cintai. Waktu dua jam rasanya seperti hitungan menit. Kami memutuskan untuk pulang ke kediaman masing-masing. Aku akan bersiap menyambut kedatangan Mas Azzam.
"Hati-hati ya, Dek," ucap Mas Azzam setelah membukakan pintu mobil untukku.
"Sampai ketemu nanti, Mas. Aku tunggu kedatanganmu," balasku dengan senyuman.
"Baiklah, Sampai ketemu lagi."
Kami berpisah dan mengendarai kendaraan masing-masing. Rasa tak sabar untuk menunggu datangnya malam. Aku berharap sekali hubungan kami di resmikan oleh kedua orangtuaku.
Setibanya di rumah aku berpapasan dengan Papa yang juga baru pulang dari kantor.
"Baru pulang kamu?" tanya Papa
"Iya, Pa," jawabku singkat sembari menyalami tangannya, dan segera mendahului.
Aku segera naik kelantai dua menuju kamar, dan segera mandi untuk bersiap menunggu kedatangan calon imamku. Aku berharap semoga hati Papa melunak bisa menerima lamaran Mas Azzam. Agar aku tak perlu memainkan sandiwara itu.
Setelah menunaikan shalat magrib, aku menerima chat dari Mas Azzam bahwa mereka sudah menuju ke kediamanku. Segera aku berdandan tipis untuk menyambut kedatangan Pria yang aku cintai.
Entah kenapa jantungku berdegup tak menentu saat menunggu momen ini. Perasaanku bercampur baur. Cemas, takut, bahagia. Itulah yang aku rasakan. Aku segera turun kebawah. Kulihat Mama sedang mempersiapkan hidangan untuk menunggu kedatangan calon mantunya.
Saat aku ingin menghampiri Mama, namun kulihat Papa sudah terlebih dahulu berdiri di samping Mama.
"Banyak sekali hidangan, ada tamu ya?" tanya Papa mengamati hidangan yang telah terhidang.
"Iya, kan hari ini kita kedatangan calon mantu, Pa," jawab Mama dengan senyum simpul.
"Apa maksud Mama?" tanyanya dengan nada tak suka.
"Ya, walaupun kita tidak menyukainya, tapi setidaknya tamu itu harus di sambut dengan baik," balas Mama dengan santai.
"Terserah kamu saja! Aku tidak peduli!" Papa segera beranjak dengan kekesalannya.
Setelah Papa pergi, aku menghampiri Mama yang masih sibuk dengan Bibik.
"Ma, bagaimana ini?" tanyaku cemas.
"Tenanglah, jangan terlihat gugup kamu harus berakting dengan baik. Biarkan saja Papamu jangan hiraukan," jelas Mama berbisik.
Aku hanya mengangguk mengikuti perintah Mama. Kami berakting seolah tak ada sesuatu yang sedang kami rencanakan. Tak berselang lama terdengar suara bel. Aku bergegas membukakan pintu.
"Mas Azzam!" seruku melihat kedatangan Pria sederhanaku. Dan aku juga melihat kehadiran Azhar dan Azizah. "Ayo masuk, Dek," ucapku membawa mereka masuk.
Aku segera menemui Mama. Aku melihat Papa tak menampakkan batang hidungnya, mungkin dia sengaja menghindari kedatangan mereka. Namun sepertinya Mama tak menghiraukan.
"Ikha, bawa mereka untuk makan malam bersama dulu," titah Mama.
"Tapi, Ma?" ucapku ragu. Aku takut Papa akan menolak kedatangan mereka.
"Sudah jangan pikirkan. Biarkan Papa istirahat, itu lebih bagus untuk kita bisa makan bareng bersama mereka," jawab Mama. Aku selalu mendapat dukungan dari Mama sehingga aku berani melangkah sejauh ini.
Aku segera menghampiri mereka yang sudah duduk diruang tamu. Kulihat Azizah menatap sekeliling ruangan itu. Mungkin ada sesuatu yang ia kagumi dari bangunan tempat kediaman orangtuaku.
"Mas Azzam, Azhar, Azizah, ayo kita makan malam dulu," ucapku mengajak mereka.
"Tapi, Dek?" ucap Mas Azzam tampak ragu dan sungkan.
"Tidak apa-apa, Mas. Jangan kecewakan Mama karena mama sudah banyak masak untuk menunggu kedatangan kamu dan adik-adik," jelasku.
"Ayo Zizah," aku meraih tangan gadis remaja yang sempat menantang hubungan aku dan abangnya.
"Tapi, Kak, kami tadi sudah makan," tolaknya.
"Jangan menolak, please... Karena Mama Kakak sudah menyediakan semuanya. Ayo kita makan." Aku masih berusaha membawa mereka untuk makan malam bersama.
"Ayo, kita makan. Tak baik menolak rezeki," timpal Azhar. Aku begitu salut dengan jiwa dewasa calon adik iparku yang satu ini.
Akhirnya aku berhasil membawa mereka ke ruang makan. Mama yang sedang menata hidangan tersenyum ramah menyambut kedatangan keluarga baruku.
"Hai, kalian sudah datang. Ayo duduk, Nak," ucap Mama tampak senang dengan kehadiran mereka.
"Maaf kami merepotkan, Bu," ucap Mas Azzam merasa sungkan.
"Tentu saja tidak, Azzam. Ibu tidak repot sama sekali. Ayo ayo, ambil makanannya. Ikha tolong ambilkan untuk Azzam," titah Mama tersenyum ramah.
Dengan senang hati aku melayani calon suami dan kedua adik-adiknya. Kami makan dengan tenang. Walaupun mereka hidup sederhana, namun aku kembali dibuat salut dengan akhlak dan sopan santun mereka. Walaupun mereka tak mempunyai orangtua, tetapi Mas Azzam berhasil mendidik adik-adiknya menjadi orang yang beradab dan sangat pandai menghargai orang lain.
"Ayo makan yang kenyang, jangan malu dan sungkan anggap saja rumah sendiri," ucap Mama di sela-sela makan kami.
Aku sedikit heran, selama kami makan Papa tak keluar dari kamar. Apakah Papa sedang tidur? Ah, tak apa. Biarkan Papa istirahat agar tak ada kekacauan dengan makan malam kami.
Selesai makan, Mas Azzam dan kedua adiknya kembali keruang tamu. Aku kembali bicara pada Mama. Sedikit gelisah, jika Papa memang tak ingin menemui Mas Azzam, terus, bagaimana dengan drama yang akan aku perankan.
"Ma, bagaimana ini? Bagaimana jika Papa memang tak ingin menemui Mas Azzam?" tanyaku dengan cemas.
"Tenanglah, sekarang kamu pergi temani mereka. Biar Mama yang urus Papa kamu itu," jelas Mama yang segera beranjak menuju kamar utama.
Aku segera menuju ruang tamu untuk menemani mereka ngobrol sembari menunggu Papa datang. Aku mencoba untuk membawa Azizah ngobrol untuk menghilangkan kecanggungan.
Bersambung....
Happy reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Defi
Papanya Ikha kenapa gak2 keluar kamar ini, ga dikasih obat tidur kan sama istrinya 🤣
2023-06-10
2
Marliana MARLIANA
enak ya ikha ada Yang dukung geto apalagi sosok ibu yang mengandung kita...
2023-06-09
1
Sania aja
kira2 pak haidan, ngapain ya dikamarnya. atau dikasih obt tdr sma mama Nuril 🤭
2023-06-09
1