[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam

Aku melihat cincin itu begitu indah dipandang mata, ah, entahlah, apakah aku yang sudah tergila-gila dengan orangnya sehingga apapun yang ia berikan akan tampak sangat berarti dan indah.

"Mas, ini sangat indah. Aku sangat suka," seruku tersenyum senang melihat perhiasan itu.

"Benaran kamu suka?" tanyanya meyakinkan.

"Sungguh aku sangat suka dengan modelnya, Mas, manis banget."

"Syukurlah bila kamu memang menyukainya. Tapi maaf ya, karena harganya tak seberapa," ucapnya dengan jujur.

"Aku tidak peduli dengan harganya, Mas, aku sangat bahagia diberikan oleh lelaki yang aku cintai."

"Terimakasih ya, Dek. Apakah kamu mau menggunakannya sekarang? Atau nanti saja aku pakaikan di depan kedua orangtuamu?" tawarnya yang membuat aku segera ingin menggunakan cincin pemberian lelaki sederhanaku itu.

"Sekarang saja, Mas." Aku ingin mengenakan benda itu sekarang juga. Aku ragu bila nanti Papa akan menerima pinangan Mas Azzam. Lebih baik aku terima sekarang daripada nanti Papa berlaku sesuatu atau merendahkan pemberian Mas Azzam di depanku.

"Baiklah, jika itu keinginan kamu. Sini jari manis kamu."

Dengan senang hati aku menyodorkan jari manisku dengan senyum mengembang saat lelaki itu menyematkan sebuah cincin tunangan di jari manisku. Ah rasanya kebahagiaan sedang meliputi rongga hatiku. Sungguh ini kali pertama aku menerima pinangan seorang lelaki yang benar-benar aku cintai dari hatiku yang paling dalam.

Tak terasa waktu begitu cepat berjalan saat kita sedang bersama dengan orang yang kita cintai. Waktu dua jam rasanya seperti hitungan menit. Kami memutuskan untuk pulang ke kediaman masing-masing. Aku akan bersiap menyambut kedatangan Mas Azzam.

"Hati-hati ya, Dek," ucap Mas Azzam setelah membukakan pintu mobil untukku.

"Sampai ketemu nanti, Mas. Aku tunggu kedatanganmu," balasku dengan senyuman.

"Baiklah, Sampai ketemu lagi."

Kami berpisah dan mengendarai kendaraan masing-masing. Rasa tak sabar untuk menunggu datangnya malam. Aku berharap sekali hubungan kami di resmikan oleh kedua orangtuaku.

Setibanya di rumah aku berpapasan dengan Papa yang juga baru pulang dari kantor.

"Baru pulang kamu?" tanya Papa

"Iya, Pa," jawabku singkat sembari menyalami tangannya, dan segera mendahului.

Aku segera naik kelantai dua menuju kamar, dan segera mandi untuk bersiap menunggu kedatangan calon imamku. Aku berharap semoga hati Papa melunak bisa menerima lamaran Mas Azzam. Agar aku tak perlu memainkan sandiwara itu.

Setelah menunaikan shalat magrib, aku menerima chat dari Mas Azzam bahwa mereka sudah menuju ke kediamanku. Segera aku berdandan tipis untuk menyambut kedatangan Pria yang aku cintai.

Entah kenapa jantungku berdegup tak menentu saat menunggu momen ini. Perasaanku bercampur baur. Cemas, takut, bahagia. Itulah yang aku rasakan. Aku segera turun kebawah. Kulihat Mama sedang mempersiapkan hidangan untuk menunggu kedatangan calon mantunya.

Saat aku ingin menghampiri Mama, namun kulihat Papa sudah terlebih dahulu berdiri di samping Mama.

"Banyak sekali hidangan, ada tamu ya?" tanya Papa mengamati hidangan yang telah terhidang.

"Iya, kan hari ini kita kedatangan calon mantu, Pa," jawab Mama dengan senyum simpul.

"Apa maksud Mama?" tanyanya dengan nada tak suka.

"Ya, walaupun kita tidak menyukainya, tapi setidaknya tamu itu harus di sambut dengan baik," balas Mama dengan santai.

"Terserah kamu saja! Aku tidak peduli!" Papa segera beranjak dengan kekesalannya.

Setelah Papa pergi, aku menghampiri Mama yang masih sibuk dengan Bibik.

"Ma, bagaimana ini?" tanyaku cemas.

"Tenanglah, jangan terlihat gugup kamu harus berakting dengan baik. Biarkan saja Papamu jangan hiraukan," jelas Mama berbisik.

Aku hanya mengangguk mengikuti perintah Mama. Kami berakting seolah tak ada sesuatu yang sedang kami rencanakan. Tak berselang lama terdengar suara bel. Aku bergegas membukakan pintu.

"Mas Azzam!" seruku melihat kedatangan Pria sederhanaku. Dan aku juga melihat kehadiran Azhar dan Azizah. "Ayo masuk, Dek," ucapku membawa mereka masuk.

Aku segera menemui Mama. Aku melihat Papa tak menampakkan batang hidungnya, mungkin dia sengaja menghindari kedatangan mereka. Namun sepertinya Mama tak menghiraukan.

"Ikha, bawa mereka untuk makan malam bersama dulu," titah Mama.

"Tapi, Ma?" ucapku ragu. Aku takut Papa akan menolak kedatangan mereka.

"Sudah jangan pikirkan. Biarkan Papa istirahat, itu lebih bagus untuk kita bisa makan bareng bersama mereka," jawab Mama. Aku selalu mendapat dukungan dari Mama sehingga aku berani melangkah sejauh ini.

Aku segera menghampiri mereka yang sudah duduk diruang tamu. Kulihat Azizah menatap sekeliling ruangan itu. Mungkin ada sesuatu yang ia kagumi dari bangunan tempat kediaman orangtuaku.

"Mas Azzam, Azhar, Azizah, ayo kita makan malam dulu," ucapku mengajak mereka.

"Tapi, Dek?" ucap Mas Azzam tampak ragu dan sungkan.

"Tidak apa-apa, Mas. Jangan kecewakan Mama karena mama sudah banyak masak untuk menunggu kedatangan kamu dan adik-adik," jelasku.

"Ayo Zizah," aku meraih tangan gadis remaja yang sempat menantang hubungan aku dan abangnya.

"Tapi, Kak, kami tadi sudah makan," tolaknya.

"Jangan menolak, please... Karena Mama Kakak sudah menyediakan semuanya. Ayo kita makan." Aku masih berusaha membawa mereka untuk makan malam bersama.

"Ayo, kita makan. Tak baik menolak rezeki," timpal Azhar. Aku begitu salut dengan jiwa dewasa calon adik iparku yang satu ini.

Akhirnya aku berhasil membawa mereka ke ruang makan. Mama yang sedang menata hidangan tersenyum ramah menyambut kedatangan keluarga baruku.

"Hai, kalian sudah datang. Ayo duduk, Nak," ucap Mama tampak senang dengan kehadiran mereka.

"Maaf kami merepotkan, Bu," ucap Mas Azzam merasa sungkan.

"Tentu saja tidak, Azzam. Ibu tidak repot sama sekali. Ayo ayo, ambil makanannya. Ikha tolong ambilkan untuk Azzam," titah Mama tersenyum ramah.

Dengan senang hati aku melayani calon suami dan kedua adik-adiknya. Kami makan dengan tenang. Walaupun mereka hidup sederhana, namun aku kembali dibuat salut dengan akhlak dan sopan santun mereka. Walaupun mereka tak mempunyai orangtua, tetapi Mas Azzam berhasil mendidik adik-adiknya menjadi orang yang beradab dan sangat pandai menghargai orang lain.

"Ayo makan yang kenyang, jangan malu dan sungkan anggap saja rumah sendiri," ucap Mama di sela-sela makan kami.

Aku sedikit heran, selama kami makan Papa tak keluar dari kamar. Apakah Papa sedang tidur? Ah, tak apa. Biarkan Papa istirahat agar tak ada kekacauan dengan makan malam kami.

Selesai makan, Mas Azzam dan kedua adiknya kembali keruang tamu. Aku kembali bicara pada Mama. Sedikit gelisah, jika Papa memang tak ingin menemui Mas Azzam, terus, bagaimana dengan drama yang akan aku perankan.

"Ma, bagaimana ini? Bagaimana jika Papa memang tak ingin menemui Mas Azzam?" tanyaku dengan cemas.

"Tenanglah, sekarang kamu pergi temani mereka. Biar Mama yang urus Papa kamu itu," jelas Mama yang segera beranjak menuju kamar utama.

Aku segera menuju ruang tamu untuk menemani mereka ngobrol sembari menunggu Papa datang. Aku mencoba untuk membawa Azizah ngobrol untuk menghilangkan kecanggungan.

Bersambung....

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Papanya Ikha kenapa gak2 keluar kamar ini, ga dikasih obat tidur kan sama istrinya 🤣

2023-06-10

2

Marliana MARLIANA

Marliana MARLIANA

enak ya ikha ada Yang dukung geto apalagi sosok ibu yang mengandung kita...

2023-06-09

1

Sania aja

Sania aja

kira2 pak haidan, ngapain ya dikamarnya. atau dikasih obt tdr sma mama Nuril 🤭

2023-06-09

1

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!