Cukup lama kami duduk dalam kegelisahan menunggu kedatangan Papa. Akhirnya Papa menghampiri kami bersama Mama. Seketika jantungku berdegup kencang. Kulihat raut wajah Papa tampak tak bersahabat.
Papa segera menanyakan maksud kedatangan Mas Azzam. Dan Pria itu segera mengemukakan maksud dan tujuannya datang kesini. Papa tersenyum mengejek dan merendahkan ucapan calon suamiku itu.
Mas Azzam masih berusaha untuk meyakinkan Papa agar diberikan kesempatan. Namun Papa tetap keukuh dengan pendiriannya yang menolak lamarannya.
Karena merasa tak mempunyai kesempatan dan sepertinya aku dan Mama memang harus memulai akting di depan Papa. Aku menantang ucapan Papa. Dan aku mengatakan bahwa aku sedang hamil anaknya Mas Azzam.
Seketika ekspresi wajah Papa berubah, dia menyorotku dengan tajam. Aku berusaha untuk tetap tenang dan menangis mendrama. Aku juga melihat Mas Azzam dan kedua adiknya tampak begitu terkejut, namun dengan cepat aku mengedipkan mata padanya. Mas Azzam masih tampak bingung.
Papa ingin mengatakan sesuatu padaku, namun ia tak sanggup karena merasa nyeri di dadanya. Papa terduduk lemas diatas sofa, aku merasa iba, namun tak ada cara lain untuk kami tetap bersatu.
Setelah Mama membawa Papa ke kamar, aku segera memberitahukan sandiwara yang sedang kami perankan pada Mas Azzam dan kedua adiknya. Awalnya dia keberatan, namun aku menjelaskan bahwa ini semua demi kebaikan hubungan kami berdua. Dan Azhar cukup memahami dan memberi dukungan pada abangnya.
Akhirnya Mas Azzam menerimanya. Kami harus bersandiwara di depan Papa. Sekitar tiga puluh menit kami menunggu Mama keluar dari kamar. Mama menyampaikan bahwa Papa belum bisa memutuskan malam ini juga, karena jantungnya masih belum aman.
Akhirnya Mas Azzam memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Dia akan menunggu kabar aku dan Mama untuk selanjutnya. Setelah Mas Azzam pulang, kini tinggal aku dan Mama.
"Ma, bagaimana keadaan Papa?" tanyaku merasa cemas.
"Tidak apa-apa, Mama sudah berusaha untuk menenangkannya. Kamu tenang saja, mama akan berusaha untuk membujuknya nanti. Sekarang kamu istirahatlah."
"Baiklah, tapi aku takut terjadi sesuatu pada Papa, Ma," ucapku kembali. Sebenarnya tak sampai hati melihat kondisi Papa seperti itu, karena aku tahu bahwa Papa mempunyai serangan jantung ringan.
"Sudahlah, jangan cemas. Semua akan baik-baik saja. Kita harus melakukannya karena kita tak punya pilihan lain, karena Papamu itu benar-benar keras hati," jelas Mama tampak tegar, aku tahu Mama pasti lebih tak tega melakukan hal itu.
Aku hanya mengangguk sembari menyusut air mata yang sudah jatuh. Aku berdo'a agar kondisi Papa baik-baik saja.
"Aku istirahat dulu ya, Ma."
"Iya, Sayang." Mama mengecup keningku.
Malam ini aku tidak bisa memejamkan mata, hatiku masih berada dalam kegelisahan yang tak berkesudahan, aku masih memikirkan hal apa yang akan terjadi untuk selanjutnya. Apakah hubungan aku dan Mas Azzam akan tetap bertaha?
Entah jam berapa aku bisa menemui kantuk sehingga aku bangun kesiangan. Aku sengaja tak ke kampus, karena aku ingin mendengar keputusan Papa.
Setelah aku selesai mandi dan mengenakan pakaian santai. Aku turun kebawah untuk melihat keadaan Papa.
Saat aku turun, aku melihat Papa dan Mama sudah duduk santai di ruang keluarga. Sesaat tatapanku bertemu dengan Papa. Dia menatapku dengan raut wajah kecewa.
"Ikha, ayo duduk isni!" panggil Mama yang segera aku patuhi. Aku duduk berhadapan dengan kedua orangtuaku. Kulihat Papa hanya membuang muka. Sepertinya hatinya masih kecewa atas pengakuanku semalam.
"Papa, aku minta maaf," ucapku dengan suara tercekat.
"Suruh lelaki itu datang menghadap pada Papa!" titahnya dengan nada dingin.
"A-apakah Papa mengizinkan kami untuk menikah?" tanyaku tidak percaya. Sekilas aku menatap Mama, wanita kesayanganku itu hanya mengangguk tipis.
"Apakah ada lelaki lain yang mau menikahi wanita hamil seperti dirimu? Papa akan menikahkan kamu dengannya, tapi Papa tidak bisa memastikan bahwa Papa bisa menerimanya sebagai menantu. Apa yang Papa lakukan demi menjaga nama baik Papa!" ungkapnya dengan datar.
Hatiku terasa pilu, tapi tak apa. Aku yakin suatu saat nanti Papa pasti bisa menerima Mas Azzam, yang penting kami tetap bisa menikah dan hidup bersama. Aku yakin suatu saat Papa akan tahu bagaimana tulusnya Pria yang kini tak ia anggap itu.
"Dan satu lagi perlu Papa tekankan. Pernikahan kamu dan Azzam harus tertutup. Papa tidak ingin semua orang tahu bahwa kamu menikah dengan lelaki yang tak sederajat dengan kita. Mau dimana di letakkan wajah Papa bila semua orang tahu bahwa kamu menikah dengan lelaki miskin!" tekannya sekali lagi membuat batinku sakit. Namun aku masih berusaha untuk menerima segala persyaratannya.
Aku berusaha untuk tetap tegar dan tenang. Dengan cepat ku usap air mata yang memang tak dapat aku tahan. "Baiklah, Pa. Aku terima segala persyaratan Papa. Tapi aku yakin suatu saat Papa akan menerima dia sebagai menantu," ucapku meyakinkan lelaki yang kusebut sebagai Papa.
Aku segera menghubungi Mas Azzam untuk memintanya datang menghadap Papa. Aku menguatkan hati, demi kegigihan hati agar bisa hidup bersama orang yang aku cintai. Ku anggap ini semua adalah ujian cinta kami berdua.
Tak perlu begitu lama, kini Mas Azzam sudah sampai dikediamanku. Ku lihat dengan wajah tenang dan langkah pasti Mas Azzam menghadap pada Papa.
"Selamat pagi, Pak," ucapnya sembari mengulurkan tangan. Namun Papa tak bergeming, hanya Mama yang menerima uluran tangan calon mantunya itu dengan senyum lembut.
"Duduklah, Nak," ucap Mama mempersilahkan dengan nada ramah.
"Terimakasih, Bu," jawab Mas Azzam berusaha untuk tersenyum.
"Persiapkan dirimu, siang ini juga kamu nikahi Zulaikha!" titah Papa masih dengan Nanda dingin.
"Baik, Pak." Hanya itu yang diucapkan oleh Mas Azzam tanpa ada intrupsi apapun.
"Kamu jangan merasa senang karena telah berhasil mempersunting putri saya. Karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah menerima kehadiranmu sebagai menantu," ujar Papa menyampaikan secara langsung pada Mas Azzam.
"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin saat ini saya memang bukanlah menantu yang Bapak inginkan. Tapi saya akan buktikan bahwa saya juga bisa membuat putri Bapak bahagia dengan cara saya sendiri. Dan saya akan berusaha untuk tak membuat nama baik Bapak rusak dengan kehadiran saya di tengah-tengah keluarga Bapak," balas Mas Azzam dengan tenang.
Papa tak menyahut, ia segera beranjak meninggalkan kami yang masih duduk disana. Aku menatap Mas Azzam dengan tatapan sedih.
"Mas, maafkan segala ucapan Papa," lirihku yang kembali menjatuhkan air mata.
"Hei, kenapa kamu menangis, Sayang? Aku sama sekali tidak apa-apa. Tenanglah, aku baik-baik saja, Dek." Mas Azzam mengusap air mataku dengan lembut.
"Mas, berjanjilah, apapun ujian cinta kita, tolong jangan pernah menyerah ya. Jangan tinggalkan aku," lirihku dengan isakan.
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu, Dek. Aku akan selalu ada bersamamu," janji Pria sederhanaku itu.
Saat kami sedang berbincang, Mama datang menghampiri dan duduk di depan kami.
"Azzam, Mama harap kamu sabar menghadapi sikap Papa ya, Nak. Percaya dengan Mama, suatu saat nanti dia pasti bisa menerima kehadiranmu," ujar Mama meminta pengertian calon menantunya.
"Iya, Bu, saya tidak apa-apa. saya akan berusaha untuk memahami sikap Bapak," jawabnya dengan senyum tipis. Aku tahu walau bagaimanapun pasti hatinya merasa sedih dengan sikap yang Papa tunjukkan.
"Yasudah, sekarang kamu bersiap ya, karena siang ini kamu dan Ikha akan melangsungkan akad nikah," titah Mama.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang dulu untuk bersiap." Mas Azzam beranjak meninggalkan kediamanku.
Bersambung....
Happy reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
HRS CEPAT2 HAMIL TU IKHA, KLO GK CURIGA TU SI HAIDAN
2023-11-15
0
Marliana MARLIANA
bukti kan kalo mas azzam layak jadi mantu holang kaya...
2023-06-10
2
herdaize
Azzam yang penting kalian halal saja dulu perkara sang bapa mertua abaikan saja,toh nanti kalian kan tidak tinggal satu atap.💪💪💪😍😍
2023-06-10
1