[POV Zulaikha] Persyaratan Papa

Cukup lama kami duduk dalam kegelisahan menunggu kedatangan Papa. Akhirnya Papa menghampiri kami bersama Mama. Seketika jantungku berdegup kencang. Kulihat raut wajah Papa tampak tak bersahabat.

Papa segera menanyakan maksud kedatangan Mas Azzam. Dan Pria itu segera mengemukakan maksud dan tujuannya datang kesini. Papa tersenyum mengejek dan merendahkan ucapan calon suamiku itu.

Mas Azzam masih berusaha untuk meyakinkan Papa agar diberikan kesempatan. Namun Papa tetap keukuh dengan pendiriannya yang menolak lamarannya.

Karena merasa tak mempunyai kesempatan dan sepertinya aku dan Mama memang harus memulai akting di depan Papa. Aku menantang ucapan Papa. Dan aku mengatakan bahwa aku sedang hamil anaknya Mas Azzam.

Seketika ekspresi wajah Papa berubah, dia menyorotku dengan tajam. Aku berusaha untuk tetap tenang dan menangis mendrama. Aku juga melihat Mas Azzam dan kedua adiknya tampak begitu terkejut, namun dengan cepat aku mengedipkan mata padanya. Mas Azzam masih tampak bingung.

Papa ingin mengatakan sesuatu padaku, namun ia tak sanggup karena merasa nyeri di dadanya. Papa terduduk lemas diatas sofa, aku merasa iba, namun tak ada cara lain untuk kami tetap bersatu.

Setelah Mama membawa Papa ke kamar, aku segera memberitahukan sandiwara yang sedang kami perankan pada Mas Azzam dan kedua adiknya. Awalnya dia keberatan, namun aku menjelaskan bahwa ini semua demi kebaikan hubungan kami berdua. Dan Azhar cukup memahami dan memberi dukungan pada abangnya.

Akhirnya Mas Azzam menerimanya. Kami harus bersandiwara di depan Papa. Sekitar tiga puluh menit kami menunggu Mama keluar dari kamar. Mama menyampaikan bahwa Papa belum bisa memutuskan malam ini juga, karena jantungnya masih belum aman.

Akhirnya Mas Azzam memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Dia akan menunggu kabar aku dan Mama untuk selanjutnya. Setelah Mas Azzam pulang, kini tinggal aku dan Mama.

"Ma, bagaimana keadaan Papa?" tanyaku merasa cemas.

"Tidak apa-apa, Mama sudah berusaha untuk menenangkannya. Kamu tenang saja, mama akan berusaha untuk membujuknya nanti. Sekarang kamu istirahatlah."

"Baiklah, tapi aku takut terjadi sesuatu pada Papa, Ma," ucapku kembali. Sebenarnya tak sampai hati melihat kondisi Papa seperti itu, karena aku tahu bahwa Papa mempunyai serangan jantung ringan.

"Sudahlah, jangan cemas. Semua akan baik-baik saja. Kita harus melakukannya karena kita tak punya pilihan lain, karena Papamu itu benar-benar keras hati," jelas Mama tampak tegar, aku tahu Mama pasti lebih tak tega melakukan hal itu.

Aku hanya mengangguk sembari menyusut air mata yang sudah jatuh. Aku berdo'a agar kondisi Papa baik-baik saja.

"Aku istirahat dulu ya, Ma."

"Iya, Sayang." Mama mengecup keningku.

Malam ini aku tidak bisa memejamkan mata, hatiku masih berada dalam kegelisahan yang tak berkesudahan, aku masih memikirkan hal apa yang akan terjadi untuk selanjutnya. Apakah hubungan aku dan Mas Azzam akan tetap bertaha?

Entah jam berapa aku bisa menemui kantuk sehingga aku bangun kesiangan. Aku sengaja tak ke kampus, karena aku ingin mendengar keputusan Papa.

Setelah aku selesai mandi dan mengenakan pakaian santai. Aku turun kebawah untuk melihat keadaan Papa.

Saat aku turun, aku melihat Papa dan Mama sudah duduk santai di ruang keluarga. Sesaat tatapanku bertemu dengan Papa. Dia menatapku dengan raut wajah kecewa.

"Ikha, ayo duduk isni!" panggil Mama yang segera aku patuhi. Aku duduk berhadapan dengan kedua orangtuaku. Kulihat Papa hanya membuang muka. Sepertinya hatinya masih kecewa atas pengakuanku semalam.

"Papa, aku minta maaf," ucapku dengan suara tercekat.

"Suruh lelaki itu datang menghadap pada Papa!" titahnya dengan nada dingin.

"A-apakah Papa mengizinkan kami untuk menikah?" tanyaku tidak percaya. Sekilas aku menatap Mama, wanita kesayanganku itu hanya mengangguk tipis.

"Apakah ada lelaki lain yang mau menikahi wanita hamil seperti dirimu? Papa akan menikahkan kamu dengannya, tapi Papa tidak bisa memastikan bahwa Papa bisa menerimanya sebagai menantu. Apa yang Papa lakukan demi menjaga nama baik Papa!" ungkapnya dengan datar.

Hatiku terasa pilu, tapi tak apa. Aku yakin suatu saat nanti Papa pasti bisa menerima Mas Azzam, yang penting kami tetap bisa menikah dan hidup bersama. Aku yakin suatu saat Papa akan tahu bagaimana tulusnya Pria yang kini tak ia anggap itu.

"Dan satu lagi perlu Papa tekankan. Pernikahan kamu dan Azzam harus tertutup. Papa tidak ingin semua orang tahu bahwa kamu menikah dengan lelaki yang tak sederajat dengan kita. Mau dimana di letakkan wajah Papa bila semua orang tahu bahwa kamu menikah dengan lelaki miskin!" tekannya sekali lagi membuat batinku sakit. Namun aku masih berusaha untuk menerima segala persyaratannya.

Aku berusaha untuk tetap tegar dan tenang. Dengan cepat ku usap air mata yang memang tak dapat aku tahan. "Baiklah, Pa. Aku terima segala persyaratan Papa. Tapi aku yakin suatu saat Papa akan menerima dia sebagai menantu," ucapku meyakinkan lelaki yang kusebut sebagai Papa.

Aku segera menghubungi Mas Azzam untuk memintanya datang menghadap Papa. Aku menguatkan hati, demi kegigihan hati agar bisa hidup bersama orang yang aku cintai. Ku anggap ini semua adalah ujian cinta kami berdua.

Tak perlu begitu lama, kini Mas Azzam sudah sampai dikediamanku. Ku lihat dengan wajah tenang dan langkah pasti Mas Azzam menghadap pada Papa.

"Selamat pagi, Pak," ucapnya sembari mengulurkan tangan. Namun Papa tak bergeming, hanya Mama yang menerima uluran tangan calon mantunya itu dengan senyum lembut.

"Duduklah, Nak," ucap Mama mempersilahkan dengan nada ramah.

"Terimakasih, Bu," jawab Mas Azzam berusaha untuk tersenyum.

"Persiapkan dirimu, siang ini juga kamu nikahi Zulaikha!" titah Papa masih dengan Nanda dingin.

"Baik, Pak." Hanya itu yang diucapkan oleh Mas Azzam tanpa ada intrupsi apapun.

"Kamu jangan merasa senang karena telah berhasil mempersunting putri saya. Karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah menerima kehadiranmu sebagai menantu," ujar Papa menyampaikan secara langsung pada Mas Azzam.

"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin saat ini saya memang bukanlah menantu yang Bapak inginkan. Tapi saya akan buktikan bahwa saya juga bisa membuat putri Bapak bahagia dengan cara saya sendiri. Dan saya akan berusaha untuk tak membuat nama baik Bapak rusak dengan kehadiran saya di tengah-tengah keluarga Bapak," balas Mas Azzam dengan tenang.

Papa tak menyahut, ia segera beranjak meninggalkan kami yang masih duduk disana. Aku menatap Mas Azzam dengan tatapan sedih.

"Mas, maafkan segala ucapan Papa," lirihku yang kembali menjatuhkan air mata.

"Hei, kenapa kamu menangis, Sayang? Aku sama sekali tidak apa-apa. Tenanglah, aku baik-baik saja, Dek." Mas Azzam mengusap air mataku dengan lembut.

"Mas, berjanjilah, apapun ujian cinta kita, tolong jangan pernah menyerah ya. Jangan tinggalkan aku," lirihku dengan isakan.

"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu, Dek. Aku akan selalu ada bersamamu," janji Pria sederhanaku itu.

Saat kami sedang berbincang, Mama datang menghampiri dan duduk di depan kami.

"Azzam, Mama harap kamu sabar menghadapi sikap Papa ya, Nak. Percaya dengan Mama, suatu saat nanti dia pasti bisa menerima kehadiranmu," ujar Mama meminta pengertian calon menantunya.

"Iya, Bu, saya tidak apa-apa. saya akan berusaha untuk memahami sikap Bapak," jawabnya dengan senyum tipis. Aku tahu walau bagaimanapun pasti hatinya merasa sedih dengan sikap yang Papa tunjukkan.

"Yasudah, sekarang kamu bersiap ya, karena siang ini kamu dan Ikha akan melangsungkan akad nikah," titah Mama.

"Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang dulu untuk bersiap." Mas Azzam beranjak meninggalkan kediamanku.

Bersambung....

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

HRS CEPAT2 HAMIL TU IKHA, KLO GK CURIGA TU SI HAIDAN

2023-11-15

0

Marliana MARLIANA

Marliana MARLIANA

bukti kan kalo mas azzam layak jadi mantu holang kaya...

2023-06-10

2

herdaize

herdaize

Azzam yang penting kalian halal saja dulu perkara sang bapa mertua abaikan saja,toh nanti kalian kan tidak tinggal satu atap.💪💪💪😍😍

2023-06-10

1

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!