[POV Azzam] Ungkapan perasaan

Aku terdiam sejenak, apakah aku sedang bermimpi karena dipeluk oleh wanita yang bisa kuyakinkan hatiku telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Mas Azzam, kamu kemana saja? Kenapa kamu tidak pernah datang menemui aku, bahkan aku selalu datang kekediaman kamu, namun kamu tak pernah ada," racaunya dalam pelukanku.

Perasaanku semakin tak menentu saat mendengar ucapannya, dia mencariku? Untuk apa? Bahkan dia berharap aku datang menemuinya. Apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku?

Batinku bertanya-tanya. Ah, rasanya sulit sekali bagiku untuk mengeluarkan suara. Dengan perlahan tanganku membalas pelukannya. Tak bisa ku pungkiri bahwa aku sangat merindukannya.

"Tenanglah, jangan menangis lagi, karena semua akan baik-baik saja," ucapku menenangkan.

"Mas Azzam, aku ingin ikut denganmu. Bawa aku pergi kemanapun asalkan bersamamu. Aku tidak ingin tinggal dirumah itu lagi," lirihnya masih dengan tangisan.

Aku melerai pelukan, kutatap wajahnya yang masih penuh dengan air mata. "Kenapa Mbak bicara seperti itu?" tanyaku tidak paham.

Dia tak menjawab pertanyaanku, namun gadis ini semakin membuat aku hampir saja gila dibuatnya, dengan spontan dia mengecup bibirku. Tentu saja membuat aku tercengang dalam keterkejutan.

"Mas Azzam, apakah kamu tidak bisa melihat bahwa aku sudah jatuh cinta padamu saat pandangan pertama," ujarnya membuat aku benar-benar sulit bicara, bahkan untuk menelan air liur saja rasanya tercekat di tenggorokan.

"Mas, kamu kenapa diam saja? Bicaralah, Mas!" rengeknya dengan manja. Dia tidak tahu bagaimana sulitnya bagiku untuk menahan gejolak hormon kebahagiaan yang sedang meloncat-loncat dalam qalbuku.

"Mbak, apakah kamu tidak salah mengutarakan perasaanmu? Saya rasanya masih belum percaya, Mbak," ucapku menatap wajah cantik itu dengan dalam.

"Mas, aku serius. Aku tidak peduli kamu mau menganggapku sebagai wanita tak mempunyai harga diri, karena aku tidak sanggup memendam perasaan yang begitu besar untukmu," jelasnya kembali sembari merangkum kedua pipiku.

"Kenapa Mbak bicara seperti itu, saya tidak pernah menganggapmu rendah. Kamu tahu, sebenarnya saya ingin terlebih dahulu mengutarakan perasaan saya padamu. Tapi saya tidak berani, dan juga takut. Saya sadar bahwa kita tidak sepadan," ujarku menyampaikan yang sebenarnya agar dia tahu kenapa selama ini aku tak mengutarakan kalimat cinta itu padanya.

"Apakah benar apa yang aku dengar? Benarkah kamu mempunyai perasaan yang sama denganku, Mas?" tanyanya dengan mata berbinar.

"Ya, saya juga telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya merasakan jantung ini berasa ingin lompat saat menatap wajahmu yang cantik, dan ditambah sikapmu yang begitu ramah, juga baik hati."

Dia tersenyum bahagia mendengar ucapanku, kembali dia membenamkan wajahnya di dadaku. "Mas, aku sangat bahagia. Selama kita tidak bertemu apakah kamu merindukan aku?" tanyanya masih memelukku dengan erat.

"Tentu saja, semua karena rindu hingga kita kembali bertemu," jawabku sembari mengusap mahkotanya dengan lembut, kuberanikan mengecup keningnya.

"Mas?" panggilnya.

"Ya?"

"Apakah sekarang kita pacaran?" tanyanya membuatku tersenyum. Entahlah, sebenarnya aku ragu untuk mengiyakan. Namun perasaan tak akan bisa di dustai. Aku tak lagi memikirkan tentang larangan orangtuanya, maka aku meresmikan hubungan kami menjadi pasangan kekasih, meskipun aku tidak tahu bagaimana endingnya nanti.

"Apakah kamu mau menjadi kekasihku?" tanyaku yang tak lagi bicara begitu formal.

Dia kembali merenggangkan pelukannya. "Aku sangat ingin sekali. Jangan tinggalkan aku Mas," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.

"Apakah kamu siap menerima segala ending dari kisah cinta kita ini? Karena kamu sangat tahu bahwa orangtuamu tidak pernah bisa menerima kehadiranku di sisimu," jelasku.

"Mas, berjanjilah apapun yang akan terjadi, kamu jangan pernah tinggalkan aku." Dia memberikan jari kelingking untuk memintaku mengaitkan agar terbentuk sebuah perjanjian.

Aku tersenyum segera mengaitkan kelingkingku. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu," janjiku sembari membelai pipinya.

""Terimakasih ya, Mas."

Kami kembali saling berpelukan untuk meresapi kebahagiaan dalam hati kami masing-masing. Berharap hubungan ini akan bertahan hingga ke jenjang pernikahan. Aku tak peduli apapun resiko yang harus aku lewati.

"Kita pulang sekarang ya, nanti orang mikir yang aneh-aneh tentang kita," ujarku membawanya untuk pulang.

"Hmm, baiklah. Apakah Mas Azzam sudah makan?"

"Belum, tadi niatnya ingin cari makan siang, tapi langkah membawaku ke tempat dirimu," jawabku sembari merangkul bahunya berjalan keluar dari bangunan itu.

"Terimakasih ya, Mas," ucapnya kembali menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku hanya tersenyum menggandeng tangannya yang terasa begitu lembut dan mulus. "Mbak, kita naik motor nggak pa-pa 'kan?" tanyaku berharap dia tak keberatan.

"Aku tidak akan keberatan bila naik motor dengan kamu, Mas. Tapi ada satu hal yang membuatku keberatan..." Ucapnya menggantung.

"Apa itu, Mbak?" tanyaku tak mengerti.

"Yaitu, panggilan kamu itu lho, Mas. Tolong jangan panggil aku "Mbak" lagi. Sungguh aku merasa menjadi Mbak-Mbak tukang jamu," ujarnya dan aku terkekeh mendengarnya.

"Hahaha... Gitu amad, toh selama ini kamu biasa saja tak ada masalah," ledekku sembari mengusak rambutnya.

"Sekarang berbeda, Mas. Kita sudah menjadi pasangan kekasih. Masa ada pasangan panggil Mbak, Mas," protesnya dengan cibiran.

"Iya iya, aku paham. Kalau begitu aku panggil Dek Ikha saja, boleh nggak?" tanyaku minta pendapat.

"Boleh banget," jawabnya tersenyum malu.

"Yasudah, ayo naik. Pegangan yang kuat," ujarku mengambil kedua tangannya, lalu melingkarkan di pinggangku.

Kulihat dari kaca spion motor, dia hanya tersipu malu, namun dengan senang hati memeluk tubuhku dari belakang. Dengan hati bahagia aku melajukan kendaraan roda dua milikku.

"Dek, mau makan dimana?" tanyaku masih fokus mengemudi.

"Dimana saja, Mas. Yang penting makan berdua denganmu," jawabnya membuat aku tersenyum.

"Jangan terlalu mengandalkan cinta, Dek. karena tidak akan bisa membuatmu kenyang," godaku sembari menatap wajahnya dari kaca spion motor.

"Aku percaya Pria seperti dirimu tidak akan pernah membiarkan aku mati karena cinta. Karena aku tak minta apapun, walaupun makan sederhana tapi saling cinta dan mengasihi maka sudah cukup membuatku bahagia," jawabnya sembari menyandarkan kepalanya di bahuku dengan manja.

Ah rasanya dunia sudah menjadi milik kami berdua, kami benar-benar sedang dirundung bahagia. Hati kami seperti sedang di hinggapi ribuan kupu-kupu. Tak peduli kedepannya hubungan ini akan seperti apa. Yang jelas untuk saat ini kami tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Aku memilih sebuah rumah makan Padang yang ada di pinggiran jalan raya. Ku parkirkan motorku dengan motor yang lainnya.

"Ayo, Dek." Aku meraih tangannya, lalu menggandeng untuk masuk kedalam warung makan itu. Dia selalu tersenyum manis padaku, rasanya senyum itu ngalah-ngalahin madu satu botol.

Kutarik sebuah kursi untuknya. Kami duduk berhadapan. "Mau pesan apa, Dek?" tanyaku sambil berdiri ingin menemui pelayan rumah makan itu untuk meminta pesanan.

"Aku mau ikan nila bakar madu, Mas," ucapnya.

"Suka banget dengan madu, Dek, pantes senyum kamu selalu manis, bahkan lebih manis dari madu," godaku.

"Aiih, Mas Azzam, pinter banget ngerayunya." Wajahnya bersemu merah.

"Hahaha... Yaudah, tunggu bentar ya." Aku segera menemui pelayan rumah makan itu, dan meminta menu sesuai keinginan kami.

Bersambung.....

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Bahagia selalu Ikha dan Azzam.. Lanjut up thor

2023-06-05

3

herdaize

herdaize

perut mas Azzam banyak kupu-kupu 😀😀😀

2023-06-05

2

Syarifah

Syarifah

semangat ikha dan azzam

2023-06-05

1

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!