Aku terdiam sejenak, apakah aku sedang bermimpi karena dipeluk oleh wanita yang bisa kuyakinkan hatiku telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Mas Azzam, kamu kemana saja? Kenapa kamu tidak pernah datang menemui aku, bahkan aku selalu datang kekediaman kamu, namun kamu tak pernah ada," racaunya dalam pelukanku.
Perasaanku semakin tak menentu saat mendengar ucapannya, dia mencariku? Untuk apa? Bahkan dia berharap aku datang menemuinya. Apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku?
Batinku bertanya-tanya. Ah, rasanya sulit sekali bagiku untuk mengeluarkan suara. Dengan perlahan tanganku membalas pelukannya. Tak bisa ku pungkiri bahwa aku sangat merindukannya.
"Tenanglah, jangan menangis lagi, karena semua akan baik-baik saja," ucapku menenangkan.
"Mas Azzam, aku ingin ikut denganmu. Bawa aku pergi kemanapun asalkan bersamamu. Aku tidak ingin tinggal dirumah itu lagi," lirihnya masih dengan tangisan.
Aku melerai pelukan, kutatap wajahnya yang masih penuh dengan air mata. "Kenapa Mbak bicara seperti itu?" tanyaku tidak paham.
Dia tak menjawab pertanyaanku, namun gadis ini semakin membuat aku hampir saja gila dibuatnya, dengan spontan dia mengecup bibirku. Tentu saja membuat aku tercengang dalam keterkejutan.
"Mas Azzam, apakah kamu tidak bisa melihat bahwa aku sudah jatuh cinta padamu saat pandangan pertama," ujarnya membuat aku benar-benar sulit bicara, bahkan untuk menelan air liur saja rasanya tercekat di tenggorokan.
"Mas, kamu kenapa diam saja? Bicaralah, Mas!" rengeknya dengan manja. Dia tidak tahu bagaimana sulitnya bagiku untuk menahan gejolak hormon kebahagiaan yang sedang meloncat-loncat dalam qalbuku.
"Mbak, apakah kamu tidak salah mengutarakan perasaanmu? Saya rasanya masih belum percaya, Mbak," ucapku menatap wajah cantik itu dengan dalam.
"Mas, aku serius. Aku tidak peduli kamu mau menganggapku sebagai wanita tak mempunyai harga diri, karena aku tidak sanggup memendam perasaan yang begitu besar untukmu," jelasnya kembali sembari merangkum kedua pipiku.
"Kenapa Mbak bicara seperti itu, saya tidak pernah menganggapmu rendah. Kamu tahu, sebenarnya saya ingin terlebih dahulu mengutarakan perasaan saya padamu. Tapi saya tidak berani, dan juga takut. Saya sadar bahwa kita tidak sepadan," ujarku menyampaikan yang sebenarnya agar dia tahu kenapa selama ini aku tak mengutarakan kalimat cinta itu padanya.
"Apakah benar apa yang aku dengar? Benarkah kamu mempunyai perasaan yang sama denganku, Mas?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Ya, saya juga telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya merasakan jantung ini berasa ingin lompat saat menatap wajahmu yang cantik, dan ditambah sikapmu yang begitu ramah, juga baik hati."
Dia tersenyum bahagia mendengar ucapanku, kembali dia membenamkan wajahnya di dadaku. "Mas, aku sangat bahagia. Selama kita tidak bertemu apakah kamu merindukan aku?" tanyanya masih memelukku dengan erat.
"Tentu saja, semua karena rindu hingga kita kembali bertemu," jawabku sembari mengusap mahkotanya dengan lembut, kuberanikan mengecup keningnya.
"Mas?" panggilnya.
"Ya?"
"Apakah sekarang kita pacaran?" tanyanya membuatku tersenyum. Entahlah, sebenarnya aku ragu untuk mengiyakan. Namun perasaan tak akan bisa di dustai. Aku tak lagi memikirkan tentang larangan orangtuanya, maka aku meresmikan hubungan kami menjadi pasangan kekasih, meskipun aku tidak tahu bagaimana endingnya nanti.
"Apakah kamu mau menjadi kekasihku?" tanyaku yang tak lagi bicara begitu formal.
Dia kembali merenggangkan pelukannya. "Aku sangat ingin sekali. Jangan tinggalkan aku Mas," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apakah kamu siap menerima segala ending dari kisah cinta kita ini? Karena kamu sangat tahu bahwa orangtuamu tidak pernah bisa menerima kehadiranku di sisimu," jelasku.
"Mas, berjanjilah apapun yang akan terjadi, kamu jangan pernah tinggalkan aku." Dia memberikan jari kelingking untuk memintaku mengaitkan agar terbentuk sebuah perjanjian.
Aku tersenyum segera mengaitkan kelingkingku. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu," janjiku sembari membelai pipinya.
""Terimakasih ya, Mas."
Kami kembali saling berpelukan untuk meresapi kebahagiaan dalam hati kami masing-masing. Berharap hubungan ini akan bertahan hingga ke jenjang pernikahan. Aku tak peduli apapun resiko yang harus aku lewati.
"Kita pulang sekarang ya, nanti orang mikir yang aneh-aneh tentang kita," ujarku membawanya untuk pulang.
"Hmm, baiklah. Apakah Mas Azzam sudah makan?"
"Belum, tadi niatnya ingin cari makan siang, tapi langkah membawaku ke tempat dirimu," jawabku sembari merangkul bahunya berjalan keluar dari bangunan itu.
"Terimakasih ya, Mas," ucapnya kembali menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku hanya tersenyum menggandeng tangannya yang terasa begitu lembut dan mulus. "Mbak, kita naik motor nggak pa-pa 'kan?" tanyaku berharap dia tak keberatan.
"Aku tidak akan keberatan bila naik motor dengan kamu, Mas. Tapi ada satu hal yang membuatku keberatan..." Ucapnya menggantung.
"Apa itu, Mbak?" tanyaku tak mengerti.
"Yaitu, panggilan kamu itu lho, Mas. Tolong jangan panggil aku "Mbak" lagi. Sungguh aku merasa menjadi Mbak-Mbak tukang jamu," ujarnya dan aku terkekeh mendengarnya.
"Hahaha... Gitu amad, toh selama ini kamu biasa saja tak ada masalah," ledekku sembari mengusak rambutnya.
"Sekarang berbeda, Mas. Kita sudah menjadi pasangan kekasih. Masa ada pasangan panggil Mbak, Mas," protesnya dengan cibiran.
"Iya iya, aku paham. Kalau begitu aku panggil Dek Ikha saja, boleh nggak?" tanyaku minta pendapat.
"Boleh banget," jawabnya tersenyum malu.
"Yasudah, ayo naik. Pegangan yang kuat," ujarku mengambil kedua tangannya, lalu melingkarkan di pinggangku.
Kulihat dari kaca spion motor, dia hanya tersipu malu, namun dengan senang hati memeluk tubuhku dari belakang. Dengan hati bahagia aku melajukan kendaraan roda dua milikku.
"Dek, mau makan dimana?" tanyaku masih fokus mengemudi.
"Dimana saja, Mas. Yang penting makan berdua denganmu," jawabnya membuat aku tersenyum.
"Jangan terlalu mengandalkan cinta, Dek. karena tidak akan bisa membuatmu kenyang," godaku sembari menatap wajahnya dari kaca spion motor.
"Aku percaya Pria seperti dirimu tidak akan pernah membiarkan aku mati karena cinta. Karena aku tak minta apapun, walaupun makan sederhana tapi saling cinta dan mengasihi maka sudah cukup membuatku bahagia," jawabnya sembari menyandarkan kepalanya di bahuku dengan manja.
Ah rasanya dunia sudah menjadi milik kami berdua, kami benar-benar sedang dirundung bahagia. Hati kami seperti sedang di hinggapi ribuan kupu-kupu. Tak peduli kedepannya hubungan ini akan seperti apa. Yang jelas untuk saat ini kami tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Aku memilih sebuah rumah makan Padang yang ada di pinggiran jalan raya. Ku parkirkan motorku dengan motor yang lainnya.
"Ayo, Dek." Aku meraih tangannya, lalu menggandeng untuk masuk kedalam warung makan itu. Dia selalu tersenyum manis padaku, rasanya senyum itu ngalah-ngalahin madu satu botol.
Kutarik sebuah kursi untuknya. Kami duduk berhadapan. "Mau pesan apa, Dek?" tanyaku sambil berdiri ingin menemui pelayan rumah makan itu untuk meminta pesanan.
"Aku mau ikan nila bakar madu, Mas," ucapnya.
"Suka banget dengan madu, Dek, pantes senyum kamu selalu manis, bahkan lebih manis dari madu," godaku.
"Aiih, Mas Azzam, pinter banget ngerayunya." Wajahnya bersemu merah.
"Hahaha... Yaudah, tunggu bentar ya." Aku segera menemui pelayan rumah makan itu, dan meminta menu sesuai keinginan kami.
Bersambung.....
Happy reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Defi
Bahagia selalu Ikha dan Azzam.. Lanjut up thor
2023-06-05
3
herdaize
perut mas Azzam banyak kupu-kupu 😀😀😀
2023-06-05
2
Syarifah
semangat ikha dan azzam
2023-06-05
1