[POV Azzam] Rencana Ikha

Selesai sholat, aku memanggil kedua adikku untuk mengutarakan niatku yang ingin melamar Ikha besok malam. Awalnya mereka tampak ragu, namun demi melihatku tetap semangat, maka mereka memberiku dukungan.

"Jika memang itu keputusan Bang Azzam, maka kami tak bisa berbuat apa-apa selain mendukung segala usaha Abang. Semoga Allah beri kemudahan niat baik Abang," ucap Azhar.

"Aamiin, terimakasih atas dukungan kalian." Aku hanya bisa mengaminkan Do'a baik dari adik-adikku.

***

Kini hari yang aku tunggu telah tiba, malam ini dengan ditemani kedua adikku. Aku datang menyambangi kediaman anggota dewan itu untuk membuktikan keseriusanku pada kekasihku.

Aku disambut dengan raut wajah tak suka oleh Pak Haidan, namun berbeda dengan Bu Nuril yang tampak sedikit ramah.

"Ada keperluan apa kamu datang kesini?" tanya Pak Haidan dengan wajah datar.

"Maaf bila kedatangan saya telah lancang mengutarakan niat baik saya, yaitu untuk melamar putri Bapak," ucapku dengan tenang, aku berusaha menguasai hatiku agar tak gugup.

"Hahahaha.... Melamar putri saya! Kamu punya apa untuk putri saya? Apa yang akan kamu berikan untuk membuatnya bahagia?" tanya Pria baya itu dengan kekehan seperti sedang menghinaku, namun aku tetap tenang.

"Saya memang tidak mempunyai harta berlimpah, Pak, tapi saya berjanji akan membuat putri Bapak bahagia."

"Dengan apa kamu membuatnya bahagia? Apakah kamu kira putri saya akan kenyang dengan makan cinta? Apakah kamu kira dia tidak butuh uang untuk belanja memenuhi kebutuhan dirinya, dan kebutuhan lainnya?"

"Pak, tolong berikan saya waktu untuk membuktikan bahwa saya mampu untuk membahagiakan Ikha," ucapku memohon pengertian Pria itu.

"Tidak bisa! Lamaranmu saya tolak!" tegasnya yang membuat Ikha segera berdiri dari tempat duduknya.

"Kenapa Papa tidak memberikan Mas Azzam kesempatan? Kenapa Papa jahat sekali, aku tidak akan mau menikah dengan siapapun selain Mas Azzam!" sanggah Ikha dengan mata berkaca-kaca.

"Ikha tenanglah! Biar nanti Mama yang bicara dengan papamu," timpal Bu Nuril berusaha menenangkan gadis itu.

"Tidak ada bantahan atau intrupsi! Karena keputusan Papa sudah bulat. Bahwa kamu akan Papa nikahkan dengan Seno Putra Pak Guntur!" Balas Pria baya itu tetap dengan pendiriannya yang tak bisa di ganggu gugat.

"Tidak, aku tidak akan mau menikah dengan Pria manapun selain Mas Azzam! Karena aku sudah mengandung anaknya!"

Seketika aku terkesiap mendengar pernyataan gadis itu yang membuat otakku benar-benar sulit mencerna segala maksud dan tujuannya. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu? Apakah dia sengaja menggali kuburan sendiri? Ini benar-benar akan menjadi masalah besar.

"Apa kamu bilang?! Jangan mencoba-coba untuk membohongi Papa, Zulaikha!" bentak Pria itu dengan tatapan menyala. Aku yang tak tahu hanya bisa bingung harus berkata apa.

Kulihat Pak Haidan terduduk lemas di sofa. Bu Nuril segera membawa suaminya untuk masuk kedalam kamar. Namun aku merasa aneh karena wanita baya itu tak memperlihatkan sikap keterkejutannya dengan segala pengakuan putrinya.

"Ayo Pa, istirahat di kamar dulu. Kamu harus bisa mengendalikan amarahmu," ucap Bu Nuril pada suaminya.

"Tapi aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, Ma," lirih Pria itu sembari memegang dadanya.

"Sudahlah, Papa jangan memikirkan hal itu dulu. Sekarang lebih penting kesehatan kamu." Bu Nuril segera membantu suaminya berjalan masuk kamar.

Kini hanya tinggal kami berempat di ruang tamu ini. Aku segera menatap gadis itu yang masih berdiri dengan wajah tenang. Aku benar-benar tak habis pikir.

"Dek, apa ini?" tanyaku meminta jawaban.

"Sstth! Mas Azzam, Azizah, Azhar, aku mohon bantuan kalian, ini demi cinta kita, Mas. Tolong jangan katakan yang sebenarnya, agar kita tetap menikah. Sungguh aku tidak ingin menikah dengan Pria lain selain dirimu," ujarnya dengan suara pelan.

"Dek, kenapa kamu bisa nekat seperti ini?" tanyaku benar-benar tak habis pikir. "Bagaimana jika mereka meminta buktinya bahwa kamu memang hamil?"

"Kamu jangan pikirkan soal itu, Mas. Semua sudah aku bereskan dengan Mama," ucapnya yang membuat aku semakin tercengang.

"Maksud kamu?"

"Iya, ini bagian rencana aku dan Mama. Kamu tenang saja, karena Mama berada di pihak kita. Biar Mama yang akan bicara dengan Papa. Sekarang kamu disini dulu ya. Tunggu respon dari Mama," ujarnya kembali.

Aku dan adik-adikku hanya bisa saling pandang. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Azhar memukul bahuku dengan pelan

"Abang tenanglah, jika memang begini caranya untuk Abang bisa bersatu dengan Kak Ikha, maka jalani saja. Yang jelas kita sudah mencoba melalui jalan yang jujur dan benar, namun tak membuat Pak Haidan berubah pikiran, maka jalan salah yang akan menjadi pilihan terakhir, yang penting niat Abang dan kakak baik dan tulus."

Kembali adikku memberiku dukungan hingga membuat aku dengan ikhlas menerima jalan itu. Aku mengikuti arahan kekasihku untuk tetap duduk disana menunggu keputusan dari ayahnya.

Tak berselang lama terdengar pintu kamar terbuka, namun hanya Bu Nuril keluar dari sana. Wanita baya itu berjalan santai menghampiri kami yang masih duduk dalam kegelisahan.

"Ma, bagaimana?" tanya Ikha tak sabar.

"Papa masih belum bisa memberi keputusan, dan jantungnya masih belum stabil, jadi sekarang Nak Azzam pulang saja dulu. Mama akan berusaha untuk membujuk Papa," ucap Bu Nuril, terlihat raut wajahnya tenang.

Memang selama satu bulan aku bekerja, aku jarang sekali bertemu dengan beliau. Aku tidak menyangka bahwa Bu Nuril bisa menerimaku untuk menjadi menantunya.

"Bu, apakah Ibu memberi saya kepercayaan untuk bisa membahagiakan Ikha?" tanyaku pada wanita yang telah melahirkan kekasihku.

"Ibu percaya bahwa kamu mampu membahagiakan putri Ibu. Maka dari itu Ibu membantu kalian agar bisa bersatu. Tenanglah, semua akan berjalan baik-baik saja. Kamu tidak perlu ambil hati segala sikap dan ucapan Papa," ucapnya yang begitu menyentuh hatiku.

"Terimakasih banyak, Bu, aku akan buktikan bahwa aku mampu. Aku tidak akan membiarkan putri Ibu menderita." Aku mengambil tangan wanita itu dan menyalaminya dengan hati bahagia.

"Ya, ibu percaya kamu itu ibaratkan batang ubi, kemanapun kamu di jatuhkan maka akan tumbuh dengan sendirinya, maka dari itu Ibu tidak akan risau bila anak Ibu mati tak makan," ujarnya yang tak mampu membuat aku berkata-kata.

"Sekarang pulanglah, Nak, tunggu kabar dari ibu dan Ikha."

"Baik, Bu, sekali lagi terimakasih atas restu Ibu." Aku dan kekasihku tersenyum bahagia.

Maaf ya, Mas, hanya dengan cara ini membuat kita tetap bersama. Maaf bila sudah membuatmu terkejut," ucap Ikha padaku.

"Tidak apa-apa, Dek, jika ini memang yang terbaik, maka aku akan mengikuti sandiwara ini." Aku menggusal mahkota gadis itu dengan lembut. Tak pernah terbayangkan bahwa dia mempunyai pemikiran seperti ini.

Aku dan adikku pamit pada Bu Nuril dan Ikha. Sesuai intrupsi mereka, aku hanya menunggu kabar keputusan Pak Haidan.

Bersambung....

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

ga apa2 salah diawal Azzam, terpenting tujuannya sama yaitu untuk kalian bisa bersatu 🤭

2023-06-10

2

herdaize

herdaize

Azzam, banyak untuk menuju Roma klo memang itu jalur yang mesti kamu tempuh jalani saja ya 😍😍💪💪💪

2023-06-08

1

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!