POV Author
Setelah menerima telpon dari Mama, Ikha dan keluarga barunya segera menuju meja makan.
"Mama bilang apa, Dek?" tanya Azzam sembari mengekor dibelakang istrinya.
"Mama tanyain apakah kita jadi nginap di sini," jawab Ikha dengan jujur.
"Jadi kita beneran tidur disini?" tanya Azzam memastikan.
"Iya, kita tidur disini Mas."
"Kamu yakin bisa tidur di kasur sederhana yang tak ada pendingin ruangan?" tanya Azzam.
"Yakinlah, emang kamu kira aku tidak bisa hidup dalam kesederhanaan. Aku malah nyaman hidup seperti ini, Mas," ungkapnya dengan yakin.
Saat pada itu sedang ngobrol di meja makan, terdengar ucapan salam dari Azhar yang baru saja pulang, pasangan itu menjawab salam dari sang adik secara bersamaan.
"Maaf ya, Bang, Kak, aku telat. Soalnya tadi ada pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan jadi harus diselesaikan dulu," ucap Azhar sembari menyalami tangan Abang dan Kakak iparnya.
"Iya, nggak pa-pa, Zhar. Tapi sibungsu yang udah nggak sabaran nungguin kamu, katanya udah lapar," timpal Ikha dengan senyum.
"Mana dia, Kak?" tanya Azhar tak melihat gadis itu.
"Di kamar lagi belajar mungkin, biar Kakak panggil." Ikha segera beranjak menuju kamar adik perempuan dari suaminya itu.
"Azizah! Ayo kita makan, Bang Azhar udah pulang tuh!" panggil Ikha dari luar.
"Iya, Kak!" Gadis remaja itu segera keluar dari kamarnya.
"Kok lama banget Abang pulangnya?" tanya Zizah pada Azhar.
"Iya, maaf ya. Tadi ada pekerjaan yang harus Abang selesaikan.
Keluarga kecil itu makan dengan tenang dan penuh kehangatan. Sesekali ocehan Azizah membuat Azhar dan Azzam ikut tertawa.
"Oya, kebetulan Abang disini. Apakah besok Abang punya waktu? Karena besok aku wisuda," ucap Azhar yang begitu mendadak memberitahu pada Abangnya.
"Apa? Kamu besok wisuda?" tanya Azzam terkejut.
"Iya, Bang."
"Kenapa kamu mendadak seperti ini kasih tahunya, Zhar?" tanya Azzam tak habis pikir.
"Hehe... Soalnya aku ingin kasih kejutan buat kalian," jawabnya cengengesan.
"Ish, itu bukan kejutan tau, mana besok aku harus ngumpulin tugas di sekolah. Kalau Abang kasih kabarnya mendadak seperti ini, jadinya aku harus alasan apa untuk izin," ocehan Azizah pada Abang keduanya itu.
"Hehe... Nggak pa-palah, Dek, minta izin satu hari. Masa kamu nggak mau datang di acara wisuda Abang?" ucap Azhar pada sang adik.
"Iya deh, besok aku izin," jawab Zizah.
Selesai makan, mereka ngobrol di ruang keluarga. Azhar mengutarakan bahwa dirinya telah di rekrut oleh cabang dealer otomotif tempatnya ia bekerja sekarang, namun ia harus pindah kerja di luar kota.
"Jadi menurut Abang dan Kak Ikha gimana? Apakah aku ambil tawaran itu?" tanyanya meminta pendapat pada Abang dan Kakak iparnya.
"Terus kalau Abang kerja diluar kota aku bagaimana?" tanya Azizah tampak keberatan.
Azhar dan Azzam saling pandang. Tak mungkin mereka harus membiarkan sang adik tinggal sendirian.
"Lebih baik ambil saja, Zhar. Nanti Zizah biar tinggal sama kami," ucap Ikha memberi solusi.
"Apakah Zizah setuju?" tanya Azhar meminta persetujuan gadis remaja itu.
"Iya, Dek, kamu tinggal sama Abang dan Kak Ikha saja ya," bujuk Azzam.
"Tapi, Bang?" tanyanya ragu.
"Tidak apa-apa, Dek. Kalau kamu keberatan meninggalkan rumah ini. Maka Kakak dan Abang yang akan tinggal disini menemanimu.
"Kakak serius?" tanya Zizah tampak senang.
"Serius dong," jawabnya yakin.
"Kamu yakin ingin tinggal disini, Dek?" tanya Azzam pada istrinya.
"Aku yakin, Mas. Aku rasa kita lebih nyaman tinggal disini. Agar hubungan kita dengan papa tetap membaik."
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi aku tidak yakin jika papa mengizinkan kamu untuk tinggal di tempat sederhana ini."
"Nanti aku akan bicara sama Mama dan Papa."
Setelah bersepakat, Azhar dan Azizah pamit untuk istirahat. Karena besok mereka akan menghadiri acara kelulusan pria yang berusia dua puluh empat tahun itu.
***
Pagi ini Azzam pulang kekediaman orangtua istrinya untuk bersiap sebelum berangkat ke kampus, karena Ikha harus menukar pakaiannya, kemarin ia tak membawa ganti lebih.
Saat mereka baru masuk, mereka berpapasan dengan papa Hadian yang hendak kekantor. Ikha dan Azzam hendak menyalami tangannya, namun lelaki itu menepisnya seakan tak sudi.
"Ikha menatap dengan wajah sedih. Kenapa sikap papa begitu dingin dan acuh. Bahkan ia tak pernah melihatnya tersenyum.
"Kalian sudah pulang?" tegur Mama menghampiri anak dan menantunya.
"Iya, Ma," sahut Azzam menyalami wanita baya itu.
"Ikha, kamu kenapa, Nak?" tanya Mama yang melihat putrinya sudah menitikkan air mata.
"Ma, kenapa sekarang papa tak ingin lagi bicara padaku? Apakah aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar?" tanya sembari berhambur masuk kedalam pelukan Mama.
"Ssstth... Jangan bicara seperti itu. Untuk saat ini biarkan papa menenangkan pikirannya. Jangan sedih, Mama akan selalu ada di pihak kalian. Sudahlah, ayo sekarang kalian sarapan dulu," ucap Mama berusaha membesarkan hati putrinya.
"Kami tadi sudah sarapan, Ma. Aku dan Mas Azzam ingin menghadiri acara wisuda adiknya Azhar," jelas ikha pada sang Mama.
"Oh, baiklah. Pergilah bersiap, nanti kalian terlambat. Oya, sampaikan ucapan selamat dari Mama untuk adikmu, dan semoga ilmu yang didapat bermanfaat," ucap Mama memberi do'a.
"Aamiin, terimakasih do'anya Ma."
Azzam dan Ikha segera menuju kamar untuk bersiap menghadiri acara wisuda sang adik. Tak perlu lama, kini pasangan itu kembali berpamitan dengan Mama.
Pasangan itu telah sampai di universitas negeri tempat Azhar menuntut ilmu selama empat tahun hingga ia berhasil meraih gelar sarjana.
Saat mereka ingin masuk ke gedung, tetiba tatapan mereka tertuju oleh seorang wanita. Azzam dan Ikha saling pandang melihat wanita itu tersenyum bahagia dan begitu akrab dengan Azhar.
"Apakah mereka pacaran?" tanya Ikha pada sang suami.
"Mana aku tahu, Dek. Anak itu tidak pernah cerita tentang hubungannya," jawab Azzam yang sebenarnya tak kalah terkejut.
"Nadine!" panggil Ikha pada wanita yang satu kampus dengannya namun beda jurusan.
"Hai, Kak Zulaikha! Loh, Kakak kok disini?" tanya Nadine tampak heran.
"Kak Ikha dan Nadine sudah saling kenal?" tanya Azhar.
"Ya, kami satu kampus," jawab Ikha.
"Kakak dan Azhar ada hubungan apa?" tanya gadis itu semakin tak mengerti.
"Ah, Nadine, sepertinya kita perlu bicara. Tapi nanti, karena sekarang acara hampir dimulai," ujar Ikha pada gadis itu.
"Baiklah kalau begitu."
Kini mereka bersama masuk kedalam gedung perkuliahan itu untuk segera menghadiri upacara peneguhan bagi seseorang yang telah menempuh pendidikan akademik.
Acara demi acara mereka saksikan hingga pada waktunya para rektor memberi apresiasi dengan cara memindahkan tali toga tanda kelulusan bagi mahasiswa/i mereka telah berhasil meraih sarjana.
Bersambung....
Happy reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
shylia
aku mampir ka dew...bagus ceritanya aku suka...🫰👍
2023-06-13
3
Marliana MARLIANA
bakalan seru nech part selanjutnya udah masuk konfliknya...
2023-06-13
2
herdaize
Mulai perlahan terungkap pernikahan kalian ya Azzam 💃💃😍😍
2023-06-13
4