[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik

Dengan perasaan gugup aku menerima uluran tangan gadis cantik bermata coklat itu. Senyum manis membingkai di bibirnya dan dihiasi oleh lubang yang ada dikedua pipinya.

"Nama saya, Azzam." Ku paksa bibirku untuk membalas senyum indah itu.

"Oh, kalau begitu aku panggil Mas Azzam saja ya," balasnya masih dengan senyuman.

"Boleh, terserah Mbak saja," jawabku mengangguk patuh.

"Jangan jawab terserah, nanti kalau aku panggil terserah gimana?" candanya yang membuat jantungku semakin tak menentu. Rasanya aku benci sekali dengan perasaan ini.

"Hehe... Mbak bisa saja." Aku hanya menjawab dengan tawa kecil sembari membukakan pintu untuknya.

Setelah meyakinkan bahwa dia duduk dengan nyaman, aku segera mengendarai mobil matic keluaran baru itu. Di perjalanan kami hanya diam. Tak ada ucapan yang keluar dari bibir kami masing-masing, tentu saja, lagian apa yang ingin dibicarakan oleh majikan dengan seorang supir.

Tiga puluh menit mobil yang aku kendarai sudah menepi disebuah universitas ternama di kota itu. Aku segera turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk Mbak Zulaikha.

"Silahkan Mbak," ucapku dengan ramah.

"Terimakasih ya, Mas." Kembali senyum manis itu ia ukirkan.

"Ah, Mbak?" panggilku membuat wanita itu menghentikan langkahnya.

"Ya?" dia menoleh menghadap kembali padaku.

"Apakah saya harus menunggu disini?" tanyaku yang belum mengerti.

"Oh, iya, Mas Azzam tunggu saja disini. Aku tidak lama kok, hari ini cuma ada satu mata kuliah," jawabnya yang begitu ramah.

Aku hanya mengangguk patuh mengikuti perintahnya. Gadis itu segera berlalu masuk kedalam gedung perkuliahan. Aku masih berdiri mengamati bangunan dan segala perkarangannya. Ah, andai saja aku mempunyai rezeki yang cukup, maka aku juga ingin kuliah di tempat ini.

Mudah-mudahan saja suatu saat nanti Allah menjawab segala Do'a-do'a yang selama ini aku langitkan. Untuk saat ini aku hanya akan fokus pada pendidikan kedua adikku. Tak mengapa bila aku tak bisa meneruskan pendidikan asalkan kedua adikku menjadi orang sukses.

Tak banyak yang aku lakukan ditempat ini. Aku hanya duduk di pelataran yang tak berapa jauh dari parkiran sembari menatap orang yang lalu lalang. Getaran ponsel membuyarkan keseoranganku.

"Assalamualaikum, Bang" ucap adikku sibungsu.

"Wa'alaikumsalam, ada apa, Dek?"

"Bang, hari ini adalah pengambilan rapor. Kenapa Abang tidak datang? Bukankah tadi Abang janji akan hadir, kalau Abang tidak mewakili, maka rapor aku tidak diberikan," jelas Azizah dengan nada sedikit kesal.

"Astaghfirullah, Abang benar-benar lupa, Dek, kalau begitu Abang akan kesana sekarang ya. Kamu tunggu sebentar." Aku segera mematikan sambungan dan bergegas untuk menuju parkiran.

"Mas Azzam!" panggil seseorang, aku segera menoleh.

"Eh, Mbak." dengan langkah pasti Mbak Zulaikha menghampiri aku.

"Ayo jalan sekarang, Mas," ajaknya yang ingin segera masuk kedalam mobil. Namun kali ini dia menduduki kabin disamping driver.

"Loh, Mbak, kenapa duduk di depan?" tanyaku merasa tidak paham.

"Kenapa, Mas? Apakah aku tidak boleh duduk didepan? Tidak ada larangan, bukan?" tanyanya yang membuat aku tak tahu harus menjawab apa.

"Ah, baiklah. Oya, Mbak, saya mau minta izin sebentar untuk ke sekolah adik saya untuk mengambil rapornya. Apakah Mbak ingin saya antar lebih dulu?" tanyaku yang sebenarnya sudah merasa sedikit gelisah karena Azizah pasti lama menunggu.

"Oh, yaudah kita langsung ke sekolah saja, Mas," jawabnya yang begitu pengertian.

"Mbak tidak apa-apa?" tanyaku sedikit sungkan.

"Iya tidak apa-apa, Mas. Karena aku tidak ada keperluan penting lagi."

Aku hanya mengangguk dan segera melajukan kendaraan roda empat itu menuju sekolah adikku. Setibanya disana, aku melihat ruang pengambilan rapor sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa orangtua murid yang sedang berbincang dengan wali kelasnya membahas tentang kenakalan anak-anak mereka.

Aku sedikit was-was, semoga Azizah tidak mendapatkan teguran dari guru atas kenakalannya. Saat aku berada didepan ruangan itu, terlihat senyum adik bungsuku mengembang dan segera menghampiri aku.

"Abang kenapa lama sekali?" bisiknya sembari menarik tanganku untuk masuk.

"Maaf ya, Abang benar-benar lupa."

"Yaudah, ayo sekarang temui wali kelas aku Bang." Aku segera menuju meja dimana Bu Guru sedang berbincang dengan wali murid yang lain. Aku masih diam membiarkan sang guru menyelesaikan perbincangan mereka.

"Bapak orangtua siapa?" tanya Bu guru sembari menyuruhku untuk duduk.

"Saya Azzam, Kakak dari Azizah, Bu," jawabku memperkenalkan diri.

"Oh, Kakak Azizah, jadi Azizah mempunyai Kakak selain Azhar ya?" tanya Bu guru yang tahu hanya Azhar kakaknya Azizah, karena selama ini aku sibuk maka Azharlah yang selalu menjadi wali sibungsu kami.

"Iya, Bu, saya Kakak tertua dari kedua adik saya."

"Ya ya, silahkan di tanda tangani." Bu guru menyodorkan buku absen pengambilan rapor padaku.

"Alhamdulillah nilai Azizah sangat baik, dan Ibuk berharap Azizah tetap mempertahankan dan meningkatkan lagi untuk lebih giat dalam belajar. Dan ini hadiah juara 1 yang berasil diraih olehnya," jelas Bu guru sembari menyerahkan sebuah bungkusan berwarna coklat, dan juga terselip amplop disana.

"Alhamdulillah, terimakasih banyak atas apresiasinya, Buk. Semoga kedepannya akan lebih baik lagi." Sungguh aku sangat bangga dengan prestasi yang diraih oleh adikku.

Setelah selesai pengambilan rapor, aku dan Azizah segera beranjak. Kulihat gadis remaja itu selalu tersenyum, ditambah lagi ia mendapatkan uang dari pihak sekolah yang menghargai setiap murid yang berprestasi sebagai reward karena mereka bersungguh-sungguh dalam belajar.

"Seneng banget," ledekku sembari merangkul bahu adik kecilku.

"Iya dong, Bang. Nggak nyangka aja bisa dapat juara satu. Oya, Abang kesini naik apa?" tanya Azizah.

"Tadi Abang pake mobil majikan Abang, orangnya juga ikut, dia lagi nunggu di mobil."

"Oh, dimana mobil majikan Abang? Apakah aku boleh nebeng pulang?" tanya gadis itu sembari tersenyum.

"Ah, sepertinya Abang harus buru-buru, kamu naik taksi aja ya, Dek, nggak enak juga, ini hari pertama Abang bekerja," jelasku pada sang adik agar bisa mengerti.

"Oh yaudah, Bang. Kalau begitu aku pesan taksi online dulu ya, Bang." Beruntungnya gadis kecilku itu sangat pengertian.

Aku membiarkan adikku duduk di halte sekolah sembari menunggu taksi yang sedang di pesan, sementara itu aku kembali menuju parkiran.

"Maaf ya, Mbak agak lama," ucapku merasa tidak enak.

"Iya tidak apa-apa, Mas. Mana adiknya?" tanya Mbak Zulaikha.

"Ah, itu lagi nunggu taksi Mbak."

"Loh, kenapa nunggu taksi? Kenapa tidak diantarkan pulang sekalian?"

"Ta-tapi, Mbak?"

"Nggak pa-pa, Mas. Udah, ayo kita antar adik Mas Azzam pulang dulu."

Aku sesaat menatap wanita cantik yang begitu baik. Ternyata dia tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Aku hanya mengangguk segera menjalankan mobil dan menghampiri Azizah yang masih duduk disana.

"Dek, ayo masuk!" seruku padanya.

Azizah tersenyum manis sembari berjalan mendekati aku. "Tapi aku sudah pesan taksi Bang."

"Dibatalkan saja, Dek!" sambung Mbak Zulaikha.

"Apakah aku boleh naik mobil ini, Kak?" tanya adikku begitu polos.

"Ya, tentu saja, ayo masuklah."

Azizah tersenyum dengan wajah sumringah, entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin kali ini dia bisa menaiki mobil mewah.

"Hai Kak, nama aku Azizah," ucapnya menyalami tangan gadis yang ada disampingku.

"Hai, nama aku Zulaikha. Kamu bisa panggil aku Kak Ikha."

"Baiklah, terimakasih untuk tumpangannya, Kak." Azizah segera menduduki kabin belakang.

Bersambung....

Happy reading 🥰

Terpopuler

Comments

Bundanya Pandu Pharamadina

Bundanya Pandu Pharamadina

Azzam, Azhar, Azizah, Zulaikha, nama² yg bagus pilihan mbak Author 👍❤

2024-04-27

0

Mommy QieS

Mommy QieS

Sekuntum gift 🌹 n vote Mingguan untuk mu, kak.

2023-07-10

2

Mommy QieS

Mommy QieS

falling in love si Azzam 😁😁

2023-07-10

0

lihat semua
Episodes
1 [POV Azzam] Hari pertama bekerja
2 [POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3 [POV Azzam] Menasehati batinku
4 [POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5 [POV Azzam]Melindunginya
6 [POV Azzam] Di pecat
7 [POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8 [POV Azzam] Ungkapan perasaan
9 [POV Azzam] Ketahuan
10 [POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11 [POV Azzam] Niat meminang
12 [POV Azzam] Rencana Ikha
13 [POV Zulaikha] Keinginan Papa
14 [POV Zulaikha] Ngobrol sore
15 [POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16 [POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17 [POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18 [POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19 [POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20 Perubahan sikap Papa
21 Ancaman Papa
22 Pergi dari rumah
23 Kembali berseteru
24 Ulang tahun Papa
25 Hinaan keluarga Haidan
26 Menerima tawaran
27 Bersiap untuk pergi
28 Hilang kontak
29 Kesedihan Ikha
30 Kesedihan Ikha 2
31 Pergi
32 Kembali kuliah
33 Wisuda
34 Maafkan aku
35 Perjanjian
36 Calon suami baru
37 Terasa mimpi
38 Bercerita
39 Suntikan dana
40 Teringat kembali
41 Mengetahui tentang Azzam
42 Mulai menyelidiki
43 Mulai mengingat
44 Kejadian
45 Kembali ingatannya
46 Tidak boleh lemah
47 Kabar baik
48 Ingin melahirkan
49 Lahiran
50 Apakah kamu tidak malu?
51 Rencana Sean
52 Perangai Ikha
53 Gagal pergi
54 Rencana jahat
55 Mengetahui
56 Percakapan Sean dan Haidan
57 Bertemu Zizah
58 Pulang kerumah
59 Kembalinya ingatan
60 Bertemu Azhar
61 Memberi pertolongan pada Nadine
62 Bantuan Papa Seno
63 Kekhawatiran Azhar
64 Pertengkaran
65 Penyesalan Azizah
66 Kekecewaan Rehan
67 Sikap Rehan berubah
68 Bertemu para pengecut
69 Rencana busuk mereka
70 Diringkus
71 Jalan-jalan berdua
72 Kelakuan Rani
73 Kemarahan Jay
74 Baikan
75 Menikah
76 Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77 ENDING
Episodes

Updated 77 Episodes

1
[POV Azzam] Hari pertama bekerja
2
[POV Azzam]Ternyata dia sangat baik
3
[POV Azzam] Menasehati batinku
4
[POV Azzam] Sikapnya yang aneh
5
[POV Azzam]Melindunginya
6
[POV Azzam] Di pecat
7
[POV Azzam] Kembali menyelamatkan
8
[POV Azzam] Ungkapan perasaan
9
[POV Azzam] Ketahuan
10
[POV Azzam] Kekhawatiran Azizah
11
[POV Azzam] Niat meminang
12
[POV Azzam] Rencana Ikha
13
[POV Zulaikha] Keinginan Papa
14
[POV Zulaikha] Ngobrol sore
15
[POV Zulaikha] Kedatangan Mas Azzam
16
[POV Zulaikha] Persyaratan Papa
17
[POV Zulaikha] Menjadi pasangan halal
18
[POV Zulaikha] Hubungan mereka memburuk
19
[POV Zulaikha] Dirumah Mas Azzam
20
Perubahan sikap Papa
21
Ancaman Papa
22
Pergi dari rumah
23
Kembali berseteru
24
Ulang tahun Papa
25
Hinaan keluarga Haidan
26
Menerima tawaran
27
Bersiap untuk pergi
28
Hilang kontak
29
Kesedihan Ikha
30
Kesedihan Ikha 2
31
Pergi
32
Kembali kuliah
33
Wisuda
34
Maafkan aku
35
Perjanjian
36
Calon suami baru
37
Terasa mimpi
38
Bercerita
39
Suntikan dana
40
Teringat kembali
41
Mengetahui tentang Azzam
42
Mulai menyelidiki
43
Mulai mengingat
44
Kejadian
45
Kembali ingatannya
46
Tidak boleh lemah
47
Kabar baik
48
Ingin melahirkan
49
Lahiran
50
Apakah kamu tidak malu?
51
Rencana Sean
52
Perangai Ikha
53
Gagal pergi
54
Rencana jahat
55
Mengetahui
56
Percakapan Sean dan Haidan
57
Bertemu Zizah
58
Pulang kerumah
59
Kembalinya ingatan
60
Bertemu Azhar
61
Memberi pertolongan pada Nadine
62
Bantuan Papa Seno
63
Kekhawatiran Azhar
64
Pertengkaran
65
Penyesalan Azizah
66
Kekecewaan Rehan
67
Sikap Rehan berubah
68
Bertemu para pengecut
69
Rencana busuk mereka
70
Diringkus
71
Jalan-jalan berdua
72
Kelakuan Rani
73
Kemarahan Jay
74
Baikan
75
Menikah
76
Mengetahui tentang Ikha dan Rehan
77
ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!