Raina menelan ludah. Manusia itu berjalan kearahnya dengan kaki anjingnya. Raina ingin kabur. Tapi kakinya seperti terpaku hingga ia sulit sekali bergerak.
Manusia setengah hewan itu benar-benar dekat. Tepat saat berhadapan satu meter, Raina mulai bisa menggerakkan kakinya dan mencoba mundur. Taring tajam yang sengaja dimunculkannya membuat Raina sangat takut dan gemetar. Tapi, Raina melihat luka yang cukup dalam di perut manusia itu.
"Pergi atau aku akan membunuhmu." Manusia setengah hewan itu berbicara dengan suara berat, namun Raina tahu dia menahan sakitnya.
"K-kau.. terluka."
Terdengar erangan dari mulut lelaki itu, persis erangan hewan buas. Raina bisa merasakan bahwa dia ini.. sangat mengerikan.
"Biarkan aku menyembuhkanmu." Lanjut Raina. Walau takut, dia tetap ingin melakukan itu.
"Aku bilang, pergi, manusia sialan!" Pekiknya berang, membuat Raina lagi-lagi menelan ludah dengan susah payah. Apalagi bola mata manusia itu menjadi merah menyala.
"Aku.. aku akan menyembuhkan lukamu... Elian."
Manusia setengah hewan itu berhenti mengerang saat namanya disebut. Sedikit syok, lalu dia mencoba menguasai diri saat tubuhnya terhuyung. Dengan sigap ia kembali berusaha berdiri tegak di tengah kesakitannya.
"Siapa kau?" Desisnya, memegangi luka besar yang berdenyut sembari menatap tajam pada Raina. Merasa terusik saat gadis itu menyebut namanya.
Sementara Raina menahan napasnya saat ternyata lelaki itu benar-benar Elian. Dia persis sama dengan yang ada di foto. Wajahnya tidak banyak berubah. Dia Elian, pria yang berbeda 12 tahun darinya. Pria yang ia pikir terlihat tua namun ternyata tidak. Elian justru tidak terlihat seperti berusia tiga puluhan.
"Percaya padaku. Aku.. akan menyembuhkanmu." Tangan Raina terulur, ingin menyentuh luka di tubuh pria itu.
"Ghaarrghh!!" Manusia setengah hewan itu menyerang tangan Raina dengan kuku tajamnya, hingga membuat tangan gadis itu berlumur darah. Raina meringis.
"Jangan coba-coba menyentuhku!"
Raina mengeraskan rahang menahan sakit di punggung tangannya. Namun sesuatu membuat mata lelaki itu membulat saat melihat luka di tangan Raina tiba-tiba saja mengecil, terus mengecil hingga hilang tanpa bekas dan hanya menyisaka darah yang sempat keluar.
"Kau lihat, kan. Aku bisa menyembuhkanmu."
Tangan Raina terulur. Perlahan ia mencoba menyentuh luka yang menganga di perut Elian.
"Raaaii!"
Teriakan Lili membuatnya tersentak. Begitu juga Elian.
Lelaki itu menarik tangan Raina dan berlari masuk kedalam hutan. Sangat cepat. Saking cepatnya, hanya satu detik tempat mereka berdiri sudah berbeda.
Raina merasa pusing dengan kecepatan itu. Ia langsung terduduk saat Elian melepaskan tangannya. Kepalanya seperti berputar dan tiba-tiba perutnya juga terasa mual.
"Cepat! Sembuhkan aku."
Raina mendongak. Dia memegangi perutnya yang serasa berputar. "Tunggulah sebentar."
Elian tak sabar. Dia terus menatap langit dengan awan yang bergerak cepat.
Raina bisa melihat kegelisahan Elian. Walau di tengah hutan, tapi malam sangat terang.
Apa malam ini adalah malam gerhana bulan?
Ah, Raina ingat. Katanya, setiap malam gerhana bulan, kekuatan orang-orang semakin kuat dan bertambah. Entah itu benar atau tidak, Raina belum pernah merasakannya.
Suara lolongan membuat Raina terkesiap. Dia mulai takut apalagi ini di tengah hutan. Raina mulai menyesali keputusannya untuk menyembuhkan Elian. Bisa-bisanya ia ditarik masuk kedalam hutan belantara. Belum tentu pula Elian ini makhluk yang baik.
"Arrghh.." Elian kembali mengerang. Dia terduduk bersandar pada pohon besar karena sudah tak kuat menahan sakit.
"Cepat lakukan sekarang. Aku tidak mau berlama-lama disini."
Raina berjongkok di depan Elian. Dia juga tak ingin berlama-lama disini. Raina memejamkan mata untuk berkonsentrasi dan mulai menyentuh luka lebar di perut Elian.
Dalam diam, lelaki itu menatap wajah Raina. Dia ingin tahu apa yang ada dipikiran gadis yang menyembuhkan lukanya ini. Sejak berhadapan pertama kali, Elian tidak bisa membacanya.
Lalu, darimana perempuan ini tahu namanya? Dia yakin, dia tak pernah bertemu gadis ini.
Elian memperhatikan tangan yang menyentuh lukanya. Luka itu benar-benar mengecil walau prosesnya lamban.
Saat itu pula, Elian merasa seluruh tubuhnya seperti teraliri oleh sesuatu yang dingin. Dia juga merasa tubuhnya mulai segar. Bukan hanya luka, namun kekuatannya juga kembali pulih. Sakit dan denyut yang sejak tadi menyiksa perlahan memudar. Dilihatnya lagi luka yang disentuh gadis itu. Perlahan mengecil dan hilang tanpa bekas sedikitpun.
Elian benar-benar merasa tubuhnya ringan. Lelah dan luka, semua hilang. Siapa gadis ini? Kekuatannya sungguh luar biasa.
"Siapa kau?"
Raina membuka matanya. Luka Elian sangat besar, membuat energi yang baru ia isi habis separuh.
"Kenapa kau mengenalku?" Pertanyaan Elian terdengar mengintimidasi. Dia terusik saat Raina mengetahui dirinya.
Raina menelan ludah. Dia lupa kalau sesi ini akan timbul. Bagaimana caranya mengelak? Tak mungkin dia langsung mengatakan bahwa mereka telah dijodohkan sejak belasan tahun yang lalu.
"A-aku... tidak mengenalmu."
Elian berdiri. "Kau menyebut namaku tadi. Jangan berbohong. Siapa kau, hah?"
Raina tak berani menatap mata Elian yang merah. "Aku... aku tidak tahu. Maafkan aku, manusia anjing." Raina menunduk sebagai permohonan maaf. Dia takut Elian akan memangsanya.
"A-anjing?"
Raina menghela napas. Padahal dia sudah membantu. Tapi manusia setengah hewan ini bukannya berterima kasih malah membuatnya takut dimakan.
Suara lolongan terdengar lagi. Kini bukan cuma satu, melainkan sangat ramai sampai-sampai Raina berdiri ketakutan.
"Tolong, antar aku keluar dari sini." Pintanya dengan nada bergetar.
Elian terus memperhatikan bulan yang terang. Sebentar lagi akan gerhana bulan. Dia tidak bisa terus bersama gadis ini.
"Tunggu disini. Aku akan kembali."
"Apa? Heii!"
Teriakan Raina diabaikannya. Elian sudah menghilang entah kemana.
Raina terdiam disana saat menyadari bahwa dia sendirian di tengah hutan. Matanya berjaga kiri dan kanan, takut jika ada hewan buas yang menyerangnya.
"E-elian.." lirih Raina. Dia memanggil nama lelaki itu pelan, berharap dia muncul lagi sebab tingkat ketakutan Raina kian bertambah.
Raina belum bergerak sama sekali dari tempatnya. Suara lolongan masih saling bersambut. Gadis itu hanya terus menatap sekelilingnya. Berharap tak ada apapun yang mengganggunya.
Tiba-tiba saja dunia berubah gelap. Cahaya yang tadi membantunya melihat isi hutan, perlahan meredup.
Suara berisik terdengar di telinganya. Raina melebarkan mata, memandang sekeliling dengan keringat dingin. Tubuhnya bergetar hebat. Hutan tak seterang tadi.
Terdengar suara tawa berat di dekatnya, membuat Raina bergidik ketakutan. Dalam hatinya mengutuk Elian yang keterlaluan meninggalkannya sendirian.
Sosok bertubuh besar hitam berdiri tak jauh darinya. Raina menutup mulutnya dengan tangan, dia hampir menjerit melihat apa yang ada disana. Apakah dia yang tertawa tadi?
Sosok itu berjalan perlahan mendekat. Raina yang tak ingin menjadi santapan makhluk aneh di hutan itupun berlari kencang kearah tadi Elian membawanya. Mungkin saja jalan itu bisa membawanya kembali.
Raina berlari kencang melewati semak belukar. Rasa takut yang luar biasa membuatnya berani melangkah lebar walau bisa saja dia masuk kedalam jurang saat menerjang gelapnya malam.
Kaki Raina memberi rem dadakan hingga membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan terduduk di tanah. Sosok hitam itu sudah berdiri di depannya.
Raina beringsut mundur dengan tubuh bergetar. Keringat bercucuran di dahinya. Makhluk apa itu? Dia bukan hewan sebab sosok itu mirip manusia.
Sosok itu tiba-tiba berjongkok di depan Raina. Disaat itu pula terlihatlah wajahnya dari sisa cahaya bulan yang ada. Dia tersenyum pada Raina yang ketakutan.
"Hai."
Hah? Raina melongo. Sosok yang tadi terlihat sangat menyeramkan itu ternyata berwajah hangat. Bola matanya berwarna oranye, tidak tampak mengerikan. Berbeda dengan Elian.
"Kau tersesat?"
Raina melepas napasnya. Dia menelan ludah karena kerongkongannya kering setelah berlari kencang.
"Kenapa kau bisa ada disini? Ingin menjadi santapan hewan buas?"
Raina tidak ingin menjawab apapun. Keringatnya bercucur deras. Walau lelaki di depannya tampak ramah, dia tetap merasa was-was.
Sedetik kemudian, suasana hutan menjadi hening. Lolongan anjing tak ada lagi. Hutan menjadi lebih gelap sampai Raina tidak bisa melihat apapun di sekelilingnya. Tentu ini membuatnya tegang.
"Jangan takut. Sini, pegang tanganku."
GHAARGGHH!!!
Terdengar erangan keras yang sangat dekat dengan Raina. Mata gadis itu terbelalak. Apa yang terjadi? Dia tidak bisa melihat apa-apa di dekatnya.
Tak lama, sinar bulan kembali terang. Dilihatnya siluet tubuh tinggi tegap berdiri di depannya.
Cahaya bulan yang mulai kembali terang membuat Raina dengan jelas melihat Elian yang membelakanginya.
Kini tampilannya berbeda. Elian memiliki banyak bulu di sekujur tubuhnya. Bahkan ada ekor di belakangnya. Tadi Elian belum sampai seperti ini, kan. Dia.. mengerikan.
"Kubilang tunggu disana! Kenapa kau tidak mendengarkanku?!" Suara berat Elian membuat Raina bergidik. Taring, mata merah, bulu di wajah Elian memang tak bisa membuatnya tenang walau dia sudah hadir kembali.
"Wah. Apa ini.." lelaki tadi berdiri. Dia menepuk-nepuk pelan bajunya yang kotor. Nampaknya ia diserang oleh Elian saat gelap gulita tadi.
".. aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya ingin membantu gadis yang tersesat." Ucap lelaki bermata oranye itu dengan senyuman di wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
S.Syahadah
pen aku awal ny ga tertarik cerita kayak begini, tapi makin d baca ko makin ketagihan sih pen wkwkwkwk
2023-10-08
1
Cipluk Wibisono
kamu ini pen,,,udah buat aku seneng stgh mati baca karya barumu,,eh sampai detik ini belum up lagi.sedih aku nunggu trs bolak-balik aku tengok ternyata mmang belum up.maafkanlah daku yg terlalu menggebu² ingin cpt d up y pen.sepi tanpa baca novelmu...✌️😘😘
2023-09-05
2
Lili Lintangraya
belum paham 100%kisahny tpi bikin penasarn.lanjut tetus&tetp semngt,
2023-09-02
0