Episode 6

Setelah satu minggu,

Hingga sampai saat ini Dokter tidak juga mendapat kan donor jantung, setelah bersepakat, aku menyetujui jika Ayah akan di pasang jantung buatan, agar dia bisa bertahan, meski tidak akan lama.

Aku memberi tau semua orang, dan istri ku juga ada di sampingku saat ini menenangkan ku, sementara anak-anak, aku titip kan pada Jasmine, dan Aldi, aku menyuruh nya untuk menghandle kantor.

Ayah sedang ada di ruang operasi sekarang, aku tidak tenang dan mondar mandir di depan pintu sementara operasi sedang berjalan.

Han-na yang melihat ku mencoba menghentikan ku dan menenangkan ku.

"Hubby, tenanglah, everything will be alright, tidak akan terjadi apapun pada Ayah, yakin lah jika Ayah akan sembuh seperti sedia kala"

Ucapnya menenangkan ku, aku hanya menatapnya tanpa suara, kemudian dia memelukku dan menyuruh ku meluapkan semua apa yang dia rasakan.

Akhirnya aku meneteskan air mata ku di pelukan Istri ku, kemudian aku mengusapnya kembali, aku tidak ingin terlihat lemah di depan istri ku, sebenarnya aku ingin menangis, tapi aku harus terlihat tegar di depan istri ku, jika aku menjadi lemah, maka bagaimana bisa istri dan anak ku berlindung pada ku.

Setelah beberapa jam, operasi seperti nya sudah selesai, aku melihat Dokter keluar dari ruang operasi, aku langsung menghampiri nya dan bertanya.

"Bagaimana Dokter? bagaimana keadaan Ayah ku?"

Ucap ku gelisah.

Dokter pun diam saja.

"Kenapa kau diam saja? katakan padaku bagaimana keadaan Ayah ku?"

Ucap ku mulai kesal, namun istri ku selalu menenangkan ku dan mengusap-usap lengan ku.

Dokter pun menghela nafas.

"Maafkan kami Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain, ini di luar kendali kami, Tuhan lebih menyayangi Ayah Anda"

Ucap Dokter dengan raut sedih.

"Apa !!! apa maksudmu huh ?"

Ucapku yang mulai mencengkeram kerah nya.

"Hubby cukup, berhenti jangan lakukan itu ku mohon, tenanglah"

Ucap istri ku kemudian langsung memeluk ku.

"Tenanglah, ini adalah takdir Tuhan, jangan pernah menyalahkan siapapun, Tuhan lebih menyayangi Ayah, biarkan Ayah tenang, dia tidak akan senang melihat mu seperti ini"

Ucapnya lagi sembari mengusap-usap punggung ku.

Aku sedikit tenang, dan Han-na membawa ku duduk, dan terus memelukku, namun air mata ku tetap menetes.

Setelah beberapa menit kondisi sudah mulai sedikit tenang, akhirnya aku mempersiapkan segala keperluan untuk mengurus jenazah Ayah, aku pun memberi tau Aldi, dan aku menyuruh Aldi untuk memberi tau semua orang atas kepergian Ayah ku.

Setelah jenazah sampai di rumah, rumah sudah di kelilingi sanak saudara dan orang-orang.

Aku turun dari mobil lalu menunggu jenazah Ayah ku di keluarkan dari mobil ambulan.

Tiba-tiba Hans memelukku sambil menangis.

"Daaaadd, kenapa Grandpa pergiii ?? aku merindukan nya, aku ingin bermain lagi dengan Grandpa"

Ucap nya sambil menangis.

"Hii boy, jangan menangis seperti itu, Grandpa mu sekarang akan lebih bahagia, dan tidak akan sakit lagi !"

Ucap ku berjongkok di hadapan nya.

"Tapi Dad, kenapa Grandpa tidak mengatakan selamat tinggal padaku,dia tidak akan kembali lagi kan, lalu bagaimana jika aku merindukan nya, aku tidak akan bisa menemui nya lagi"

Rengek nya padaku, sembari mengusap-usap air matanya.

"Ssst, kita masih bisa mengunjungi makan Grandpa mu nak, jangan menangis lagi, Grandpa sudah berada di syurga sekarang"

Ucap ku mencoba menenangkan Hans yang terus menangis.

"Itu artinya Grandpa akan senang dan bahagia?"

Ucap nya polos.

"Yupps, kau juga harus ikut bahagia jika Grandpa mu bahagia, jadi jangan menangis lagi ya !!"

Jawab ku.

"Iya Dad !!"

Balas nya mulai berhenti menangis.

"Hans, ayo ikut Mommy, dan antarkan Mommy pada adik mu"

Sambung istri ku.

Istri ku meminta ijin padaku untuk mengurus Hans dan Alexa terlebih dahulu, dan aku pun menyetujui nya dengan anggukan, kemudian mereka pun masuk ke dalam.

***

Setelah beberapa jam, acara pemakaman pun selesai, dan aku merebahkan diri di sofa. sementara sanak saudara masih memenuhi rumah, aku memijat pelan pelipis ku, lalu menarik nafas dalam.

"Apa kau masih memikirkan siapa penembak itu?"

Ucap Aldi dengan tiba-tiba duduk di sampingku.

"Ini masih belum 1 hari, aku masih berkabung, biarkan aku beristirahat sejenak tanpa memikirkan hal rumit itu!!"

Jawab ku pada Aldi sembari memejamkan mata ku.

"Okay, baiklah, aku tidak bisa berlama-lama di sini, karena sebentar lagi Jasmine akan memeriksa kandungan nya, jika kau butuh bantuan segera hubungi aku, Okay!!"

Balas nya aku pun menjawab dengan anggukan, kemudian Aldi pergi dan berpamitan kepada beberapa sanak saudara ku.

***

Beberapa jam kemudian.

Aku melihat Hans mendekati Ryan yang sedang tertidur di Sofa tapi aku segera melarang nya.

"Hey nak, jangan mengganggu Daddy mu, dia sedang tidur, jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja pada Mommy okay!!"

Jelas ku pada Hans.

"Tidak Mom, aku hanya ingin menenangkan Daddy, seperti nya dia sangat sedih, aku juga akan sedih jika nanti Daddy meninggal dunia seperti Grandpa !!"

Ucap Hans, dengan tiba-tiba dia berkata seperti itu.

"Hey Baby, kenapa kau berkata seperti itu nak?"

Balas ku pada Hans.

"Iya Mom, maafkan aku, aku tidak mau kehilangan Daddy, aku ingin Daddy dan Mommy selalu ada untuk ku"

Ungkap nya.

"Tentu saja nak, kami akan selalu ada untuk mu na, ya sudah sebentar lagi menjelang malam, apa kau tidak mempunyai tugas dari sekolah? , ayo kerjakan tugas mu sekarang, Mommy akan memasak untuk makan kita bersama"

Jawab ku.

"Iya Mom baiklah"

Ucap nya kemudian pergi, sebenarnya Hans anak yang penurut meskipun kadang dia keras kepala sama seperti Ayah nya.

Aku menghampiri Ryan, dan dengan sengaja membawakan selimut untuk nya, kemudian aku pergi ke dapur sembari mengingat-ingat lagi kejadian yang menimpa Ayah.

Aku tidak menyangka, Ayah akan pergi secepat ini, aku yakin ini akan sangat berat untuk Ryan, selain kehilangan Ayah, Ryan juga harus mencari tau siapa penembak itu, dan aku juga tau jika dia sedang khawatir sekarang, aku juga khawatir, bagaimana jika penembak itu kembali lagi? dan mengincar salah satu dari kami.

Selama 5 tahun, aku rasa Ryan tidak memiliki musuh, begitu juga aku, tapi entahlah dengan Ayah, aku jadi khawatir pada keluarga ku, apalagi pada anak-anak, karena musuh pasti akan mengambil titik terlemah dari kita, semoga saja dugaan ku salah, semoga saja, tidak akan terjadi apapun lagi di ke depan nya.

Setelah sadar dari lamunan ku, aku segera menyiapkan bahan masakan.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

................

BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!