Aku sudah di rumah Ayah beberapa hari, keadaan Ayah semakin baik, sekarang dia sedang bermain dengan cucu nya.
Aku sedang memperhatikan mereka, tiba-tiba, aku melihat orang asing di seberang pagar rumah dengan gerak gerik mencurigakan, dia mengenakan penutup wajah dan topi berwarna hitam, dengan jaket kulit nya yang ku rasa itu masih baru, setelah aku melihat dengan teliti, ternyata dia membawa senapan.
Apa yang akan dia lakukan ? kemudian aku berlari menghampiri Ayah dan anak-anak ku tapi aku terlambat.
Suara tembakan itu sudah terdengar dan tepat mengenai dada sebelah kiri Ayah.
"Ayaaaaahhhh !!!"
Aku melihat sekeliling, dan ternyata orang asing itu segera melarikan diri, aku ingin mencoba mengejar tapi Ayah lebih penting sekarang.
"Hans, dengarkan Daddy, cepat bawa masuk Alexa ke dalam okay, jangan keluar sebelum Daddy menyuruh mu !!"
Ucap ku pada Hans yang di balas oleh anggukan dan Hans pun segera menggendong Alexa ke dalam rumah.
Istri ku yang merasa terkejut mendengar suara tembakan, kemudian dia menghampiri ku.
"Hubby, aku mendengar suara seperti tembakan, apa yang terjadi ? apa yang terjadi pada Ayah ?"
Ucapnya khawatir, setelah melihat keadaan Ayah tergeletak di bawah.
"Baby, tolong masuklah, jangan keluar sebelum aku menyuruh nya"
Ucapku sembari mengangkat Ayah.
"Tapi kenapa ?"
Ucapnya yang bingung.
"Tolong lakukan saja, aku akan menjelaskannya nanti, aku akan membawa Ayah ke rumah sakit, kau di rumah dan jaga anak-anak, jangan menerima tamu, jika ada yang mengetuk pintu, atau orang asing, jangan beri dia masuk, atau kau bisa menelpon ku terlebih dahulu !!"
Jelas ku pada istri ku.
"Aku ikut !!"
Ucapnya mengikuti ku.
"Tidak, tetaplah di sini, situasi saat ini belum aman, tolong jaga anak-anak"
Ucap ku kemudian mencium kening istri ku, lalu pergi dengan beberapa bodyguard.
Aku menyuruh istri ku mengunci semua pintu, dan menyuruh bodyguard yang lain untuk menjaga Istri dan anak ku sementara aku pergi ke rumah sakit.
***
Aku menunggu di depan ruang emergency, setelah beberapa menit, Dokter pun keluar.
"Dokter, bagaimana keadaan Ayah ku ?"
Ucap ku pada Dokter itu.
"Banyak yang harus aku katakan, ayo ikut keruangan ku"
Ucap Dokter kemudian pergi, lalu aku mengikuti nya.
Setelah di ruangan Dokter.
"Silahkan duduk"
Ucap Dokter menyuruh ku duduk, lalu aku pun duduk.
"Bagaimana Dok? apa Ayah ku baik-baik saja?"
Ucap ku yang sangat khawatir.
"Begini !! peluru itu menembus jantung pasien hingga jantung nya pecah, kami harap anda membantu dengan do'a, dan kami harus segera melakukan transplantasi jantung, tapi sebelum itu, kau harus menemukan pendonor jantung"
Ucap Dokter, aku terkejut mendengar nya.
"Apaa !! apa kau gila Dokter, bagaimana bisa aku mencari pendonor jantung dalam situasi mendesak seperti ini, tidak akan ada orang yang bersedia mendonorkan jantung nya begitu saja, kau harus melakukan apapun, agar Ayah ku sembuh, aku tidak mau tau, ini rumah sakit, kau mesti bisa menyembuhkan orang yang sakit, bahkan yang sekarat sekalipun"
Ucap ku dengan nafas tersengal sembari menunjuk Dokter itu karena aku sangat emosi.
"Maaf Tuan, soal itu di luar kendali kami, karena Tuhan lah yang mengendalikan nyawa seseorang, jadi kau tidak perlu menghakimi kami sebagai seorang Dokter, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien kami meskipun sulit sekalipun, tapi tolong kau juga harus bisa ikut membantu dalam penyembuhan pasien"
Kemudian Dokter memberi ku surat persetujuan operasi yang akan di lakukan pada Ayah.
"Jika kau bersedia, tolong tanda tangani ini dan urus administrasi terlebih dahulu, tunggu selama satu minggu sampai ada yang mendonorkan jantung untuk pasien, jika sampai satu minggu tidak ada, terpaksa pasien akan kami pasang alat jantung buatan, yang mungkin kinerja nya tidak akan lama"
Ucap Dokter kemudian pergi dari ruangan nya.
Tidak berpikir panjang, aku langsung menyetujui nya dan segera mengurus administrasi nya.
Tidak lama kemudian Dokter membawa Ayah ke ruang ICU.
Aku mencoba tetap tenang meskipun perasaan ku bercampur aduk, tiba-tiba...
"Ryan, bagaimana keadaan Ayah mu? bagaimana bisa seperti itu? siapa yang menembak Ayah mu ?"
Ucap Aldi yang baru saja datang sembari terengah dan memegang pundak ku.
"Ayah akan di operasi sampai Dokter menerima pendonor jantung, jantung nya pecah karena tembakan itu, entahlah siapa yang menembak nya, aku hanya melihat orang itu dari kejauhan, dan dia memakai penutup wajah !!"
Jelas ku lesu pada Aldi.
"Tenanglah, Tuan Syakip pasti akan baik-baik saja"
Ucap nya sembari menepuk-nepuk pundak ku, kemudian aku balas dengan anggukan.
"Kita harus hati-hati sekarang, sebaiknya kau menyewa bodyguard sebanyak-banyaknya untuk menjaga Istrimu dan Anak-anak mu, tapi tunggu, kenapa perasaan ku mengatakan, jika ini adalah ulah Albert? apa kau merasakan nya juga?"
Ungkap Aldi dengan wajah cemas.
Aku melirik Aldi.
"Yeah, tapi aku tidak seyakin itu"
Balas ku lesu.
"Come on Ryan, kenapa kau tidak yakin dengan beberapa hal yang menurutku bukan suatu yang kebetulan, pertama, Albert mengajukan proposal kerja sama, tapi kau menolak nya, bisa saja dia marah padamu dan sekarang dia mengincar keluarga mu dan orang terdekat mu? benarkan?"
Jelasnya padaku, aku sedikit kesal pada Aldi karena tidak berhenti mengoceh sejak tadi, tapi dia benar, bisa saja seperti itu.
"Jangan membuat ku semakin khawatir Aldi, aku sedang fokus pada Ayah ku sekarang, dan aku berharap dia baik-baik saja"
Ucap ku yang mencoba menutupi ke khawatiran ku.
"Ya tentu saja, aku juga mengkhawatirkan Tuan Syakip"
Ucap nya tapi aku tidak menjawab.
Tiba-tiba aku teringat pada Istri dan Anak ku di rumah.
Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka.
Aku mencoba menelpon Istri ku.
Telepon masih berbunyi dan belum di angkat.
Tuuuuuttt tuuuuutttt......
Aku jadi khawatir...
Tapi akhirnya telepon ku di angkat.
"Hallo !!!"
Ucap ku.
"Hallo !! Daddy, Daaadd, kau dimana ? kenapa aku dan Mommyy tidak boleh ikut ?"
Ucap Hans di balik telepon, huuuuhh aku lega mendengar suara anak ku.
"Hey boy, apa kalian tidak apa-apa? dimana Mommy mu hmm? kenapa kau yang mengangkat nya?"
Ucap ku khawatir.
"Kita baik-baik saja Dad, Mommy dan Alexa juga baik-baik saja, Mommy sedang menemani Alexa, seperti nya Alexa akan tidur"
Jelas Hans padaku.
"Syukurlah, boleh Daddy meminta tolong? tolong berikan ponsel nya pada Mommy mu, Daddy ingin bicara dengan Mommy !!"
Ucap ku pada Hans.
"Iya Dad baiklah"
Ucap Hans, kemudian memberikan ponsel nya pada Han-na Istri ku.
"Hallo, Hubby, bagaimana sekarang? bagaimana keadaan Ayah?"
Ucap nya khawatir.
"Hallo, Baby, Ayah akan di operasi sampai ada pendonor jantung, peluru nya menembus jantung Ayah, dan membuat jantung nya pecah, Dokter mengatakan jika ini akan sangat sulit karena jantung nya sudah rusak, jika seminggu ini tidak ada pendonor, terpaksa Ayah akan di pasangi jantung buatan, yang kinerja nya tidak akan lama"
Ucapku menahan tangis.
"Hubby, tolong tenanglah, aku akan kesana, aku yakin Ayah akan baik-baik saja, kau harus terus berdoa untuk kesembuhan nya"
Ucapnya menenangkan ku.
"Tidak, jangan kemari, aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri jika terjadi sesuatu pada kalian, maka dari itu, tolooongg !! jangan keluar membawa anak-anak sebelum aku menyuruh nya"
Ucapku yang akhirnya air mata ku menetes.
"Tapi aku tau, kau sedang..."
Jawab nya namun aku potong.
"No, tolong, jangan kemari sebelum aku menyuruh nya, aku harap kali ini kau tidak keras kepala, ku mohoon !!"
Ucapku yang sudah tidak ingin berdebat, lalu aku mematikan ponsel ku.
Aku terduduk lemas, dan menyandarkan kepala ku di kursi ruang tunggu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
................
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments