18.Syahdu.

Allah tidak pernah merampas apa yang kita sayang. Sebaliknya suatu ketika, DIA akan menggantikan dengan yang lebih baik daripada itu.

Itulah yang saat ini berada dalam pikiran Embun dan Arsen, dalam sperskian detik bibiir mereka masih saling menempel, bahkan mata mereka masih saling menatap, namun pikiran mereka sudah melayang ke langit tujuh bidadari.

Meonggg!

Saat mereka berdua masih terhanyut dalam lamunan panjangnya, ternyata ada suara kucing yang melongokkan kepalanya dari pintu depan, karena memang tadi tidak mereka tutup.

"Eherm... maaf, saya nggak sengaja tadi." Embun sontak langsung bangkit dan membenahi rambutnya dengan wajah grogi dan juga menahan malu.

Kucing sialaan, ganggu aja! eh.. kenapa aku marah?

"Tidak masalah, santai aja." Jawab Arsen dengan tersenyum canggung, walau didalam hati dia mengumpat kucing yang tidak tahu apa-apa itu.

"Tapi baju kamu jadi basah, mana kotor lagi, gimana dong?" Embun merasa bersalah, coba itu baju Bagas yang ditumpahi, mungkin dia akan ngedumel sepanjang hari dengan gaya premannya itu.

"Tak apa, aku juga tidak pergi kemana-mana lagi kok."

"Atau kamu mau pakai baju milik Bagas? ada beberapa baju yang dia tinggal disini." Bagas memang sering meninggalkan baju kotor ditempat Embun, agar sekalian dicucikan.

"Nggak mau, lebih baik aku nggak pakai baju dari pada pakai baju bekas dia!" Tolak Arsen mentah-mentah, dia seolah tidak sudi memakai baju rivalnya.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk--"

"It's okey, tidak masalah kok." Arsen langsung melambaikan kedua tangannya, takut jika ucapannya menyinggung Embun.

"Atau mau aku belikan baju dulu, tapi mungkin agak jauh dari sini, kamu mau menunggu?" Ucap Embun seketika.

"Tidak perlu, santai aja."

"Kalau begitu biar aku cucikan saja, nanti pakai mesin pengering pasti cepat kering."

"Boleh deh, terima kasih ya."

"Aku yang seharusnya terima kasih karena kamu nggak marah baju putihmu kena noda teh seperti ini." Jawab Embun dengan senyum manisnya.

"Sebentar aku buka dulu."

"Wow."

Saat Arsen membuka bajunya, terpampanglah dada bidang milik Arsen yang aduhai sekali, dan berhasil membuat Embun langsung terkesiap.

"Kenapa, apa aku terlalu vulgar? Aku bisa tidur tengkurap disini kalau tubuhku mengganggumu." Ucap Arsen yang langsung menyilangkan kedua tangannya didada bidangnya.

"Eherm.. tidak, maaf aku memang orangnya mudah terkejut, sini biar aku cucikan sekarang."

Dan saat Embun masih sibuk mencuci dan mengeringkan pakaian Arsen, ternyata Arsen sudah tertidur di sofa milik Embun dengan sangat nyenyak.

"Arsen, ini aku buatkan jus untukmu, ehh?"

Tubuh Embun terpaku ditempat dengan satu gelas jus ditangannya.

"Kasian dia, pasti beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak karena memikirkan kekasihnya itu, karena aku pun merasakan hal yang sama juga dengannya."

Perlahan Embun berjalan mendekat dan meletakkan jus jambu itu diatas meja, sambil memperhatikan wajah tampan Arsen dari dekat.

"Orang sesempurna dia saja pengen ditukar, bagaimana dengan aku, padahal Arsen ini sosok yang tegas, berwibawa, nggak neko-neko dengan banyak wanita, pekerja keras, sayang pacar juga, tapi kenapa Nevika berminat dengan kekasihku yang seperti preman itu?"

Embun bahkan sampai memiringkan wajahnya untuk melihat dengan detail setiap lekuk di wajah Arsen.

"Ya Tuhan, aku tidak pernah meminta lebih dalam kisah asmaraku, namun aku mohon, semoga aku dan Arsen tidak salah dalam memilih pasangan untuk dijadikan pasangan masa depan kami kelak, semoga Engkau menunjukkan jalan kebaikan dan jalan kebenaran untuk jodoh Hambamu dan juga jodoh Arsen didunia dan di Akhirat nanti, amin."

Jauh didalam lubuk hatinya, dia benar-benar takut untuk melangkah ke jenjang rumah tangga, namun mau tidak mau dia harus memikirkannya juga, karena umur Embun sudah tak lagi muda.

"Ganteng juga pacar baruku, tukar yang ini pun tidak masalah, hehe."

Embun langsung beranjak pergi dari sana, setelah sedikit menoel hidung mancung milik Arsen.

"Astaga gadis yang satu ini, menggemaskan sekali." Bisik Arsen dengan senyum simpulnya.

Dan ternyata Arsen sudah bangun dan mendengarkan segala celotehan dan juga doa-doa Embun yang dia panjatkan didepan wajahnya tadi.

Senyum Arsen semakin merekah dengan indahnya, bahkan jantungnya masih berdetak dengan kencangnya, apalagi saat Embun menoel hidungnya, ingin rasanya dia menarik tubuh wanita itu dan memeluknya, namun dia belum berani sekarang.

"Gadis ini benar-benar baik, bahkan dalam kesedihan dan kekecewaannya, dia masih sempat mendoakan kebaikan untuk aku juga, dan dia pun tak kalah cantik dari Nevika, bahkan poin plus nya lebih banyak, kalau Nevika itu hanya modal tampang doang, lainnya Zonk, fuh... sepertinya sudah benar keputusanku untuk berpacaran dengan dia."

Arsen bangun sambil menyeruput jus jambu yang dibuatkan untuknya, sebenarnya dia sudah bangun sejak Embun memanggilnya tadi, namun kedua matanya seolah masih terasa berat, tapi kesadarannya sudah bangun sepenuhnya.

Setelah satu gelas jus jambu itu sudah berpindah ke perut sispexnya, dia mencium bau wangi dan sedap dari arah dapur mini di rumah itu.

"Hmm... wangi sekali, sudah cantik, pekerja keras, mandiri dan pinter masak lagi, benar-benar wanita idaman ini."

Arsen penasaran dengan masakan apa yang dibuat oleh Embun siang ini.

"Kamu masak apa?" Ucap Arsen yang sudah berada dibelakang tubuh Embun.

"Astaga!" Jerit Embun yang terlonjak kaget.

Grep!

Kedua tangan kekar Arsen langsung sigap menangkap tubuh Embun yang mulai oleng, bahkan dia sedikit mengeratkan pelukan itu.

"Ya ampun, kenapa kamu mudah sekali terjatuh?" Ucap Arsen saat kedua mata mereka kembali saling menatap.

"Aduh maaf aku memang ceroboh, aku benar-benar terkejut tadi, aku kira siapa? soalnya kamu kan tidurnya pules banget tadi, kok tiba-tiba sudah bangun dan ada disini."

"Aku terbangun karena mencium bau masakanmu ini, kamu masak apa."

"Aku masak soto daging, sambal, sama tahu dan tempe bacem, kamu doyan nggak?" Tanya Embun yang memang belum tahu masakan kesukaan Arsen.

"Doyan lah, mana bau rempahnya enak sekali ini, jadi bikin laper." Ucap Arsen yang langsung mengusap perutnya.

"Maaf aku hanya punya bahan ini, aku juga nggak terlalu pandai masak, jadi kalau rasanya nanti kurang enak harap maklum ya?"

"Kamu sepertinya koki handal, apa sudah matang? siang-siang gini emang enak makan yang seger-seger gini, pinter kamu." Puji Arsen yang langsung teringat dengan masakan ibunya.

"Ayo kita makan, sambil nunggu baju kamu kering, nanti aku gosokkan sekalian bajunya."

"Okey sayang." Celetuk Arsen tanpa sadar.

"Hah?" Embun langsung melongo mendengarnya.

"Apa salah aku manggil kamu sayang?" Tanya Arsen yang sudah kepalang basah.

"Nggak juga sih, cuma--"

"Jadi aku harus manggil kamu apa, Bagas dan Nevika aja manggilnya sayang kok."

"Owh... okey, begitu pun boleh tidak masalah, hehe."

Akhirnya mereka berdua sama-sama tersenyum, terasa canggung memang namun terkesan Syahdu, dan kini mereka mencoba beradaptasi dengan hal-hal yang baru.

Banyak yang mengeluh saat doanya tak kunjung diijabah. Lalu mengapa engkau tak merenung, kenapa Allah tak langsung membalasmu usai berbuat dosa?

Terpopuler

Comments

Utit Dewisetyowati

Utit Dewisetyowati

semoga arsen jadi pacar embun

2023-11-02

0

Nenti iis Fatimah

Nenti iis Fatimah

nah gitu dong nikmati aja prosesnya buat kedepannya serahin aja sama author yg punya cerita hehe

2023-10-16

0

Rustan Sarny Apul Sinaga

Rustan Sarny Apul Sinaga

semoga Embun berjodoh dgn Arsen ya thor....

2023-09-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!