8.Level Pasrah.

Di sore yang indah dengan langit yang berwarna orange itu, Embun masih terduduk disebuah Taman Kota, dengan dibanjiri deraian air mata kesedihannya.

Dia masih belum bisa mengerti tentang keinginan gila dari Bagas, karena selama ini tidak pernah terlintas sedikitpun di pikirannya tentang bertukar pasangan.

"Apa-apaan Bagas ini, mana ada kisah cinta tukaran pasangan? apa dia sudah gila?" Embun mengusap air mata di kedua pipinya dengan kasar, hatinya merasa begitu terluka saat kekasihnya seolah mempermainkan dirinya.

"Apa dia sudah bosan denganku? apa aku sama sekali tidak berharga baginya? lalu kenapa harus pake acara tukaran pasangan segala? nggak sekalian aja putus gitu?"

Dia masih belum menemukan jawaban dari semua soalannya, karena Bagas seolah tidak mau tahu tentang pendapat dari dirinya.

"BESTIE!"

Tiba-tiba terdengar suara teriakan rekan kerja Embun di Kantor tadi, dia berjalan cepat kearahnya sambil membawa satu kantong kresek makanan yang dia beli di area Taman Kota.

"Santi, ngapain kamu disini?" Embun langsung mengusap wajahnya dengan pakaian yang menempel di lengannya.

"Kamu nangis?" Santi langsung duduk disampingnya dan memperhatikan kedua mata Embun yang sudah memerah, apalagi dengan suaranya yang sedikit serak, sangat memperjelas kondisinya bahwa dia tadi pasti sedang menangis.

"Enggak!" Sangkal Embun, dia tidak pernah suka mengumbar kesedihannya kepada orang lain, walaupun Santi adalah teman curhatnya di Kantor, sebisa mungkin dia akan menutupinya kalau masih sanggup.

"Mata dan suara kamu tidak bisa berbohong Mbun-Mbun." Ucap Santi sambil menghela nafasnya.

"Aku cuma kelilipan saja tadi."

"Bohong, apa Bagas menyakitimu?" Santi seolah bisa membaca pikiran Embun.

"San, apa kamu seorang peramal?"

"Ya enggaklah, kamu pikir aku Dukun? Tapi tunggu... apa Bagas benar-benar kecantol purel jalanan?"

"Entahlah!" Embun menaikkan kedua bahunya, hal ini terasa mimpi buruk baginya.

"Kok entah gimana sih? coba cerita dulu, jangan mewek sendirian di Taman, kamu kayak orang hilang aja tau nggak!"

Namun Santi selalu punya cara untuk mengkorek tentang dia, agar Embun cerita tentang masalahnya, karena Santi pun selalu curhat dan meminta pendapat dengan Embun jika punya masalah.

"Apa pendapat kamu tentang pertukaran pasangan?"

"Maksudnya tukaran gimana, sebut saja namanya, jangan bikin aku bingung!" Santi langsung to the point saja.

"Masak Bagas ngajakin aku tukaran pasangan."

"Hah, yang bener?" Santi langsung melongo saat mendegarnya.

"Beneran, itu kenapa aku kaget dan nangis, kamu bayangin aja deh gimana aku mempertahankan hubunganku dengan Bagas, kok bisa-bisanya dia punya pemikiran bertukar pasangan coba!"

"Sakit emang tuh orang!" Santi langsung ikut mengutuk Bagas disana, dia tahu bagaimana perasaan Embun kepada Bagas selama ini.

"Hatiku lebih sakit San, dia itu sebenarnya serius nggak sih sama aku, kok tega-teganya ngajakin hal gila seperti itu, emang hatiku KW apa, bisa ditukar-tukar dengan mudah begitu saja." Dia merasa dirinya seolah tak berarti bagi kekasihnya.

"Aku rasa mungkin dia berada ditahap jenuh dalam suatu hubungan." Santi ikut menghela nafasnya, dia pun tidak begitu paham dengan sifat Bagas.

"Lalu kenapa harus tukar pasangan? Kenapa nggak putus aja sekalian, biar hatiku remuk sekalian!" Celetuk Embun dengan hidungnya yang sudah kembang kempis.

"Emang kamu nggak sayang apa sama dia, kalau aku lihat kamu lebih sayang dia daripada dirimu sendiri, yang rela seolah menjadi asisten pribadi dari Bagas tanpa bayaran." Umpat Santi saat mengingat kebaikan Embun kepada Bagas yang tidak terkira menurutnya.

"Ckk... jujur sih, aku memang sayang banget sama dia, bahkan aku tidak tahu lagi bagaimana caranya hidup dengan baik tanpa melihat dirinya lagi."

"Embun, jangan menempatkan hatimu terlalu dalam dengan orang lain, karena kamu sendiri yang akan terluka jika harapanmu tidak sesuai dengan takdirmu, mengerti?" Sebagai sahabat Santi hanya sekedar mengingatkan saja.

"Aku sudah terbiasa hidup beriringan dengan dia, sarapan berdua, kerja berdua, pulang kerja juga berdua, bahkan terkadang sampai malam kami masih berdua, kamu bayangin aja kalau tiba-tiba kita berpisah, pasti Hampa rasanya."

"Lalu apa alasan dia mau tukar pasangan?"

"Biar hubungan kami nggak garing, kami tukaran hanya satu bulan saja, setelah itu kita kembali ke pasangan masing-masing." Jawab Embun sesuai dengan ucapan kekasihnya tadi.

"Dan kamu setuju?"

"Jelas tidak lah, tapi kamu tahu sendiri kan jika Bagas sudah berkemauan, sifat premannya yang selalu menekan itu kumat lagi!" Umpat Embun yang memang tidak bisa berkutik jika Bagas sudah seperti itu.

"Aku rasa itu hanya alasannya saja."

"Entahlah, aku bingung harus bagaimana menghadapinya San, hiks.. hiks." Air mata Embun akhirnya kembali menetes, namun kali ini tubuhnya mendapatkan sandaran dari sahabatnya di Kantor.

"Emang pasangan gila yang mana yang mau diajakin tukaran pasangan." Tanya Santi yang ikut penasaran.

"Rekan Kantor kita."

"Apa kandidat calon pasangan palsumu itu juga dari Kantor kita?" Berita itu seolah semakin menarik di mata Santi.

"Iya."

"Siapa?" Tanya Santi dengan cepat.

"Tapi jangan bilang-bilang dulu ya?"

"Pasti, kamu kan tahu aku bagaimana, masak nggak percaya?"

"Kamu tahu kepala divisi pemasaran?" Ucap Embun yang semakin membuat mata Santi terbelalak kaget.

"Arsenio Hernandes, kepala bagian terhoror di Kantor kita, apa dia calon pasangan bartermu?"

"Hmm... karena Bagas sepertinya menginginkan Nevika." Entah kenapa firasat hatinya mengatakan hal itu.

"Pantesan akhir-akhir ini mereka akrab."

"Owh ya? masak sih? aku emang pernah dengar kalau Bagas dan Nevika itu berteman sejak dulu, tapi tidak pernah dekat kok."

"Itu kan setahu kamu, dalam beberapa hari ini saat kamu sering kerja lembur aku sering melihat Bagas ngobrol dengan Nevika di pojokan." Santi seolah mengadukan apa yang sering dia lihat, awalnya dia kira hanya teman biasa saja pikirnya.

"Kamu jangan meracuniku Santi, jangan menjadi nila yang merusak air susu sebelangga." Embun mencoba menyangkalnya.

"Astaga Embun, apa untungnya aku berbohong? Tapi awalnya aku pikir mereka memang ada keperluan, tidak sampai berhubungan, secara kekasih Nevika itu kepala bagian Tie, bahkan gosip-gosipnya mau diangkat naik jabatan lagi!" Santi seolah tidak percaya, ketika Nevika lebih memilih melepas kekasihnya.

"Apa hubungan mereka juga terasa garing ya, kok mereka juga setuju?" Embun mulai merasa insecure.

"Jika memang pengen punya hubungan yang sehat itu, jangan sesekali mencari pacar dengan kriteria fisik, jabatan atau materi, tapi lebih menggunakan hati, karena jika kita sudah tua nanti, fisik kita pun sudah lemah dan mulai menua, jabatan juga pasti ada masanya, suatu saat akan tergantikan dengan yang lebih muda, dan soal materi juga pasti akan menyusut seiring berjalannya waktu karena sudah tidak masa produktif lagi." Santi memang selalu berpikir dewasa, itu mengapa Embun menjadikan dia teman curhatnya.

"Lalu aku harus bagaimana San? pasti aku nggak akan bisa tidur malam ini, apalagi aku tidak begitu mengenal Arsen, setahuku dia itu orangnya cuek bebek, berwajah datar, dan tidak pernah perduli dengan apapun, kalau di Kantor saja aku tidak pernah mau berurusan dengannya, bagaimana ceritanya tiba-tiba dia yang harus jadi pasanganku?"

"Aku nggak ikut-ikutan kalau soal itu, tapi apapun yang akan terjadi nanti, aku doakan yang terbaik untukmu, cukup kita ketahui saja, bahwa sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran, jalan keluar beriringan dengan kesukaran, dan sesudah kesulitan pasti akan datang kemudahan." Santi pun tidak berani memberikan saran lain selain memberikan semangat kepada sahabatnya.

"Amin."

Dan Embun hanya bisa berdoa untuk kebaikan dirinya dan juga pasangannya nanti, dia sudah berada di level Pasrah saat ini.

Harapan dan impian seorang Embun di dunia ini sebenarnya tidak pernah muluk-muluk, dia hanya ingin membahagiakan dan dibahagiakan dan juga selalu dikelilingi orang-orang baik di dihidupnya.

Terpopuler

Comments

Diank

Diank

Setujuu banget Kak 👌
jangan terlalu menempatkan hatimu terlalu dalam kepada orang lain nanti dirimu sendiri yang terluka saat harapanmu tidak sesuai dengan takdirmu

2023-05-31

2

Ghina Novita

Ghina Novita

Santi kamu keren sekali 👍
bestie terbaik Embun 🥰

2023-05-31

0

Anik Trisubekti

Anik Trisubekti

petuahnya mba Santi kerennnn 👍👍👍

2023-05-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!