Hampir satu jam meeting mereka berlangsung dan saat meeting berakhir, Embun kembali menghidupkan ponselnya, untuk sekedar mengecek jika ada chat yang masuk.
Ting
Ting
Ting
Bukan chat yang masuk secara beruntun di ponsel milik Embun saat ini, melainkan pemberitahuan aktifitas dari media sosial yang seolah tanpa henti, karena nama profilnya saat ini di Tag dalam beberapa foto mesra dalam akun media sosialnya.
Bukan foto mesra milik Embun dengan Bagas, melainkan foto mesra dari Bagas dan Nevika dengan caption "Gadis Kesayanganku".
"Astaga."
Embun masih belum beranjak dari meja meeting itu, dia bahkan tak kuasa untuk bangkit keluar dari ruangan itu dan akhirnya kembali duduk dengan kepala yang dia letakkan diatas meja, sambil melihat kembali foto-foto yang seolah berhasil melumpuhkan tulang-tulang ditubuhnya.
"Embun, kamu kenapa?"
Arsen yang sebenarnya sudah sampai didepan pintu keluar, kembali menoleh kedalam karena Embun tertinggal sendirian didalam sana, dan saat mendengar umpatannya dia kembali masuk dan mendekatinya.
"Apa kamu punya media sosial?" Tanya Embun dengan wajah lesunya.
"Punya, tapi aku jarang aktif, malas mau buka media sosial, isinya juga cuma pasti orang-orang yang hanya ingin pamer saja bukan?" Ucap Arsen memang tidak terlalu berminat dengan media sosial, asalkan bisa chat dan video call saja itu sudah lebih dari cukup didalam hidupnya.
Andai rekan-rekan kerjanya masih banyak yang menggunakan HP jadul mungkin dia lebih suka menggunakan ponsel jaman perjuangan dulu, tapi seiring perkembangan jaman, dia terpaksa harus menggunakan ponsel android demi bisa berkomunikasi dengan mereka.
"Seharusnya aku juga mengunci akun media sosialku saja, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya, tapi semua sudah terlambat, baru beberapa jam saja dia posting foto, tapi kenapa sudah meledak di media sosial."
Embun bahkan tidak berani membuka komentar-komentar netizen disetiap foto-fotonya, takut jika semakin membuat dirinya down, sedangkan saat ini dia masih jam kerja di Kantor.
"Foto apa?" Tanya Arsen sambil kembali menarik kursi disamping Embun, dia jadi penasaran, foto apa yang membuat orang seperti Embun bersikap seperti anak kecil.
"Lihatlah sendiri." Embun menyerahkan ponselnya dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya yang dia letakkan diatas meja, ekspresinya sama persis seperti saat dulu dia mengantuk di kelas pada jam akhir dengan mata pelajaran Sejarah.
"Mereka benar-benar keterlaluan, apa mereka tidak tahu dampak dari foto yang mereka upload di media sosial? Padahal katanya cuma tukaran pasangan selama satu bulan, tapi mereka seakan-akan ingin bertukar pasangan seumur hidup." Umpat Arsen dengan wajah murungnya.
Padahal jejak media sosial itu sulit untuk dihilangkan, walaupun jika postingan sudah dihapus pun, jika sudah ada orang yang iseng menyimpannya mungkin akan tetap tersimpan selamanya.
"Kok bisa?" Pikiran Embun sudah kacau, seolah tidak lagi bisa berpikir jernih karenanya.
"Ini media sosial Embun, ratusan bahkan ribuan orang bisa melihat kemesraan mereka." Arsen pun hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu kursi sambil menscroll foto itu satu persatu.
Pedih memang, tapi ini sebuah kenyataan bukan hanya sekedar mimpi.
"Lihatlah foto terakhir yang mereka Tag di profilku." Ucap Embun dengan kedua mata yang sudah memerah.
"Mana?" Tanya Arsen yang kembali menegakkan tubuhnya.
"Aku seolah sudah tidak sanggup lagi untuk melihatnya." Umpat Embun yang berulang kali memejamkan kedua matanya, dia masih berharap ini hanya sebuah mimpi dan saat dia terbangun nanti semua akan baik-baik saja, dan dia bisa kembali bersama dengan Bagas saat ini, namun kenyataanya ini adalah fakta dan sungguh-sungguh terjadi didepan kedua matanya.
"Sialaan! mereka berdua benar-benar tidak punya hati!" Umpat Arsen dengan rahang diwajahnya yang tiba-tiba langsung mengeras.
"Hiks.. hiks.. aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa Arsen."
Akhirnya tangisan itu tidak mampu lagi dia tahan, apalagi hanya ada mereka berdua di ruangan meeting itu.
"Hei... kenapa kamu malah menangis?"
Arsen jadi bingung harus berbuat apa, dia ingat kalau seharusnya mereka sudah pacaran, tapi untuk memeluknya atau sekedar memberikan sandaran bahu untuk Embun seolah masih terasa kaku dan canggung baginya.
"Maaf, aku benar-benar kecewa dengan kelakuan mereka, kenapa coba mereka harus pamer kemesraan di media sosial, teman-temanku, bahkan saudara-saudaraku pasti juga akan melihatnya, karena mereka juga berteman dengan Bagas, entah bagaimana aku harus menjelaskan kepada semuanya, padahal beberapa waktu lalu kami masih makan bersama dengan keluargaku."
Hubungan Embun dan Bagas sudah terjalin cukup lama, dan keluarga Embun pun sudah saling mengenalnya, karena sudah beberapa kali Embun mengajak Bagas bertemu dengan mereka.
"Fuh... aku mengerti perasaanmu."
Dan hal ini cukup membuat Arsen dan Embun merasa kesal dan emosi, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah ada aturan permainannya.
"Aku malu Arsen, apa kata orang nanti, mereka pasti akan membully diriku." Ucap Embun sambil menyeka air matanya yang terus lancang menetes membasahi pipinya.
"Sudahlah, jangan dengarkan apa kata orang, sejak kita menyetujui permainan ini, kita sudah harus tahu segala resikonya."
Berusaha kuat, hal itulah yang Arsen lakukan, karena dia adalah pria yang tidak mau terlihat lemah didepan seorang wanita.
"Aku sama sekali tidak menyetujuinya, tapi dia yang selalu memaksaku dan selalu menyudutkan aku, tanpa mau memberi kesempatan untuk aku berbicara." Umpat Embun yang sebenarnya masih belum bisa rela.
"Hmm... dia pun begitu denganku." Arsen pun merasakan hal yang sama, berulang kali dia mengatakan tidak setuju, namun akhirnya lemah juga dengan segala bujuk rayunya.
"Belum lagi rekan-rekan kerja kita di Kantor, mereka pasti akan menggosip tentang kita, entah kemanalah otak si Bagas itu, seharusnya jika dia mau mengabadikan pelukan, civman, dan bermesraan dengan Nevika itu cukup hanya mereka saja yang tahu, kalau begini kan kita juga akan terkena bau bangkainya!" Umpat Embun sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Mereka memang gila, aku tidak menyangka mereka akan berbuat sejauh ini." Arsen hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku malu mau balik ke ruanganku sekarang Arsen, bagaimana ini?" Rengek Embun dengan tampang yang memang cukup memprihatinkan.
"Tidak mungkin juga kita menghindar selama satu bulan juga kan Embun?"
"Aku pengen ambil cuti saja, bisa tolong uruskan cuti sakitku Arsen? sepertinya sekarang aku tidak bisa bekerja, aku takut nanti kerjaanku malah jadi kacau semua." Pinta Embun yang tahu betul bagaimana dirinya jika sudah terpuruk begini.
"Huft.. baiklah, kamu tunggu di loby Kantor dulu, nggak usah masuk ke ruangan kerjamu, aku akan segera menemuimu disana." Dan Arsen pun menyetujuinya dia juga kesakitan, namun Embun lebih terlihat mengenaskan.
"Sungguh? Kamu mau membantuku?"
"Tentu saja, bukannya kita berdua senasip?" Jawab Arsen yang mencoba tersenyum dalam luka.
"Terima kasih Arsen."
Walau air mata Embun masih menetes, namun akhirnya terbersit sedikit senyuman saat dia menatap wajah Arsen yang terlihat kuat dan tegar, dia pun ingin seperti itu, namun dia juga wanita, yang hatinya mudah rapuh dan hancur saat pria yang selama ini dia sayangi berbuat segila itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
fitriyana
dasar bagas buaya buntung,menangislah embun untuk menghilangkan kekecewan yg kau rasakan,buatnya hatimu nyaman dengn arsen trus ngk perlu tekeran lg dech🤭🤭
2023-06-23
0
Yofa Meisya
pas part ini ikut mewek.....g bisa bayangin kalau ada di posisi embun😭😭😭
2023-05-31
1
Diank
Menangislah Embun selama itu adalah obatnya penghilang rasa sakit dihatimu membuatmu lega
2023-05-31
1