19.Nyaman.

Hampir setengah harian penuh Arsen dan Embun bersama, setelah perut terasa kenyang mereka berdua ngobrol di Teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hingga tak terasa waktu sore hari pun sudah menjelang dan indahnya langit senja di sore itu seolah menjadi background kemesraan dari pasangan baru ini.

"Rumah kamu nyaman banget ya, aku jadi betah tinggal disini, aku boleh menginap nggak, besok kan kita masih libur?" Tanya Arsen basa-basi, namun lewat pertanyaan itu pun dia bisa tahu tentang bagaimana kepribadian Embun yang tinggal seorang diri.

"E... jangan dong?" Jawab Embun dengan cepat.

"Kenapa, apa Bagas dulu juga belum pernah menginap disini?" Dan itu pertanyaan yang sudah dia siapkan sejak tadi, dia pun ingin tahu banyak tentang gaya pacaran Embun dan Bagas dulu sejauh apa.

"Belum pernah, bahkan jika kami sampai pulang kemalaman juga aku langsung menyuruhnya pulang, kecuali kalau ada teman-teman yang lainnya nggak apa-apa menginap disini, tapi kalau berduaan saja nggak enak, nanti kalau tetangga ada yang tahu bisa digerebek sama warga juga kan?" Jawab Embun panjang lebar, karena memang seperti itu lah kebenarannya.

"Begitu ya? lain ya sama di Apartement, sepertinya lebih bebas."  Ucap Arsen kembali, padahal jauh didalam hati dia merasa lega juga, padahal Bagas kan tingkahnya seperti preman dan tidak tahu malu.

Namun sehat dan tidaknya sebuah hubungan kan tergantung dengan kedua belah pihak, walau yang satu sering memaksa juga, kalau yang satu menolak hal itu tidak akan terjadi.

"Sebenarnya sih dimana aja tergantung sama orangnya, cuma kalau belum halal kan sebaiknya jangan, takut menjadi bahan gosip, kan nama kita juga yang jelek, karena sanksi sosial itu lebih kejam daripada sanksi hukum, apalagi kalau ada tetangga yang julid-julid gitu, yang awalnya gosip hanya berupa buah semangka, setelah sampai diujung perumahan sana sudah jadi es campur." Jelas Embun yang tahu betul bagaimana keadaan sekitar, apalagi jika sudah ada tukang sayur lewat, semua gosip terbaru mereka tahu.

"Iya juga ya, banyak orang yang suka mengubah dan menambah-nambah gosip agar semakin panas, tanpa mau tahu gosip itu benar atau tidak." Arsen pun menggangukkan kepalanya, dia pun sependapat akan hal itu.

"Itulah, makanya aku tidak pernah mengajak teman laki-laki menginap disini kalau hanya sendirian, maaf loh ya, bukannya aku pelit loh." Embun kembali meminta maaf, dia orangnya memang tidak pelit kata maaf.

"Bagus, aku malah suka pendirian kamu yang seperti ini, karena sebagai wanita kamu memang perlu pintar-pintar menjaga diri kamu sendiri." Ucap Arsen yang malah bangga dengan orang seperti Embun, dan wanita seperti dia sudah jarang dia temui.

"Ya begitulah, cara kita bertahan hidup di kota padat penduduk seperti ini."

"Neng Embun, tumben jam segini sudah pulang?" Tiba-tiba saat mereka masih asyik mengobrol, ada tetangga Embun yang mendatangi mereka.

"Eh... tante, iya saya pulang lebih awal hari ini." Sapa Embun dengan ramah.

"Owh... begitu, dia siapa?" Benar saja, dia langsung menanyakan Arsen, karena memang tetangga Embun tidak penah melihat Arsen.

"Emm... dia... itu, anu emm---"

Embun seolah ragu ingin mengatakan hal yang sebenarnya, namun jika dia hanya bilang teman, dia juga tidak mau Arsen tersinggung nantinya karena tidak memperkenalkan hubungan mereka.

"Nama saya Arsen Tante." Dan Arsen seolah langsung tanggap dan memilih memperkenalkan namanya sendiri.

"Owh Arsen, apa dia pacar barumu?" Tetangga Embun merasa curiga dengan jawaban dari Embun tadi, jadi dia langsung menebak saja, namanya juga Netizen yang maha tahu.

"Emm... sebenarnya kami--" Arsen ingin membantu Embun untuk menjawabnya, namun dia juga ragu.

"Iya Tante, Arsen pacar baru saya." Jawab Embun dengan wajah tersenyum malu, dan itu cukup membuat wajah Arsen ikut bersemu-semu, karena ternyata Embun mau mengakui dirinya sebagai kekasih didepan Tetangga maha julid.

"Owh ya, ternyata hubungan kamu dengan Bagas sudah kandas ya, tapi nggak apa-apalah, ini juga tampan, kamu selalu pandai mencari pacar." Ucap Tetangga Embun yang entah mau memuji atau mau mengejek, terserah saja pikir Embun, masalah besok balikan lagi dengan Bagas itu pikir belakangan.

Sedangkan Bagas dan Nevika saja mengumbar kemesraan di media sosial tanpa memikirkan hubungan mereka dibulan-bulan selanjutnya, jadi Embun tidak mau banyak berpikir tentang hal itu.

"Ahehe... Tante bisa aja." Embun hanya terkekeh saja menjawabnya.

"Ini Tante datang bawain kamu buah mangga, Tante panen banyak tadi dibelakang rumah." Dan akhirnya satu kantong kresek buah mangga dia berikan kepada Embun.

"Wah... makasih banyak Tante." Jawab Embun sambil menerima buah itu.

"Sama-sama, kalau begitu Tante pulang ya, takut ganggu kencan kalian." Setelah mendapatkan informasi dia langsung pamit pulang, dan hal itu sudah biasa terjadi jadi Embun tidak mau mengambil hati hanya karena hal ini.

"Owh... nggak ganggu kok, kami sedang ngobrol santai saja tadi." Jawab Embun selanjutnya.

"Mau ngobrol mesra juga nggak masalah kok, Tante juga pernah muda, lanjutlah hehe..."

"Iya Tante, terima kasih banyak buat mangganya." Embun melambaikan tangannya saat Tetangganya sudah keluar dari halaman rumahnya.

"Kamu akrab ya dengan tetangga kamu?" Tanya Arsen dengan senyum yang terus terbit sedari tadi.

"Ya, kami memang sering berbagi makanan, aku kalau masak sering banyak, kalau dimakan sendirian nggak habis, jadi aku bagi-bagikan ke tetangga sebelah." Seperti itulah kebiasaanya, karena dalam hidup bermasyarakat itu tetangga adalah nomor satu, kalau kita kenapa-kenapa juga pasti tetangga dulu yang datang, apalagi jika sanak saudaranya jauh tempat tinggalnya, jadi harus selalu baik dengan tetangga.

"Kalau begitu aku boleh dong sering-sering mampir ke rumahmu, soalnya masakan kamu enak." Ucap Arsen yang lidahnya memang terasa cocok dengan masakan Embun.

"Tentu, aku pasti akan memasakkan makanan untukmu setiap hari, karena kamu kan sekarang emm----" Dia kembali menggantungkan ucapannya.

"Aku kenapa?" Arsen langsung menaikkan kedua alisnya.

"Owh... nggak papa kok, hehe.."

"Tadi kamu kayak percaya diri gitu bilang sama Tante itu kalau aku ini pacarmu, tapi kenapa didepanku kamu tidak mau mengatakannya?" Ledek Arsen kembali.

"Sudahlah, tidak perlu dibahas." Ucapnya dengan malu.

"Kok gitu?"

"Tante itu kenal baik dengan Bagas, jadi kalau melihat ada pria lain yang datang ke rumahku pasti curiga, jadi sebelum dia menggosip hal-hal yang tidak benar nanti, lebih baik aku bicara jujur saja."

"Begitu, ya sudahlah, aku pulang saja." Ucap Arsen yang sudah pandai pura-pura merajuk.

"Mau pulang sekarang? nggak mau nunggu makan malam dulu?" Tanya Embun kembali.

"Nggak usah, aku pulang saja."

"Nggak boleh!"

"Loh, kok nggak boleh, katanya tadi menginap nggak boleh, lalu kenapa pulang juga nggak boleh?"

"Nggak boleh jika kamu pulang dalam keadaan marah."

"Habis kamu gitu!"

"Gitu gimana, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita sudah pacaran dari tadi, karena Bagas dan Nevika sudah keterlaluan, kenapa kamu masih butuh pengakuan lagi?" Seolah dia bisa membaca pikiran Arsen saat ini.

"Hehe.. pengen aja, sensasinya lain gitu, hehe!"

"Kamu ini!" Embun jadi merasa gemas sendiri.

"Apa sayang?" Tanya Arsen sambil tersenyum, sebenarnya dia masih kaku mengatakan hal itu, bahkan sering lupa, tapi setidaknya dia sedang belajar agar lebih terlihat romantis dengan pasangan.

"Cih... ayolah kita masuk, mandi sana, biar aku siapkan makan malam untuk kita, baru kamu bisa pulang." Ucap Embun yang langsung beranjak masuk kembali kedalam rumah.

Aku seneng banget hari ini, aku merasa sangat diperhatikan oleh Embun, beda sekali saat berhubungan dengan Nevika yang maunya hanya dimanja aja, bahkan Embun memperlakukan aku dengan sangat baik bahkan sudah seperti dengan seorang suami, padahal kami pacaran hanya berjangka waktu selama sebulan, tapi dia melayani aku seolah aku ini adalah pasangannya sampai tua nanti.

Dan Arsen langsung melenggang menuju kamar mandi, sambil memuji Embun didalam hati.

Hidup terkadang memang perlu sedikit Frontal, sebab terlalu lugu dikibulin, terlalu baik dimanfaatin, terlalu mengalah diinjak-injak, dan terlalu menaruh rasa percaya malah sering dikhianati.

Terpopuler

Comments

Diank

Diank

Wah2 sepertinya Arsen sudah ada rasa sayang nech untuk Embun apalagi sudah diperhatikan kebutuhannya, sudah jangan biarkan Embun lepas darimu

2023-05-31

1

Ghina Novita

Ghina Novita

kawal Embun sampai halal Arsen 🤭

2023-05-31

0

Anik Trisubekti

Anik Trisubekti

betul banget kak Iska, kalau hidup itu memang butuh sedikit frontal 😌

2023-05-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!